
Ningrum terbaring lemah di atas tempat tidur. Sementara itu, Puspa dengan telaten memijit kakinya.
"Ada-ada saja Ibu ini, bikin aku khawatir!" Puspa bergumam.
Tidak makan seharian membaut wanita itu lemah sampai hilang kesadaran.
"Ini teh anget di minum dulu!" Entin memberikan segelas teh pada Ningrum.
Suara Puspa yang lantang membuat para tetangga berdatangan saat gadis itu meminta pertolongan.
"Wes, Ningrum sudah nggak papa. Kalian boleh pulang. Terimakasih!" Entin berucap sembari berdiri di depan pintu.
"Ada-ada saja ...!" Seorang dari mereka menggerutu sembari keluar pintu.
***
Setelah Puspa menerima pernikahan itu, keluarga Fadli secara resmi bertamu ke rumah sederhana mereka dengan membawa pak RT bersama mereka. Tujuan mereka tak lain adalah untuk melamar Puspa secara resmi. Tidak banyak hanya berlima saja itu pun sudah termasuk pak RT.
Rumah Ningrum yang biasa sepi kini berubah riuh. Ningrum mengundang beberapa tetangga sebagai saksi.
Puspa terdiam duduk di depan meja rias sembari menatap ke arah cermin. Apakah ini akhir dari kisah cintanya? Gadis dengan kebaya itu pun tersenyum getir. Sungguh lucu jalan hidupnya. Dulu dia begitu mendambakan pernikahan dengan Fadli, tapi saat ini membayangkan duduk bersanding dengan anak pak lurah itu saja mampu membuatnya merasa muak.
"Kamu cantik sekali, Puspa!" Entin berujar sembari terus berdiri di ambang pintu. Ingin menemani gadis itu, tapi tugasnya di dapur menunggu.
"Seandainya, kamu jadi menikah dengan Raka, Bulek pasti senang sekali punya menantu secantik kamu," Entin tengah menghibur gadis yang hanya diam termangu.
"Kenapa Bulek nggak minta Raka untuk menculikku dari sini!" Puspa tersenyum kecut.
"Kamu itu lo ... ada-ada saja. Bisa-bisa anakku tiada di gebugi ibumu."
Acara akan segera di mulai Puspa di minta keluar dari kamar. Wajah cantik itu tertunduk duduk di antara para wanita setelah sebelumnya menyalami tangan calon ibu mertua.
Fadli tersenyum simpul merasakan bahagia yang teramat dalam hati. Akhirnya keinginan mempersunting gadis pujaan hati sudah dekat berada di depan mata.
"Gimana, Puspa? Kamu menerima lamaran ini?" tanya pak RT sebagai perwakilan dari pihak laki-laki.
Puspa terdiam membuat Ningrum gelisah. "Jawab, Nduk!" bisik Ningrum di telinga putrinya.
__ADS_1
Semua orang yang hadir turut merasa gugup menanti jawaban dari Puspa. Kenapa gadis itu berlama-lama? Tidak terbayang jika dia mengatakan tidak. Akan terjadi huru hara di Kampung Sumber Sari. Lamaran anak pak lurah pada gadis sang mantan biduan di tolak mentah-mentah. Pasti akan menjadi kabar yang menghebohkan.
Tangan Fadli sampai berkeringat menunggu Puspa membuka suara. Tatapan tak pernah berpaling dari gadis yang duduk berseberangan dengannya. 'Aku mohon Puspa katakan jika kamu setuju!' Pria itu membatin.
"Gimana, Puspa? Jangan membuat Mas Fadli menanti! Nanti keburu di samber orang lho!"
Pak RT berusaha membuat lelucon untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.
Benar saja orang-orang yang hadir tertawa kecil mendengar ucapan ketua rukun tetangga tersebut.
"Bisamillah ... saya menerima lamaran ini," ucap Puspa dengan suara lirih hampir tidak terdengar.
"Alhamdulillah ..."
Semua orang bersyukur. Puspa mengucapkan kalimat yang mereka harapkan. Ningrum adalah orang yang paling bahagia di antara mereka. Mengingat bagiamana Puspa menolak selama ini membuatnya ketar-ketir. Namun, Puspa sudah mematahkan ketakutannya.
Fadli dan Puspa duduk berdua di sisi ruangan tentu saja warga lain juga masih berada di sana. Ada banyak hal yang harus mereka bicarakan, tetapi mereka tidak punya banyak ruang dan waktu untuk membahas semuanya.
