PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 37. Majikanku pahlawanku


__ADS_3

"Lepas Fadli!" Puspa terus berusaha melepaskan diri dari mantan kekasihnya, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk lepas dari cengkeraman tangannya.


Fadli membawa Puspa hingga sampai di sisi mobil miliknya.


"Kamu harus ikut sekarang! Ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" Fadli membuka pintu depan dengan tergesa.


"Hentikan! Kamu sudah gila, Fadli?"


Puspa menghempas kasar tanganya hingga terlepas dari genggaman Fadli.


"Aku mohon, Puspa. Sekali ini saja ikutlah denganku!" Fadli menatap Puspa dengan sendu


. Nampak jelas masih ada cinta di mata pria itu untuknya.


Tidak bisa di bohongi, hati Puspa pun mulai luluh melihat wajah memelas pria di hadapannya.


Dari kejauhan, Yasmin berjalan tergesa sembari menyingsing gaun panjangnya.


"Fadli! Lepaskan tanganmu dari gadis kampung itu!" Yasmin pun menarik kasar tangan Fadli dari pundak Puspa.


Plak!


Sebuah tamparan tepat mendarat di pipi Puspa.


"Jauhi Fadli gadis kampung!"


Gerakan tangan Yasmin begitu tak terduga sehingga Fadli tak sempat mencegahnya.


"Hentikan, Yas!" Sikap Fadli yang mulai bertindak kasar membuat Yasmin semakin membenci Puspa. Yasmin semakin ingin menyakiti gadis itu. Dengan kasar wanita itu menarik pakaian Puspa, sehingga gaun brokat berenda itu robek tepat di bagian lengan hingga dada.


Dengan cepat Puspa menutup bagian baju yang robek dengan kedua lengannya. Bekas tangan Yasmin masih terasa panas di pipi gadis itu, kini di tambah dengan malu dengan kondisi pakaiannya yang terbuka. Yasmin benar-benar menyerang Puspa dengan membabi buta membuat gadis itu hanya terdiam.


"Puspa, kamu tidak papa?" Fadli menyingkirkan Yasmin dari hadapannya dan mendekati Puspa.


"Pergi! menjauh dariku!" Merasa takut, Puspa memundurkan kakinya pelan menghindari Fadli.


"Pus, maafkan aku," lirih Fadli.


pria itu berniat untuk menyentuh Puspa Namun suara lantang seseorang menghentikan niatnya.


"Fadli ...! Menjauh darinya!" Satya datang dengan langkah tergesa. Dengan sigap dia mengenakan jas miliknya untuk menutupi bagian tubuh Puspa yang terbuka.


"Kamu nggak papa?" tanya Satya khawatir, yang di balas dengan gelengan kepala oleh gadis di hadapannya.


"P-pak Satya? Bapak sedang apa di sini?" ucap Yasmin tergagap. Bagaimana bisa Satya berada di sana dan mengenal Puspa?


"Jangan berani menyentuh Puspa lagi atau kalian akan menyesalinya!" Pria berkemeja putih itu menatap tajam ke arah Fadli dan Yasmin secara bergantian.


"Maaf, Pak. Ini urusan saya dengan Puspa. Tolong jangan ikut campur!" ucap Fadli.


"Urusan Puspa menjadi urusanku sekarang, jadi jika ada yang ingin kamu bicarakan katakan saja padaku nanti!"


Satya berucap sambil menggandeng tangan Puspa dan membawa gadis itu masuk mobil kemudian melesat pergi.


Tinggalah Fadli dan Yasmin yang mematung di tempat mereka berdiri.


Dari kejauhan Pamela menyaksikan semua yang terjadi. Satya meninggalkan dia begitu saja tadi, membuatnya penasaran siapa wanita yang sudah mengalihkan perhatian Satya dari dirinya?


"Sial! Bagaimana Paka Satya bisa mengenal Puspa?" Fadli geram dan memukul kap mobil dengan keras.


"Sepertinya dugaanku tentang gadis itu benar," ucap Yasmin.


"Apa maksudmu?"


"Fadli buka matamu, sayang! Untuk apa kamu masih mengejar gadis murahan itu?"

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Yasmin!"


