
Di dunia ini ada yang mencintai tanpa pamrih, memberi segalanya yang dia punya tanpa berpikir dua kali, sekalipun itu nyawa. Dia adalah ibu.
Hati ibu menangis saat mendengar kemalangan menimpa buah hatinya, sekalipun anak tersebut sudah menoreh luka kecewa.
"Kita tunggu besok, Entin. Kamu kan baru saja kembali dari kota," Ningrum sedang berusaha membujuk sahabatnya yang gusar.
Kabar yang menyebutkan jika Raka terlibat sebuah perkelahian sehingga membuatnya terluka parah membuat Entin tidak bisa duduk dengan tenang.
"Bagaimana kalau anakku sampai tiada, Rum. Aku bahkan pergi setelah memarahinya,"
"Hush ... ngomong opo to?"
Ningrum mengambil ponsel yang tergeletak di meja dapur. Dengan terburu dia menelpon Puspa.
"Ada apa, Bu?"
"Puspa, tolong Bulek Entin!"
Ningrum menceritakan permasalahan yang tengah di alami wanita yang pernah mencaci maki Puspa itu. Meminta pada anak perempuannya untuk mencari tahu keadaan Raka sekarang.
Puspa bingung, setelah kejadian di hotel kini dia menurut pada perintah Satya untuk tidak keluar rumah kecuali atas ijin pria itu.
Mengingat perlakuan Raka padanya dulu, Puspa ragu jika Satya akan mengijinkan menemuinya.
Satya tengah bersantai di balkon kamar sembari menatap keindahan sang Surya di kala senja.
"Maaf, Pak," suara lantang Puspa berubah lembut menandakan jika wanita itu tengah mengharapkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Satya.
"Bapak ingat Raka? Teman saya dari kampung,"
"Teman? Dia bahkan menjualmu!"
Puspa tidak menduga sebelumnya, jika Satya akan langsung mengingat Raka. Baguslah dengan begitu dia tidak harus menjelaskannya lagi.
"Bapak, benar," ujar Puspa sembari tersenyum kecut.
"Kenapa, apa dia mengganggumu lagi?"
"Tidak ... ibunya Raka adalah sahabat baik Ibu,"
"Lalu?"
Puspa menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Raka seperti yang di ceritakan Ningrum dalam sambungan telepon.
"Baiklah, aku akan mengantarmu,"
__ADS_1
Sebuah jawaban tak terduga keluar dari mulut Satya.
"Benarkah?"
"Cepat sebelum aku berubah pikiran!"
Puspa bergegas mengambil tas selempang dan tak lupa memasukkan ponsel dalam tas tersebut.
Setelah sampai di rumah sakit yang di tuju, Puspa bergegas bertanya pada resepsionis mencari tahu tentang Raka. Dari sana Puspa tahu kalau Raka sudah di pindahkan ke kamar rawat setelah sebelumnya menjalani tindakan operasi.
Selama Puspa berjalan kesana kemari mencari kamar Raka, Satya mengikuti langkah gadis itu sepeti seorang bodyguard.
"Bapak mau masuk?" tanya Puspa setelah mereka menemukan kamar rawat Raka.
"Tidak, aku akan menunggu di sini," jawab Satya kemudian duduk di bangku tunggu depan kamar pasien.
Puspa membuka pelan pintu kamar pasien di hadapannya. Di atas tempat tidur, Raka terbaring lemah tak berdaya. Luka tusukan belati lumayan dalam sehingga harus di lakukan tindakan operasi.
"Puspa ...," lirih pria itu saat melihat kedatangan Puspa.
Puspa mengedarkan pandangan ke sekeliling tak ada orang lain dalam ruangan kelas dua tersebut. Puspa juga tidak tahu siapa yang sudah mengurus administrasi untuk Raka sehingga dia mendapatkan penanganan di rumah sakit tersebut.
"Apa kamu baik-baik saja?" Puspa mendekati Raka dengan ragu.
"Seperti yang kamu lihat aku masih hidup," jawab pria itu pelan.
"Kenapa masih hidup? Harusnya kamu tidak selamat," sindir Puspa.
"Kamu benar harusnya aku mati saja, hidupku juga tidak berguna dan banyak dosa,"
"Siapa yang tidak berdosa di dunia ini, Ka?"
Kedua manusia yang memiliki kenangan buruk di masa lalu itu saling bicara. Raka mulai menyesali perbuatan buruknya di masa lalu pada puspa. Melihat begitu baiknya gadis di hadapannya kini.
di saat masa-masa sulit justru Puspa yang hadir untuknya.
