PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Tamat


__ADS_3

Alunan Gending Jawa terdengar riuh dari kediaman Puspa. Para tetangga sudah berkumpul untuk menyaksikan proses akad nikah sang biduan dangdut dengan putra tunggal anak kepala desa.


Di dalam kamar, Puspa sudah selesai di rias, gadis itu nampak anggun dengan kebaya berwarna putih dengan selendang panjang sebagai penutup kepala. Begitupun dengan ibu mempelai wanita, Ningrum di dandani tak kalah heboh dari pengantin. Pakaian adat Jawa dengan sanggul besar di kepala. mereka terlihat begitu cantik.


Semua warga sudah mulai berdatangan untuk menyumbang, ada yang membawa sembako ada pula yang memberi sumbangan berupa uang.


Di kampung kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun menurun. Mereka akan saling memberi dan mengembalikan jika tetangga yang lain mengadakan hajatan juga.


"Raka belum datang, Entin?" tanya Ningrum. Entah sudah yang keberapa kali dia menanyakan hal yang sama.


"Masih di jalan, Rum." sahut Entin.


"Kalian terlihat cantik." Entin memuji. Membuat Ningrum tersenyum malu. Wanita itu bahkan jarang sekali berdandan.


Sementara itu, Puspa hanya terdiam. Gadis itu tidak tahu dengan yang tengah ia rasakan. Bibirnya mungkin masih bisa memaksakan senyum, tetapi tidak dengan hatinya.


Pernikahan yang di paksakan apa mungkin bisa berjalan langgeng? Puspa bahkan berniat akan bercerai tak lama setelah pernikahan itu terjadi. 'Apa aku jahat?' hatinya membatin. 'Tapi bagaimana lagi, aku tidak lagi mencintai Fadli. Bahkan mendengar namanya di sebut saja aku tidak suka.'


"Kamu gugup ya, Pus?" Entin berbisik menyadari ekspresi Puspa tak biasa.


"Sedikit," jawab gadis itu pelan.


"Itu hal yang wajar. Apalagi nanti kalau malam pertama, kamu pasti bakal lebih gugup lagi." Entin mencoba menggoda agar gadis itu bisa sedikit tertawa.


Bukan Puspa yang tertawa melainkan dua wanita yang kini berada di kamar gadis itu.


"Kalau itu sih sudah pasti Bulek. Aku saja dulu belum di apa-apain sudah banjir keringat duluan ... hahahaha ...!" sahut salah satu perias pengantin.


Gelak tawa terdengar nyaring dari dalam kamar mempelai. Akan tetapi mereka tertawa sendiri karena Puspa hanya diam, bahan candaan mereka membuat gadis berbibir merah itu merasa muak.


"Bulek, Raka mana?" Puspa mencoba mengalihkan perhatian Entin kalau tidak wanita itu akan bicara semakin ngawur.


"Kamu ini sama saja dengan ibumu nanyain Raka terus. Dia masih di jalan, Pus!"


"Puspa, kamu cantik sekali ...!" Dari arah luar seorang wanita cantik masuk dan langsung menghampiri Puspa dalam kamar. Andin, dia datang bersama Raka. pria yang sedari tadi ditanyakan Ningrum dan Puspa.


Andin sudah banyak mengalami perubahan semenjak berhubungan dengan Raka. keduanya bukanlah orang-orang dengan masa lalu yang baik, tetapi masa lalu tidak bisa di jadikan patokan untuk menilai masa depan seseorang. Baik Andin dan Raka sudah mengubur cerita kelam mereka dan berniat memulai kehidupan baru yang lebih baik. Tentunya bersama.


"Andin? Kamu datang dengan Raka?" Puspa menatap wanita dengan dress cantik di tubuh.


"Iya, sama siapa lagi?"


Entin sudah mengetahui hubungan anaknya dengan Andin sehingga dia tidak canggung lagi saat wanita itu menyalami dan memberi pelukan hangat untuknya.


"Kamu menginap to, Nduk?" tanya Entin.


"Apa tidak papa, Bu?"


"Ya tidak papa, nanti kamu tidurnya sama Ibu." Entin antusias dengan kehadiran calon mantu. Bagaimanapun wanita itulah yang selama ini mendukung putranya di saat suka maupun duka. Entin bersyukur sekarang Raka sudah menjadi pria yang lebih bertanggung jawab.


Perbincangan mereka terhenti saat terdengar suara riuh di luar. "Pengantin pria sudah datang!" Seorang tetangga berdiri di depan pintu kamar untuk memberi tahu.


