PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 29. Malu


__ADS_3

"Lupakan!" Satya berucap sembari berbalik badan dan berjalan menuju kamar pribadinya.


"Dia kenapa, Bu?" Puspa melongo menyaksikan majikannya pergi.


"Nggak ngerti," Marni pun menjawab sembari mengangkat kedua bahu.


"Kenapa sih hari ini orang- orang jadi aneh?" Puspa kembali ke kamarnya dengan bibir mengerucut lima senti.


Setelah drama singkat yang di lakukan oleh Satya, Joko pun berpamitan. Anak sulungnya sudah menunggu di ambang pintu. "Aku pulang dulu ya, Bu," Pamit joko pada Marni.


"Hati-hati, Jok!"


Di dalam kamar, Satya tengah merutuki tindakannya. Harusnya dia bisa menahan diri jika ingin menyelidiki kebenaran Puspa.


Tidak seperti malam-malam sebelumnya, Satya memilih untuk berdiam diri di rumah. Jika benar Puspa bekerja sama dengan Fadli, gadis itu pasti akan melakukan sesuatu setelah bertemu dengannya.


"Kalau sampai Fadli berniat curang, maka aku akan langsung membatalkan kerja sama itu," gumam Satya.


Di ruang tengah, Marni tengah menonton televisi bersama Puspa. Sudah menjadi rutinitas keduanya bersantai di kala senja setelah lelah seharian bekerja.


Sang pemilik rumah juga jarang berada di rumah. Kata Marni kasihan televisinya jika tidak di manfaatkan


Seperti kaum wanita pada umumnya, mereka punya sinetron yang sangat di gemari. Puspa bersiap di depan televisi dengan setoples cemilan di pangkuan. Sedangkan Marni, wanita paruh baya itu tak lupa menyiapkan secangkir kopi.


Di sela acara sinetron mereka melihat kontes dangdut yang tengah tayang secara live.


"Nanti aku akan menjadi sukses seperti dia, Bu," ucap Puspa sembari menunjuk ke arah layar televisi. Di sana nampak seorang penyanyi dangdut tengah beraksi di atas panggung yang megah.


"Ibu nggak yakin kamu bisa bernyanyi, Pus," ejek Marni. Walaupun sebenarnya dia tahu kalau Puspa punya Sura yang lumayan merdu.


"Lo Ibu ini gimana to? kan aku sudah bilang aku ini biduan paling ngetop lo saat di kampung," Puspa seketika berdiri tak terima di remehkan.


Dengan menggunakan remot TV sebagai mikropon, Puspa bernyanyi mengikuti lagu yang tengah di nyayikan sang artis papan atas di layar televisi.


Suara nyaring Puspa bergema memenuhi seluruh ruangan. Tak lupa gadis itu pun bergoyang.


Marni tertawa melihat aksi gadis desa itu. Puspa sudah berhasil menghibur wanita itu malam ini.


Satu lagu selesai Puspa membungkuk seolah memberi salam pada penonton.


Prok!


Prok!


Prok!

__ADS_1


Marni bertepuk tangan dengan meriah.


"Piye, Bu? Bagus to?" tanya Puspa sembari mengatur napas yang ngos-ngosan. Bagaimana tidak, gadis itu bergoyang dengan sangat heboh sehingga kehabisan napas.


"Ehem!"


Kedua wanita itu terperanjat kaget saat mendengar seseorang berdehem dari arah tangga. Tanpa mereka sadari, Satya sedari tadi berdiri mematung di sana.


"P-pak Satya?" Suara Puspa tergagap karena gugup.


"Lanjutkan! Aku hanya mau ambil minum," Satya berujar sembari berjalan menuju dapur. Seperti biasa tidak ada ekspresi pada wajahnya.


Puspa masih dalam posisi berdiri sampai Satya kembali ke kamarnya. Kenapa dia merasa takut seolah sudah melakukan sebuah tindak kejahatan.


Brugh!


Tubuhnya melemah dan jatuh ke lantai, gadis itu dengan raut wajah malu terduduk di dasar lantai.


"Kamu nggak papa, Pus?" tanya Marni heran.


"Nggak Popo piye to, Bu? Malu aku! Ibu kok nggak bilang to kalau pak Satya di rumah?" Gadis itu berucap sembari menelungkupkan wajahnya pada bantalan sofa di hadapannya.


"La Ibu juga nggak tahu," jawab Marni dengan santainya. " Sudah mulai Pus sinetrone!" Marni berucap sembari menunjuk ke arah layar TV. Namun, Puspa tidak menghiraukannya dan beranjak menuju kamar. "Nggak sinetron-sinetronan!" ucapnya sembari berlalu.


"Lo piye to? Nggak seru kalau lihat sendiri Pus !"


***


Satya duduk di balkon kamar sembari menatap langit malam. Langit kelam itu terlihat indah dengan taburan bintang. Seketika tersungging senyum di bibir pria itu saat mengingat apa yang baru saja dia saksikan.