"Terimakasih, Pus. Kamu sudah memberiku kesempatan. Aku berjanji akan membahagiakanmu!" Sederet janji pria itu ucapkan untuk meyakinkan pasangannya.
***
Di kota, Anita tengah gusar. Kabar dari Puspa tentang lamaran itu mampu membuatnya tidak bisa memejamkan mata. "Kenapa dia malah menikah dengan Fadli? Sudah jelas dia cintanya sama Pak Satya. Kamu gimana sih, Puspa?" Anita menyesali keputusan Puspa yang dia rasa tidak tepat.
"Apa aku beritahu pak Satya saja? Tapi untuk apa? Dia bahkan terlihat tidak perduli pada Puspa." Anita semakin dilema.
"Opo, Nit? Puspa mau menikah?" Karena terkejut Marni meninggikan suara tanpa menyadari sang majikan mendengar suaranya.
Anita tidak bisa menyimpannya sendiri sehingga dia putuskan menghubungi Marni lewat sambungan telepon.
"Sama Fadli? Puspa gimana to? Pria jahat begitu kok mau di jadikan suami!" Marni terdengar emosi. Masih jelas dalam ingatan peristiwa malam itu di saat Puspa kembali ke rumah dalam keadaan menangis dengan pakaian koyak dan wajah penuh luka. Kenapa dia malah menerima Fadli sekarang? Setelah apa yang pria itu lakukan kepadanya.
Satya mengepal erat menahan rasa sesak dalam dada. Rasanya tidak rela gadis itu di miliki Fadli, tetapi apa haknya dia bukan siapa-siapa bagi Puspa.
Tak mampu menahannya lagi, Satya beranjak meraih kunci mobil kemudian berlalu pergi.
Malam semakin larut, mobil hitam itu melaju kencang di antara gelapnya malam. Tidak ada yang bisa pria itu lakukan selain mencoba menghibur diri. Mobil berhenti tepat di depan sebuah bar. Hampir lima menit Satya berdiam di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?" Pria itu berbicara dalam sambungan telepon.
"Aku tunggu kabar selanjutnya!"
Setelah percakapan singkat itu selesai, Satya kembali menyalakan mesin mobil putar arah meninggalkan bar menuju rumahnya.
Di kediaman Puspa, seluruh tamu sudah kembali kerumah mereka. Hanya tinggal Entin dan Susi yang masih berada di sana untuk membantu membereskan sisa acara.
Puspa ikut sibuk di dapur tidak enak jika dia hanya berdiam diri. "Istirahat saja, Pus. Biar kami yang mencuci piringnya," ujar Susi.
"Istirahat opo to, Bude. Kalian yang lebih capek daripada aku,"
"Yowes ..." Entin mengalah. Tidak akan menang berdebat dengan gadis itu.
"Kamu bahagia to, Pus?" Entin menanyakan hal sensitif tidak tepat pada waktunya.
"Yo sudah pasti Puspa bahagia to, kamu ini nanya opo to, Ntin?" Susi yang menyadari perubahan di wajah Puspa menyenggol pelan lengan wanita yang tidak bisa menjaga ucapannya tersebut.
"Kalau Ibu bahagia, aku juga bahagia," jawab Puspa singkat.
Ningrum yang berdiri di sisi meja menarik nafas dan membuangnya kasar. 'Maafkan Ibu, Nduk. Ibu hanya mau kamu bahagia.' Ningrum membatin.
"Kami pulang yo!" Kedua wanita itu pun berpamitan pulang setelah selesai membersihkan dapur.
"Iya ... matursuwun yo, kalian sudah membantuku!" Ningrum tak bisa menyembunyikan rasa lelahnya.
"Sama-sama."
Setelah semua orang pulang, Puspa masuk kamar untuk beristirahat. Bukan hanya badannya yang merasa lelah batinnya pun merasakan hal yang sama.
"Kamu sudah tidur, Pus?" tanya Ningrum dari balik pintu kamar Puspa.
Tidak mendapat jawaban wanita itu pun berlalu menuju kamarnya. Di dalam kamar Puspa tengah berlinangan air mata. Meratapi pernikahan yang bahkan belum terjadi.
Pandangan terus tertuju pada benda pipih yang tergeletak di atas tempat tidur. 'Apa aku menelponnya saja?'
Jemari lentik itu pun meraih benda berwarna hitam. Beberapa kali menggeser layar, ibu jari berhenti tepat di satu nama dalam kontak. Pak Satya.
__ADS_1