Puspa mulai duduk tidak tenang. Telapak tangannya bahkan sampai berkeringat." Entin dan Ningrum berhambur keluar untuk menyambut kedatangan rombongan besan. Tinggalah Puspa berdua dengan Andin di kamar itu.


"Kamu tidak papa, Pus?" Andin melihat gerak gerik Puspa yang tidak biasa. Dia tidak terlihat gugup karena bahagia, tetapi lebih seperti orang yang ingin kabur dari kenyataan.


"Apa aku bisa pergi dari sini?"


Sebuah pertanyaan yang di sambut dengan tatapan tak percaya dari Andin. "Apa maksudmu?"


Puspa gelisah berjalan mondar mandir dalam kamar. Semakin dekat ikrar itu di ucapkan dirinya semakin merasa menyesal. Apa ini penyesalan ya bahkan datang sebelum semuanya terjadi.


"Tenanglah, Pus! Mungkin kamu hanya gugup saja. Itu biasa!" Andin mengajak gadis itu duduk kembali ke tempatnya.


Di luar, Fadli sudah duduk di depan penghulu. Pria itu terlihat tampan dengan setelan jas hitam dan songkok di kepala.


"Panggilkan pengantin wanitanya!" titah sang penghulu. Dia tidak bisa berlama-lama karena ada pasangan lain yang harus dia nikahkan setelahnya.


"Sebentar, Pak!" Entin bangkit dari duduk dan menghampiri Puspa di kamarnya.


"Ayo, Nduk!" ajak Entin.


Puspa menatap ke arah Andin cukup lama. Seolah meminta pertolongan untuk membawanya pergi dari sana. Akan tetapi apa yang bisa di lakukan Andin?


"Ayo, Pak Penghulu sudah menunggu!" Entin berujar lagi.


Dengan langkah pelan, Puspa akhirnya menurut berjalan keluar kamar dengan di gandeng Entin dan Andin. Sementara Ningrum yang duduk di sisi ibunya Fadli menatap haru pada putrinya. Dia tahu betul bagaimana isi hati Puspa. Nasi sudah menjadi Bubur. Entin sudah menwarkan untuk membatalkan pernikahan itu. Biarlah dirinya menanggung malu dan amarah dari pak lurah sekeluarga, asal Puspa bahagia, tetapi Puspa menolak.


"Kamu cantik, Pus." Fadli memuji saat Puspa sudah duduk di sisinya. Namun, gadis itu hanya diam tersenyum pun tidak.


"Baik kita mulai ijab qabulnya!" Pak Penghulu berkata.


Tangan Fadli terulur setelah penghulu meminta. Jabatan erat terjadi di iringi dengan ucapan janji yang akan berlaku untuk sehidup semati dengan sebuah mahar emas seberat 20 gram dan seperangkat alat salat. "Tunai!" Sebuah hentakkan menandai saatnya giliran Fadli mengucapkan bagiannya.


Air mata Puspa tak terbendung lagi, bukan haru melainkan sebuah tanda penolakkan. Akan tetapi tidak ada yang peduli termasuk Fadli.


"Hentikan!"


Teriakan lantang terdengar dari arah luar, seketika semua orang menoleh ke arah suara termasuk Fadli dan Puspa. Di ujung sana Satya berdiri tegap di dampingi dua orang pria berjaket hitam.

__ADS_1


"Pak Satya?" lirih Puspa tak percaya. Apa mungkin dia bermimpi saat terjaga?


"Tangkap pria itu, Pak!" Satya menunjuk ke arah Fadli dan dua orang lelaki langsung menyergap Fadli dan membawa pria itu untuk berdiri dari tempatnya.


Semua orang tercengang dengan pemandangan aneh yang terjadi. Kenapa Fadli anak pak lurah di perlakukan tidak hormat oleh orang yang tidak mereka kenal?


"Ada apa ini?" Pak lurah beranjak dari duduk menghampiri putranya.


"Maaf, Pak. Saudara Fadli harus ikut kami ke kantor. Dia sudah melakukan sebuah tindak kriminal yang mengarah pada penghilangan nyawa!" Pria yang adalah petugas polisi itu buka suara.


"Apa?" Pak lurah terperangah dengan ucapan pria tegap di depan. "Tidak mungkin anak saya seperti itu, Pak! Ini fitnah!" Niken histeris.


"Kalian tidak bisa membawa anak saya begitu saja!" Pak Lurah mulai emosi. Menurutnya putranya tidak mungkin melakukan apa yang di tuduhkan.


