PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Dag dig dug der


__ADS_3

"Maaf Yo, Pus. Aku ngerepotin kamu," Anita duduk berhadapan dengan Puspa dalam kamarnya.


"Nggak, to. Aku malah seneng kamu ada di sini, tapi kenapa tiba-tiba sekali?"


Anita pun menceritakan bagaimana dia bisa Sampai di kota. Kedua orang tua gadis itu bukanlah orang berada, mereka hanya bekerja sebagai buruh. Setelah ayahnya jatuh sakit dan tidak bisa bekerja Anita lah yang menjadi tulang punggung keluarga.


Menjadi biduan, tidak setiap hari mendapatkan job manggung sehingga penghasilannya tidak cukup untuk membiayai kehidupan mereka. Apalagi, ayahnya juga butuh obat yang harganya tidak murah. Dengan terpaksa Ibunya meminjam sejumlah uang pada Bejo seorang rentenir di kampung mereka.


Bejo memberi bunga yang tidak sedikit, hutang semakin menumpuk belum lagi di tambah dengan bunga, membuat mereka semakin kesulitan melunasinya.


Dengan akal licik, Bejo memberi jalan keluar yang menguntungkan kedua belah pihak, itu menurutnya. Hutang di anggap lunas asal Anita mau menjadi istri, istri ke tiga lebih tepatnya. Dengan deraian air mata Anita menolak. Tidak ada cara lain walau berat Anita akhirnya memilih kabur meninggalkan kedua orang tuanya yang tengah kesusahan.


Anita bertekad mencari kerja untuk melunasi semua hutang itu. Dan hanya Puspa lah kenalannya yang tengah merantau di kota, beruntung Ningrum bersedia memberikan alamat Puspa di kota.


"Pus, apa aku boleh meminjam sejumlah uang? Bapak belum membeli obat saat aku tinggal, Ibu pasti bingung,"


"Tenang saja, aku masih punya simpanan, nanti kamu kirim ke mereka sekalian untuk nyicil hutang pada Kang Bejo,"


"Beneran, iki?"


"Iyo,"


Kedua gadis itu pun saling memeluk, Puspa tidak menyangka jika Anita sahabatnya mengalami kesulitan yang lebih dari dirinya. Anita sudah banyak menolongnya jadi sudah pasti Puspa pun tidak akan tinggal diam melihat sahabatnya itu dalam masalah.


"Aku akan mencari kerja, Pus," ucap Anita penuh semangat.


"Kerjo opo?"


Pertanyaan Puspa menyurutkan semangat itu, karena Anita juga bingung mau kerja apa di kota sedangkan dirinya hanyalah lulusan SMA.


"Kamu tunggu di sini, aku akan bicara sama Pak Satya!" Puspa bangkit dari duduk dan berniat menemui sang majikan.


"Kamu mau apa?"


"Wes, to. Tenang wae!"


Malam sudah semakin larut Satya sudah berada dalam kamarnya. Beruntung pria itu tidak keluar malam ini jadi Puspa bisa menemuinya.


Sebelum menemui Satya, Puspa memastikan keberadaan pria itu pada Marni. Karena dia juga tidak tahu apa majikannya itu berada di rumah atau sedang keluar.


"Bu, apa pak Satya di rumah?"


"Tadi sih ibu lihat di masuk kamar, tapi nggak tahu yo kalau keluar, kenapa?" Marni merasa heran kenapa Puspa menanyakan tuannya di saat malam sudah larut.


"Nggak Popo, ada urusan penting yang harus aku bicarakan dengannya,"


"Besok saja to, sudah malam lo ini!"


"Nggak iso, Bu. Harus sekarang!"


"Yo wes sak karepmu, ibu nggak ikutan kalau Tuan mengamuk nanti,"


"Tenang wae!"


Puspa berjalan pelan menuju kamar sang majikan. Dalam hati dia juga merasa gugup, tapi mau bagiamana lagi dia tidak bisa menunggu hingga besok pagi.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Dua ketukan pelan dan tidak ada jawaban dari dalam kamar.


Puspa berniat mengetuk lagi kali ini dia akan lebih keras karena mungkin Satya tidak mendengar.


Pintu terbuka saat Puspa sudah mengangkat tangan, beruntung dia bisa mengendalikan tangannya kalau tidak pasti dia akan kena marah karena menggetok wajah sang majikan.


"Ada apa?"


Puspa mematung, melihat Satya yang bersandar pada pintu. Pria itu telihat gagah dan tampan walau hanya mengenakan kaus pendek dan celana selutut.


Dengan cepat Puspa menyadarkan diri tentang niat awal dia mendatangi kamar majikan tampannya tersebut.


"Pak, apa di kantor tidak lowongan kerja?" Puspa berusaha menetralisir detak jantungnya dan tetap bicara dengan wajar.


"Kenapa? Kamu sudah tidak mau bersih-bersih rumah lagi?"


"Bukan saya, Pak. Tapi Anita. Dia butuh pekerjaan, tidak papa kalau pun jadi tukang bersih-bersih di sana,"


Sesuai pendidikan Anita, hanya cleaning servis lah yang cocok untuknya. Begitulah yang Puspa pikirkan.


"Kalian ini, kenapa senang sekali menjadi tukang bersih-bersih? Apa tidak ada cita-cita yang lebih tinggi?"


