PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
bab 25. Satya Mabuk


__ADS_3

"Ningrum!"


Sembari mengangkat tinggi bawahan dasternya, Entin berteriak di depan rumah Ningrum. Wajahnya merah padam menahan amarah.


Tak berapa lama, yang di panggil keluar dari dalam. Di waktu siang bolong begini paling enak tidur, tapi Entin malah berteriak seperti tangah terjadi kebakaran, membuat Ningrum terbangun dari tidur siangnya.


"Ono opo to, Entin?" Ningrum keluar sembari membenarkan ikatan rambutnya.


"Anakmu itu tidak tahu diri! Sudah di tolong malah ngelunjak!" Entin berucap dengan nada tinggi, membuat Ningrum terbelalak tak percaya.


Ibunya Raka itu, tidak tampak sedang bercanda. Bahkan matanya memerah menahan tangis.


"Apa, maksudmu? Ojo bicara sembarangan!" Suara Ningrum tak kalah nyaring.


"Sopo seng bicara sembarangan? Raka tadi meneleponku, dia bilang Puspa kabur dengan pria lain yang lebih kaya!"


Tubuh Ningrum seketika lemas, wanita itu bahkan hampir terjatuh. Untung saja masih ada meja untuknya berpegangan. "Ngomong opo to kamu, Entin? Anakku nggak mungkin begitu!" Ningrum menatap sahabat baiknya dengan tatapan sendu.


"Nggak mungkin opo? Buktine, dia aja main dukun untuk menjerat Fadli! " Entin berucap dengan nada sinis.


Sangat menyakitkan, di saat mendapat tuduhan dan perkataan kasar dari satu-satunya orang yang selama ini membelanya.


Masih jelas dalam ingatan Ningrum, bagaimana Entin terus membela Puspa di saat seluruh warga mencemoohnya. Namun, saat ini dialah satu-satunya orang yang menghina Puspa tepat di hadapannya. sangat sakit rasanya.


"Kamu kenapa tega berkata seperti itu, Entin? Bukankah Puspa sudah seperti anakmu sendiri?" Air mata Ningrum mulai luruh. Hinaan warga saja masih terus dia terima setiap hari, kini di tambah Entin. Seandainya bisa, dia akan segera meninggalkan desa itu.


Sampai sekarang Ningrum masih menunggu kabar dari Puspa. Dia berharap anak perempuannya itu segera dapat pekerjaan, sehingga dia bisa ikut bersamanya. Namun, perkataan Entin menghancurkan hatinya.


Mungkinkah, Puspa melakukan hal rendahan itu?


"Berikan nomor Raka padaku! Aku akan bicara sendiri dengannya!" Pinta Ningrum. dari beberapa hari yang lalu dia sudah meminta nomer Raka, tapi Entin beralasan bahwa nomor telepon anaknya itu sudah tidak aktif lagi.


"Tidak, kamu pasti akan memaki dia nanti. Aku hapal dengan sifatmu, pasti kamu akan memarahi anakku. Padahal anakmu lah yang salah," Entin berlalu meninggalkan Ningrum tanpa permisi.


Sampai hati Entin menyakiti perasaan sahabatnya. Seharusnya dia bisa bicara dengan lebih baik.


Ningrum masuk rumah dengan raut wajah muram. Sampai saat itu, dia tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan oleh Entin.


Ningrum meraih ponsel di atas meja, mencari kontak baru Puspa di sana. Dia harus menanyakannya langsung pada Puspa kebenarannya.


"Assalamu'alaikum, Ibu!" Sangat terdengar, jika Puspa bahagia mendapat telpon dari ibunya.


"Wa'alaikumsalam, Nduk."


Ningrum berusaha menahan tangisnya jangan sampai putrinya itu tahu dan menjadi khawatir.

__ADS_1


"Kamu, baik-baik saja to?" tanya Ningrum.


"Alhamdulillah baik, Bu. Ono opo? suaranya ibu kok serak, ibu habis nangis?" Puspa khawatir dengan keadaan sang ibu.


Dengan berat hati, Ningrum menanyakan kebenaran cerita Raka.


"Jadi, Raka ngomong begitu, Bu?" Puspa terdengar emosi.


"Iya, apa benar yang dia katakan, Pus?"


Di seberang sana, Puspa juga gelisah. Dia bingung untuk bercerita. Ibunya pasti tidak akan tinggal diam mengetahui anak perempuannya sudah di jual ke tempat hiburan malam.


Jika memilih diam, maka akan terkesan dia membenarkan ucapan Raka. Bak buah si malakama, Puspa tengah dalam dilema sekarang.


"Apa Ibu percaya padaku?"


"Yo mesti to, Ibu lebih percaya padamu dari pada omongan Entin." ucapan Ningrum membuat hati Puspa merasa lega.


