PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 33. Upah


__ADS_3

Puspa berada di dapur, duduk menghadap sepiring nasi di meja. Beragam lauk pauk sengaja dia tata di hadapannya. Tak lupa dia membuat segelas air jeruk dengan porsi jumbo.


"Kamu kelaparan opo piye to, Pus?" Marni terheran-heran melihat porsi makan Puspa yang seperti porsi kuli bangunan.


"Iyo, Bu. Jangan di ganggu bisa-bisa Ibu aku telan juga nanti," ucap Puspa sembari menyendok nasi.


"Ngeri temen to," Marni duduk tepat di hadapan gadis itu.


"Kamu bukannya habis keluar sama Tuan? Kok sampai kelaparan?" Marni memperhatikan cara makan gadis di hadapannya. Dia bukan hanya tengah kelaparan, tapi seperti orang yang kesurupan.


"Ibu ngerti ora, aku bahkan tidak di belikan minum sama dia. Tenggorokanku sudah seperti gurun sahara, gersang," ucap Puspa.


"Yoalah ... kasihan temen to, dia lupa kali, Pus. Tuan itu walaupun terlihat galak tapi baik lo," Marni malah membela sang majikan di hadapan Puspa.


"Yo jelas lupa, wong yang dia ingat cuma si Pamela itu," sungut Puspa di tengah makan besarnya.


Marni tidak tahu kenapa Puspa membahas Pamela. Wanita itu saja sudah pergi cukup lama dari kehidupan sang majikan. Apa mungkin dia kembali?


Banyak yang ingin dia tanyakan sekarang, tapi waktunya tidak tepat karena Puspa terlihat begitu asik dengan acara makannya. Nanti sajalah saat gadis di hadapannya sudah lebih santai. Seseorang dengan perut lapar itu menakutkan.


Setelah selesai, gadis itu segera mencuci piring bekas makannya sendiri.


"Bu, Pak Joko kemana? Beberapa hari ini aku tidak melihatnya," Puspa menyusul Marni yang tengah bersantai di dalam kamar.


"Dia ijin seminggu, karena harus pulang kampung,"


"Pantas saja pak Satya nyetir sendiri," Puspa duduk di atas tempat tidur dan meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Oh yo, ceritakan pada Ibu, soal Pamela!"


"Pamela?" Puspa nampak berpikir sejenak. Perut yang kenyang membuatnya sedikit sulit mengingat apa yang sudah terjadi.


"Oh Iyo ... tadi pas di mall kami bertemu dengan Mas Rio temannya pak Satya," Puspa mulai menceritakan kejadian siang tadi di mall.


"Oh, Tuan Rio," jawab Marni.


"Lo ibu kenal sama dia?"


"Yo kenal dia dulu sering main kesini, tapi sekarang sudah jarang,"


"Kenapa to ibu panggilnya Tuan ... Tuan. Wes koyok Tuan tanah ae," gumam Puspa.


"La terus Ibu panggil opo?"


"Pak, opo Mas, gitu kan enak di denger,"


"Yowes lah terserah kamu! Mas Rio itu ganteng to?" Marni sengaja menggoda Puspa.


"Aku sudah tidak tertarik dengan pria ganteng, Bu," ucap Puspa sembari menatap layar ponselnya.


Semenjak di tinggalkan oleh Fadli, di tambah mendapat penghianatan dari Raka membuat Puspa trauma dengan pria berwajah tampan seperti mereka.


"Kamu nggak waras, Pus?" tanya Marni heran.

__ADS_1


"Bisa jadi," jawab Puspa sambil tersenyum sinis.


" Terus piye kelanjutane?" ucap Marni sembari mendekat pada Puspa.


"Kelanjutan opo?" Puspa senang menggoda wanita paruh baya di hadapannya.


"Mbak Pamela, Pus!" wajah penasaran Marni membuat Puspa merasa senang.


"Katanya ..." Belum sampai Puspa meneruskan ucapannya, terdengar suara panggilan dari arah dapur.


"Bu Marni ...!"


Begitu mendengar namanya di sebut, Marni langsung beranjak dari duduknya dan keluar kamar.


"Saya, Tuan?"


"Berikan ini pada Puspa!" Satya menyodorkan sebuah amplop berwarna abu pada Marni kemudian berlalu pergi.


Marni menatap heran pada sang majikan. Kenapa dia tidak langsung memberikan amplop tersebut pada Puspa?


wanita itu membolak balik amplop di tanganya sembari bergumam. "Apa ini gajinya Puspa? tapi kan belum ada sebulan?"


Marni pun masuk kemar dan memberikan benda titipan sang majikan pada pemiliknya.


"Apa ini, Bu?" tanya Puspa sambil membuka amplop tersebut.


"Gajimu mungkin," balas Marni menduga.


Gadis itu segera beranjak dan mencari keberadaan Satya. Dia harus menanyakannya langsung padanya. Puspa bukankah tipe wanita yang gampang menerima pemberian dari orang lain begitu saja.


"Tunggu, Pak ...!" Puspa memanggil Satya tepat saat pria itu akan membuka pintu mobilnya.


"Ada apa?"


Tidak seperti biasanya wajah Satya kali ini terlihat lebih bersahabat.


"Ini uang apa ya, Pak? Kan belum waktunya gajian?" tanya Puspa sambil menyodorkan tumpukan uang dalam amplop ke arah sang majikan.


