PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 9. Jebakkan Yasmin


__ADS_3

Mobil pick up terus melaju, kegelisahan dalam hati mengalahkan dinginnya angin malam.


Tepat pukul dua dini hari, aku sampai di rumah. Ibu dengan bahagia menyambut kedatanganku, tapi raut bahagianya seketika hilang saat tidak mendapati Fadli di sampingku.


"Dimana Fadli, Pus?" pertanyaaan ibu menambahkan luka di hati.


"Kita ngobrol Besok saja ya, Bu. Puspa capek," balasku sembari menenteng tas masuk ke rumah.


"Ibu bikinin, teh anget yo,"


"Nggak usah, Bu. Puspa ngantuk mau langsung tidur,"


Sebenarnya tidak enak mengabaikan perhatian Ibu, tapi bagaimana lagi, berada di dekat Ibu malah membuatku ingin menangis.


"Lo ... Nggak mandi dulu, to?"


"Besok saja, Bu."


Aku segera masuk kamar, segera ku lempar tas berisi pakaian ganti ke sembarang arah.


Isi chat itu sungguh mengganggu pikiranku.


oh iya, ini sudah di rumah pasti jaringan sudah kembali. segera ku ambil ponsel dalam tas. Benar jaringan sudah full.


Aneh sih, kenapa jaringan bisa hilang saat berada di kota? Jika di ingat lagi pesan tadi masuk saat kami tengah melewati perbatasan antara kota dan desa, mungkin itu penyebabnya.


Dengan tidak sabar aku membuka file foto yang dikirim nomer tidak di kenal padaku.


Seketika mataku terbuka lebar saat melihat gambar yang kini terpampang nyata di layar ponsel. Foto Fadli tengah bersama Yasmin dengan kondisi tanpa sehelai benangpun di tubuh mereka.


"Si*alan ...!" Kali ini bukan hanya kata umpatan aku bahkan menendang lemari baju dengan keras.


"Ada apa, Pus?" Ibu masuk kamar dengan raut wajah khawatir.


"Bu, apa ajian pelet itu bisa mudah luntur?" tanyaku pada Ibu.


"Apa terjadi sesuatu sama Fadli?"


Ibu langsung tahu kemana arah bicaraku.


"Sepertinya begitu," aku hanya menjawab pertanyaan Ibu dengan ucapan, tidak mungkin menunjukan foto menjijikkan itu pada Ibu.


"Baiklah, besok kita ke rumah Mbah Slamet lagi, sekarang tidurlah!" Ibu segera keluar kamar dan menutup pintu.


"Kamu tidak bisa begini Fadli, kamu sudah merenggut kesucianku, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!"


Ternyata ucapan Fadli malam itu hanyalah kebohongan semata, kenyataan jika dia mencintaiku sejak remaja, semua itu bohong. Aku sudah terjebak dengan rayuan pria itu, hingga dengan rela kuserahkan kesucian yang sudah 22 tahun aku jaga.

__ADS_1


Semua adalah kesalahanku, kenapa begitu mudah tergoda, ada sesal dalam hati seharusnya aku tidak mengirim guna-guna untuk Fadli, bukan dia yang menjadi korban, melainkan aku.


Hingga pagi tiba, Fadli belum juga menghubungi, bagaimanapun dia harus memberi penjelasan karena sudah mencampakkan aku begitu saja.


"Pus ... Cepat bangun, ada Fadli di luar," ucap Ibu dari balik pintu.


Fadli? Dia datang? Aku bergegas keluar kamar, bukan waktunya aku merajuk, kondisi hubungan kami berbeda dengan pasangan lain di luar sana. Fadli tidak benar mencintaiku, semua karena pengaruh ajian pelet, jadi aku harus tetap bersikap baik jika tidak mau kehilangan dia.


"Bu, tolong temani dia sebentar, aku mandi dulu," Pintaku pada Ibu.


"Cepat, kasihan, sepertinya dia tidak langsung pulang ke rumahnya,"


"Apa maksud, Ibu?"


"Fadli masih mengenakan baju yang kemarin, Pus."


"Apa?"


Mendengar ucapan Ibu, aku tidak jadi mandi. hanya mencuci muka dan gosok gigi saja. aku khawatir jika terjadi sesuatu pada kekasihku.


"Kamu nggak jadi mandi, Pus?" tanya Ibu setelah melihatku hanya sebentar di kamar mandi.


"Nanti saja, Bu."


Aku mendapati Fadli tengah terduduk lesu di teras. Benar kata Ibu, dia belum berganti baju. Wajahnya terlihat lelah dan lesu. Tentu saja dia kelelahan setelah menghabiskan malam dengan mantan pacarnya itu.


"Puspa ..." lirih Fadli memanggil. Pemuda itu beranjak dari duduk dan menghampiriku. "Maaf, Sayang," ucapnya lirih, tepat di telingaku. Fadli memeluk dengan erat, aku bisa merasakan jika dia tengah gelisah.


