
"Jangan pura-pura bodoh, kalian sudah ketangkap basah berbuat mesum, tidak ada pilihan lain kalian harus segera di nikahkan," seorang berujar dengan gamblang.
Puspa tak mengira dia harus membayar kebodohannya dengan harga yang begitu mahal, andai dia terburu masuk ke rumah itu, andai dia tidak terlalu cinta pada Fadli, andai ... andai ... Hanya penyesalan yang kini di rasakan oleh biduan cantik itu.
Bukan hanya rencana pernikahan yang hancur, karirnya juga selesai. Di tengah masyarakat desa yang masih memegang teguh norma-norma, perbuatan mesum tidak termaafkan, jalan terakhir adalah menikahkan pasangan tersebut.
Berbeda dengan Puspa, Tejo malah merasa senang, rencananya dengan Yasmin berjalan mulus.
Pertemuan mereka malam itu berahir dengan sebuah rencana licik untuk menjebak Puspa. Tejo yang awalnya keberatan dengan rencana Yasmin akhirnya setuju, setelah wanita itu memberikan imbalan dengan jumlah yang tidak sedikit padanya.
Sudah pasti Tejo tidak menolak, selain dapat uang dia juga bisa menikah dengan sang pujaan hati.
Sebelum kejadian, Yasmin sudah menyembunyikan ponsel milik Fadli, dan yang mengirim pesan pada Puspa bukanlah Fadli, melainkan Yasmin.
Sementara Fadli, sudah termakan omongan wanita licik itu, dengan mudah Yasmin membujuk Fadli agar kembali bersamanya dengan menunjukkan sebuah rekaman video yang di ambil Tejo saat berada di rumah Mbah Slamet.
Semua sudah di atur dengan sempurna oleh Yasmin, bahkan dia juga yang memanggil warga untuk menggerebek Puspa dan Tejo di rumah itu. Walau sedikit terlambat, tapi warga tetap percaya dengan asumsi mereka sendiri, bahwa Puspa sang biduan dangdut tengah berbuat mesum dengan Tejo.
"Kalian salah faham, aku tidak melakukan itu, mereka menjebakku!" Puspa terus membela diri.
"Sudahlah, Dek. Kita akui saja kalau kita memang berniat untuk ..."
"Tutup mulutmu Tejo! Dasar sialan, aku lebih baik mati daripada menikah dengan pria tidak bermoral seperti kamu!" Dengan tegas Puspa memotong pembicaraan Tejo.
"Sudah, jangan banyak omong, kita ke rumah pak RT sekarang juga!" seorang ibu terus menyeret Puspa dengan kasar, seolah Puspa adalah penjahat.
"Tunggu!" Terdengar suara seorang menghentikan mereka. Seorang pemuda dengan ransel di gendongan.
"Lepaskan, Puspa!" pria itu berujar dengan tegas.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur!"
Dalam kegelapan wajah pemuda itu tidak begitu jelas, sehingga baik Puspa maupun warga tidak mengenalinya.
"Jika kalian main hakim sendiri, maka saya akan laporkan tindakan kalian pada polisi,"
__ADS_1
Mendengar kata polisi membuat warga sedikit takut. pria berjaket hitam itu pun mendekat ke arah Puspa. "Raka?" ucap Puspa setelah mengenali siapa pria yang tengah berusaha membelanya.
"Kalian punya bukti apa? sehingga mengatakan mereka tengah berbuat mesum?"
Warga saling beradu pandang, yang di katakan pemuda di hadapan mereka ada benarnya, mereka tidak punya bukti apapun, bahkan tadi saat mereka datang, Puspa berada di luar rumah, hanya Tejo yang ada di dalam sana.
"Aku buktinya, kami memang saling menyukai jadi kami sudah janjian datang kerumah ini," Tejo berusaha meyakinkan warga, dia tidak mau kalau rencana menikah dengan Puspa gagal.
"Bohong, kami tidak janjian. Tejo bahkan berusaha menodai kehormatanku, untung saja aku bisa kabur," Puspa tidak mau berdiam diri dan membenarkan ucapan Tejo yang tidak masuk akal.
"Apa benar begitu?" tanya seorang dari mereka.
"Percayalah padaku, Pak. Kalian tahu kan aku sedang berhubungan dengan anak Pak Lurah, mana mungkin aku mengkhianati Fadli, hanya demi lelaki seperti dia," tunjuk Puspa pada Tejo.
Warga semakin bingung sekarang, ucapan Puspa ada benarnya, melihat penampilan Tejo, sangat tidak mungkin jika Puspa yang cantik jelita menyukai pria seperti dia.
"Sudah, mending kalian bubar sekarang! Saya akan mengantar Puspa sampai rumahnya, tentang pria ini saya akan mengurusnya nanti, jika benar dia berniat menyakiti Puspa, maka sudah sepatutnya dia di penjara," ucapan Raka sungguh meyakinkan, tinggal lama di kota membuat pria itu bisa mengendalikan situasi yang rumit dengan begitu mudah.
