
"Kamu kenapa sih? Akhir-akhir ini bersikap aneh," Yasmin telihat tidak senang dengan perubahan sikap Fadli. Semenjak pertemuannya dengan Puspa saat itu, sikap Fadli sedikit berubah.
"Aku capek, Yas." ucap Fadli sambil menyingkirkan tangan Yasmin yang melingkar di lehernya.
"Aku tidak menerima penolakan ya, Fad!" Ancam wanita itu.
Semenjak menjalin hubungan, Fadli lah yang harus terus menuruti keinginan wanita itu.
Fadli tidak bisa menolak karena Yasmin terus saja mengungkit soal jabatan dan perusahaan. Sedangkan Fadli tidak mau menjadi gembel di kota besar itu.
Bukan berarti orang tua Fadli tidak mampu membiayai hidupnya, hanya saja pria itu terlalu gengsi untuk kembali ke kampung halaman dengan kegagalan.
Alasan terbesarnya meninggalkan Puspa saat itu pun bukan karena rumor pelet yang di gunakan gadis itu padanya, melainkan ancaman Yasmin tentang jabatan tinggi yang sudah di janjikan wanita itu.
Fadli bukan tipe pria yang mempercayai mitos dan hal-hal berbau mistis. Saat itu dia memacari Puspa karena memang dia mencintainya.
Ucapan Fadli tentang cinta pertama saat remaja itu pun benar adanya. Pria itu mulai menyukai Puspa saat masih SMP. Cintanya mungkin goyah karena mereka lama berpisah apalagi dengan kehadiran Yasmin dalam hidup pemuda itu. Namun, benih cinta di hati Fadli tumbuh lagi saat dia kembali bertemu Puspa.
Sayangnya, bagi seorang pria berambisi besar seperti Fadli, cinta saja tidak cukup. Dia merelakan cinta gadis lugu itu demi sebuah jabatan dan kesuksesan.
Kini saat melihat Puspa berada di kota yang sama dengannya, hatinya mulai goyah. Dan Yasmin menyadari itu. Sudah pasti wanita itu tidak akan rela jika Fadli kembali memikirkan Puspa.
"Aku harus pulang, nanti aku telpon ya," Fadli memberi ciuman singkat di kening Yasmin kemudian pergi.
"Aku tidak akan melepasmu fadli!" Yasmin bergumam setelah kepergian kekasihnya.
Sesampainya di apartemen, Fadli langsung menghubungi kedua orang tuanya. Karena kesibukan dan Yasmin yang selalu menempel padanya, dia tidak punya banyak waktu untuk sekedar menanyakan kabar kepada mereka.
"Bu, apa Puspa sudah lama pergi ke kota?" setelah berbasa-basi, pertanyaan Fadli akhirnya mengarah pada Puspa.
"Puspa? Kenapa kamu menanyakan dia? Jangan macam-macam kamu, Nak!" Ibunya Fadli seolah mengerti arah pembicaraan anaknya.
"Bukan begitu, Bu. beberapa hari yang lalu aku bertemu Puspa di sini,"
Mendengar penuturan Fadli, Niken pun segera bertanya pada sang suami yang tengah duduk bersantai di depan televisi.
"Pak, apa Puspa pergi ke kota yang sama dengan Fadli?" tanya wanita itu sambil terus memegang telepon genggamnya.
__ADS_1
"Yo mana Bapak tahu to, Bu. Bukannya Puspa pergi dengan Raka, mereka kan sudah berencana untuk menikah." balas ayahnya Fadli.
"Apa? Puspa mau menikah dengan siapa?" Fadli yang mendengar penuturan sang ayah bertanya dengan suara lantang dalam sambungan telepon.
"Kamu kenapa to, Fad? Jangan bilang kamu masih mengharapkan gadis itu!" ucap Niken dengan tegas.
Awalnya Niken tidak keberatan saat Fadli berhubungan dengan Puspa, bahkan dia sudah merestui rencana pernikahan keduanya. Dia cukup mengenal Puspa dan ibunya dengan baik. Namun, rumor tentang ilmu pelet yang di gunakan oleh Puspa di tambah dengan penggrebekan Puspa dan Tejo dalam rumah kosong, membuat wanita itu hilang simpati pada gadis penyanyi dangdut itu.
"Jadi benar, Bu Puspa akan menikah?" tanya Fadli memastikan.
"Ibu kurang tahu, Fad. lagipula kenapa kamu masih mengurusi dia to? Ingat kamu sudah punya Yasmin. Dia sudah berkorban banyak untuk kamu jadi jangan sia-siakan dia!" Niken menasehati putranya dengan panjang lebar.
"Ya sudah kalau gitu, Fadli tutup teleponnya, Bu."
Setelah mengakhiri perbincangannya dengan Fadli, Niken menghampiri sang suami.
"Pak, aku kok jadi takut yo!"
