
Semenjak perkenalannya dengan Puspa, Pamela jadi sering datang ke rumah Satya. Sampai saat itu Puspa masih belum tahu apa yang tengah di rencanakan oleh Pamela.
Hubungan keduanya berjalan baik, Pamela kerap membawakan hadiah untuk Puspa. Dia bahkan tak segan membelikan pakaian dan sepatu untuk gadis desa itu.
Satya yang awalnya merasa aneh dengan sikap Pamela perlahan mulai memaklumi, mungkin wanita itu kesepian dan butuh teman.
Selama keduanya merasa nyaman, maka tidak ada salahnya jika mereka terus berteman.
Sikap Pamela berubah seiring berjalanya waktu, dan Puspa mulai menyadari ada niat tersembunyi di balik hati Pamela.
Pamela kerap mendadani Puspa menjadi mirip dengannya. Dia bahkan kerap mengajak Puspa bersamanya saat wanita itu bepergian dengan Satya.
Ousao sudah berusaha menolak, tapi Pamela begitu baik sehingga dia tidak tega menolaknya.
"Ini tidak benar, Mbak!" ucap Puspa saat Pamela memaksanya mengenakan gaun pemberian Satya.
"Percayalah padaku, aku tahu Satya sebenarnya menaruh rasa padamu, hanya saja dia belum menyadarinya." Pamela terus meyakinkan Puspa agar menuruti keinginanya. Puspa sempat berpikir apa Pamela tengah sakit keras seperti cerita dalam sinetron yang dia gemari? Sehingga dia mencari pengganti untuk kekasihnya?
Jika itu benar maka sungguh dramatis sekali.
Tapi kenapa dia memilih Puspa yang seorang pembantu?
Malam itu Satya murka saat mendapati Puspa mengenakan gaun yang dia beli untuk Pamela. Gadis itu bahkan berdandan menyerupai Pamela.
"Gimana Sat, Puspa cantik kan?" tanya Pamela yang masih belum menyadari amarah pria di hadapannya.
Tanpa bicara, Satya menarik tangan Pamela dengan kasar dan membawanya ke dalam kamar.
"Apa maksud semua itu?"
"Aku mau kamu move on dan melupakan aku sat, aku tahu kamu menyukai Puspa iya kan?" Pamela berusaha menenangkan Satya dengan memegang bahunya, tapi pria itu menghempasnya dengan kasar.
Perbuatan Pamela sungguh telah melukai harga dirinya sebagai seorang lelaki.
"Kamu gila Mela! Mana mungkin aku suka dengan gadis kampung itu," ucapan Satya begitu nyaring hingga Puspa bisa mendengarnya. Dia cukup tahu diri tapi entah kenapa ucapan Satya terdengar menyakitkan.
Marni yang menyaksikan itu pun membawa Puspa dalam pelukannya. "Sabar, Pus!"
"Kenapa Pak Satya ngomeng gitu, Bu? Aku juga nggak mau begini. Mbak Pamela yang memaksaku," Puspa berlari menuju kamar dan melepas gaun itu.
"Gaun sialan!" Puspa membanting pakaian mahal itu ke atas tempat tidur.
Setelah perdebatan panjang dengan Satya, Pamela menuruni tangga dengan berlinang air mata. Wanita itu pun langsung pergi meninggalkan rumah tanpa berpamitan pada Puspa.
Sementara itu, Satya terus memanggil Puspa dengan lantang, membuat gadis itu segera keluar dari kamarnya.
Puspa pun mendekat pada Satya dengan ragu.
"Kamu puas sekarang! Kamu pikir kamu siapa? Kamu harus tau diri Puspa! Kamu tidak bisa menjadi Pamela, tidak akan pernah bisa! Apa berteman dengannya membuatmu lupa dengan statusmu? Dasar gadis kampung!"
Air mata Puspa tak bisa terbendung lagi, ucapan Satya bak mata pedang yang menghujam dan menyayat relung hatinya.
__ADS_1
Puspa tahu betul yang dia lakukan bersama Pamela tidaklah benar, tapi apakah Satya berhak merendahkannya seperti itu?
Puspa berlari menuju kamar dan menangis sejadi-jadinya. Sementara itu, Satya meninggalkan rumah dengan amarah. Enyah kemana dia akan pergi di tengah malam yang gelap gulita.
Marni tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam sekejap sang majikan berubah seperti saat Pamela meninggalkannya dulu, dan kini peristiwa itu terulang kembali.
Puspa terus menangis dalam dekapan Marni hingga gadis itu tertidur.
*****
Pagi hari, Puspa di kejutkan oleh kabar yang tidak enak dari kampung asalnya.
Anita menelpon dan memberi tahu jika Ningrum tengah terbaring sakit.
Puspa kebingungan dan tidak hentinya menangis, membuat Marni ikut panik.
Dari kabar yang dia dengar, Ningrum terjatuh dari kamar mandi dan mengalami cedera yang serius pada kakinya. Sehingga wanita itu tidak bisa berdiri.