"Itu upah untukmu karena sudah menemaniku berbelanja tadi pagi. Sekalian uang untuk mengganti makan siangmu yang terlewat, Maaf aku lupa," ucapan Satya terdengar begitu manis di telinga Puspa.


"Upah untuk bawakan belanjaan sebanyak ini? kalau begitu, besok-besok kalau Bapak butuh bantuan langsung hubungi saya ya Pak!" ucap Puspa penuh semangat empat lima.


Siapa yang tidak senang di bayar begitu banyak hanya untuk membawakan beberapa belanjaan saja?


"Dasar mata duitan!" Umpat Satya sembari masuk mobil.


"Jangan lupa acara malam ini!"


Terdengar dengan jelas suara Rio dalam sambungan telepon. Pria itu tak hentinya mengingatkan Satya untuk hadir dalam pestanya. Bukan tanpa sebab, Rio ingin sahabatnya itu bisa kembali bertemu dan bersatu dengan Pamela mantan kekasih Satya.


Dari kabar yang Rio dengar, hubungan Pamela dan kekasih barunya sudah berakhir. Dengan mempertemukan mereka kembali Rio berharap Pamela akan kembali pada cinta Satya.


Rio tahu betul bagiamana terpuruknya Satya saat berpisah dengan Pamela. Andai bisa memilih, dia ingin agar Satya menemukan wanita baru dalam hidupnya. Namun, hati pria itu sepertinya tidak bisa berpindah dengan mudah.

__ADS_1


"Tapi aku tidak punya seseorang yang bisa aku bawa ke pesta itu," balas Satya sedikit ragu.


"Bawa saja asisitenmu itu, dia cukup cantik. Nggak bikin malu lah kalau lu ajak dia," goda Rio.


Rio hanya bercanda, tapi Satya menanggapinya dengan serius. pria itu membuka kaca mobil dan melihat ke arah puspa, gadis itu masih berdiri di tempatnya.


Satya memberikan isyarat agar Puspa mendekat padanya.


"Lo ... ada apa lagi ini?" gumam Puspa sembari berjalan menuju mobil.


"Ada apa, Pak?"


"Malam ini kamu ikut saya!"


Puspa menatap aneh pada tuannya. Kemana dan untuk apa sang majikan mengajaknya keluar malam? Tiba-tiba saja kenangan bersama Fadli kala itu terlintas lagi di benaknya. Saat itu Fadli beralasan membawanya pergi jalan-jalan, tapi akhirnya dia harus kehilangan kehormatan hanya dalam semalam.


"Kemana, Pak? Saya nggak mau melakukan yang aneh-aneh Lo, Pak," ucap gadis lugu itu dan di sambut dengan gelak tawa oleh Satya.


"Aneh-aneh apa maksudmu? Kamu saja yang aneh,"


"Lo ... saya serius Lo ini," ucap Puspa lagi sembari mencengkeram amplop di tangannya.


"Tenang saja, nanti aku tambahi upahmu itu," Satya menunjuk pada amplop di tangan Puspa.


"Semakin mencurigakan, Bapak ini," Puspa menatap penuh intimidasi.


"Sudah, nanti malam bersiaplah! Jangan banyak protes!" Satya tidak mau lagi mendengar kata bantahan dari Puspa. Pria itu pun menyalakan mesin mobil dan melesat pergi.


"Mau di suruh apalagi aku ini? Mau nggak nurut nanti aku di pecat," Puspa bergumam sambil berjalan masuk rumah.


***


"Kamu ngapain lagi to kesini, Jo?" Ningrum berdiri di depan pintu rumahnya dengan raut wajah geram.


Entah sudah berapa kali Tejo menyambangi rumahnya dalam satu minggu ini.


"Bulek, Ki piye to. Aku cuma mau minta alamate Puspa di kota lo. Soal hutang beres pokoknya," Dengan pakaian mentereng berwarna hijau muda Tejo mulai melancarkan aksinya.


Hutang Ningrum padanya sudah menumpuk. Wanita itu tidak tahu harus meminjam pada siapa lagi selain pada Tejo. Dia berniat akan melunasi semuanya dengan uang yang di kirim Puspa nanti. Akan tetapi, Tejo terus datang di saat Puspa belum genap satu bulan bekerja.


"Aku beneran nggak tahu alamatnya Puspa, Jo!" Ningrum berkata jujur, selama ini dia tidak pernah membahas alamat anak gadisnya itu di telepon. Mereka hanya saling bertukar kabar saja.


Puspa memang menceritakan pekerjaannya sebagai pembantu di rumah yang mewah, tapi dia tidak pernah menyebutkan alamat rumah tersebut. Menurutnya itu tidak penting karena Ningrum pun tidak akan pergi ke sana.


"Nomer telponnya wes kalau gitu," Tejo memaksa lagi.


Ningrum akhirnya menyerah, bagaimanapun dia banyak berhutang pada pria cungkring itu. Jangan sampai Tejo menagihnya sekarang juga.


"Ini nomernya, tapi kamu jangan ganggu anakku yo!" ucap Ningrum mengingatkan. Sudah pasti Tejo tidak akan mendengarkannya. Untuk apa punya nomor Puspa kalau tidak untuk mengganggunya.


"Baiklah, Bulek," Dengan wajah sumringah Tejo menyalin nomer itu dalam ponselnya.


Entah masalah apalagi yang akan di alami Puspa setelah Tejo mendapatkan nomer telponnya.

__ADS_1


__ADS_2