PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 31. Jambak-jambakkan


__ADS_3

"Untuk apa uang sebanyak itu, Raka?" Entin terdengar panik saat mendengar permintaan anaknya dalam sambungan telepon.


Raka meminta uang dengan jumlah tidak sedikit kepada ibunya. Yang pria itu incar adalah sawah milih sang Ibu. Sebuah tanah peninggalan sang kakek, satu-satunya harta yang dimiliki oleh wanita berstatus janda itu.


"Jual saja sawahnya, Bu!" Raka terus membujuk dengan suara memelasnya membuat hati sang ibu melemah.


"Tapi, itu harta Ibu satu-satunya Raka," balas Entin.


"Ibu tenang saja, Raka sedang membangun usaha, nanti kalau sudah berhasil Raka akan belikan sawah yang lebih luas dari punya ibu sekarang!"


"Kamu yakin usahamu itu bakal berhasil, Ka?" Entin masih ragu karena selama anaknya merantau ke kota, pemuda itu tidak pernah mengirim uang dengan jumlah yang banyak, hanya secukupnya saja.


"Yakin, Bu. Ibu nggak percaya sama Raka?"


"Iyo, Ibu percaya. Baiklah besok Ibu temui mas Agus."


Agus adalah seorang makelar tanah di desa sumbersari.


"Puspa piye? Wes ketemu?"


Entin mulai menanyakan kabar anak dari Ningrum itu.


"Nggak tahu, Bu. Dia ngilang seperti di telan bumi. Makanya aku butuh uang yang banyak untuk usahaku, soale Puspa bawa kabur uang tabunganku, Bu," Raka mulai mengarang cerita baru.


"Opo Iyo, Puspa seperti itu, Ka?" Entin seolah tidak percaya dengan perkataan anaknya. Selama ini Puspa terkenal baik di kampungnya. Walaupun profesinya sebagai penyanyi saweran, tapi Puspa tidak pernah menipu apalagi mengambil sesuatu yang bukan haknya.


"Ibu nggak percaya sama, Raka?" tanya Raka dengan nada kecewa.


"Bukane ngunu, tapi setahu ibu Puspa bukan gadis seperti itu,"


"Tapi buktinya dia seperti itu, Bu."


"Yo wes lah, Ibu percaya. Nanti kalau tanahnya sudah terjual Ibu kasih tahu kamu ya,"


ucap Entin di akhir obrolannya dengan sang putera.


"Iyo, Bu. Raka tunggu."


Membuka usaha hanyalah akal-akalan Raka saja. Dia sedang butuh uang itu untuk mengganti uang mami yang telah dia habiskan.


Mami memberi waktu sebulan untuk menemukan Puspa, tapi Sampai sekarang Raka belum menemukannya. Dengan terpaksa dia harus menjual tanah ibunya di kampung untuk mengganti uang tersebut.


"Kamu ngomong sama siapa sih, Sayang?" tanya wanita yang kini tengah bergelendotan di bahu Raka.


"Ada deh, kamu nggak perlu tahu," jawab Raka sembari menoel dagu wanita yang tak lain adalah Andin.


"Ih, genit ah," ucapnya manja.


Semenjak kepergian Puspa, hubungan Raka dan Andin semakin dekat. wanita itu selalu menempel padanya. Pernah sekali Raka mengantar Andin ke rumah hiburan mami. Namun, Mami tidak mau membayar tinggi karena Andin bukanlah pemain baru.

__ADS_1


Anehnya, mengetahui profesi Andin sebagai wanita malam, Raka masih bersedia menjalin hubungan asmara dengan wanita itu.


Sementara itu, di kampung Entin tengah kebingungan menghubungi Agus. Dengan berat hati dia melepas sawah peninggalan orang tuanya demi sang putra. Andai Entin tahu bagaimana kelakuan Raka di kota, bisa- bisa dia mengubur anaknya itu hidup-hidup di tanah yang sama.


"Aku mau harga tinggi lo, Mas. Sawahku ini masih bagus untuk di tanami padi," ucap Entin pada Agus.


"Yo kita hanya bisa ngikuti harga pasar to, Yu. kalau memasang harga terlalu tinggi, yo ga bakal ada yang beli," jawab Agus dengan luwesnya.


"Yo wes lah, terserah Mas Agus gimana baiknya," Entin akhirnya pasrah.


Di warung Eka, para wanita tengah bergunjing. Kebetulan Ningrum juga datang ke sana untuk membeli sembako.


"Padahal anaknya berkerja di kota sudah puluhan tahun lo, tapi kok yo Sampek jual tanah. Emange kerjane itu nggak membuahkan hasil opo?" ucap seorang dari para ibu-ibu itu.


"Iyo, kayaknya dia itu belum berhasil, wong kemaren pas pulang saja naik sepeda motor model lama, malah masih bagus punya anakku," balas wanita lainnya.


"Lagi pada ngomongin sopo to, Ibu-Ibu?" Ningrum penasaran dan ikut nimbrung dengan mereka.


"Kamu nggak tahu, Rum. si Entin bolomu itu kan mau jual tanah,"


"Eh ibu Iki piye to? Si Ningrum kan lagi satru sama Entin yo mesti nggak tahu berita dia. Ha ha ha ha."


Para wanita itu malah menertawakan kondisi persahabatan Ningrum dan Entin yang sudah renggang.


"Halah, Terserah kalian Bu. Aku tak pulang wae, mau masak!" Ningrum berlalu meninggalkan warung dengan mengendarai motornya.


