PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
43. Jangan sampai keduluan Fadli


__ADS_3

"Bu, apa orang-orang sudah memaafkan aku?" Puspa duduk di samping ibunya sembari melipat tumpukan baju yang sudah di cuci.


"Ibu juga nggak ngerti, Pus. Sebenarnya kamu kan tidak menyusahkan siapapun to, malah kamu yang jadi korban."


Dua wanita itu tengah mengingat kembali kesalahan yang pernah mereka buat beberapa waktu yang lalu. Mendatangi seorang dukun memang bukan perbuatan yang terpuji, walau bukan hanya mereka yang pergi ke Mbah Slamet, tetap saja seharusnya mereka tidak melakukan perbuatan yang akan menyesatkan keimanan mereka itu.


"Mungkin mata mereka sudah mulai terbuka, jika kamu tidak sepenuhnya salah,"


"Apa menurut ibu ajian pelet Mbah Slamet itu beneran ampuh, Bu?"


"la embuh Ibu juga nggak tahu, kata orang-orang sih manjur, kenapa nanya gitu?"


Puspa pun menceritakan soal Fadli yang terus mengejarnya di kota, Puspa mengira jika Fadli masih dalam pengaruh ajian pelet Mbah Slamet.


"Apa iya? Terus kamu mau sama dia?" tanya Ningrum.


" Emoh ... wes sakit ati aku ," Walau dalam hati masih ada rasa untuk pria itu, tapi Puspa berusaha berpikir dengan otaknya. Pria seperti Fadli tidak pantas untuk di pertahankan dalam hidupnya. Bagi Puspa Fadli adalah pria plin-plan yang tidak bisa tegas dalam mengambil keputusan.


Saat ini pria yang tengah mereka bicarakan itu sudah sampai di kediaman orang tuanya. Fadli berniat langsung mengunjungi Puspa di rumahnya, tapi niatnya dia urungkan karena larangan keras dari bapak dan ibunya.


"Kamu jangan bikin malu, Fad!" ujar Lukman dengan nada tegas.


Jabatan sebagai kepala desa membuatnya harus berhati hati dalam bertindak, itu juga berlaku untuk keluarganya.


Apa kata orang nanti jika mengetahui anaknya pak lurah kembali mengejar biduan dangdut yang pernah dia campakkan?


Fadli memilih untuk mengalah dan berdiam di rumah untuk beberapa waktu, sambil memikirkan cara menemui Puspa tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Sementara itu, Satya masih dalam perjalanan. Ada rasa bimbang dalam hati tentang apa yang tengah dia lakukan sekarang. Kenapa dia begitu ingin menemui Puspa? Apa dia kembali saja?


Setelah perdebatan panjang dengan hatinya, pria itu pun melanjutkan perjalanan.


Sesampainya Satya di desa, pria itu tidak langsung menemui Puspa dia memilih menginap di sebuah penginapan yang terletak jauh dari perkampungan. Akan sangat memalukan jika tiba-tiba dia muncul di hadapan gadis itu.


***


Hari ini Puspa akan tampil di acara pernikahan, biasanya larut malam dia baru pulang. Tergantung sang pemilik hajat yang menentukan kapan mereka harus berhenti.


Puspa sudah bersiap acara akan di mulai pukul empat sore. Anita menjemput Puspa dengan motornya.


"Ibu, nggak papa aku tinggalin?" Puspa merasa khawatir dengan ibunya walaupun Ningrum sudah mulai bisa berjalan sendiri dengan bantuan tongkat penyangga, tetap saja dia khawatir.


"Nggak papa pergilah! Ibu nggak papa," ujar Ningrum.


Puspa pergi setelah Anita menjemputnya.


"Nit, apa Mala hadir?" mereka terus berbincang di atas sepeda motor.


"Ya pasti lah, Pus. Aku sudah tidak sabar bagaimana reaksi warga nanti saat tahu artis andalan kami sudah kembali," Anita merasa senang dengan kehadiran Puspa. Selama ini dia terus di tindas oleh Mala, sekarang ada Puspa yang akan membelanya.

__ADS_1


Ketiga biduan sedang bersiap di sebuah rumah yang sudah di persiapkan oleh pemilik hajat. Tidak seperti dulu, kali ini Puspa mengenakan gaun yang lebih tertutup membuat Anita tercengang saat melihatnya.


"Kenapa, Nit? Ada yang aneh?" tanya Puspa heran.


"Kamu sudah tobat apa gimana, Pus? Kenapa ga sekalian pakai kerudung?" goda Anita.


"Hussh! Kerudung kok kamu buat guyonan to! Aku risih pakai baju terbuka, Nit. Nggak papa to pakai ini?" tanya Puspa sembari menunjuk gaun yang ia kenakan. Sebuah gaun berwarna peach berlengan pendek dengan panjang rok di bawah lutut. Seluruh bagian dada tertutup dengan kain berenda.


"Yo, nggak, tapi beda aja dari sebelumnya," jawab Anita.


"Hei ...! Siapa artis baru ini? Nggak malu kamu balik lagi, Pus? Sudah di campakkan dan hampir di arak, kok masih punya muka ya buat manggung lagi?" Dengan nada sinis Mala sengaja memancing emosi Puspa.


"Kenapa? Kamu khawatir kalah saing?" balas Puspa dengan nada santai.


"Dih, ngapain? penggemarku sudah banyak kali, Pus. Nggak perlu bersaing pun aku yang akan jadi bintangnya." Mala begitu percaya diri.


Agung yang melihat ada ketegangan di antara artisnya pun segera menghampiri.


"Kalian kenapa to? Jangan ribut! Malu di lihat orang kayak anak TK!" Agung memperhatikan satu persatu biduannya dengan tatapan tajam.


