
Puspa tersenyum bahagia saat mendapati sebuah ponsel dalam saku tersebut. Anggap saja sebagai imbalan atas jasanya menemani sang pria Bangkotan walau hanya sebentar.
"Sebentar ya, Om!" ucap Puspa sembari membuka jas pria itu. Tentu saja sang pria yang sudah berpikiran kotor merasa senang saat Puspa menanggalkan pakaiannya satu persatu. Dia tidak tahu jika Puspa menjadikan jas itu sebagai pembungkus kaki.
Prank!
Sekali tendang kaca jendela hancur berkeping. "Suara apa itu?" si om mulai panik.
"Kacanya pecah, Om." jawab Puspa dengan entengnya. "Kaca apa? kenapa bisa pecah pecah?" tanyanya lagi.
"Si Om ini cerewet banget to," geram Puspa.
Bugh!
Puspa memukul perut pria itu sehingga mulutnya terbuka lebar.
Leb!
Segumpal tisu dia sumpalkan ke mulutnya, membuat si om langsung diam tanpa suara.
"Makanya Ojo cerewet to, Om," ucap Puspa sembari menepuk pelan bahu pria itu.
"Maaf ya, aku minta ponselnya sebagai upah." Setelah mengucapkan itu, Puspa menyahut tas di atas tempat tidur dan bergegas keluar lewat jendela.
Suara pecahan kaca pasti akan menarik perhatian para penjaga bertubuh besar itu. Puspa harus segera pergi sebelum mereka datang.
"Aww ..." Puspa merintih saat tanpa sengaja dahinya tergores kaca yang masih menempel di jendela. Gadis itu bergegas tanpa memperdulikan rasa sakitnya.
Tok!
tok!
"Om ...! Suara apa itu? Apa terjadi sesuatu?" mami berteriak dari balik pintu.
"Mmm ... mmm ...!" si om tua hanya bisa mengeluarkan suara itu sebagai sahutan karena mulutnya tersumpal.
Merasa ada yang aneh, mami menyuruh dua bodyguardnya mendobrak pintu.
__ADS_1
Brak!
Sekali dobrak pintu langsung terbuka.
"Ada apa ini?" mami panik saat melihat keadaan si om yang terduduk di kursi dengan tangan terikat dan mulut tersumpal.
"Cepat cari gadis sialan itu!" Titah mami pada dua ajudannya. "Siap, Bos!" keduanya segera berlari keluar kamar. "Maaf ya Om. Ini di luar dugaan," mami berujar sembari membuka ikatan pada kepala dan tangan pria itu.
"Kurang aj*r, ini penghinaan, kembalikan semua uangku! Atau aku akan menghancurkan tempat ini." Si om tua bernama Danu itu terbakar amarah. Bukan hanya hasrat tidak terpenuhi, dia juga kehilangan harga diri dan juga ponsel mahalnya.
"Kamu juga harus mengganti ponselku yang di ambil gadis itu!" sambungnya lagi.
"Apa? dia mengambil ponsel, Om?" mami merasa geram. setelah mengantar Danu keluar dia segera menghubungi Raka.
"Segera datang kemari, gadis itu kabur!" ucap mami dalam sambungan telepon.
Puspa terus berlari saat melihat dua algojo mengejarnya. "Sial banget to nasibku Iki," Puspa terus menggerutu sepanjang pelariannya.
Sampainya di sisi jalan gadis itu terdiam melihat ke arah jalan yang begitu ramai dengan kendaraan yang lalu lalang tiada henti. Malam sudah semakin larut, Puspa menengok ke kanan dan kiri, mencari tempat yang bisa dia gunakan untuk bersembunyi, tapi dia tidak menemukan apapun di sana.
"Woy ... Berhenti!" Seorang dari dua pria itu berteriak sembari terus berlari. Tidak ada pilihan lain Puspa harus menyeberang jalan.
Tubuh Puspa terpental ke sisi jalan saat sebuah mobil menabraknya. Kedua algojo mami juga melihatnya, mereka lantas berhenti. "Dia tertabrak Bro, gimana sekarang?" tanya seorang dari mereka. "Kita balik saja, bisa-bisa kita yang di salahkan nanti." Kedua pria itu pun meninggalkan Puspa yang tergeletak di seberang jalan.