"Bagaimana, Ibu?" Raka menyesali perbuatannya malam itu yang tidak sempat mengejar sang ibu.
"Aku juga tidak tahu, ibu yang memberi tahu keadaanmu padaku,"
Puspa duduk di kursi samping tempat tidur, tanganya meraih buah jeruk yang dia bawa dan mulai mengupasnya.
"Siapa yang membawamu kesini? Harusnya kamu di biarkan saja tergeletak di jalanan biar kapok," ucapan Puspa membuat Raka menyunggingkan senyum getir di bibirnya. Dia tahu Puspa tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
"Andin," sebuah nama keluar dari mulut pria yang belum bisa bangkit sekedar untuk bersandar.
"Andin? Kalian masih bersama? Apa gadis itu buta?" ucapan ketus terus terucap dari mulut Puspa, tapi Raka tidak mempermasalahkannya. Biarlah gadis itu mengeluarkan kekesalan pada dirinya karena memang dia telah banyak menyusahkannya.
__ADS_1
"Entahlah, apa yang dia pikirkan? Kenapa masih mau dengan pria brengsek sepertiku,"
"Makanlah, setidaknya kamu harus sehat untuk meminta maaf pada ibumu dan ibuku!"
Puspa memberikan buah jeruk yang sudah dia kupas pada Raka.
"Terimaksih, Pus. Dan maaf," ucap pria itu dengan mata memerah karena haru.
Tak berapa lama Andin datang dengan rantang dan sekeranjang buah-buahan di tangan. Gadis itu menghentikan langkah sejenak saat melihat sosok Puspa yang duduk di sisi kekasihnya.
"Puspa?"
"Hai ... syukurlah kamu datang. Aku harus pulang," Puspa bangkit dari duduk dan mendekati Andin.
"Kamu sama siapa ke sini? Dan bagaimana kamu tahu Raka ada disini?"
"Aku ... apa pria yang datang bersamaku masih ada di luar, Ndin?" Puspa baru teringat Satya yang tengah menunggunya.
"Pria? Tidak ada siapa-siapa di luar," jawab Andin.
Puspa pun bergegas keluar kamar setelah sebelumnya berpamitan pada Raka dan Andin. Gadis itu menoleh ke kanan kiri dan tidak menemukan sosok sang majikan. 'Apa aku terlalu lama membuatnya menunggu?' batin Puspa.
Gadis bercelana jeans itu pun berniat mencari Satya ke lobi rumah sakit siapa tahu dia tengah menunggu di sana. Namun, belum sampai di tempat itu, tiba-tiba dia melihat sekelebat bayangan seseorang yang mirip dengan pria yang tengah dia cari melintas di hadapannya.
"Seperti Pak Satya," gumamnya pelan. Dengan langkah cepat Puspa mengikuti arah pria tersebut.
Langkah pria itu berhenti tepat di depan kamar pasien VIP. Puspa memperhatikan dari kejauhan dia sedikit ragu untuk memanggilnya karena takut salah orang. Saat itu Puspa tidak bisa melihat wajahnya.
"Jika benar itu Pak Satya, dia menjenguk siapa? Apa keluarga? Tapi setahuku dia tidak punya keluarga," Puspa bergumam sendiri.
Satya terlihat masuk ke kamar dan menutup pintu dari dalam tanpa melihat ke arah Puspa. Karena penasaran, Puspa pun bergegas menuju kamar tersebut.
"Apa teman kerjanya?" gumam Puspa.
Puspa mengintip dari balik kaca untuk memastikan pria itu benar Satya. Dan benar dia Satya setelah Puspa melihat wajah pria itu. Saat itu Satya mengenakan kemeja putih dan celana hitam pakaian yang bisa di kenakan oleh siapa saja membuat Puspa takut salah mengenali orang.
Puspa menatap pada pasien yang duduk di atas tempat tidur, wajahnya tidak terlihat karena Satya berdiri tepat di depannya.
"Apa Pak Satya punya pacar?" gumam Puspa lagi.
Mata Puspa terbuka lebar saat melihat Satya memeluk wanita di dalam sana dengan erat. Wanita dengan pakaian pasien yang duduk lemah di atas tempat tidur itu pun melingkarkan kedua lengan di pinggang Satya.
Kenapa ada yang terasa begitu sakit di hati Puspa saat melihat adegan itu? Apa mungkin dia tengah cemburu?
Tanpa Puspa sadari air matanya bahkan luruh tanpa aba-aba.
"Kenapa sakit sekali?" gumam gadis itu sembari menekan bagian dada.
__ADS_1