
Sampai di depan rumah megah milik majikan Puspa, Tejo mendongakkan wajah menatap betapa tinggi bangunan di hadapannya.
"Opo bener ini rumahnya, Bulek?" tanya Tejo sembari mengarahkan pandangan ke sekeliling. Sebuah rumah besar di antara rumah-rumah besar lainnya. Pemandangan yang luar biasa indah tidak ada pos ronda ataupun bangunan warung kecil di sekitar apalagi tumpukkan sampah di sudut jalan. Jauh berbeda dengan tempat tinggalnya di kampung.
"Kalau dari alamatnya sih ini, Jo. Kan tadi kata Mas angkotnya juga bener ini rumahnya,"
itulah yang di takutkan oleh Ningrum, kesusahan mencari alamat yang di tuju. Bagaimana kalau dia sendiri? Pasti lebih bingung.
"Itu kan, Mas Joko sopirnya majikan Puspa!" Ningrum menunjuk pada pria yang terlihat tengah mengelap kaca mobil di pekarangan.
"Mas Joko ...!" Di saat seperti ini suara lantang Ningrum sangat berguna. Sekali panggil Joko langsung memandang ke arah suara.
"Lo ... itu kan ibunya Puspa?" Joko berlari menuju pagar. "Bu Ningrum?"
"Iyo, Mas. Aku Ningrum," jawab ibunya Puspa dengan raut wajah bahagia.
Joko membuka pagar dengan tergesa, mempersilahkan wanita dengan tas besar di gendongan itu masuk, tak mau ketinggalan Tejo pun berjalan mengikuti langkah Ningrum.
"Puspa sakit apa to, Mas?" sembari berjalan Ningrum terus bertanya dan Joko hanya tersenyum saja. Dia merasa tidak berhak menjelaskan kejadian yang telah menimpa Puspa, biarlah Puspa sendiri yang bercerita.
"Kalian tunggu di sini dulu, saya akan minta ijin sama Tuan Satya!"
Joko bergegas masuk rumah, sementara itu Ningrum dan Joko duduk di bangku teras.
"Tuan, di luar ada ibunya Puspa," ucap Joko pada Satya yang kini berada dalam kamarnya.
"Apa? Ibunya Puspa?" Satya beranjak dari duduk.
"Iya, tuan,"
"Suruh dia masuk, Jok. Lebih baik kamu beritahu Puspa lebih dulu!"
"Siap, Tuan!" Joko berlari menuruni anak tangga menuju kamar tamu. Di sana Puspa tengah terbaring dan Anita duduk di sisinya.
"Pus, Ibumu datang!" Joko bicara di depan pintu kamar yang terbuka.
"Opo? Ibu?"
Anita menuju teras dan terkejut mendapati ibunya Puspa tidak datang seorang diri melainkan dengan Tejo. "Bulek ...!" Anita memeluk Ningrum. "Kenapa mau ke sini nggak bilang-bilang?"
"Dimana puspa, Nit?" Ningrum celingukan mencari keberadaan putrinya. Apa sakitnya parah sampai dia tidak menyambut kedatangan ibunya?
"Masuk dulu!" Anita menggandeng lengan Ningrum dan membawanya masuk rumah.
"Kamu di sini saja, Jo!" ucap Anita pada pria yang baru saja bangkit dari duduknya.
"Lo ... aku kan mau ketemu Dek Puspa juga to, Nit!"
"Kamu di sini saja, Mas. Sama saya!" Joko mempersilahkan Tejo kembali duduk.
"Buatkan kopi, Nit!" Pinta Joko.
__ADS_1
"Iyo, Pak,"
Baik Joko maupun Anita paham betul bagiamana sifat sang majikan, sudah pasti dia tidak akan mengijinkan pria yang tidak dia kenal masuk rumah apalagi menemui Puspa.
"Puspa ... kamu kenapa, Nduk?" Ningrum membuang tasnya dan berhambur ke arah Puspa yang masih terbaring setengah duduk di atas tempat tidur.
"Hati-hati, Bulek. Perutnya Puspa terluka!" lirih Anita.
"Luka opo, Nit? Kamu kecelakaan, Pus?"
Inilah yang di takutkan Puspa, jika ibunya tahu keadaannya. Karena itu dia tidak berniat menghubungi wanita itu, tapi tanpa sepengetahuannya Anita menelponnya.
"Nggak popo, Bu. Cuma luka kecil," Puspa berusaha menenangkan sang ibu yang mulai menangis.
"Luka kecil opo? Buktine kamu sampai nggak bisa bangun gini. Pasti parah, to?" ucap Ningrum dalam tangisnya.
"Ibu sama siapa ke sini?" Puspa mengalihkan perhatian ibunya.
"Ibu ..." Ningrum ragu menyebut nama Tejo.
"Tejo, Pus," Anita menyahut.
"Tejo? Ibu ...!" Puspa mendelik kesal.
"La ... gimana lagi nggak ada yang bisa ngantar ibu selain Tejo, tapi ojo khawatir dia akan segera pergi kok!" Ningrum berusaha meyakinkan Puspa.
"Jangan boleh masuk, Nit! Bisa-bisa makin parah aku kalau bertemu dia!" ucap Puspa sembari menatap Anita.
