PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bohong lagi?


__ADS_3

Cinta ... tak tahu kemana akan berlabuh.


Adakah bukti nyata dari ungkapan cinta tanpa syarat? Rasanya tak mungkin ada. Aku mencintainya karena dia baik, karena dia cantik, karena dia pengertian. Jika masih ada kata "Karena" Maka sudah bisa di pastikan bahwa cinta itu bersyarat.


***


Puspa merasakan ada yang kurang dalam hatinya saat tidak melihat wajah sang majikan seharian ini. "Apa Pak Satya lembur, Bu?" Gadis berbaju piyama itu masih saja menatap ke arah pintu kamar sang majikan yang tertutup.


"Nggak tahu juga, Pus. Akhir-akhir ini, Tuan sering pulang larut malam."


Marni menata tempat tidurnya, sampai saat ini kedua wanita itu masih memilih tidur dalam satu kamar. Padahal Satya sudah menyediakan dua kamar untuk pembantunya itu.


"Jujur sama Ibu, kamu naksir Pak Satya, toh?" tanya Marni sembari mulai memejamkan mata.


"Sepertinya ... iya," lirih Puspa.


Marni yang awalnya sudah memasang selimut ke sekujur tubuhnya kembali bangun dan mendekat pada Puspa .


"Jadi bener kamu naksir Tuan Satya?" Marni menatap lekat mata gadis di hadapannya.


"Iyo, Bu. Jantungku ini berdebar-debar kalau dekat dia," wajah Puspa bersemu malu saat mengakui perasaannya itu pada Marni.


"Tapi ... aku nggak berharap lebih. La aku ini siapa to, Bu? Cuma pembantu, gadis kampung pula, nggak level sama Pak Satya."


ucapan pesimis Puspa di amini oleh Marni, ingin menghibur hati gadis itu, tapi mau bagaimana lagi yang dia katakan semuanya benar.


"Seng sabar ae, Pus!" Marni mengucapkan kata-kata yang membuat Puspa semakin rendah diri.


"Ibu ini, bukannya memberi semangat malah bikin aku tambah lemes," Puspa menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.


Matanya terpejam tapi pikirannya jauh melayang, menduga kemana Satya pergi hingga selarut itu. Apa pria itu menemui mantan kekasihnya? Atau bahkan mereka sudah kembali bersama? Entahlah ... semakin di pikirkan semakin menyakitkan.


***


Yasmin histeris mengetahui Fadli pergi ke pengadilan untuk mengurus perceraian mereka.


"Sialan kamu Fadli! Kamu pikir aku tidak serius dengan ucapanku waktu itu! Baiklah akan aku buktikan sekarang juga dan ku buat kamu menyesali tindakanmu!"


Yasmin mencari nomer seseorang dalam layar ponselnya dan segera menekan tombol telepon.


"Hancurkan gadis itu! Buat dia menyesal telah di lahirkan ke dunia!" titah Yasmin pada seseorang dalam sambungan telepon.


"Siap, Bos!"


Yasmin mengirim gambar Puspa yang dia dapatkan dari akun media sosial gadis itu pada orang suruhan, meminta mereka melakukan hal buruk pada gadis desa tersebut.


"Puspa hanyalah awal Fadli ... setelah itu aku akan lanjutkan pada keluargamu!"


***


Di rumah sakit, Satya tengah duduk di tepi ranjang kamar inap Pamela.


"Kamu mau kan nemenin aku di sini dulu, Sat?" Hal yang sulit untuk di tolak oleh Satya adalah permintaan manja Pamela. Wanita itu masih belum pulih dari sakitnya sehingga dokter belum mengijinkan untuk pulang. Ada yang bermasalah pada lambung yang membuat dirinya harus di rawat inap.


"Baiklah," Satya menurut. Sesekali pria itu melihat penunjuk waktu di pergelangan. 'Malam sudah semakin larut, Puspa pasti khawatir ... kenapa aku berpikir seperti itu' Pria itu tengah berdebat dengan hatinya.

__ADS_1


Sementara itu, Pamela sudah memejamkan mata dengan tangan yang terus menggenggam tangan pria di sampingnya.


Satya menatap lekat wajah terlelap itu, dalam keadaan sakit pun Pamela masih terlihat cantik. Sesaat bayangan Puspa dengan wajah basahnya terlintas di benak pria itu.


"Apa itu?" gumamnya pelan sembari mengusap kasar wajah.


Pagi sekali Satya meninggalkan Pamela yang masih tertidur, dia sengaja melakukan itu kalau tidak wanita itu akan menahannya lagi, dan dia tidak bisa menolaknya.


"Bapak dari mana?" pertanyaan Puspa menyambut kepulangan Satya.


"Aku capek, Pus. Jadi jangan mengganggu!" ketus Satya. Walau dalam hati dia merasa senang karena Puspa mengkhawatirkannya.


"Pasti dari rumah sakit kan? Iya kan?" bukannya menyerah Puspa malah mengikuti langkah kaki sang majikan.


"Pergi sana! Atau ...!"