Fadli menatap nanar pada wanita di hadapannya. Sikapnya pada Yasmin seketika berubah saat kembali bertemu dengan Puspa.


"Apa namanya kalau bukan gadis murahan? Kamu nggak lihat dia bersama Pak Satya? Kamu pikir kenapa mereka bisa bersama? itu karena Puspa sudah menjadi gu*d*k pria kaya raya itu, Fadli!"


Fadli mulai memikirkan perkataan Yasmin. Yang di katakan wanita itu ada benarnya. Bagaimana bisa Puspa mengenal Satya dan menempel pada pria sukses itu? Tapi apa mungkin Puspa melakukan pekerjaan kotor seperti itu?


"Terserah! Kepalaku pusing!"


Fadli masuk mobilnya dan meninggalkan Yasmin.


"Awas saja kalau kamu sampai kembali pada gadis itu! Aku akan menghancurkan keluargamu!"


Yasmin menyeret gaun panjangnya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Mobil berwarna merah itu pun melesat pergi dengan kecepatan tinggi.


***


Puspa hanya diam di sepanjang perjalanan. kejadian tadi sudah mampu mengguncang mentalnya. Hinaan Yasmin sudah sangat melukai harga dirinya.


"Kenapa kamu diam saja tdi?" ucapan satya memecah keheningan di antara keduanya.


Puspa menoleh ke arah pria itu dan menatapnya dengan penuh tanya.


"Seharusnya kamu membalas wanita itu! Kamu bukan seperti Puspa yang aku kenal. Apa semua karena Fadli?"


"Apa maksud bapak?"


"Jangan terkejut! Aku sudah tahu semua tentang Fadli dan hubungan kalian," Satya mulai berterus terang.


"Bapak menyelidiki latar belakang saya?"


"Apa yang salah dengan itu? kamu orang asing yang tiba-tiba datang ke rumahku, jadi wajar kalau aku mencari tahu? Siapa tahu kamu itu ******* yang menyamar menjadi pembantu" ucap Satya membela diri.


"Setiap hari suara kamu itu juga meledak seperti bom di rumah," balas satya tak mau kalah.


"Suara lantangku ini anugerah Lo, Pak. Kalau di rumah ada maling atau kebakaran, pasti berguna suaraku,"


"Nah, itu kamu tahu. Lalu kenapa tidak kamu gunakan suara nyaringmu untuk memaki kedua manusia itu? Malah diam seperti kucing kehilangan induk."


Percakapan keduanya menjadi semakin seru, tanpa mereka sadari batas antara keduanya mulai menghilang. Puspa bahkan merasa aneh dengan perubahan sikap majikannya, bagaimana dia bisa berubah dalam sekejap saja?


Aku? Kamu? Kenapa dia tak lagi bicara formal padanya?


'Semua ini pasti karena Pamela,' batin Puspa.


"Bapak benar, harusnya saya jambak rambut si kuntilanak itu. Dasar anak genderuwo! Sakit lo Pak pipiku kena tampar," Puspa bahkan mulai berani mengadu.


"Dia menamparmu?" Satya memang terlambat datang jadi dia tidak sempat melihat saat Yasmin menampar Puspa.


"Iya, Bapak terlambat nolongin saya. Pasti gara-gara mbak Pamela itu to, sampai Bapak lupa ada saya di sana,"


chiittt!


Mobil seketika berhenti saat Satya menginjak rem secara tiba-tiba.


"Darimana kamu tahu soal Pamela?" Satya menatap lekat gadis di hadapannya. membuat gadis itu gugup dan salah tingkah.


"B-bapak sendiri yang bilang kok. Bapak lupa?"


Puspa segera mengalihkan pandangan agar tidak ketahuan kalau saat ini dia tengah tersipu.


"Kapan?" tanya Satya sembari membuka memory dalam kepalanya. Namun dia tidak mengingat momen dimana dia menceritakan Pamela pada Puspa.

__ADS_1


"Jangan pergi Pamela! Jangan tinggalkan aku!" Puspa menirukan suara Satya saat pria itu tengah mabuk dan memeluknya malam itu.