"Mas Satya apa kabar?" Ningrum menghampiri majikan Puspa yang berdiri di ambang pintu.
"Saya baik, Bu," Satya menyalami tangan Ningrum dan tak segan mencium punggung tangan wanita desa itu membuat Ningrum tak enak hati.
Sementara Puspa dia menatap haru melihat perubahan sikap pria yang dulu dia kenal angkuh.
'Kenapa dia melakukan itu? Membuat jantungku berdebar saja," gumam gadis itu dalam hati.
"Istirahatlah, Bu. Anggap saja rumah sendiri. Maaf saya harus pergi!" ucap pria itu terdengar sopan di lengkapi dengan senyuman. Indah sekali.
"I-iya ... terimakasih ya, Mas," ucap Ningrum bingung antara senang atau sungkan.
"Minum obatnya tepat waktu!" titah Satya sembari menunjuk Puspa dengan jari telunjuknya kemudian berlalu.
"Ladalah ... majikanmu baik banget to, Pus!" Ningrum mendekati Puspa mengelus pelan lengan gadis itu. Melegakan sekali mengetahui banyak yang memperhatikan Puspa di rumah besar itu.
"Jok, antar saya ke kantor!" titah Satya pada Joko yang asik ngobrol dengan Tejo. Langkah Satya terhenti menyadari kehadiran pria asing di rumahnya.
"Kamu siapa?" tatapan tajam dia arahkan pada pria yang kini sudah dalam posisi berdiri.
"Saya, Tejo. Calon suaminya Puspa," dengan bangga Tejo mengakui hubungan yang tidak pernah terjalin itu.
"Apa?" suara Satya meninggi.
__ADS_1
"Dia, tetangganya Puspa, Tuan. Datang kesini untuk mengantar Bu Ningrum. Sekarang dia sudah mau pergi. Iya kan, Jo?" Joko menghampiri Tejo dan menyeretnya hingga ke halaman rumah.
"Mas Joko ini apa-apaan, to? Aku belum bertemu Dek Puspa lo, Mas!" Tejo berusaha menahan lengan Joko, tapi dia kalah kuat dengan pria yang usianya lebih tua dari dirinya itu.
"Husst ...! kalau nggak mau masuk penjara segera pergi dari sini, Jo!" bisik Joko sembari terus menyeret lengan Tejo. Tubuh cungkring itu begitu mudah di kendalikan oleh Joko.
"Penjara opo to, Mas? Emange aku Iki maling?"
"Pak Satya itu paling tidak suka kalau ada orang menerobos masuk kerumahnya tanpa ijin, bisa-bisa kamu di laporin polisi!"
Sampai di depan gerbang Joko melepas lengan Tejo. "Maaf, yo. Suasananya tidak pas sekarang, lain kali saja kamu ke sini!" Joko membuka lebar pintu pagar karena harus memberi jalan untuk mobil tuannya.
Sementara itu, Tejo berdiri di sisi jalan sembari ngedumel sendiri. "Dasar orang kaya sombong! Awas saja aku akan balas penghinaan ini!" Tejo tak terima di usir begitu saja tanpa bertemu dengan Puspa.
"Awasi dia! Jangan sampai datang ke rumah ini lagi!" titah Satya pada Joko kemudian masuk mobil.
"Siap, Tuan!"
Mobil pun melaju pelan keluar dari pekarangan. Tak lupa Joko berhenti untuk menutup kembali pagar besi tersebut.
Sementara itu, pandangan Satya tertuju pada Tejo yang masih berdiri di tepi jalan. 'Dia kan pria yang aku lihat di desa Puspa waktu itu,' Satya membatin.
Beruntung dia tidak mengetahui perbuatan Tejo di masa lalu pada Puspa kalau tidak dia pasti tidak akan tinggal diam. Bisa saja Tejo berakhir dalam penjara.
"Kamu harus ikut ibu pulang saat sudah sembuh nanti!"
Ucapan Ningrum kali ini terdengar tegas dan tidak main-main.
"Kenopo to, Bu? Aku kan harus bekerja. Apalagi Pak Satya sudah mengeluarkan banyak biaya untuk kesembuhanku, masa iya aku malah pergi," Puspa berusaha menolak.
"Kalau kamu di sini terus, kamu akan celaka Puspa!"
"Ibu ini ngomong opo to?" Puspa menganggap ucapan ibunya hanyalah bualan semata.
"Iyo, Bulek nggak baik ah ngomong begitu bisa jadi doa lo, Bulek!"
"Lo ... ucapanku Iki sudah terbukti lo, Nit. Ini Puspa celaka. Semua itu karena kutukan dari peletnya Mbah Slamet!"
"Kutukan opo to, Bu?"
"Ibu kan wes pernah ngomong to sama kamu, kalau kamu itu harus menikah biar ajian pelet itu luntur dari tubuhmu!"
"Yoalah ... Bu ... Bu! Kok Yo masih aja percoyo Mbah Slamet, to?"
Anita dan Marni hanya beradu tatap tak mengerti dengan pembicaraan antara ibu dan anak itu.
Kring!
Kring!
Ponsel milik Ningrum berdering dari dalam tas. Wanita itu pun segera membongkar tas besarnya.
__ADS_1
"Halo ... ada apa?"