"Gaji kamu aku potong!" Puspa melanjutkan ucapan Satya yang menggantung.


Gadis itu pun berlalu sembari terus menggerutu. " Sukanya ngancem! Majikan diktator!"


Satya ingin membalas ucapan itu tapi matanya terlalu mengantuk untuk meladeni Puspa. Pria itu pun masuk kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur yang empuk.


Di dapur Marni kebingungan karena ada bahan makanan yang habis dan belum di beli, sementara Joko tidak masuk hari ini.


"Biar aku yang pergi, Bu,"


"Tapi, kamu kan di larang keluar sama Tuan,"


"Aku akan meminta ijin, Bu."


Puspa melangkah perlahan melihat sang majikan terbaring di atas tempat tidur.


"Apa dia semalaman tidak tidur? Ngapain aja coba?" gumam gadis itu.


"Pak ..." Puspa memberanikan diri menyentuh pelan lengan pria itu. "Pak Satya ..." tidak mendapat respon dia pun mengulangnya lagi.


"Hemm ..." sahut Satya masih dalam keadaan terpejam.


"Saya, ijin ke minimarket, ya?" ucap Puspa pelan.


"Hemm ..." sahut pria itu.


Puspa kegirangan saat mendapat persetujuan Satya. Dengan cepat dia keluar kamar dan tak lupa menutup pintu kamar dari luar.


"Asyik ... kapan lagi bisa keluar penjara,"


Puspa segera mengambil daftar belanjaan dari tangan Marni dan melenggang pergi.


"Hati-hati, Pus!" pinta Marni.


"Iyo, Bu. Tenang wae!"


Puspa berjalan menuju gerbang, kali ini tidak ada lagi penjaga di sana karena Satya sudah memecat mereka. Kerja mereka juga tidak becus untuk apa membayar mereka? Begitulah yang Satya pikirkan.


Puspa menunggu taksi di tepi jalan. Walaupun di rumah itu ada sepeda motor, tapi Puspa belum terbiasa berkendara di tengah ramainya jalanan kota.

__ADS_1


"Puspa kamu sedang apa?" terdengar suara seseorang dalam sambungan telepon. Suara yang sangat Puspa kenal.


"Kamu mau apa menghubungiku lagi? Ingat istri!" sahut Puspa sambil naik ke dalam taksi.


"Aku akan menceraikan Yasmin, Pus!"


Fadli tengah berusaha memperbaiki hubungan dengan Puspa, mencoba merayu gadis itu lagi seperti yang dia lakukan terkahir Kali.


"Kenapa? Sudah bosen?"


"Aku tidak pernah mencintai dia, Puspa! Hanya kamu yang aku cintai,"


Puspa tersenyum kecut mendengar ucapan pria dalam sambungan telepon itu.


"Maaf, aku sibuk!"


Puspa pun mengakhiri panggilan yang tidak berguna itu.


"Dasar pria sama saja ... semuanya sama!"


Sopir taksi yang melihat tingkah Puspa pun tersenyum kecil di balik kemudi.


"Mas, Apa kamu juga seperti itu?" tanya Puspa pada sopir taksi yang kebetulan pria itu seumuran dengannya.


"Apa, Mbak?"


"Mencla-mencle ... !" ucap Puspa.


Sang sopir taksi malah tertawa.


"Mbak ini kok ada-ada saja," gumam pria itu pelan.


Di rumah, Satya sudah terbangun dari tidurnya, karena kelelahan dia putuskan untuk tidak masuk kantor hari ini. Pria yang sudah tampil fresh itu pun berjalan ke arah dapur dan mencari Puspa.


"Kemana perginya si kucing kampung, Bu?"


"Tuan sudah bangun, mau Ibu bikinin kopi?" Bukannya menjawab Marni malah menawari kopi.


"Iya, Bu. Boleh,"


Satya kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Dimana Puspa, Bu?"


"Lo ... bukannya tadi sudah ijin sama tuan to?" jawab Marni sembari mengaduk kopi.


"Ijin kemana?"


"Ke minimarket, Tuan," Marni mulai khawatir. Apa kali ini Puspa berbohong lagi?


"Dia tidak mengatakan apapun padaku, Bu." Satya berdiri dan mulai kesal. Apa Puspa mengulang kesalahannya lagi? Kenapa gadis itu sangat keras kepala? Dia tidak tahu bagaimana khawatirnya dirinya saat melihatnya terluka.


Berulang kali Satya mencoba mengubungi Puspa tapi tidak ada jawaban membuatnya frustasi.


"Tenang Tuan. Saya percaya Puspa tidak akan berbuat yang aneh-aneh lagi, dia sudah kapok,"


"Apa Ibu, yakin? Bahkan dia tidak mengangkat teleponnya."

__ADS_1


Sementara itu, Puspa sudah selesai dengan belanjanya. Gadis itu berdiri di tepi jalan menunggu taksi. Puspa sedikit memundurkan langkah saat sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju pelan dan berhenti tepat di hadapannya sudah jelas itu bukan mobil taksi.


__ADS_2