PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 36. Gagalnya Rencana Yasmin


__ADS_3

Hampir setengah jam Puspa duduk seorang diri. Punggungnya sudah mulai terasa kaku. Ingin rasanya pergi sejenak untuk menghilangkan penat, tapi dia tidak mengenal tempat itu. Jadilah dia hanya duduk dan melihat di sekeliling saja.


Beberapa pengisi acara sudah selesai menunjukkan aksi panggung mereka. Rio sengaja menyediakan band pengiring untuk siapa saja yang ingin bernyanyi di pestanya. Mereka sangat menikmati pesta hanya Puspa yang merasa tidak nyaman berada di sana.


Puspa melirik kearah Satya, tapi pria itu masih bergeming di tempatnya duduk. "Opo to seng mereka bicarakan kok betah temen?" Puspa pun beralih memandang Yasmin dan temannya. Kedua wanita itu membalas dengan tatapan tidak ramah. Fadli tidak nampak berada di antara mereka, apa pria itu tidak datang?


Puspa menatap malas ke arah Yasmin saat wanita itu berdiri dan berjalan menuju panggung.


"Arep opo kuntilanak itu?" gerutu Puspa sambil memijat sebelah betisnya yang terasa mulai keram. Sepatu yang dia pakai kurang nyaman di kakinya, tapi mau bagaimana lagi dia tidak punya kesempatan untuk memprotes itu tadi.


"Oke guys ... malam ini kita kedatangan tamu sepesial. Dia adalah penyanyi yang sangat berbakat di tempat asalnya. Kita sambut dengan meriah, Puspa ... Maharani ...!"


Puspa membelalakkan mata saat Yasmin begitu lantang menyebut namanya di atas panggung. Apalagi yang wanita licik itu rencanakan?


"Sialan! Nyari perkoro wong wedok kae!" Puspa menggerutu sembari menyembunyikan wajahnya di balik vas bunga diatas meja. Berharap tidak ada yang mengenalinya.


Seluruh orang yang hadir tidak mengerti dan tidak mengenal siapa itu Puspa maharani. Mereka pun hanya diam dan menatap ke arah Yasmin saja.


Berbeda dengan Satya, pria itu berdiri dari duduknya dan berniat menghampiri Puspa, tapi Pamela mencegahnya.


"Kamu mau kemana, Sat?" tanya wanita itu dengan suara lembutnya, membuat Satya tak berdaya. Pria berjas hitam itu pun kembali duduk di kursinya.


"Puspa! Puspa!" Yasmin mulai memprovokasi sehingga orang-orang yang hadir turut menyerukan nama Puspa.


"Baiklah, kalau itu maumu, tak ladeni!" ucap Puspa sembari beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Yasmin.


"Kamu maunya apa to? Nyari perkara sama aku?" Puspa berbicara lirih di samping Yasmin. Namun, Yasmin hanya tersenyum kecut tanpa menjawab sepatah katapun.


"Baiklah, Mas. Kasih lagu dangdut ya, karena dia ini biduan dangdut" Yasmin berucap pada pengiring musik sembari tersenyum mengejek Puspa.


Pandangan mata Puspa tak lepas dari wanita bergaun merah maroon yang berjalan menjauh darinya.


jreng!


Musik mulai berbunyi, tapi puspa tiba-tiba menghampiri sang keyboardist dan membisikan sesuatu di telinga pria itu.


"Oke sip!" Pria itu pun memberi kode dengan jari jempolnya tanda dia mengerti.


Sudah lama Puspa tidak menunjukan aksinya di atas panggung. Tentu saja dia merasa gugup sekarang. Apalagi, kali ini dia berada di antara antara orang-orang dengan jabatan dan status sosial tinggi membuatnya sedikit tidak percaya diri. Akan tetapi, Puspa tidak mau di tertawakan oleh Yasmin. Wanita itu harus di beri pelajaran agar tidak terus merendahkannya.

__ADS_1


Puspa terlihat mengambil nafas panjang sebelum mulai bernyanyi. Gadis itu meraih air mineral dan meminumnya untuk meminimalisir rasa gugup dalam diri.


Bukan hanya Puspa yang gugup, tapi Satya merasakan hal yang sama, lebih tepatnya pria itu merasa was-was. Jangan sampai Puspa membuat kehebohan di pesta temanya kali ini.


Satya ingat betul bagaimana gadis itu bernyayi dan bergoyang dengan sangat tidak terkendali saat di depan televisi di rumahnya.


Satya tidak berani memandang ke arah Puspa, pria itu lebih memilih memainkan ponsel di tangannya.