Tejo terpojok, pria cungkring itu Bahkan sudah menyalakan motornya, dia berniat kabur dari sana. Ancaman Raka tentang polisi dan penjara, membuatnya kehilangan nyali dalam sekejap saja.
"Terimakasih, untung ada kamu, Ka. kalau tidak aku bisa di paksa nikah dengan orang-orangan sawah itu," ucap Puspa sembari tersenyum getir, mengingat nasip buruk yang hampir saja menimpa dirinya.
"Kita pulang, ya?" Raka membawa sepeda motor dari kota, untunglah dia memutuskan untuk berhenti saat melihat keramaian di tempat itu. sebenarnya Raka sudah lebih dulu sampai sebelum warga, dia Bahkan sempat melihat adegan memilukan di saat Puspa mengemis cinta pada Fadli. Namun, saat itu dia hanya menyaksikan dari kejauhan, karena tidak memahami situasi yang tengah terjadi.
Raka mengantar Puspa hingga sampai di teras rumah, pria itu merasa khawatir dengan keadaan teman lamanya itu.
"Masuklah dulu, Ka. Ibu pasti senang melihatmu," Puspa berujar sembari mengetuk pintu.
Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka. "Ibu ...!" Puspa sudah tidak bisa menahannya lagi, dia langsung berhambur di pelukan Ningrum. "Ada apa, Puspa?" Ningrum kebingungan dengan tingkah sang putri.
"Tejo, Bu. Dia hampir saja melecehkan aku," Puspa mengadu dalam pelukan ibunya.
"Apa? Kurang ajar! Bagaimana bisa kamu ketemu Tejo?" Ningrum geram, ingin rasanya dia segera menemui pria itu untuk menghajarnya.
"Untung ada Raka yang nolongin, Puspa, Bu."
__ADS_1
"Raka? Anaknya Ntin?"
"Iya, dia ada di luar sekarang,"
Ningrum bergegas keluar rumah dan mendapati seorang pemuda tengah menelpon. "Raka?" panggil Ningrum tak percaya. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu, Ningrum sudah menganggap Raka seperti anaknya sendiri. Saat kecil bocah itu sering bermain di rumahnya, makan, mandi bahkan tidur di sana bersama Puspa.
"Yoalah, kamu pulang, Le..." Ningrum memukul pundak pemuda itu dengan keras hingga membuat Raka meringis menahan sakit.
"Bu, Ojo di gebugi to, kasian Raka," ucap Puspa tidak enak hati.
"Nggak papa, Pus. Justru ini yang membuat aku rindu sama Bulek Ningrum," ucap Raka sembari tersenyum manis.
"Cih, di pukuli kok tambah seneng," balas Puspa.
"Wes, Pus. Ajak Raka masuk! Di luar dingin."
Belum sampai ketiganya masuk kedalam rumah, terdengar suara panggilan dari arah jalan. "Le ...!" Ntin berlari sembari menyingsing bawah dasternya. Baru saja Raka menelpon untuk memberitahu keberadaanya, eh ibunya itu langsung menyusulnya kesana.
"Kamu giman to? kok malah kesini pulangnya?" ucap Ntin sembari memeluk putra semata wayangnya. "Dia begitu karena lebih sayang padaku daripada ibunya," Ningrum menggoda sahabat baiknya itu.
"Opo to? Wes mesti Raka luweh sayang aku timbang dirimu," Ntin tak mau kalah.
"Sudah, Bu. Ayo masuk dulu! Di luar dingin," Puspa menggandeng lengan ibunya dan masuk ke rumah.
Bergantian, Puspa dan Raka menceritakan kejadian yang sudah menimpa biduan dangdut itu.
Reaksi Ntin jauh lebih menakutkan di banding Ningrum, wanita itu sudah dalam posisi berdiri. "Ayo Rum. Kita sambangi bocah gemblung itu, kalau perlu kita sunat dia biar sekalian nggak punya burung, berani-beraninya menyentuh Puspa," Ntin berapi-api.
Hubungan baik yang terjalin sangat lama di antara Ntin dan Ningrum membuat keduanya merasa saling memiliki satu sama lain. menyakiti anak Ningrum berarti sudah menyakiti anak Ntin begitu pula sebaliknya.
"Terimakasih, Bulek." Puspa memeluk Ntin dengan haru.
"Jangan khawatir, Bulek ada disini, sekarang Raka juga sudah datang, jadi jangan cemas!" ucap Ntin sembari mengelus pelan kepala Puspa.
Raka terus memperhatikan Puspa dan ibunya yang tengah berpelukan, membuat Ningrum memikirkan sesuatu.
__ADS_1