"Dasar gadis kampung," gumamnya pelan.


Melihat dari cara gadis itu bersikap, Satya mulai ragu jika Puspa punya niat jahat terhadapnya. Satya meraih ponsel di atas meja dan menghubungi seseorang.


"Selidiki latar belakang gadis itu, jangan ada yang terlewat!" titah Satya.


"Siap, Bos!"


jawab seorang dari ujung sana.


Melihat peluang besar pada perusahaan yasmin, Satya bersedia menjadi investor di sana. Pemilik perusahaan yang tak lain adalah papanya Yasmin punya predikat kurang baik di kalangan Pembisnis. Dia kerap bermain kotor untuk memajukan bisnisnya. Namun, Satya sengaja bekerja sama dengan mereka dengan niatan tertentu.


Saat mengetahui Puspa mengenal Fadli dan Yasmin, sudah pasti pikiran Satya langsung tertuju pada tindak curang mereka. Namun, Satya tidak ingin terburu-buru dia harus menyelidiki semuanya jangan sampai dia salah sasaran.


***

__ADS_1


Hari berlalu begitu cepat, sudah hampir sebulan sejak Puspa tinggal di rumah megah Satya. Sesuai perjanjian di awal, Puspa tidak menerima gaji dari pekerjaannya.


Uang tabungannya pun sudah menipis, tidak cukup untuk mengirimi ibunya di kampung.


Sementara itu, Ningrum mulai kebingungan.


Dia tidak punya penghasilan semenjak warung nasi pecelnya tutup.


Wanita itu tidak bisa bekerja di tempat lain. karena predikat tukang main dukun sudah telanjur menempel di pada dirinya.


Semua orang semakin menjauhinya. Sangsi sosial memang berdampak buruk, apalagi untuk seseorang yang tinggal di kampung sepeti Ningrum.


Mengetahui ada peluang, Tejo tidak akan melewatkannya begitu saja. Ini waktu yang tepat untuk mengambil hati ibunya Puspa.


Siang hari, Tejo menyambangi rumah Ningrum yang dalam keadaan tertutup.


"Bulek!" Tejo mengetuk pintu dengan keras. Dua kali ketukan dan Ningrum akhirnya membuka pintu.


"Ada apa to?" Tidak seperti biasanya, nada bicara ningrum kali ini terdengar lebih santai. Dia tidak punya tenaga untuk memarahi Tejo. tenaganya habis untuk memikirkan hidupnya.


"Bulek nggak papa? Kok lemes?" tanya Tejo.


"Nggak papa. Sana pulang, Jo! Aku lagi males meladeni kamu sekarang!" Ningrum akan menutup pintu tetapi Tejo menahannya.


"Ojo di tutup to Bulek, aku belum selesai ngomong Iki!"


Melihat ekpresi serius dari wajah tejo, membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Dia membuka lebar pintu rumah dan membiarkan Tejo masuk.


"Aku tahu Bulek dalam kesulitan sekarang. Jadi aku datang untuk membantu," Tejo bersikap bak pahlawan untuk ibu dari gadis pujaan hatinya itu.


"Halah ... pasti ada maunya to?" Ningrum meragukan niat Tejo. Walupun itu benar adanya. Mana mungkin Tejo mau membantu kalau tidak punya niatan tertentu.


"Jangan mikir buruk to Bulek! Aku ikhlas Lo," Tejo berkilah. Dia sedang membuat strategi untuk menjebak Ningrum. Wanita itu pasti tidak akan menerima bantuannya jika langsung memberikan syarat di awal.


Dia akan berpura-pura ikhlas, tapi nanti setelah Ningrum terdesak dia baru akan mengambil kesempatan.


"Tenan? (benar?)" Ningrum kembali meyakinkan.


"Yo tenan to Bulek!" Tejo memang pandai bersandiwara.


"Baiklah, pinjami aku uang! Nanti kalau Puspa sudah sukses langsung aku ganti!" ucap ningrum tanpa basa-basi.


Ningrum memang tengah dalam kesulitan, hari ini saja dia makan sedikit karena harus menghemat nasi yang dia punya untuk sore nanti.


"Berapa Bulek?" tanya Tejo sembari merogoh saku celananya. "Loh kamu sudah bawa uang Tejo?" tanya Ningrum heran. Apa Tejo sudah mempersiapkan segalanya? Ningrum mulai curiga.

__ADS_1


"Yo bawa to, wong aku baru aja gajian. Ini aja dari pabrik aku belum pulang ke rumah. langsung mampir kesini. Mumpung ingat," Tejo beralasan.


"Tiga ratus ribu saja," ucap Ningrum ragu. Entah bagaimana dia membayar pinjaman itu nanti. Semoga saja segera ada kabar baik dari Puspa biar dia tidak punya sangkutan hutang piutang sama si Tejo.


__ADS_2