
Raka terlihat celingukan menunggu taksi, beruntunglah dia tidak melihat Puspa yang bersembunyi di balik sepeda motor tukang ojek.
"Ngapain sih, Neng? Jongkok di situ?" Tukang ojek bertanya setelah melihat gelagat aneh Puspa.
"Sssttt!" Puspa memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar pria itu diam.
Setelah Raka pergi naik taksi, Puspa segera bangkit dan membayar ongkos ojek.
"Kembaliannya ambil aja, Bang!" Puspa berujar sembari menuju pintu gerbang dengan tergesa.
"Ini mah pas Neng uangnya, nggak ada kembalian," tukang ojek menggerutu sembari memasukkan uang kertas berwarna hijau ke dalam saku dan melesat pergi.
"Kamu di rumah, Ndin?" Tanpa permisi Puspa langsung masuk kamar dan mengambil tas besar dalam lemari. Melihat itu membuat Andin bingung. "Kamu mau kemana? Kenapa berkemas?" tanya gadis itu.
"Aku sudah dapat tempat baru yang lebih dekat dari tempat kerja," jawab Puspa berbohong. Hubungannya dengan Andin belum begitu dekat dan dia tidak bisa mempercayainya begitu saja. Raka yang sudah dia kenal sedari orok saja sanggup mengkhianatinya, apalagi Andin.
"Kamu sudah dapat kerja, Pus?"
"Iya, Alhmdulillah." Terpaksa Puspa harus berbohong lagi.
"Syukurlah, nomer ponselmu masih aktif kan? Dari semalam aku telpon kok nggak bisa?" Andin tidak perduli dengan apa yang sudah terjadi pada Puspa, sehingga semalaman gadis itu tidak pulang. Dia hanya mencoba mengulur waktu, agar Puspa tidak pergi sebelum Raka datang.
Saat melihat kedatangan Puspa, Andin langsung mengirim sebuah pesan chat pada Raka. Namun, butuh waktu bagi pria itu untuk datang ke sana, karena kini dia berada jauh dari kost-kostan.
"Ponselku mati," jawab Puspa singkat.
Setelah selesai mengemas semua pakaian dan barang penting, Puspa bergegas keluar kamar.
"Aku pergi dulu, Ndin. Lain kali kita bertemu lagi," ucap Puspa sembari melambaikan tangan ke arah gadis yang terlihat gusar di atas tempat tidur.
"Baiklah, Hati-hati!" Dengan malas Andin membalas lambaian tangan Puspa.
Saat sampai di pintu gerbang, Puspa teringat akan sesuatu. Ada barangnya yang tertinggal di dalam kamar kost. Gadis itu pun segera kembali ke kamar untuk mengambilnya. Namun, saat baru sampai di ambang pintu, tanpa sengaja Puspa mendengar Andin tengah bicara dengan seseorang dalam sambungan telepon.
__ADS_1
"Kamu harus cepat kesini, Raka! Puspa baru saja pergi membawa semua barangnya."
Puspa terdiam sesaat. dia pun membatin 'Jadi benar bahwa Andin juga tidak dapat di percaya. Ada apa dengan semua orang di kota ini? Kenapa mereka hobi sekali berkhianat?'
Dengan cepat Puspa merebut ponsel milik Andin dan menekan tombol merah di layar. "Jadi kamu berhubungan dengan Raka? Kamu memberi tahu dia tentang keberadaanku? Kamu di bayar berapa sama dia?" Suara Puspa mulai meninggi.
"Apa maksud kamu, Puspa? Aku hanya memberitahu dia kalau kamu sudah pulang, karena dia terlihat khawatir," Andin mengelak.
"Apa kamu tahu apa yang telah dilakukan pria bren***k itu padaku? Dia menjualku ke rumah bordil, Andin!" Puspa merasa frustasi dengan sikap teman sekamarnya itu.
"Apa yang salah dengan itu? inilah kehidupan di kota, Puspa. Kamu seharusnya berterima kasih padanya karena dia memberimu pekerjaan," Andin berucap dengan entengnya.
"Beruntung? Sayangnya aku tidak seperti kamu yang rela menjual harga diri demi materi!"