"Kami punya bukti kuat, Pak. Sebaiknya kalian ikut ke kantor! Kami akan menjelaskan semuanya di sana!"


Diamnya Fadli membuktikan tuduhan itu benar adanya. "Maaf, Pak. Apa boleh saya bicara sebentar dengan calon istri saya?" Fadli memohon.


"Baikah."


Fadli menghampiri Puspa. "Maaf, Pus. Aku tidak pernah berniat mencelakaimu. Itu semua sebuah kesalahan. Aku bahkan terus menyesalinya! Hiduplah dengan bahagia!"


Puspa terdiam seribu bahasa. Dia tidak mengerti kemana arah ucapan Fadli. Mencelakai apa?


Mobil polisi melaju pergi, meninggalkan kediaman Ningrum. Menyisakan banyak tanya dalam benak setiap orang yang hadir di sana.


Ningrum merangkul Puspa untuk menenangkannya. Gadis itu mungkin terlihat menyedihkan, tetapi dia malah merasa seolah mendapat jawaban dari setiap doanya. Dia lega.


"Puspa ...!" Anita berhambur ke pelukan sahabatnya gadis itu datang terlambat bersama Rio.


"Kamu datang, Nit?"


"Kamu tidak papa?" Anita balik bertanya. "Iya," jawab Puspa.


Seluruh warga menjadi gaduh. Pemikiran liar berkembang di setiap kepala dari mereka. Menduga-duga itu yang mereka lakukan.


"Kasihan sekali, Puspa. Dia gagal menikah lagi!" celetuk seorang warga.


"Sepertinya Puspa kena kutukan karena pernah menggunakan guna-guna," balas warga yang lain.


"Rum, bagaimana kalau nanti kalian menghadapi kemalangan karena sudah melanggar perintah Mbah Slamet?"


"Dari mana mereka tahu, Rum?" Entin berbisik. Rasanya Ningrum tidak pernah membicarakan hal itu dengan orang lain kenapa warga bisa tahu?


"Kalau begitu saya pamit, Bu." Penghulu yang batal meresmikan penyatuan dua manusia itu pun berpamitan.


"Tunggu, Pak! Tetaplah di sini!"


Satya yang sedari diam di temani Rio menghampiri.


Ningrum beradu pandang dengan putrinya. Apa yang tengah mantan majikan Puspa itu lakukan?


Puspa menatap lekat ke arah pria di hadapan. Rasanya lega melihatnya dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku hanya akan bertanya sekali saja dan kamu harus menjawabnya!" Satya menatap Puspa intens.


Plak!


Rio memukul jidat melihat kelakuan sahabatnya. "Kenapa melamar gadis sperti itu?" Pria itu bergumam.


"Apa?" tanya Puspa.


"Apa kamu mau menjadi istriku, Puspa Maharani?"


Puspa terkesiap, menatap tak percaya. Namun, Satya mampu meyakinkan hatinya dengan tatapan penuh cinta.


"Iya, aku mau." lirih Puspa.


Pria itu tersenyum. Kemudian menarik lengan Puspa membawanya duduk kembali di hadapan penghulu.


Prosesi akad nikah pun terjadi dengan mengganti mempelai pria. dengan mahar sebuah cincin berlian pernikahan Puspa dan Satya sah secara agama.


***


Di dalam kamar Puspa, gadis itu merasa kikuk semua terjadi begitu tiba-tiba dia bahkan tidak tahu harus bagaimana.


"Duduklah!" Satya menepuk kasur di sebelahnya memberi isyarat bagi wanita yang sudah sah sebagai istrinya untuk berada di sisinya.


"Maaf, Pus. Karena datang terlambat. Aku harus mencari bukti kejahatan Fadli!"


"Tidak, Bapak datang tepat waktu!" Puspa tersenyum.


"Kamu tidak bertanya kenapa Fadli di tangkap polisi?" Satya penasaran pada Puspa dan ibunya, kenapa mereka diam saat Fadli di bawa polisi?


"Untuk apa? Aku tidak peduli dengannya!"


"Baiklah! Lalu aku? Apa kamu peduli padaku?"


"Saya peduli," jawab Puspa.

__ADS_1


"Apa kamu mencintaiku?"


"Saya cinta."


"Benarkah?"


"Benar."


"Aku juga mencintaimu."


"Apa itu mungkin?"


"Kenapa?"


"Karena saya hanya kucing kampung."


"Kucing kampung itu ... aku sangat mencintainya."