Puspa merintih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, syukurlah dia tidak terluka terlalu parah. Puspa terjatuh karena terkejut dengan mobil yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu nggak papa, Mbak?" Sang pengemudi mobil turun dan memeriksa keadaan Puspa.
"Badanku rasanya sakit semua Pak, tolong!" ucap Puspa.
"Kamu berdarah, Mbak!" Pria itu panik saat melihat darah yang mengalir dari kening Puspa. "Tolong, Pak. Bawa saya pergi dari sini!" Puspa tidak perduli dengan lukanya, yang terpenting saat ini dia bisa lolos dari kejaran anak buah mami.
"Tunggu sebentar." Pria itu berjalan tergesa menuju mobil, dia nampak bicara dengan seorang dalam mobil tersebut.
"Perempuan itu terluka, Tuan," ucap pria yang ternyata adalah seorang sopir pribadi. "Bawa dia ke mobil, kita pulang sekarang!" jawab seorang dari dalam mobil. "Baik, Tuan."
Puspa berjalan tertatih di bantu sang sopir masuk ke dalam mobil. Karena dia membawa sang majikan di kursi belakang, tidak ada oikahn lain Puspa harus duduk di depan.
__ADS_1
Sesekali Puspa melirik pria yang duduk di kursi belakang, dia penasaran kenapa pria itu sama sekali tidak bicara, padahal mereka baru saja menabraknya, setidaknya dia harus minta maaf bukan?
Rasa sakit di keningnya mulai terasa, luka bekas goresan kaca. Darahnya tidak berhenti mengalir meski sudah berulang kali Puspa mengusapnya.
Mobil berbelok ke halaman luas sebuah bangunan megah, Puspa bahkan sampai lupa menutup mulut karena takjub. "Ini rumah atau apa?" gumamnya pelan.
Brak!
Suara keras dari pintu mobil yang di tutup membuyarkan lamunan Puspa. Pria bertubuh tinggi yang duduk di kursi belakang turun lebih dulu dan berlalu masuk ke dalam rumah besar di hadapan mereka.
"Mari turun, Mbak!" Sang sopir membukakan pintu untuk Puspa.
"Ini rumah siapa, Pak?" tanya Puspa heran.
"Ini kediaman Tuan Satya, pria yang tadi," jawab pria itu dengan ramah.
"Wah ... besar banget yo, Pak."
"Iyo, " ujar si bapak sopir. "Lo ... Bapak bisa bahasa Jawa juga?" tanya Puspa. " Yo bisa wong saya asli Jawa timur," bapak itu tersenyum simpul. "Lo aku ketemu temen di sini."
"Sudah, ayo masuk! Lukamu harus segera di obati kalau tidak bisa infeksi." Sampai saat itu sopir pribadi bernama Joko itu masih mengira jika luka di kening Puspa karena ulahnya.
Mata Puspa terbuka lebar, saat melihat isi dalam rumah besar tersebut. Baru kali ini gadis desa itu melihat tempat tinggal seperti istana dalam dongeng.
"Siapa ini, Jok?" Seorang wanita paruh baya muncul dari dapur. "Dia ... siapa namamu?" ujar Joko sembari menoleh pada Puspa.
"Saya, Puspa." jawab Puspa santun.
"Tadi saya menabraknya di jalan, Bu. Dan dia terluka, sesuai perintah Tuan, Puspa saya bawa pulang," Joko bicara panjang lebar.
"Mari, Mbak. Biar Ibu obati lukanya, sepertinya lumayan parah lo," Puspa menurut saat wanita berdaster itu mengajaknya masuk ke kamar.
Sementara Joko melangkah menuju peristirahatannya. Malam sudah sangat larut, dia juga lelah dan butuh istirahat.
"Saya, Marni. Asisten rumah tangga di sini. dan yang tadi itu Joko, sopir pribadinya Tuan Satya, kamu tadi sudah ketemu to sama Tuan Satya?" Marni mulai membersihkan luka di kening Puspa dengan hati-hati.
"Sudah, Bu. Dia itu nggak bisu to?" tanya Puspa penasaran. "Sopo?" Marni balik bertanya. " Tuan Satya, apa dia bisu?"
__ADS_1
"Hush, sembarangan!" Marni menepuk sebelah paha Puspa. Anehnya Puspa malah merasa senang. Bertemu dengan Marni dan Joko adalah sebuah keberuntungan bagi gadis itu, tapi itu tidak akan berlangsung lama karena besok pagi dia harus pergi dari sana.