PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 24. Puspa Tenggelam


__ADS_3

"Ada apa dengan airnya? Mati?" Marni langsung masuk kamar mandi untuk memeriksa.


"Nggak papa gini kok," ucapnya setelah memeriksa semuanya dan tidak ada yang salah di sana.


"Ember, sama gayungnya mana to, Bu?" Puspa bertanya dengan wajah serius.


"Buat apa nyari gayung?"


"Yo buat mandi to, mosok buat makan. Ibu ini ngawur!"


"Kamu iku yang ngawur!" Marni berucap sambil meraih selang yang tertempel di dinding. "Nih, mandinya pakai ini lo, Puspa!" ucap Marni sembari menyerahkan selang itu pada Puspa.


"Yo nggak seger to, Bu. Mandi kok pakai selang. Nggak bisa jebur- jebur to!" Puspa terus membalas perkataan Marni, membuat wanita itu frustasi.


"Yo kalau mau jebur-jebur, kono mandi ae neng kolam!" Marni keluar kamar mandi dalam keadaan bibir mengerucut.


"Kok sewot to, Bu." Puspa pun pasrah. "La Iki piye ... cara pakainya?" gerutu gadis desa itu sembari membolak-balik selang shower di tangannya.


Di kampung tidak ada benda seperti itu. Sekaya apapun orangnya, paling bagus mereka menggunakan bak mandi yang di lapisi dengan keramik. Itu pun sudah di bilang paling wah.


frustasi tidak bisa menggunakan shower di kamar mandi, Puspa keluar menuju kolam renang yang terletak di sisi kanan rumah.


"Biyuh .... gede temen kolame. Sudah seperti yang ada di water boom Iki." Puspa menggeleng heran mendapati kolam renang yang begitu luas dan berair jernih.


Byurr!


Tidak menunggu lama, gadis itu langsung masuk ke air yang dingin. Jangan di tanya apa dia bisa berenang? Sudah pasti di jagonya.


Di Desa ada kali yang airnya mengalir deras. Puspa dan kawan-kawan biasa mandi di sana. Walaupun itu sudah lama. Di saat menginjak usia remaja, dia sudah tidak melakukannya lagi. Pemuda di sana sangat usil. Mereka akan mengintip kalau ada para gadis mandi.


Hap!


Hap!


Hal tidak terduga justru terjadi. Karena sudah terlalu lama tidak mandi di kali, gadis itu lupa caranya berenang.


"T-tolong ...!" Suara Puspa terputus karena air sudah terlalu banyak masuk kedalam paru-parunya. Posisi Marni juga jauh dari kolam itu, sehingga dia tidak mendengar suara Puspa.


'Bakal mati aku Iki ... Ibu ...!' Batinnya. Puspa mulai kehabisan napas. Kesadarannya pun mulai hilang, tubuhnya perlahan tenggelam ke dasar kolam.


Byurr!

__ADS_1


Dengan sedikit kesadaran yang ada, Puspa melihat seseorang masuk ke kolam dan maraih tubuh lemasnya. 'Apa dia malaikat maut?'


"Bu Marni! Joko!" pria yang tak lain adalah Satya itu memanggil ke dua pekerjanya dengan suara lantang.


"Yo alah ... Puspa kenapa Tuan?" Marni berhambur memeluk tubuh Puspa yang lemas dan tak sadarkan diri. "Kalian urus dia!" Satya beranjak menuju kamarnya.


Satya kembali kerumah untuk mengambil berkas yang tertinggal. Namun, Saat hendak masuk, dia mendengar suara dari arah kolam. Melihat tubuh Puspa yang mulai tenggelam, dia pun langsung masuk ke air tanpa melepas sepatu ataupun jasnya.


"Kok iso masuk kolam Ki piye to, Bu?" Joko ikut panik.


"Uhuk ...uhuk!" Puspa terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. sementara itu, Marni terus menepuk punggungnya.


"Alhamdulillah ... kamu sadar. Pus," Marni merasa lega. Dia merasa bersalah, karena sudah meninggalkan Puspa tadi.


"Aku dimana?" Puspa menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan sekitar. "Apa aku wes mati?" ucapnya ngelantur.


"Hush! Ngawur ae!" ucap Marni.


"Untung ada Tuan satya, kalau tidak sudah baca Yasin tahlil aku, Pus." Joko berucap sembari mengelus dada.


"Ngomong opo to kamu ini?" tegur Marni.


"Lo tenan lo, Bu. Anaknya tetanggaku di kampung tenggelam pas mandi di kali. Langsung meninggal di tempat Lo, Bu!" Joko menceritakan pengalaman hidupnya di saat yang tidak tepat.