Sepanjang perjalanan pikiran Ningrum tak bisa lepas dari Entin. Dia tahu betul bagaimana berartinya sawah itu untuk sahabatnya.


Sesampainya Ningrum di depan warung Entin, wanita itu lebih dulu memasukan barang belanjaannya ke dalam jok motor agar tidak ketahuan Entin kalau dia telah berbelanja di warung lain.


"Entin!" Ningrum memanggil ibunya Raka itu dengan suara khasnya yang lantang.


"Opo? Ada perlu apalagi kamu kesini? Bukane sekarang kamu belanjane di warung Bu Eka?"


percuma saja Ningrum menyembunyikan belanjaan yang dia beli dari warung bu eka, karena ternyata Entin sudah tahu dia kerap belanja di sana.


"Opo bener kamu mau jual sawah Entin?" Ningrum langsung betanya pada intinya.


"Loh opo urusanmu Karo tanahku? Jangan bilang kamu mau ngutang!" ucap Entin dengan sinisnya.


Sampai sekarang wanita itu belum bisa memaafkan Puspa dan ibunya.


walupun dia belum tahu kenyataan yang sesungguhnya.


"Bukanya begitu Entin. Aku tahu kamu sangat menyayangi tanah itu karena itu peninggalan kedua orang tuamu, masak mau kamu jual Ntin? Kamu nggak nyesel?"


Ningrum berusaha mengingatkan sahabatnya sebelum semuanya terlambat dan dia akhirnya menyesal.


"Kamu mau tahu, kenapa aku menjual tanah warisan bapakku, Rum?"

__ADS_1


"Emange kenapa?" tanya Ningrum serius.


"Semua itu karena anak wedokmu (Perempuanmu)! Dia membawa kabur tabungan Raka, jadi sekarang anakku butuh modal untuk usahanya," ucap Entin nyinyir.


"Opo? kenapa bawa-bawa Puspa to? Ngomong saja kalau anakmu itu memang nggak punya pekerjaan di kota, dia itu pengangguran to?" Ningrum mulai emosi karena Entin selalu menyalahkan Puspa.


"Opo? ngomong gitu lagi tak robek mulutmu itu!" Entin tak kalah emosi.


Tak bisa menhan emosinya lagi, Entin pun maju dan menyerang Ningrum. Karena tidak siap dengan serangan Entin yang tiba-tiba, Ningrum tidak sempat menghindar saat wanita itu menjambak rambutnya.


" Rasakan ini!" ucap Entin sembari terus menjambak rambut Ningrum yang sudah terburai.


Tak mau kalah, Ningrum pun membalas dengan menjambak rambut Entin yang memang dalam keadaan tergerai karena wanita itu baru saja keramas.


"Kenapa kamu terus menyalahkan anakku? Dasarnya anakmu saja yang tidak berguna!" Ningrum menjambak dengan keras rambut Entin yang dalam keadaan basah.


kedua wanita itu terlihat seperti dua anak kecil yang tengah berebut mainan. Saling menjambak dan mengumpat.


suara teriakan dan makian dari keduanya pun mengundang perhatian dari warga sekitar.


"Kalian Iki opo to? wes lepas!" Seorang dari warga berusaha melerai, tapi yang lain malah bersorak riuh.


"Jambak terus Entin! "


"Ojo mau kalah Rum!" ucap yang lainnya.


Karena tidak ada yang mau mengalah, dan menghentikan aksinya, seorang warga akhirnya memanggil pak RT.


"Kalian Iki kok koyok bocah!" Suara pak RT menggelegar di antara kerumunan warga.


"Wes ... lepas! Apa kalian mau aku bawa ke kantor desa?" ancam pak RT.


"Kamu dulu lepas, Entin!" pinta Ningrum.


"Emoh, kamu dulu!" Entin menolak karena dia tidak percaya ucapan Ningrum.


"Yo wes, ayo berangkat ke kantor desa!" Pak RT mulai mengancam lagi karena mereka tetap tidak ada yang mau mengalah.


"Ojo, Pak! Wes Iki aku lepas," ucap Ningrum sembari melepas cengkeraman tangannya dari rambut Entin. Entin pun melakukan hal yang sama.


"Wes bubar!" titah pak RT yang langsung di patuhi oleh warga. Mereka juga tidak mau kalau sampai di bawa ke kantor desa seperti yang di katakan pria berkacamata itu.


"Kalian ini, bikin malu!" pak RT mengomeli kedua wanita di hadapannya seperti anak kecil.


"Entin, Pak. Yang mulai," Ningrum menyalahkan Entin. "Ye, kamu to yang nyambangi aku duluan. Pakai menghina anakku lagi," balas Entin tak terima.


"Sudah!" Suara pak RT menggelegar, sepertinya dia lelah melihat pertengkaran dua janda di hadapannya. "Ningrum, pulang!" Pak RT menunjuk ke arah Ningrum. Seketika wanita berdaster itu pun langsung tancap gas.


"Kamu juga Entin, sana masuk! Nggak malu apa jadi tontonan warga?" Tatapan nyalang Pak RT beralih pada Entin. "Yo, Pak," sahut Entin sembari masuk ke warungnya.

__ADS_1


"Bisa kena stroke aku kalau begini. Sudah di rumah di omeli bojo (istri), di luar harus ngadepi rondo gelud (Janda bertengkar). Sabar ... sabar!" Pria itu kembali menuju rumah sembari menggerutu dan mengelus dada.


__ADS_2