Aku menarik tangan Fadli membawanya masuk ke kamar, bukan untuk melakukan hal yang tidak pantas, hanya mencari tempat bicara yang lebih aman dan nyaman.


"Bu, aku harus bicara penting dengan Fadli di kamar," ucapku pada Ibu, walau menatap heran, tapi akhirnya ibu mengijinkan.


"Pintunya jangan di tutup!" Titah Ibu.


"Baik, Bu."


"Katakan apa yang sudah terjadi?" tanyaku pelan. Untuk sementara aku akan berpura-pura tidak tahu soal foto itu.


"Maaf, Pus. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu,"


"Apa maksudmu? jika ini soal kamu yang tidak menjemputku tadi malam, aku sudah memaafkannya," Aku tidak membahas prihal foto yang di kirim Yasmin. Aku ingin Fadli as sendiri yang mengakuinya.


"Aku tidak menjemputmu, karena ketiduran di rumah Yasmin."


Jadi pria dalam foto benar Fadli. Tanganku mengepal menahan emosi. Aku tidak boleh gegabah, sebelum tahu kebenaran yang sesungguhnya.


"Jadi, kamu pergi ke rumah wanita itu? Untuk apa?

__ADS_1


Fadli pun menjelaskan awal mula dia sampai ke rumah Yasmin. Dari cerita Fadli aku bisa menyimpulkan, jika Yasmin sengaja menjebak kekasihku. Dia berpura-pura sakit sehingga Fadli datang ke sana.


"Apa terjadi sesuatu antara kami dan Yasmin Yadi malam?" Aku masih belum mendapat jawaban prihal foto itu.


"Entahlah, aku tidak ingat, Pus. tiba-tiba saja kepalaku pusing dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi,"


Sudah jelas, Yasmin memasukkan sesuatu pada minuman Fadli, dasar wanita licik. Baiklah aku akan membalasnya sekarang. segera ku raih ponsel di atas meja. Aku mendekat pada Fadli dan mencium sebelah pipinya dengan mesra, sementara sebelah tanganku memegang handphone yang kameranya telah menyala.


Fadli terlihat bingung dengan ulahku, tapi aku lihat gurat bahagia pada wajahnya.


"Jadi, kamu memaafkan aku, Sayang?" tanya Fadli.


"Tentu saja, kamu tidak sengaja tertidur di rumah Yasmin, mungkin karena kamu kecapekan," balasku sembari memasang senyum semanis mungkin.


Tanpa aba-aba Fadli memeluk tubuhku dengan erat. "Terimakasih, asal kamu tahu aku terus memikirkan ini selama di perjalanan tadi,"


"Sampai kamu tidak mandi?" godaku.


"Apa aku bau?"


"Tidak, kamu masih wangi seperti biasanya," Tubuh Fadli memang masih wangi, dan ada wangi parfum wanita juga yang tercampur di sana, tapi biarlah aku tidak mau memikirkan itu, toh aku sudah tahu penyebabnya.


"Ehemm ...!" Suara deheman Ibu membuat kami melepas pelukan dengan segera.


"Sudah siang, Nak. Pulanglah dulu, orang tuamu pasti khawatir," Ibu berujar sembari menatap ke arah Fadli. "Iya, Bu." Fadli pun menurut dan beranjak pulang.


Aku dan Ibu berdiri di ambang pintu melihat Fadli melaju dengan mobilnya.


"Jadi perempuan itu harus pandai menjaga diri, katanya cuma ngobrol tapi kok pakai peluk-pelukkan segala," Ibu mulai mengomel.


"Maaf, Bu. terbawa suasana," jawabku sembari tersenyum kecut.


"Ya iya, wong ngobrolnya di kamar, kalau di terusin bukan cuma pelukan saja itu tadi,"


"Apa sih, Bu. Puspa nggak seperti itu," aku masih terus membela diri, andai Ibu tahu apa yang sudah pernah aku lakukan dengan Fadli, dia bisa saja langsung mem**nuhku.


Semoga saja rahasia itu tidak akan terungkap untuk selamnya.


Setelah Fadli pergi aku bergegas mengambil ponsel dalam kamar, membuka foto yang tadi aku ambil.


Aku akan membalas Yasmin dengan foto itu, akan aku buktikan jika Fadli lebih memilih aku dari pada dia.


Satu kali tekan fotoku yang tengah mencium Fadli dengan mesra langsung terkirim ke nomer Yasmin.


[ Jadi perempuan jangan halu, Fadli sudah menjadi milikku sekarang jadi jangan ngarep!]


Sebuah pesan susulan aku kirim padanya. aku yakin dia akan kepanasan setelah membuka pesan itu. Aku ingin melihat ekspresinya, tapi sayang dia jauh di sana, Yasmin yang malang.

__ADS_1


__ADS_2