PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Menikah


__ADS_3

"Bulek, piye to iki? Aku kok malah di usir!" protes Tejo dalam sambungan telepon, tak terima dengan perlakuan pemilik rumah padanya.


"Lho ... kamu dimana emange?"


"Aku di pinggir jalan, Bulek," ucap Tejo kesal.


Ningrum mengakhiri panggilan dan berniat keluar rumah, tapi Puspa mencegah.


"Mau apa to, Bu?"


"Kasihan Tejo, Pus. Dia di jalan sekarang,"


"Suruh pulang ae to, Bu!"


"Kasihan to, dia sudah bantuin ibu, lho !"


Puspa meraih handphone di atas nakas, mencari nomer Raka dan menghubunginya.


"Ka, kamu bisa ke sini, nggak? Bawa si Tejo pergi dari sini!" ucap Puspa.


"Tejo, siapa?" balas pria itu di ujung sana.


"Tejo tetangga kita itu, siapa lagi?"


"Dia ngapain ke sana, Pus?"


"Nganterin Ibu,"


"Iya, aku segera ke sana."


beruntung Raka bersedia membantu kalau tidak ibunya Puspa tidak akan bisa tenang.


"Wes, beres, Bu. Sekarang Ibu mandi terus makan!"


"Itu tadi si Raka, Pus?"


"Iyo, tenang wae dia mau bantu,"


"O ... yowes kalau gitu,"


***


Satu Minggu terlewati tanpa terasa. luka Puspa mulai sembuh, perlahan dia sudah mulai bisa beraktifitas seperti sebelumnya walaupun belum bisa membantu Marni mengerjakan pekerjaan rumah, setidaknya dia sudah tidak lagi merepotkan orang lain sekarang. Sebagai ganti, Ningrum lah yang membantu Marni. Sementara itu, Anita sudah mulai masuk kerja di perusahaan Satya sebagai office girl di sana.


Ningrum sudah mengatur jadwal kepulangannya bersama Puspa, gadis itu sudah berusaha menolak, tapi sang ibu kekeh pada pendiriannya. Peringatan dari Mbah Slamet dan kejadian yang menimpa Puspa membuatnya yakin jika Puspa harus segera menikah dengan Fadli kalau tidak kemalangan akan menimpanya lagi.


"Ada apa lagi, ini?" Marni menghampiri ibu dan anak yang tengah berdebat.


"Ibu, memaksaku pulang!" sahut Puspa dengan kesal.


"Kenapa pulang, Mbak? Kan Puspa harus kembali bekerja di sini kalau sudah sembuh!" ucap Marni.


"Nggak bisa gitu, Mbak Marni. Anakku akan Ciloko kalau terus di sini!"

__ADS_1


Marni pun tidak bisa berbuat banyak karena Ningrum sudah begitu meyakini ucapan dukun dari desanya. "Sebaiknya kalian bicarakan dengan Tuan dulu!" usul Marni.


Di kantor Satya tengah kedatangan tamu, seorang pria kepercayaan yang dia perintahkan menyelidiki kasus penyerangan yang menimpa Puspa. Sampai sekarang belum ada titik terang.


"Apa kamu yakin Yasmin tidak ada hubungannya dengan kasus ini?" Satya menautkan kedua alis pertanda dia tengah serius.


"Iya, Pak. Kami sudah menyelidiki wanita itu, tapi tidak mendapatkan apapun," jawab pria berjaket hitam.


"Karena mereka tidak meninggalkan jejak di tempat kejadian, jadi kami sulit menemukan pelakunya,"


Posisi Puspa saat itu tidak terekam kamera dashboard mobil, sulit mengetahui identitas pelaku.


"Siapa lagi orang yang menginginkan Puspa celaka selain Yasmin? Fadli? Tidak mungkin. Pria itu bahkan masih berusaha kembali pada Puspa. Raka? Dia juga sudah berbaikan dengan Puspa." Satya pusing memikirkan kasus yang tidak mudah terpecahkan itu.


Di rumah, Puspa masih terus berdebat dengan ibunya. Wanita itu sudah melangkah terlalu jauh. Tanpa persetujuan Puspa, Ningrum menghubungi Fadli. Meminta pria itu untuk menjemput mereka.


"Ibu sudah keterlaluan. Ibu lupa Fadli itu sudah punya istri? Apa ibu mau aku di sebut sebagai pelakor?" Puspa duduk di sofa sembari memijit kedua pelipis yang terasa berdenyut.


"Fadli dan istrinya sudah bercerai, pus!" Ningrum menyusul putrinya duduk di sofa yang sama.


"Apa Fadli yang mengatakan itu?"


"Iyo, mereka sudah pisah rumah, hanya tinggal nunggu surat dari pengadilan."


"Ibu ...!" suara Puspa meninggi.


"Ada apa ini? kenapa berteriak pada ibumu?" Satya Kembali dari kantor dan mendapati kedua wanita berdebat di ruang tengah dalam rumahnya.


"Ayo, Bu!" Puspa memaksa, tapi Ningrum bergeming.


