
Raka menatap heran pada pria yang tengah berdiri tegap di hadapannya. "Anda siapa? Kenapa ikut campur?" tanya Raka dengan geram.
"Tuan Satya tolong! Dia mau menjualku ke rumah bordil." Puspa menatap penuh harap pada Satya, berharap pria arogan itu mau menolongnya.
"Kalian saling kenal rupanya? Pintar juga kamu, Puspa. Mendekati pria tajir seperti dia."
ucapan Raka membuat Satya menatap penuh arti ke arah Puspa.
"Diam! Aku bukan perempuan seperti itu!" Puspa tidak terima dengan tuduhan Raka.
"Aku tidak perduli dengan permasalahan di antara kalian, tapi caramu memperlakukan wanita dengan kasar, aku tidak bisa mentolerir itu," Satya berujar sembari memperlihatkan mimik wajah penuh ketegasan.
"Banyak omong!" Raka melepas Puspa dengan kasar dan menyerang Satya. Namun, Satya dengan mudah bisa menghindar dari serangan itu.
Brugh!
Hanya dengan sekali pukulan dari Satya, tubuh Raka oleng dan jatuh di atas aspal.
"Pergi dari sini! Atau aku akan menghancurkan hidupmu!" Satya menarik kerah kemeja Raka dengan kuat, membuat pria itu tidak bisa bernapas.
Merasa terancam, Raka memilih kabur. Puspa akhirnya bisa bernapas lega.
"Terimakasih, Tuan," ucap Puspa dengan tulus.
Satya meninggalkan Puspa tanpa membalas perkataan gadis itu sama sekali.
"Tuan, ijinkan aku ikut bersamamu," Puspa memberanikan diri mengatakan hal yang mustahil untuk di kabulkan pria dingin itu.
"Aku mohon, Tuan!" Puspa terus memohon sambil berlari mengikuti langkah kaki Satya.
"Pergilah! Aku tidak punya waktu untuk meladeni gadis bar-bar seperti dirimu," Satya berucap sembari membuka pintu mobil.
"Tunggu!" Puspa menahan pintu mobil saat Satya akan menutupnya. Jari-jari tangannya bisa saja terjepit saat itu, tapi dia tidak memperdulikan itu. Baginya persetujuan Satya sangatlah penting.
Setelah tertangkap oleh Raka, Puspa menjadi takut berada di tengah kota seorang diri. Bukan tidak mungkin, Raka akan kembali mencari dan menangkapnya.
"Tuan, aku mau menjadi pembantu di rumahmu secara geratis, asal Tuan mengijinkanku tinggal di sana," Puspa kembali memohon dengan raut wajah putus asa.
"Jauhkan tanganmu dari sana! Aku tidak butuh pembantu!" ucap Satya sambil melihat ke arah tangan Puspa yang masih mencengkeram erat pintu mobil.
"Satu bulan saja Tuan. Aku mohon,"
"Tidak!" Satya menolak dengan tegas.
__ADS_1
"Satu minggu, ya?" Kali ini Puspa memperlihatkan ekspresi wajah menggemaskan. Sepertinya gadis itu sudah kehabisan cara. Jika dengan memelas tidak berhasil, maka dia akan mencoba cara lain yaitu menggodanya. Biasanya cara itu mempan saat dia gunakan untuk meluluhkan hati Agung.
Kali ini, Satya tidak lagi menjawab dengan perkataanya, melainkan dengan tatapan tajam setajam belati yang menyayat rasa percaya diri Puspa. Gadis desa itu pun beringsut dari tempatnya berdiri.
Mesin mobil mulai menyala, dan Puspa hanya pasrah sambil menatap kesal. Sejurus kemudian terlintas ide gila dari kepalanya.
brakk!
Puspa berdiri tepat di hadapan mobil yang akan melaju sambil merentangkan kedua tangannya. Beruntung Satya menginjak gas tepat waktu, kalau tidak pasti sudah terjadi hal buruk pada gadis itu.
"Kamu sudah gila! Segera menyingkir dari sana!" Titah Satya dengan suara penuh penekanan.
"Tidak mau!" Pusat berucap sambil menggelengkan kepala. Tingkahnya seperti anak kecil, membuat Satya semakin emosi.
Tin!
Tin!
Berulang kali Satya membunyikan klakson agar Puspa menyingkir, tapi gadis itu bergeming. Dia masih tegak berdiri di tempatnya.
"Woi Mas ... minggir! jangan drama!" Seorang pengemudi sampai menegurnya, karena mobil Satya menghalangi mobilnya.
"Masuk!" Dengan terpaksa Satya menyetujui permintaan gadis itu, setelah menyadari banyak pasang mata tertuju pada mereka.
"Terimakasih, Tuan. Aku akan menjadi asisten rumah tangga teladan di rumahmu nanti," ucap Puspa dengan rona wajah bahagia.