"Takut opo to, Bu?"
"Hush, itu nggak mungkin. Sebenarnya bapak saja nggak percaya dengan rumor itu, Bu."
Selama ini, Lukman bapaknya Fadli selaku kepala desa tidak bisa berbuat banyak tentang rumor yang menyebabkan Puspa terusir dari desanya itu.
Ilmu perdukunan adalah sebuah tindak kejahatan yang tidak di buktikan dengan fakta dan logika. Oleh karena itu dia hanya diam dan membiarkan warga memberi sangsi sosial pada Puspa dan ibunya. Selama mereka tidak melakukan tindakan anarkis untuk menyakiti mereka.
"Bapak ini gimana to? Kan si Tejo punya buktinya!"
"Iyo, tapi Mbah Slamet itu apa bisa di percaya? Bapak saja Ndak yakin dia itu dukun beneran apa cuma dukun-dukunan," balas Lukman sembari menyesap kopi buatan istrinya.
"Terserah bapak wae lah kalau nggak percaya. Pokoknya ibu nggak sudi kalau Fadli kembali sama Puspa!" Niken beranjak meninggalkan suaminya dengan raut wajah cemberut.
***
Di kediaman Fadli, pria itu menjadi semakin gusar mendengar penuturan sang ayah tentang rencana pernikahan Puspa dengan Raka.
"Katanya kamu cinta, sampai rela bersimpuh di kakiku. Ternyata semua itu hanya sandiwara, Pus?" Pria itu bergumam seolah tidak terima dengan perlakuan Puspa padanya.
__ADS_1
Dia lupa bagaimana dia dengan tega meninggalkan gadis desa itu dengan linangan air mata.
Andai saja Raka tidak menghalangi saat itu, pasti Puspa sudah resmi menjadi istrinya Tejo. Walaupun ibarat kata lepas dari mulut buaya masuk ke mulut macan. Setidaknya Puspa sekarang bisa lepas dari keduanya.
Di kediaman Satya, pria itu tengah duduk bersantai sembari memainkan posel di tangannya.
"Bapak mau saya bikinkan kopi?" Puspa mencoba mengambil hati sang majikan. Sudah lewat dari satu bulan semenjak dirinya tinggal di sana. Sesuai perjanjian dia harus meninggalkan rumah itu. Namun, Puspa tidak tahu harus kemana setelah itu. Apalagi dia masih takut kalau Raka menemukannya.
Selama tinggal di rumah Satya, Puspa merasa aman karena dia juga jarang keluar rumah. Oleh karena itu dia tengah berusaha merayu Satya agar mau menerimanya terus bekerja di rumah itu.
"Hemm," jawab Satya tanpa bicara.
Gadis itu kegirangan dan bergegas kembali ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Tak berapa lama dia kembali ke teras samping rumah dimana Satya tengah duduk santai di sana.
"Ini, Pak. Silahkan!" ucap gadis itu dengan begitu manis sembari meletakkan kopi di atas meja.
"Hari ini hari pertamamu resmi bekerja di sini, mulai sekarang aku akan memberi gaji perbulan untukmu," ucap Satya.
Mendengar perkataan Satya membuat Puspa terdiam seperti patung. Seluruh tubuhnya tidak bergerak hanya kedua matanya saja yang berkedip.
"Kamu dengar tidak?" tanya satya dengan lantang, membuat gadis itu tersadar dari rasa syoknya.
"M-makasud Bapak saya masih boleh kerja di sini?" tanya Puspa memastikan jika yang dia dengar tidak salah.
"Iya. Apa kamu tidak setuju?" Satya memberi tatapan penuh selidik pada Puspa.
"Bapak ini ngomong apa? Yo mesti saya setuju to, Pak!" Karena refleks hampir saja Puspa menepuk bahu majikannya untung saja kesadarannya masih terjaga sehingga dia mengurungkannya.
"Maaf, Pak refleks," ucap Puspa sembari menutup mulutnya. "Terimakasih banyak ya Pak. Saya akan bekerja dengan sebaik mungkin. Saya permisi." Tanpa menunggu jawaban dari sang majikan gadis itu berlari menuju dapur. Sementara itu, Satya hanya menatap heran kepadanya.
"Dasar gadis konyol!" gumam Satya. Tanpa terasa tersungging senyum di bibirnya.
Beberapa hari yang lalu, orang suruhan Satya memberi informasi tentang Puspa. Semua hal tentang latar belakang gadis itu sudah di ketahui oleh sang detektif handal.
Dari sana Satya mengetahui Jika Puspa bukanlah orang jahat seperti yang selama ini dia duga. Dia hanya gadis lugu yang di butakan oleh cinta sehingga hidupnya terlunta-lunta di kota.
Kisah cinta yang hampir mirip dengan kisah cintanya. Sama-sama di tinggalkan oleh orang yang mereka cinta.
__ADS_1