"Siapa gadis itu? Dia cantik sekali," ucapan Pamela seketika membuat Satya menatap tak percaya pada wanita di hadapannya. Kenapa Pamela yang seorang wanita begitu mengagumi Puspa. Apa benar Puspa secantik itu?


"Ayo Puspa tunjukan keahlianmu ...!" Yasmin berteriak dari tempat duduknya membuat Puspa merasa risih.


"huuuuu ...!" Wanita itu dengan sengaja ingin mempermalukan Puspa di depan sana. Tanpa dia sadari Fadli sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Apa-apaan ini Yas? Kenapa Puspa ada disini?" tanya Fadli sambil terus memandang ke arah Puspa.


"Sayang, kapan kamu datang? Sini duduk! Kita saksikan mantan pacarmu bernyayi," Yasmin berucap tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dulu ya," Gisel yang mengetahui posisinya tidak pas pun pindah ke meja lain meninggalkan Yasmin berdua dengan Fadli.


"Ehem!" Puspa mulai mengetes mikrofon di genggamannya.


"Terimakasih, karena saya sudah di perkenankan untuk mengisi acara dalam pesta yang indah ini. Selamat untuk keberhasilan Mas Rio, semoga kedepannya semakin sukses,"


"Kamu harusnya tidak melakukan ini yasmin!" tegas Fadli sembari menatap nanar ke arah Yasmin.


"Kenapa? Gadis kampung itu harus tahu dimana tempatnya! Kamu nggak terima?"


Fadli terdiam. Dia tidak mau terus berdebat dengan Yasmin, karena itu tidak akan ada habisnya.


"Siapa dia Bro? Gue belum pernah lihat dia sebelumnya," ucap seorang teman Rio.


"Dia temen gue Bro. Gimana cantikkan?" Rio dengan bangga menyebut Puspa sebagai temannya. Berbeda dengan Satya yang seolah tidak mengenal Puspa.


Alunan musik mulai di mainkan.


Mendengar intro dari lagu itu membuat Yasmin menatap heran. Kenapa dengan pemain band? Kenapa mereka tidak mendengar ucapannya untuk memainkan musik dangdut?


...Sampai saat ini tak terpikir olehku ......

__ADS_1


...Aku pernah beri rasa pada orang sepertimu ......



Semua mata terpana saat Puspa mulai menyayikan lagu Sial milik Mahalini. Bahkan Satya langsung memutar posisi duduknya untuk melihat gadis di depan sana.


"Apa yang dia lakukan oleh pemain band itu?" Yasmin mulai mengamuk, apalagi saat mendengar Puspa menyajikan lagu itu dengan begitu merdu.


Yasmin saling beradu pandang dengan Gisel dan mengutarakan kekesalan mereka.


Nyanyian Puspa berhasil menyihir semua orang untuk larut dalam tiap bait lagu galau itu.


Sebuah lagu yang sangat pas dengan kisah cinta orang yang tengah menyanyikannya.


Fadli pun tak bisa mengalihkan pandangan pada gadis yang tengah bernyayi di seberang sana.


'Apa kamu seterluka itu, Puspa?' batinnya.


...Puas kau curangi aku ......


...Bagaimana dengan aku ... terlanjur mencintaimu ......


Puspa terus bernyayi sesekali dia menatap pada Fadli yang duduk di sisi Yasmin. Menumpahkan segala perasaannya pada Nyanyian. Jelas setiap lirik lagu itu tertuju untuk Fadli.


Seluruh tamu undangan berdiri dan turut bernyanyi besama Puspa. Mereka larut dengan penghayatan Puspa dalam membawakan lagu.


Beberapa wanita Bahkan sampai menitikkan air mata, entah karena begitu menghayati atau lagu itu mewakili perasaan dan kisah cinta mereka. Yang pasti mereka merasakan apa yang di rasakan Puspa saat itu.


prok!


Prok!


prok!


Tepuk tangan meriah menyambut berakhirnya nyanyian Puspa.


"Terimakasih," ucap Puspa sedikit membungkuk dan tersenyum malu.


Selama ini dia cukup menguasai banyak genre lagu, tapi dangdut tetaplah yang paling dia cintai. Dan hal itu jelas tidak di ketahui oleh Yasmin. Wanita itu kini tengah menahan amarah karena kegagalannya.

__ADS_1


Puspa berlenggang menuju meja tempat asalnya. Namun, tanpa dia duga Fadli menghampiri dan menarik tangannya secara paksa. Pria itu membawa Puspa hingga keluar hotel.


Satya yang melihatnya pun bangkit dari duduknya.


__ADS_2