Puspa semakin tersulut emosi. Dugaanya tentang Andin ternyata benar. Gadis di hadapannya itu kerap pulang malam sebab dia mencari uang dengan menjajakan diri.
"Cuih! menjijikkan!" Puspa meludah di hadapan Andin untuk menghina gadis itu.
Puspa tidak ingin berlama-lama di sana. Dia segera mengambil jam tangan yang tertinggal di atas meja, kemudian pergi.
Sementara itu, Andin mengoceh tiada henti.
Puspa menenteng tas besarnya menuju tepi jalan untuk mencari taksi. "Aku harus segera pergi dari sini, karena Raka pasti sedang menuju ke sini juga," gumam Puspa sembari fokus menatap ke jalan.
Setelah berhasil menjual handphone mahal milik Danu, Puspa berjalan menuju jalan besar.
"Puspa! Berhenti!" Terdengar suara seseorang memanggil nama Puspa, yang membuat gadis itu menoleh ragu.
Benar apa yang ditakutkan. Agak jauh dari tempat Puspa berdiri, Raka terlihat berlari menghampirinya. Tanpa berpikir panjang, Puspa mengambil langkah seribu. Dia berlari ke trotoar sembari menggendong tas besar berisi pakaian. Lumayan berat, tapi mau bagaimana lagi dia tidak mungkin meninggalkannya.
"Bagaimana Raka bisa menemukanku?" Puspa terus bergumam sambil berlari.
Saat sampai di persimpangan, Puspa memilih berbelok untuk mengecoh Raka. Ia terus berjalan di gang sempit dan bersembunyi di balik bangunan tua.
__ADS_1
"Ah, sial! ke mana hilangnya gadis desa tadi?" Pria berbadan tegap itu benar-benar kehilangan jejak Puspa.
Puspa tidak menyia-nyiakan kesempatan saat melihat mobil dengan pintu terbuka berhenti di depannya.
Sepertinya pemiliknya lupa menutup pintu mobil saat meninggalkannya. "Bodo amat ini mobil siapa, yang penting aku bisa sembunyi." ucap Puspa sembari masuk ke dalam mobil.
Dari dalam terlihat Raka celingukan di ujung jalan. "Semoga dia tidak melihatku," Puspa terus menatap ke arah belakang mobil tepat di mana Raka berdiri, karena terlalu fokus dia tidak menyadari sang pemilik mobil sudah kembali.
"Hei ... kamu siapa? kenapa berada di mobilku?" tanya seorang laki-laki sang pemilik mobil.
"Maaf, tolong jangan salah paham, saya tidak berniat buruk, saya hanya ikut bersembunyi," suara Puspa terdengar gelagapan. bagaimanapun dia merasa takut jika sang pemilik mobil menuduhnya sebagai pencuri.
"Kamu! Gadis bar-bar!" Pria itu membelalakkan mata saat mengenali wajah Puspa.
"Tuan Satya?" Puspa tak kalah terkejutnya. Di antara banyaknya mobil di kota itu kenapa harus mobil pria sombong itu yang Puspa tumpangi?
Satya menyeret tangan Puspa hingga gadis itu keluar dari mobil. "Saya mohon Tuan. sekali ini saja tolong saya, pria di sana itu ingin menangkapku," Puspa memelas, dia tidak lagi memperdulikan harga diri karena keselamatannya lebih penting.
"Itu bukan urusanku, lagipula apa untungnya bagiku?" Satya berujar dengan sinis.
"Kalau menolong yang lemah, Tuan akan di sayang Allah," Puspa bicara sekenanya.
"Aku tidak perduli!" Satya sedikit mendorong tubuh Puspa agar gadis itu menjauh dari mobilnya.
"Mau kemana kamu ha?" Raka dengan sigap menangkap pergelangan tangan Puspa membuat gadis itu sulit melepaskan diri.
"Lepas, Raka!"
"Aku akan membawamu kembali ketempat mami, ayo !" ucap Raka sembari menarik tangan Puspa dengan kasar.
"Hei! Lepaskan tanggamu darinya!"
Langkah Raka terhenti saat mendengar suara lantang dari arah belakang.
__ADS_1