"Semua yang dikatakan Bulek Entin itu tidak benar, Bu. Aku memang sudah tidak bersama Raka, karena tempat kerjaku jauh dari kost-an dia. Jadi Ibu ra usah khawatir!" Puspa terpaksa berbohong demi ibunya.


"O ... Yo wes kalau gitu, nanti biar tak omeli si Entin. Dia tadi maki-maki kamu di depan ibu, sakit banget atiku rasanya," Ningrum mulai menangis.


"Wes lah, nggak perlu geger. Ngomong baik-baik saja sama dia, Bu."


Semalaman Puspa tidak bisa tidur. Bayangan wajah sang ibu selalu terlintas di depan mata. Kasihan sekali wanita itu, harus tinggal di antara orang-orang yang terus menghujatnya.


Malam semakin larut dan Puspa belum bisa memejamkan mata. Di pandangnya wajah teduh Marni yang tengah terlelap. 'Andai saja Ibu ada disini,' gumamnya dalam hati.


Untuk menghilangkan kegelisahan dalam hati, gadis itu memilih keluar kamar. Rumah besar itu terasa sepi di malam hari.


"Apa Pak Satya belum pulang?" Puspa bergumam sembari menatap ke arah kamar sang majikan.


Brakk!


Jantung puspa seakan berhenti berdetak saat pintu utama terbuka dengan keras. Gadis itu mengendap, menuju arah suara. 'Apa maling?' batinnya.


Terlihat sesosok bayangan nampak bersandar pada pintu. Minimnya pencahayaan, membuat Puspa tidak mengenali orang itu.


Puspa, berusaha mengingat letak saklar lampu. Dengan tangan bergetar dia menekan tombol.


Ceklek!


Lampu seketika menyala menerangi seluruh ruangan.


"Pak Satya?" Terlihat dengan jelas, tubuh Satya yang tersandar pada pintu.

__ADS_1


"Piye Iki?" Puspa ingin menghampiri, tapi hatinya merasa ragu. Mengingat betapa arogannya pria itu.


Saat melihat satya akan terjatuh, dengan gerakan refleks Puspa menangkapnya.


Brugh!


Tubuh tinggi besar itu terjatuh tepat di pelukan Puspa.


"Bapak, Mabuk?" tanya Puspa. Tercium aroma alkohol yang begitu menyengat dari tubuh pria itu. Entah dia sudah menghabiskan berapa banyak minuman, sehingga berdiri saja tidak mampu.


Dengan langkah berat, Puspa memapah tubuh berat itu menuju kamar tamu. Melihat kondisi Satya yang tidak sadar, akan sangat sulit membawanya ke kamar pribadinya.


"Wes lah, biar disini saja. Aku nggak kuat kalau harus naik tangga. Mau bangunin Bu Marni juga nggak tega." Puspa bergumam sendiri sembari merebahkan tubuh Satya di atas tempat tidur.


Brugh!


Tanpa terduga, tangan Satya meraih lengan Puspa dengan kasar hingga gadis itu terjatuh tepat di atas tubuhnya.


Posisi itu membuat Puspa merasa tidak nyaman. Dia berusaha bangkit, tapi tangan Satya menahannya. "Jangan tinggalkan aku Pamela! Aku mencintaimu!" Dalam keadaan tidak sadar, Satya terus merancau.


"Pak ileng, Pak! Iki Puspa bukan Pamela!" Puspa menepuk kedua pipi Satya untuk menyadarkan pria itu, tapi usahanya sia-sia.


"Bu ...! Bu Marni ...!" Puspa memanggil Marni dengan suara lantangnya. Dengan suara senyaring itu, sudah pasti wanita paruh baya itu langsung terbangun dari tidurnya.


"Pus!" Marni mencari keberadaan Puspa.


"Aku di kamar tamu, Bu!" sahut Puspa.


"Lo ngapain to, di kamar tamu malam-malam?" Marni bergumam sembari berjalan menuju ruangan itu.


"Astaghfirullah ...! Puspa kamu ngapain?" Marni syok saat melihat Puspa tengah menindih tubuh majikannya.


"Tolong aku, Bu!" Puspa melambaikan sebelah tangannya pada Marni.


"Ini gimana ceritanya, kok bisa begini?" Marni terus nyerocos sembari membantu Puspa terlepas dari pelukan Satya.


Setelah berhasil lepas, Puspa segera berdiri dan membenahi pakaiannya yang compang-camping akibat ulah Satya.


"Sesak nafas aku, Bu," ucap Puspa sambil mengelus dada.


"Sudah, Bantu ibu!" dengan kuwalahan, kedua wanita itu berhasil memposisikan tubuh Satya di atas tempat tidur.


"Apa pak Satya sering begini, Bu?" tanya Puspa penasaran.


"Ayo keluar dulu! Nanti ibu ceritakan semua sama kamu!" ajak Marni. Kedua wanita itu akhirnya ke luar kamar, meninggalkan Satya yang sudah terlelap.

__ADS_1


__ADS_2