PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Manut


__ADS_3

Puspa mengemas seluruh pakaian dalam tas besar. Melihat kedekatan Satya dengan Pamela membuatnya mengambil keputusan. Menurut pada sang Ibu untuk pulang ke kampung.


Soal pernikahan dia tidak menganggapnya serius, yang pasti dia ingin rehat dari kisah cinta tak berujung. Jatuh cinta sendiri memanglah sakit.


Sudahlah, tabungan sudah cukup untuk sekedar membangun sebuah warung di emperan rumah. Lagipun, kontrak yang selama ini Satya bicarakan sudah melewati batas perjanjian.


"Kalian mau kemana?"


Puspa menarik koper pelan menuju kearah sang majikan yang menatapnya penuh heran.


"Saya mau pulang, Pak. Terimakasih, selama ini Bapak sudah banyak membantu saya dan Ibu."


"Ada apa ini? Kenapa mendadak sekali?"


"Bukan mendadak, Ibu sudah menyampaikannya kemarin, mungkin Bapak terlalu fokus dengan Mbak Pamela, jadi tidak mendengar yang Ibu saya katakan!"


Ekspresi datar tanpa senyum, nampak jelas di wajah Puspa.


Anita menatap lekat, kenapa Puspa malah pulang padahal dia baru saja mendapat pekerjaan. Apa yang akan dia lakukan tanpa Puspa?


"Kamu tenangkan diri dulu, Puspa! Jangan terburu-buru!" Marni menasehati.


"Aku sudah pikirkan semuanya, Bu."


"Baiklah. Pergilah dan jangan pernah kembali!" Emosi membuat Satya tidak menyadari perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Baiklah, Bapak juga jangan pernah datang ke kampung saya lagi!"


Puspa menyeret tangan ibunya sementara sebelah tangan menyeret koper berisi pakaian miliknya.


"Terus aku piye, Pus?"


Anita menghadang jalan Puspa dan Ningrum.


"Carilah kontrakan, Nit! Tetaplah bekerja. Kalau butuh bantuan kamu bisa hubungi Raka!"


Puspa tak lagi menghiraukan orang-orang di sekitar. Langkah kaki berjalan dengan penuh keyakinan. sembari memegangi bekas luka yang masih menyisakan rasa nyeri.


"Tejo Piye, Pus?"


"Biarkan dia, Bu. d


Tejo bisa pulang sendiri. Bukankah Ibu bilang dia mau cari kerja jadi biarkan saja!"


Puspa menundukkan kepala masuk dalam taksi di ikuti Ningrum.


'Sudahlah, aku memang harus tahu diri. ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini, semoga.'


***

__ADS_1


Semenjak kepergian Puspa, rumah besar milik Satya menjadi sunyi. Tak ada lagi gelak tawa. Anita pun sudah mendapat kontrakan di sekitaran tempat tinggal Raka.


Sementara Tejo, mendengar Puspa kembali ke kampung dia bergerak cepat mengikuti langkah kedua wanita itu untuk segera pulang kampung juga.


Puspa berbelanja di pagi hari bersama Ningrum membeli beberapa keperluan untuk mereka berjualan nasi pecel dan uduk di teras rumah.


"Bu, apa sudah cukup?" Puspa menata beberapa snack di antara deretan botol kecap di atas meja.


"Sudah, pus. kamu nggak papa bantuin Ibu jualan begini?"


"Yo nggak Popo, Bu. Kan halal."


Kehidupan Puspa kembali seperti semula, pagi hari di bangunkan dengan suara teriakan sang Ibu. Tidak ada perubahan berarti selain sifat ceria yang mulai menghilang.


Fadli berulang kali menemui, surat cerai sudah keluar Pernikahannya dengan Yasmin berakhir secara hukum negara. Namun, semuanya tidak berpengaruh bagi Puspa.


Hampir setiap hari, Ningrum membujuk anak gadisnya untuk menerima lamaran Fadli, tetapi Puspa bukanlah anak penurut yang akan langsung setuju.


Apalagi yang dia pikirkan? Fadli sudah menjadi duda, kedua orang tuanya juga sudah memberikan restu. Bagi pak lurah dan istrinya kebahagiaan sang putra lebih dari segalanya.


Fadli melepas Yasmin dan segala iming-iming hidup nyaman di sisi wanita itu. Kini dia membangun sebuah usaha kecil di kampung. Tentu saja kedua orang tuanya mendukung dengan begitu sang putra bisa hidup dekat dengan mereka.


Satu masalah yang belum terselesaikan dalam hidup Fadli, persetujuan dari Puspa.