"Mala, Mas. Nyari gara-gara!" Anita mulai mengadu.


"Wes, bersiap! Sebentar lagi kita mulai," Agung pun kembali ke atas panggung untuk memulai acara.


Sementara itu, Fadli sudah bersiap untuk menyusul Puspa di tempat acara. Dia sudah mencari tahu tentang kegiatan Puspa hari ini dari salah satu kenalan yang merupakan tetangga dekat gadis itu.


Seperti biasa pria itu terlihat tampan dengan celana jeans dan kaos sedikit longgar. Fadli tidak ingin tampil mencolok agar warga tidak mengenalinya.


"Aku kehabisan pulsa, Bu," Fadli beralasan, pria se-moderen dia tentu tidak perlu ke konter untuk sekedar membeli pulsa. Dia bisa melakukan itu dengan bertransaksi menggunakan HP pintarnya. Namun, Niken tidak paham dengan hal-hal seperti itu jadilah dia percaya.


"Jangan lama-lama!"


"Iya, Bu," Fadli pun melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Puspa.


***


Di penginapan, Satya tengah bicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.


"Apa? Fadli pulang kampung?" Satya terlihat panik saat seorang kepercayaan memberi informasi tentang Fadli. Orang itu mencari tahu keberadaan Fadli, setelah kekasih Yasmin yang sekaligus wakil direktur dari wanita itu tidak hadir dalam meeting yang sudah di jadwalkan.


Satya segera menutup sambungan telpon dan bersiap untuk pergi. Dia tidak bisa hanya berdiam di penginapan, atau Fadli yang akan lebih dulu menemui Puspa.


Satya ingat betul bagiamana Fadli memperlakukan Puspa malam itu, membuat Satya merasa khawatir.


Sikap Fadli tidak terkendali bahkan saat Yasmin bersamanya. Apa yang terjadi saat dia hanya berdua dengan Puspa? membayangkannya saja membuat darah Satya mendidih. Pria itu pun bergegas mendatangi rumah Puspa.


Mobil Satya berhenti di jalan depan rumah Puspa, dia ragu untuk turun. Pria itu hanya memperhatikan rumah Puspa dari kejauhan. Sebuah rumah yang sama persis dalam foto yang di berikan informannya kala itu.


"Kenapa rumahnya sepi?" gumam satya.

__ADS_1


Dari arah depan mobil Satya, Lilik tengah berjalan dengan santai. Wanita itu baru pulang dari warung Entin dan menuju ke arah rumahnya.


Melihat mobil yang terparkir di sisi jalan membuat wanita itu terkagum-kagum.


"Kok seperti pernah lihat mobil Iki yo?" gumamnya pelan.


Lilik pun terperanjat kaget saat Satya membuka kaca mobil dengan tiba-tiba.


"E .... jaran, e jaran, " refleks keluar kata-kata latah dari mulut wanita itu.


"Maaf, Bu. Apa Puspa ada di rumah?" tanya Satya sembari membuka kaca mata hitamnya.


Bukannya menjawab, Lilik malah menikmati pemandangan indah di hadapannya. " Walah gantenge ...," tanpa sadar wanita itu merancau.


"Bu!" Satya sedikit menaikkan nada suaranya membuat Lilik tersadar dari pikiran yang entah menghayal kemana.


"Yo, Mas. Ada apa?"


"Itu benar rumahnya Puspa, kan? Apa Puspa ada?"


Satya bertanya sambil menunjuk ke arah rumah yang ada di seberang jalan.


"Benar, itu rumah Puspa, tapi dia nggak ada, Mas. Lagi manggung di desa sebelah. Mas ini siapa ya?" Lilik menjadi penasaran, siapa pria ganteng di hadapannya? kenapa dia menanyakan Puspa? Apa dia mengenal Puspa pas di kota?


"Boleh minta alamatnya," pinta Satya dengan sopan, walau dia tetap berada dalam mobilnya.


"Mas terus saja, nanti di persimpangan belok kiri, dari situ suara tipnya juga bakal kedengeran, Mas," Lilik memberi tahu arah jalan menuju tempat acara.


" Baiklah, terimaksih, Bu " Satya kembali memakai kaca mata hitamnya dan menutup kaca mobil, membuat Lilik semakin terpesona. Baginya Satya seperti bintang sinetron favoritnya di TV. Mobil Satya pun melaju menyusuri jalanan sesuai petunjuk Lilik.


"Kok ada ya orang seganteng itu, tak kira hanya ada di sinetron saja, tapi dia kok nyari Puspa? Aku mesti tanya Ningrum, Iki," Lilik yang awalnya mau pulang malah berbelok singgah ke rumah Ningrum.


"Rum! Ningrum!" Wanita dengan kantong belanjaan di tangan mengetuk pintu dengan tidak sabar.


"Masuk, Mbak!" jawab Ningrum dari dalam.


Lilik langsung masuk dan mencari keberadaan ibunya Puspa itu, dan Ningrum tengah duduk di depan televisi menonton acara gosip.


"Rum, tadi ada pria ganteng nyari Puspa" Lilik begitu bersemangat.


"Sopo? Tejo?" balas Ningrum. Siapa lagi pemuda yang selalu mendatangi Puspa kalau bukan Tejo.


"Ngawur, Tejo ora ganteng rum!" Lilik malah emosi kenapa malah menyebut Tejo.


"Sepertinya dia dari kota, wajahe persis artis sinetron, Rum,"


"Sekarang dia dimana?" tanya Ningrum mulai ikut penasaran.


"Nyusul, Puspa,"

__ADS_1


"Nyusul Puspa?" Ningrum semakin penasaran siapa pria yang di maksud Lilik? Apa Fadli? Tapi tidak mungkin, karena Lilik mengenal Fadli.


__ADS_2