Puspa duduk di kursi depan di samping Satya. Awalnya dia akan duduk di belakang, tapi Satya melarangnya. Pria itu tidak mau terlihat seperti seorang sopir yang tengah membawa majikannya.
Kedatangan Puspa di rumah besar itu di sambut bahagia oleh Marni dan Joko. Keduanya tidak menyangka, kalau Puspa akan kembali lagi kesana.
"Ibu seneng banget kamu kembali ke rumah ini," Marni berucap sambil menggandeng lengan Puspa.
"Iya, Bapak juga seneng, Pus." Joko menambahi.
"Pas pus, emang dia kucing?" Satya menaiki tangga rumah sambil menggerutu, membuat ketiga orang di bawah sana menatap heran.
"Dia kenapa sih, Bu?" tanya Puspa.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Puspa, Marni mengambil alih tas gadis itu dan membawanya ke kamar. Wanita paruh baya itu terlihat bahagia dengan kehadiran Puspa.
"Sudah, ayo Ibu antar ke kamar kita," ajak Marni.
"Kamar kita? jadi kita tidur satu kamar Bu?" Puspa merangkul bahu Marni dengan erat, seolah dia menemukan ibu pengganti di kota besar itu.
__ADS_1
"Ceritakan pada ibu, bagaimana bisa kamu kembali lagi kesini?" Pinta Marni. Wanita paruh baya itu penasaran dengan perubahan sikap sang majikan. Pertama kali dalam hidupnya, melihat Satya Argantara luluh pada rayuan seorang gadis.
"Apa kamu merayu Tuan Satya?" lanjut Marni.
"Sedikit," jawab Puspa sembari tersenyum jahil.
***
Keadaan lain tengah terjadi di desa. Sampai saat ini, Tejo tidak menyerah mencari informasi tentang keberadaan wanita pujaan hatinya. Lebih dari sekali, pria berkulit gelap itu mendatangi rumah Anita. Namun, hasilnya nihil, karena gadis itu tidak mau memberi informasi apapun padanya.
"Aku sudah bilang kan, kalau aku tidak tahu dimana Puspa." Anita kekeh dengan jawaban yang sama. Karena dia sudah tidak lagi berhubungan dengan Puspa. Itu semua karena ponsel milik Puspa di ambil oleh Raka.
"Halah ... kamu bohong to, Nit?" Tejo tetap tidak percaya.
"Kamu kok ngeyel to, Tejo!" Anita mulai emosi. Gadis itu menutup pintu rumahnya dengan keras, supaya Tejo pergi dari sana.
Tejo gusar, bukannya pulang, dia malah mondar-mandir di teras rumah Anita. "Kamu dimana to, Dek?" Tejo bergumam sembari memandangi foto Puspa di layar ponselnya. Foto yang dia ambil secara diam-diam saat Puspa tengah tampil di sebuah acara.
Di saat yang tepat, Entin ibunya Arka, lewat di depan rumah Anita. "Bulek!" Tejo memanggil
wanita itu dengan suara lantang.
"Ada apa to, Tejo? Teriak-teriak begitu. Kupingku Iki masih berfungsi dengan baik Lo," Entin merasa kesal dengan cara Tejo memanggilnya.
"Aku mau minta alamatnya Raka di kota, Bulek," Tejo berkata sembari membuka secarik kertas yang dia bawa dari rumah. Tak lupa, dia juga membawa Bolpen.
"La kok koyok tukang kredit to kowe? (La kok seperti tukang kredit to kamu)"
"Iyo, Bulek. Kredit cinta," Di saat seperti itu, si Tejo masih mencoba untuk bercanda.
"Aku nggak punya alamatnya Raka, Jo!" Entin bicara sembari melangkah pergi. Namun, Tejo dengan sigap menahannya.
"Bulek mesti bohong iki. Mosok alamat anak sendiri nggak tahu?" Tejo memperhatikan wajah Entin dengan seksama. Jika dia berbohong maka akan terlihat dari raut wajah itu. Namun, wajah Entin terlihat datar tanpa ekpresi. Sepertinya wanita itu tidak berbohong dengan ucapannya.
"Dibilangi kok ngeyel to!" Entin mulai geram. "La kamu, kenapa nanya alamat anakku? Ada apa?" Entin balik bertanya.
"Aku mau menjemput Dek Puspa, Bulek." jawab Tejo berterus terang.
"Puspa itu calon mantuku, jadi jangan macem-macem kowe!"
"Bulek salah. Puspa, bukan calon mantumu, tapi dia calon menantunya ibuku," Tejo berucap dengan percaya diri. Sementara itu Entin tertawa terbahak-bahak karena perkataan pemuda itu.
"Kok malah ketawa to, Bulek!" Tejo tak terima di tertawakan oleh Entin.
__ADS_1
"Habisnya kamu, lucu. Tejo ... Tejo ..."