"Kamu juga, Pus. Nggak bisa berenang kok malah nyebur!" Marni menggerutu karena khawatir.


Marni menyelimuti tubuh Puspa dari ujung kepala hingga kaki. Membuat gadis itu terlihat seperti kepompong. "Kok di buntel to, Bu? Aku nggak bisa nafas ini" protes Puspa dari dalam selimut. "Wes to diam! Lagian kamu juga, kalau nggak bisa berenang, ngapain nyebur ke kolam?" Marni terus mengomel tanpa henti.


Ikatan batin di antara keduanya sudah mulai terjalin, walaupun baru beberapa hari bersama.


Marni, adalah seorang janda. Dia mempunyai seorang anak perempuan, tapi mereka sudah lama tidak bertemu. Setelah menikah, sang anak ikut suaminya ke luar kota. Tinggalah Marni seorang diri.


Bertemu dengan Puspa, membuatnya lebih bersemangat dalam menjalani hidup. Ada daya tarik tersendiri dalam diri gadis itu, yang mampu membuat orang-orang di sekitar merasa bahagia.


"Aku akan memeriksa, Tuan Satya. Siapa tahu dia butuh sesuatu," Marni beranjak menuju kamar sang majikan. Langkahnya terhenti saat melihat pria tampan itu sudah bersiap untuk pergi.


"Tuan, mau pergi?" tanya Marni. " Iya, Bu. Aku tadi pulang untuk mengambil berkas yang tertinggal." jawab Satya datar.


pria bertubuh atletis itu berjalan menuju pintu utama. Namun, dengan tiba-tiba dia berhenti. " Bu, awasi gadis itu! Aku tidak mau dia membuat masalah lagi!"


"Baik, Tuan. Ibu akan mengajarinya dengan baik," jawab Marni.

__ADS_1


"Bagus. Dia harus melakukan semuanya dengan benar kalau mau tetap di sini."


Pria lajang itu sangat disiplin dalam segala hal. Sikap itulah yang mengantarkannya pada kesuksesan. Namun, dia tidak tahu bahwa ada kesalahan-kesalahan kecil dalam hidup yang tidak masalah untuk di lakukan. Agar hidup lebih berwarna.


Setelah Satya pergi, Marni kembali ke kamar.


"Ibu ambilkan makan, ya?" ucapnya pada Puspa.


"Nggak usah, Bu. Aku tidak lapar," balas Puspa.


"Kenapa? Kamu ingat ibumu?" Marni langsung tahu isi hati Puspa.


Gadis itu hanya menganggukkan kepala tanpa suara. " Tidak papa, Itu hal yang wajar." Marni duduk di sisi Puspa sembari memijat kaki gadis itu, membuat Puspa semakin merindukan ibunya.


"Mulai sekarang, anggaplah wanita janda ini sebagai ibumu!"


Mendengar ucapan Marni, membuat Puspa haru. Serta merta gadis itu bangkit dan memeluk Marni dengan erat. " Terimakasih, Bu." ucapnya sambil menangis.


"Apa ibu punya anak laki-laki?" tanya Puspa sembari melepas pelukannya.


"Tidak, kenapa emangnya?" Marni balik bertanya.


"Yah, sayang sekali. Padahal aku berniat menikahinya."


"Hush ... sembarangan! Jangan jadikan pernikahan sebagai bahan candaan, nggak baik." Marni memberi wejangan pada gadis semberono itu.


"Siapa yang bercanda, to? Pasti bahagia punya ibu mertua sebaik, Bu Marni," ucap Puspa sambil tersenyum.


"Kan kamu sudah jadi anak ibu," Marni berujar sembari mengelus rambut Puspa. Rasa rindunya pada sang putri sedikit terobati dengan kehadiran gadis itu.


"Bu, tadi saat aku tenggelam, aku melihat malaikat maut," Marni terperanjat saat mendengar penuturan Puspa.


"Ngomong opo to, Pus?" Marni merasa khawatir.


"Iyo, Bu. Dia datang dan menarik tanganku,"


Puspa menceritakan apa yang dia lihat di kolam.


"Apa, malaikatnya berjas abu-abu?" tanya Marni. Puspa sedikit berpikir mengingat lagi apa yang sudah dia lihat.


"Sepertinya, Iya," jawabnya pelan.

__ADS_1


"Huh! " Marni menyentil pelan kening Puspa. " Itu Tuan Satya, Puspa!" ucap Marni sembari menggelengkan kepala. "Pak, Satya? Apa iya?" tanya Puspa tak percaya.


__ADS_2