Satya membawa Puspa dalam pelukan. Ah ... lega sekali mengetahui mereka kini sudah sah dalam ikatan suci. Butuh waktu lama untuk pria itu meyakinkan perasaannya. Dan Puspa dia lebih dulu menyadari isi hatinya. Namun, status sosial membuatnya tidak berani bermimpi bersanding dengan Satya. Namun, takdir berkata lain. Cinta datang tanpa di minta. Awal kisah cinta mereka baru akan di mulai. Ujian dan rintangan dalam rumah tangga sudah siap menghadang. Semoga mereka mampu melewati semuanya.


"Maksud, Nak Rio. Fadli yang sudah mencelakai Puspa?" Entin menatap tak percaya.


"Iya, Bu. Fadli sengaja membayar orang-orang itu untuk melukai, Puspa!"


"Untuk apa?" tanya Entin lagi.


"Agar Bulek Ningrum semakin percaya dengan omongan Mbah Slamet Bulek. Kalau Puspa tidak segera menikah dengan Fadli maka dia akan celaka." Anita menambahi.


"Dan asal Bulek tahu, Mbah Slamet itu di bayar oleh Fadli agar ngomong begitu ke Bulek Ningrum."


"Opo?" Ningrum geram.


"Jadi selama ini aku di tipu. Dasar pria tua Bangka! Tak sambel nanti dia!"


"Tenang Bulek ... Mbah Slamet juga sudah di bawa polisi. Dia itu ternyata dukun gadungan sudah banyak yang tertipu. Termasuk Bulek!" Anita tersenyum getir.


"Yoalah ... ngertio ngunu Ra Sudi aku menerima lamaran Fadli. Kasihan putriku!" Ningrum menyesali kebodohannya.


grubyak!


Semua orang terdiam saat terdengar suara nyaring dari dalam kamar pengantin.


"Pus ...! Kamu nggak papa?" Refleks Ningrum berteriak dengan suara nyaringnya.


"Bulek ki opo to? Jangan di ganggu mereka kan pengantin baru!" Anita menepuk pundak Ningrum cukup keras. Sementara Arka dan Rio tersenyum penuh arti.


"Nggak Popo, Bu. Tekonya jatuh!"


Di dalam kamar Puspa memukuli bahu suaminya. "Bapak ini gimana, to? Mereka pasti mikirnya macem-macem ini!" Puspa merasa malu. Padahal Satya tanpa sengaja menyenggol teko air di meja saat hendak bangkit dari duduknya.


"Memang kenapa? Kita kan sudah sah, Pus!"


Puspa tersentak saat pria itu melingkarkan kedua lengan di pinggang rampingnya.


"B-bapak mau apa?" Puspa gugup.


"Mau kamu! Tapi sebelumnya jangan memanggilku dengan sebutan itu. Mulai sekarang panggil aku, Mas!"


"Mas?"


Puspa ingin mengatakan banyak hal tentang sebutan yang dia rasa masih aneh itu, tapi Satya lebih dulu membekapnya dengan ciuman hangat yang mampu membuat wanita itu terdiam seribu bahasa.


Dua manusia yang sudah saling berjanji akan saling mencinta kini terlena, saling melepas rindu. Larut dalam sebuah hubungan halal yang akan memperdalam rasa cinta di antara keduanya.


Di luar, Anita masih terus tersenyum. Merasa lucu dengan tingkah ibunya Ningrum.


"Kita kapan, Nit?" Ucapan Rio membuat Anita seketika menoleh pada pria di sampingnya.


"Apanya?" tanya Nita.


"Seperti Satya dan Puspa?"


"Menikah dulu!" balas Anita singkat.


"Apa? Beneran?"


Mendapat anggukan dari gadis pujaan hati refleks Rio merengkuh gadis itu dalam pelukan.


"Hei ... kalian sedang apa?" Entin histeris.


"Apa sih, Bulek?" Anita mencibir.


Teras rumah Ningrum yang masih berhiaskan dekor pengantin riuh dengan suara canda tawa.


_TAMAT_


((( Terimaksih untuk para readers ku yang selama ini sudah setia menemani perjalanan Puspa Maharani. Jangan lupa mampir di karya author Zena Maryam yang lain ya ... melipir yuk ke seberang ... Semoga saja ada yang bersedia naik perahu denganku. kita nyeberang bentar ... nggak jauh kok 😁🤭


Salam sehat selalu untuk kalian semua jangan lupa tidur cukup! Faighting! 💪🥰❤️ )))

__ADS_1


__ADS_2