"Sabar to, Pus! Kita tunggu Tuan pulang dulu, Yo," Marni berusaha menenangkan Puspa, tapi gadis itu terus saja menangis sembari mengemas semua pakaian miliknya ke dalam tas besar.
"Kamu kenapa mengemasi semuanya?" tanya Marni panik.
"Aku mau pulang, Bu."
"Iyo, tapi jangan bawa semuanya, emangnya kamu nggak berniat kembali lagi?"
Puspa terdiam sesaat, dia masih teringat ucapan Satya semalam, dan itu sungguh menyakiti perasaannya. Di tambah keadaan sang ibu yang saat ini membutuhkan dirinya. Puspa berniat pergi dari sana dan tidak ingin kembali lagi.
"Aku nggak akan balik kesini lagi, Bu. Aku mau menemani ibuku di kampung, kasian dia," jawab Puspa.
Marni sudah terlanjur menyayangi Puspa dan tidak ingin berpisah dengannya.
Tak berapa lama Satya pun pulang. Puspa tidak mau menunggu lagi, dia bergegas menuju kamar sang majikan untuk berpamitan.
"Maaf Pak, saya mau pulang kampung. Ibu sakit." ucap Puspa singkat, tidak seperti biasanya dia menjadi irit bicara Sekarang.
"Apa sakitnya serius? Sampai kamu harus meninggalkan pekerjaan disini?" tanya Satya dengan nada suara yang tidak enak untuk di dengar.
"Iya pak, ibuku jatuh dan nggak bisa berjalan lagi," balas Puspa.
"Baiklah, pergilah jangan terlalu lama atau aku akan mencari orang lain untuk menggantikanmu!"
"Bapak tidak perlu menunggu saya, segera cari orang lain karena saya tidak akan kembali lagi. Permisi!" Puspa pun bergegas keluar dari kamar itu.
"Apa maksudnya itu?" Satya berlari mengejar Puspa sampai ke anak tangga.
"Puspa! Berhenti si situ!" titahnya dengan Sura lantang. Puspa pun berhenti tepat di bawah tangga.
"Kamu jangan seenaknya sendiri ya! Kamu punya perjanjian kontrak di sini jadi kamu tidak bisa berhenti semaumu sendiri!"
Puspa bahkan lupa dengan surat kontrak yang di buat oleh Satya di awal dia bekerja. Pria itu sangat memperhitungkan semuanya hingga membuat surat perjanjian kerja untuknya. Saat itu Puspa tidak paham dia hanya mendatanginya tanpa membaca isinya.
__ADS_1
"Terserah Bapak saja. Kalau mau melaporkan saya pada polisi, silahkan!"
Puspa menggendong tas besar miliknya tanpa berpikir apa yang baru saja dia ucapkan, andai Satya benar menuntutnya maka dia tidak akan bisa melawannya.
Gadis itu terus berjalan keluar rumah tanpa menoleh lagi.
"Sial! Berani sekali kamu membantahku!" Satya emosi dan melampiaskan amarahnya pada pegangan anak tangga.
Marni tak bisa melakukan apapun, dia tidak berani melawan sang majikan dan juga dia tidak bisa mencegah Puspa pergi. Wanita itu pun mengejar Puspa hingga ke depan pintu gerbang.
"Kamu perginya naik apa, Pus?"
"Aku akan ke terminal, Bu. Dari sana naik bus yang langsung menuju kampungku,"
Marni tidak tega melihat Puspa yang seperti itu, tapi bagaimana lagi dia juga tidak bisa menemaninya.
"Joko!"
Suara Satya menggelegar memenuhi ruangan.
"Iya, Pak."
Dari arah teras, Joko berlari menghampiri sang majikan.
"Antar Puspa sampai ke kampungnya!" titah Satya. Pria itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dalam kemarahannya.
"Baik, Tuan!"
Joko berlari menuju garasi dan segera mengeluarkan mobil dari sana. Dia harus bergegas karena kalau tidak Puspa akan lebih dulu naik taksi.
Tin!
Tin!
Suara klakson mobil mengejutkan Puspa dan Marni.
"Puspa ayok!" Bapak akan mengantarmu Sampai ke kampung!" Joko membuka kaca mobil dari dalam.
"Nggak perlu repot-repot, Pak. Saya naik kendaraan umum saja,"
"Wes to ojo ngeyel! Ini perintah Tuan. Apa kamu mau Bapak di pecat?"
Puspa akhirnya menyerah karena tidak mau jika Joko ikut terkena imbas dari keras kepalanya.
"Aku pergi yo, Bu,"
"Hati-hati, Pus! Jangan lupa telepon Ibu yo!"
Kedua wanita itu pun berpisah dengan perasaan haru.
Puspa menatap ke arah rumah besar milik Satya. Dalam hati dia berat meninggalkan rumah itu dan orang-orang yang tinggal di sana. Banyak kenangan yang berkesan yang tercipta selama dia tinggal di rumah besar itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Puspa, Satya merasa frustasi. Ada penyesalan dalam hatinya karena tengah begitu dalam menyakiti perasaan gadis lugu itu.
Bukan salah Puspa jika Pamela menolaknya, tapi permintaan aneh Pamela membuatnya membenci Puspa.