"Itu tidak benar! Aku tidak pernah seperti itu!" Satya terus mengelak karena dia memang tidak mengingatnya.


"Pernah, Pak!"


"Tidak pernah!"


"Pernah, Bapak Satya!" Puspa tidak mau mengalah.


"Diam!" Satya mengacungkan jari telunjuknya kearah Puspa memmbuat gadis itu seketika menutup Rapat mulutnya.


Satya pun kembali melajukan mobilnya. Malam sudah semakin larut, mereka pun akhirnya pulang.


***


"Puspa!" Marni menyambut Puspa dengan perasaan lega setelah dia begitu menghawatirkan gadis itu.


Satya langsung menuju kamarnya. hal yang sama juga di lakukan Puspa dan Marni mereka langsung masuk kamar.


"Lo ... baju kamu kenapa? kok robek?"Marni menyentuh bagian baju Puspa yang robek.


"Aku tak mandi dulu Yo, Bu. Nanti tak ceritakan semuanya," ucap Puspa kemudian masuk kamar mandi.


Tidak berapa lama, Puspa keluar kamar mandi dengan kondisi rambut yang basah. Suasana malam ini terasa panas. Mengguyur seluruh tubuh dengan air hangat membuatnya merasa lebih rileks.


"Iki jas nya Pak Satya to?" Marni meraih jas yang tergeletak di atas tempat tidur Puspa.


"Iyo, Bu."


"Tenan to kata ibu, Pak Satya itu baik"


"Dia begitu karena terpaksa, Bu. Asal Ibu tahu selama acara aku di tinggal sendiri. Dia malah asik ngobrol sama mantan pacare iku,"


"Jadi Non Pamela ada di sana?"


"Iyo, makanya pak Satya semangate pol, ternyata mau bertemu mantan pacar," Puspa duduk di atas tempat tidur kedua tangannya sibuk mengeringkan rambut yang basah menggunakan handuk.


"La ... mantan pacarmu datang nggak?" goda Marni.


"Oh iyo, Bu. Apa mungkin ajian pelet seng pernah tak ceritakan itu masih menempel padaku Yo? Kok Fadli masih ngejar-ngejar aku to?" Puspa bertanya dengan polosnya.


"La embuh, Ibu nggak ngerti soal begituan, tapi Ibu pernah dengar ilmu perdukunan itu syirik lo Pus dan dosa syirik itu sangat besar," Marni mengatakan apa yang dia ketahui dari siaran ceramah agama di televisi.


"Syirik itu opo, Bu?" tanya Puspa tak mengerti.


"Syirik itu meminta selain sama Gusti Allah," jawab Marni sebatas yang dia tahu.


"Opo Iyo, Bu?" tanya Puspa. Gadis itu memang kurang pengetahuan di bidang agama. Waktu kecil dia aktif ikut mengaji di masjid desa, tapi semenjak dia remaja dan mulai ikut membantu ibunya bekerja, Puspa sudah tidak lagi mengaji hanya bersekolah saja.


"Aku tak ke dapur dulu Yo, Bu. Haus," Puspa berujar sembari berjalan keluar kamar.


Di dapur, Puspa kembali teringat ucapan Marni tentang dosa besar bernama syirik. Gadis itu berusaha mencerna, jika benar yang di katakan Marni, maka dia sudah melakukan dosa besar lain dalam hidupnya selain dosa zina. "Astaghfirullahal'adzim," lirih Puspa.


"Maaf ya, karena sudah meninggalkanmu tadi,"


terdengar suar Satya dari arah tangga, pria itu tengah bicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.


Satya berhenti dan mematikan telepon saat melihat gadis dengan rambut basah tergerai berdiri di sisi meja dapur.


"Kucing kampung, ngapain disitu?"


"Saya ambil minum, Pak. Bapak belum tidur?" tanya Puspa gugup.


Satya berjalan menuju lemari es, seperti Puspa pria itu juga tengah kehausan sekarang.

__ADS_1


"kenapa kamu membasahi rambut malam-malam begini? Nggak takut masuk angin?"


Satya berjalan melewati Puspa, naasnya kaki pria itu tersandung meja, seketika tubuhnya jatuh menabrak Puspa yang berdiri di sana.


__ADS_2