"Kamu mikir apa lagi sih, Pus?" Saat ini Fadli tengah duduk di teras rumah Puspa. Begitu mudahnya pria itu merayu. Dia lupa dengan sikap kasarnya waktu itu.


Bagi Fadli itu hanyalah sebuah khilaf tetapi bagi Puspa sikap Fadli padanya malam itu memangkas habis rasa cinta di hati hingga ke akar-akarnya.


"Puspa, aku akan terus menemuimu sampai kamu setuju!"


Sudah lebih dari setengah jam, Fadli meninggalkan pekerjaannya, tanpa semangat pria itu melangkah pergi dan berniat akan kembali lagi.


"Rum, apa Puspa masih menolak?" Entin menyenggol pelan pundak sahabatnya. Keduanya kini tengah duduk di bangku dalam rumah.


"Kamu bisa lihat sendiri to?"


Ningrum tidak habis pikir dengan anak gadisnya. Kenapa menolak Fadli yang dulu begitu dia inginkan?


"Apa mungkin Puspa mencintai pria lain, Rum?"


"Sopo? Tejo?"


"Lambemu ... Fadli aja nggak mau apalagi Tojo. Nggak waras kamu!" Entin sedikit kesal.


***


Di kota, satya tengah menghadiri undangan pernikahan salah satu temannya. Di sana hadir juga Rio si manusia playboy.


Satya terperangah saat melihat Rio tidak datang sendiri melainkan dengan wanita yang tidak asing baginya. Anita, gadis itu nampak anggun dengan riasan tipis di wajahnya. Seketika dia teringat akan Pispa. Para gadis desa itu seketika menjadi tuan putri hanya dengan polesan sedikit make up di wajah mereka.

__ADS_1


"Bagiamana kalian bisa bersama?" tanya Satya penuh selidik.


Rio dan Anita saling tatap dan tersenyum. "Kamu di sini dulu ya, aku harus bicara dengan Satya,"


Anita mengangguk pelan kemudian duduk di salah satu kursi tamu.


"Jangan main-main dengan Anita! Aku tidak akan tinggal diam kalau sampai kamu menyakitinya!" Satya menatap tajam pria di hadapannya.


Sementara itu, Rio malah tertawa. Dirangkulnya pundak Satya. "Aku tidak seperti kamu, Sat! Setidaknya aku berani mengutarakan perasaanku padanya, dan kali ini aku serius, aku bahkan berniat menjadikan Anita sebagai istri."


"Apa?" Satya melepas kasar lengan Rio.


"Jadi pria itu harus gentle! Jangan Plin-plan!" Rio menepuk pundak Satya kemudian meninggalkan pria itu dan menghampiri Anita.


"Apa maksud ucapannya? Siapa yang dia sebut plin-plan?"


merasa kesal Satya beranjak pergi meninggalkan pesta yang bahkan belum dimulai.


***


"Puspa, Ibu nggak mau tahu kamu harus menikah dengan Fadli!"


Sore itu Ningrum pulang ke rumah dengan wajah panik.


"Ibu nggak bosen opo to? Bahas itu terus!"


"Mbah Slamet bilang kamu harus segera menikah kalau tidak keluarga kita bakal terkena bencana!"


Semakin aneh dan di luar nalar omongan Mbah Slamet. Namun, Ningrum semakin percaya. Karena baginya tidak ada alasan bagi dukun itu berbohong. kalaupun Puspa menikah dengan Fadli tidak ada untungnya bagi pria tua itu.


"Ibu nggak mau tahu kamu harus setuju!" Ningrum tak ingin di bantah wanita itu masuk kamar dan mengunci diri.


"Bu ...! Kenapa jadi seperti anak kecil to?" tak mendapati ibunya membuka pintu Puspa pun menyerah dan meninggalkan kamar ibunya.


Seharian Ningrum tidak keluar kamar, Puspa mulai khawatir. Jangan sampai ibunya berbuat yang tidak-tidak.


"Bu ...! Jangan seperti ini! Ibu bisa sakit kalau nggak makan."


"Biarkan saja ... kamu kan seneng kalau Ibu sakit. Biar saja ... biar sekalian Ibu tiada biar kamu puas!"


"Ibu ngomong opo to?"


"Setengah jam Puspa duduk di depan pintu kamar ibunya. Namun, wanita itu kekeh tidak mau keluar.


"Yowes, Puspa manut. "


"Tenan?"


"Iyo, Bu ... sudah buka pintu kamarnya!"

__ADS_1


Mendengar Puspa setuju, Ningrum pun membuka pintu kamar. Namun, belum sampai pintu terbuka lebar. Tiba-tiba tubuh wanita itu terhuyung dan jatuh ke lantai.


"Ibu ...!"


__ADS_2