
Satya berlari ke arah puspa yang terkulai lemas dengan darah mulai mengalir dari bagian perutnya.
"Puspa ... tetap sadar!"
"S-sakit ... Pak." ucap gadis itu terbata-bata. Darah segar terus mengalir dari luka bekas tusukan benda tajam yang cukup dalam mengenai area perutnya. Satya berusaha membalut dengan jasnya, tapi itu tidak membantu, luka itu lumayan dalam mengenai organ Puspa sehingga banyak mengeluarkan darah.
"Tolong ...!" teriak pria itu panik. Beberapa warga yang berada di sekitar pun langsung berdatangan karena mendengar suara Satya.
"Ada apa ini, Mas?" tanya seorang dari mereka.
"Tolong, antar kami ke rumah sakit, Mas!" pinta Satya dengan mata merah menahan tangis.
"Ayo, Mas. Saya yang akan mengemudi," beruntunglah ada yang bersedia menolong mereka. Satya mengangkat tubuh bersimbah darah Puspa masuk mobil. Karena banyak kehilangan darah Puspa pun tak sadarkan diri dalam gendongan Satya.
"Puspa ...!"
Beberapa warga membantu Satya menaikan tubuh Puspa dalam mobil.
Sampai di rumah sakit, Satya terus mengikuti kemanapun suster mendorong ranjang Puspa. Sampai gadis itu di bawa masuk keruang operasi. "Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk!" seorang perawat dengan tegas mencegah Satya hingga langkah kakinya tertahan di ambang pintu ruang operasi.
Satya cemas, dia bahkan tidak bisa duduk. Berjalan kesana kemari berusaha menenangkan diri. Merutuki kelalaiannya dalam menjaga satu wanita di sisinya.
Beberapa jam yang lalu, Puspa memaksa ikut untuk membeli keperluan Anita, karena gadis itu masih baru jdi belum berani keluar di jalanan kota seorang diri dan Satya juga melarang Puspa keluar rumah jika tidak bersamanya. Dengan terpaksa Satya mengijinkan Puspa untuk ikut.
Di tengah perjalanan Pamela menelpon, Satya pun menghentikan mobil dan meninggalkan Puspa sendiri, menunggu Satya terlalu lama Puspa pun keluar dari mobil dan berdiri di sisi jalan.
kejadian itu begitu cepat saat dua pria berjaket hitam menghampiri Puspa dan menikam perutnya dengan senjata tajam. Satya Bahakan tidak sempat berlari untuk mencegahnya.
Kini Puspa tengah dalam keadaan kritis berjuang untuk bertahan hidup.
Berulang kali terdengar dering telpon dari dalam saku, tapi Satya tidak menghiraukannya. Pikirannya hanya tertuju pada keselamatan gadis di dalam sana sekarang. Di saat seperti itu dia baru menyadari tidak bisa jika Puspa sampai tiada.
Benda persegi itu tidak henti mengeluarkan suara membuatnya segera meraih dan menekan tombol hijau dilayar.
"Kamu kemana saja sih, Sat. Kenapa lama mengangkat teleponnya?"
Terdengar suara Pamela dalam sambungan telepon.
"Maaf, aku sedang tidak bisa mengangkat telepon sekarang, kita bicara nanti,"
"Tapi ..."
Suara Pamela terputus saat Satya menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan tersebut.
__ADS_1
Pamela mulai berubah, dia sering menghubungi Satya dan meminta untuk di temani. Kemana saja dia selama ini di saat Satya mengemis cinta dia tidak menghiraukannya. Kini disaat Satya sudah mulai membuka hati untuk wanita Lian dia kembali.
Hampir dua jam Satya menunggu akhirnya dokter keluar. "Bagaimana keadaannya, Dokter?"
Satya tidak menunggu sampai dokter itu bicara lebih dulu. "Pasien sudah melewati masa kritis pak. Operasinya berjalan lancar," ucap dokter laki-laki itu dengan senyuman. "Jangan khawatir, istri Bapak selamat," tambahnya lagi kemudian berlalu.
"Dia bukan ... ah sudahlah yang penting Puspa selamat," Satya ingin mempertegas hubungannya dengan Puspa pada sang dokter, tapi bukankah itu tidak penting sekarang.
Puspa pun dibawa ke ruang rawat, Satya meminta kamar paling bagus untuk gadis itu, agar dia bisa beristirahat lebih nyaman.
Puspa terbaring pucat belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Tangan Satya tak lepas dari tangan gadis itu, rasa khawatirnya belm sepenuhnya hilang karena belum melihatnya membuka mata.
"Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka berniat jahat pada Puspa?" lirihnya. Sudah jelas kejadian di depan matanya bukanlah sebuah ketidak sengajaan, melainkan memang sebuah kejahatan yang sudah terencana.
Satya meraih ponsel dan menghubungi orang kepercayaan memintanya untuk mencari orang-orang yang sudah menyakiti Puspa. Satya menyebutkan beberapa nama yang kemungkinan berhubungan dengan kasus ini.
"Bu, Puspa ada di rumah sakit," ucap Satya pada Marni dalam sambungan telpon membuat wanita paruh baya itu panik seketika.
"Nit, ayok ikut Ibu ke rumah sakit!" ajak wanita itu pada Anita.
"Ngapain Bu?"
"Puspa Nit. Dia di rawat di rumah sakit!"
"Wes to, jangan banyak omong!"
Beruntung Joko ada di rumah, sehingga kedua wanita itu bisa bergegas ke rumah sakit tanpa harus mencari taksi.
Akhir-akhir ini Satya lebih senang mengemudi sendiri, jadi Joko hanya bersantai di rumah.
"Cepat, Jok!" titah Marni.
"Ada apa to ini, Bu? Kenapa terburu-buru?"
"Wes to, jangan banyak nanya! Kita langsung kerumah sakit!"
"Rumah sakit?" dengan wajah bingung Joko mengemudi mobil dengan kecepatan di atas rata-rata.
Sesampainya di rumah sakit, Marni dan Anita berlarian kesana kemari mencari keberadaan Puspa. "Piye Iki, Bu. Kita kan nggak tahu kamarnya Puspa," Anita menyadarkan Marni betapa bodohnya mereka padahal kan ada resepsionis yang bisa mereka tanya.
"ladalah ... ayok ke resepsionis dulu!" Marni menyeret tangan Anita kembali ke tempat jaga dua wanita cantik yang sedari tadi melihat mereka dari kejauhan.
"Mbak pasien atas nama Puspa dimana?" tanya Marni tergesa.
__ADS_1
"Sebentar ya, Bu," jawab wanita berkerudung hitam dengan sopan. Dengan sigap wanita itu mencari di daftar pasien.
Setelah mendapat info tentang ruangan rawat Puspa kedua wanita itu pun bergegas mencari.
"Apa ini, Bu kamarnya?" tanya Anita menunjuk ruangan bertuliskan VIP tersebut.
Untuk memastikan Marni mengintip di balik kaca, di dalam terlihat Satya tengah duduk di sisi Puspa. Sementara itu, Puspa masih memejamkan mata.
"Iyo, benar ini kamarnya, Nit,"
Tok!
Tok!
Kedua wanita itu langsung masuk setelah mengetuk.
"Yoalah ... Puspa ...!" Anita histeris dan mengelus pundak sahabatnya yang masih belum sadarkan diri. Satya bangkit dari duduknya karena terkejut dengan tindakan spontan dari Anita dan Marni.
"Kalian jangan berisik! Ini rumah sakit!" ucap Satya tegas.
"Tuan, apa yang terjadi? kenapa baju Tuan penuh dengan darah? Apa Tuan juga terluka?" Marni khawatir saat menyadari sisa darah Puspa yang menempel pada baju Satya.
"Tidak Bu, ini darah Puspa. "
"Tuan sebaiknya pulang biar saya yang menjaga Puspa di sini!"
"Tidak papa, Bu. Saya akan pulang kalau Puspa sadar," Marni merasa haru menyaksikan betapa tuannya menghawatirkan Puspa.
"Nanti saya akan langsung kabari kalau Puspa sudah sadar. Tuan harus mandi dan ganti pakaian,"
merasa yang di ucapakan Marni benar, Satya pun setuju. Pria itu pun pergi dengan wajah lelahnya.
"Nit, kamu lihatkan betapa khawatirnya Tuan Satya?" Marni mulai bergosip.
"Ibu, benar. Pasti dia itu sebenarnya cinta sama Puspa,"
"Siapa yang cinta?" tanpa kedua wanita itu sadari gadis yang tengah mereka jaga terbangun dari tidur panjangnya.
"Puspa! Kamu sudah sadar!" Marni histeris.
"Panggil dokter, Nit!" titah wanita itu yang langsung di patuhi oleh Anita.
"Apa yang terjadi, Bu. Aku dimana? Dimana Pak Satya?"
__ADS_1