Ucapan spontan dari Satya membuat Puspa ingin membantahnya. Dengan entengnya pria di hadapannya itu menuding. Siapa yang ingin hidup susah di dunia ini? Mereka juga tidak mau bekerja rendahan. Kalau bisa mereka juga ingin menjadi sukses seperti wanita lain di luar sana.


"Bapak menghina?" Puspa mendekatkan tubuhnya pada pria yang menyilangkan kedua lengan di dada. Puspa tidak terima dengan ucapan pria itu.


"Siapa? Aku hanya bicara fakta," Satya sengaja menggoda gadis itu.


"Tidak semua orang terlahir dari keluarga Sultan seperti bapak. Kami juga mau jadi sukses tapi orang tua kami tidak mampu. Andai bapak tahu gimana rasanya tidak bisa bermain karna harus bantu orang tua jualan? Gimana sedihnya saat melihat teman yang lain melanjutkan sekolah mereka, sementara kami harus banting tulang hanya untuk sesuap nasi ..." Puspa tak henti bicara menceritakan kisah pilu masa kecilnya yang tidak di ketahui oleh Satya.


"Baiklah, aku minta maaf," ucap Satya tulus. tak tega melihat Puspa yang mulai mengeluarkan air mata.


"Bersyukurlah, calon istri Bapak adalah wanita yang derajatnya tinggi, berpendidikan dan sukses," entah kenapa Puspa tiba-tiba membicarakan Pamela. Ucapan Satya membuatnya sadar perbedaan status antara dirinya dengan Pamela terlampau jauh. Sangat tidak tahu diri jika dia menaruh hati pada pria yang kini berdiri tegak di hadapannya.


"Siapa maksudmu?" Satya menatap lekat pada gadis berbaju piyama di hadapannya.


"Siapa lagi? Mbak Pamela. Dia itu cantik, berpendidikan, berasal dari keluarga terpandang dan ..."


Belum selesai Puspa dengan ucapannya tentang Pamela, Satya tiba-tiba membungkam mulut gadis itu dengan telapak tangan.


"Kamu sudah terlalu banyak bicara!" lirih pria itu sembari menatap lekat kedua mata Puspa yang membola.


Tindakan yang Satya lakukan mampu membuat jantung Puspa seolah berhenti memompa, seketika nafasnya terasa tertahan.


Dengan cepat gadis itu melepaskan diri dan memundurkan langkah dari pria di hadapannya, jarak keduanya sangat dekat bisa saja Satya mendengar deru jantungnya.


"Baiklah, tidak papa jika tidak ada lowongan untuk Anita, biar dia nnti cari kerja di tempat lain, Permisi!" Puspa berbalik badan dan berlari menuruni anak tangga.


Bagi Satya tingkah gadis itu sungguh lucu. Pria itu tidak menyadari jika sudah larut dalam pesona gadis kampung itu.


"Dasar kucing kampung!" gumamnya sembari tersenyum.


Sementara itu, Puspa masih kesulitan mengatur nafasnya, Merasa malu dia pun menyembunyikan wajah di balik selimut.


"Kamu kenapa, Pus?" tanya Marni heran.

__ADS_1


"Ngantuk, Bu,"


"Loh ... kamu nggak jadi ngomong sama tuan?"


"Sudah,"


***


Pagi hari, Satya sudah bersiap berangkat ke kantor, seperti baisa pria itu akan melewatkan sarapan pagi di rumah.


"Puspa, gimana? " Anita memberi kode pada Puspa saat gadis itu tengah sibuk di dapur.


"Aku sudah usaha, tapi sepetinya gagal," jawab Puspa lesu.


"Yowes, nggak papa. Nanti aku coba nyari di tempat lain,"


Anita pun membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dia tidak mungkin tinggal di sana secara cuma-cuma dia juga akan membantu.


"Dimana Puspa, Bu?"


"Di dapur, Tuan,"


"Panggilkan dia, Bu!"


"Baik!"


Marni yang tengah membersihkan ruang tengah pun segera berlari menuju dapur.


"Puspa, kamu di panggil, Tuan!" ucap Marni tergesa.


"Ada pa to, Bu?"


"Cepat sana!"


"Tapi aku sibuk lo, Bu," Puspa mencari alasan. Setelah kejadian tadi malam rasanya malu untuk bertemu dengan pria itu.


"Wes biar ibu yang lanjutin, kamu mau di pecat, opo?"


Puspa pun mencuci tangan dan berjalan pelan menuju ruang tamu. Satya terlihat duduk di sofa dengan ponsel di genggaman.


"Kamu mau membuatku terlambat, Pus?"


"M-maaf, Pak. Ada apa ya?"


"Katakan pada Anita mulai besok dia bisa bekerja di kantor, tapi hanya sebagai cleaning servis. Kerena dia hanya lulusan SMA, aku tidak bisa memberi pekerjaan yang lebih baik dari itu,"


"Benarkah?" Puspa kegirangan. "Terimakasih, Pak. Bapak memang paling baik sedunia," ucapnya memuji.


"Sekarang saja bilang begitu, kamu lupa siapa yang sudah menceramahiku tadi malam?" sindir Satya.


"Maaf, Pak," lirih Puspa merasa tidak enak.


Satya beranjak dan bergegas menuju mobil yang sudah terparkir di depan teras. Belum sampai tangannya membuka pintu mobil suara Puspa menghentikannya.


"Tunggu, Pak!"


Satya menoleh ke belakang terlihat Puspa berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Ada apa?"


"A-ada yang mau saya katakan," ucap gadis itu ragu.


__ADS_2