"Maaf, Mas Satya. Saya mau pamit pulang," Ningrum menghampiri Satya membuat Puspa frustasi.


"Pulang? Kenapa terburu-buru? Ibu bisa tinggal sampai Puspa benar-benar pulih," ucap Satya.


"Puspa akan ikut pulang bersama saya," Ningrum memberanikan diri.


"Apa maksud Ibu? Kenapa Puspa ikut pulang?"


Satya mulai tidak tenang.


"Puspa harus pulang karena dia akan menikah, Mas,"


"Menikah?" Satya semakin bingung dan menatap ke arah Puspa berusaha mencari jawaban dari gadis itu, tapi Puspa hanya diam.


Satya berjalan cepat menghampiri Puspa, berniat membawa gadis itu menjauh untuk bicara berdua, tapi niatnya gagal karena seseorang datang tepat di saat dia baru mengulurkan tangan untuk meraih tangan gadis di hadapannya.


"Puspa ...!" suara Pamela terdengar nyaring dari arah ruang tamu.


Wanita itu berlari dan langsung memeluk Puspa seolah begitu merindukannya.


"Mbak Pamela?" Puspa terheran-heran. Bagaimana wanita itu bisa muncul secara tiba-tiba?


"Kamu sudah sehat?" pertanyaan Pamela menyadarkannya dari rasa syok sementara.

__ADS_1


"I-iya, Mbak. Aku sudah lebih baik. Mbak sendiri bagiamana? Aku dengar dari Pak Satya, Mbak juga baru pulang dari rumah sakit."


Mendengar ucapan Puspa, Satya menatap heran kapan dia menceritakan soal Pamela pada gadis itu?


Satya meninggalkan dua wanita yang saling memeluk itu, kepalanya terasa semakin pusing. Dia pun bergegas menuju kamar tanpa menghiraukan Pamela sama sekali.


"Ada apa dengannya,?" tanya Pamela.


"Entahlah,?" Puspa menaikan kedua bahu.


"Oh iya, Mbak. Perkenalkan ini ibuku!" Puspa menunjuk ke arah ibunya.


"Saya Pamela Bu, temanya Puspa" Pamela menyalami Ningrum dengan santun.


"Oalah ... Puspa kenal Mbak Pamela dimana? cantik banget!"


"Ah ibu ini bisa saja. Puspa juga cantik!"


sementara Pamela berbasa-basi dengan ibunya pikiran Puspa malah tertuju pada Satya. Ada hal yang harus dia bicarakan dengan pria itu.


"Puspa sini ...! Aku mau bicara banyak hal denganmu!" Pamela menarik tangan Puspa dan mengajaknya duduk bersama.


Wanita itu entah datang darimana? Dia seperti hantu datang dan pergi sesuka hati.


Apa hubungannya sudah membaik dengan Satya? Sehingga dia dengan mudahnya datang ke rumah tanpa rasa segan sedikitpun? Puspa bahkan masih ingat terakhir kali bertemu mereka bertengkar hebat. Sebelum dia meninggalkan rumah itu.


Di dalam kamar, Satya berjalan mondar mandir seperti setrika. Pikirannya tidak tenang. Menikah? Ucapan Ningrum mampu membuatnya gusar. "Apa maksudnya dengan menikah? Kenapa tiba-tiba? Sebelumnya mereka tidak terdengar membahas hal itu?" gumam pria itu.


"Kamu sedang memikirkan apa? Pamela masuk kamar Satya tanpa permisi, tapi pria itu tidak heran dengan sikap wanita yang sudah lama dia kenal.


"Kenapa kamu kesini? Ada apa?"


"Aku merindukanmu, apa tidak boleh?" tanpa aba-aba Pamela memeluk Satya, membuat pria itu tidak bisa menolaknya. "Biarkan aku memelukmu sebentar saja," bisik wanita itu.


Puspa memundurkan langkah saat melihat pemandangan yang menyakitkan di depan mata. Niat ingin menyuguhkan minuman, justru dia yang di suguhi pemandangan memilukan.


"Puspa?" Satya terperangah menyadari kehadiran Puspa.


"Maaf, saya hanya mau mengantarkan minum," Puspa Meletakkan nampan di atas meja kemudian berjalan cepat keluar dari kamar. Semetara itu, Satya melepas pelukan Pamela dengan kasar berniat mengejar Puspa, tapi Pamela mencegahnya. "Kamu mau kemana, Satya? Aku belum selesai bicara. Duduk!" Pamela menarik lengan Satya dan membawanya duduk di atas sofa.


"Apa kamu mulai mencintainya? Puspa?" Tatapan Pamela tajam menembus hingga jantung pria di sisinya.


"A-apa maksudmu?" Satya berusaha mengelak.


"Aku tidak punya perasaan seperti itu!"


"Baiklah, terus saja mengelak!" Pamela tersenyum getir.


"Aku akan menikah, Sat!"


"Apa?"


Ada apa dengan semua orang? Kenapa semua membahas pernikahan?

__ADS_1


__ADS_2