
"Bu, Ini kamar, apa asrama? Gede tenan?" Puspa mengedarkan pandangan ke seluruh sudut kamar. Ruangan itu tidak terlihat seperti kamar pembantu. Satya memang memberikan fasilitas mewah untuk para pekerja di rumahnya. Bahkan ruangan itu juga menggunakan AC.
"Ini belum seberapa, Pus. Bereskan pakaianmu dulu, nanti ibu ajak berkeliling," Marni berucap sambil membantu Puspa memasukan pakaian ke lemari.
"Kamu juga harus menceritakan perjalanan hidupmu, sampai bisa kemari," sambung Marni.
"Tidak ada yang menarik dalam hidupku, Bu." balas Puspa sembari tersenyum kecut.
Mendengar ucapan Marni, mengingatkan Puspa pada sang Ibu. Sudah beberapa hari dia tidak menghubungi wanita itu.
"Sebentar ya, Bu. Aku harus mengabari ibuku di kampung," Puspa merogoh tas selempangnya untuk mencari ponsel yang baru saja dia beli. Syukurlah dia mengingat dengan jelas nomer sang ibu.
Drtt!
Drtt!
"Halo ... Assalamualaikum, sopo Iki?" terdengar suara Ningrum dalam sambungan telepon. Seketika air mata gadis itu luruh. Di masa sulit seperti sekarang, kasih sayang dan perhatian ibu lah yang bisa menjadi penghibur.
"Ibu ... " suara Puspa tertahan di tengah tangisanya. Dengan sekuat tenaga dia menahan isakkan itu, agar sang Ibu tidak mendengarnya.
"Puspa? Nduk!" Naluri Ibu memang kuat, dia langsung mengenali anaknya walau hanya lewat suara.
"Iya, Bu. Ini Puspa," gadis itu berusaha tegar sembari mengusap air mata.
"Kamu, baik-baik saja to?"
"Puspa baik, Bu. Ibu, piye? sehat to?" Puspa balik bertanya.
Kedua wanita itu larut dalam suasana haru. Ningrum, adalah tipe wanita yang mudah panik dan gegabah. Hal itu lah yang membuat Puspa memilih untuk merahasiakan kejahatan Raka.
"Dari kemarin, Ibu menghubungimu, tapi kok nggak tersambung. Raka juga tidak bisa di hubungi. Ibu khawatir, Pus."
"HP Puspa hilang, Bu."
"Ya sudah yang penting kamu baik-baik saja. Sekarang Ibu merasa lega."
"Iya, Bu."
__ADS_1
Puspa merasa sedikit lega setelah bicara dengan sang Ibu. Entah sampai kapan dia akan merahasiakan kejahatan Raka.
Mengingat begitu dekatnya hubungan antara Ningrum dan Entin, akan terjadi huru hara jika keduanya tahu tentang perbuatan bejad Raka pada Puspa.
Untuk sementara, Puspa memilih diam. Dia akan fokus pada pekerjaannya sekarang. Satya sudah berbaik hati menerima Puspa di rumahnya. Jadi sudah seharusnya gadis itu membalas kebaikan satya.
Keahlian Puspa dalam memasak bisa di acungi jempol. Sudah pasti bakat itu menurun dari sang ibu. Warung nasi pecel milik Ningrum saja selalu ramai pembeli. Semua itu karena masakan wanita itu terbukti enak.
Puspa menghentikan aktifitas menyapunya setelah melihat Satya menuruni tangga. Rumah besar itu memiliki dua lantai. Kamar utama berada di lantai atas.
"Pagi Pak!" Puspa menyapa Satya dengan ramah. Namun, pria itu sama sekali tidak menggubrisnya. Dia terus berlalu melewati Puspa yang mematung sepeti manekin.
"Ya Allah ... kok ada manusia sombong seperti itu!" Puspa menggerutu sambil meneruskan pekerjaannya.
"Ada apa to, Pus?" Marni tiba-tiba muncul di belakang Puspa, membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Ibu kok yo ngagetin Puspa to!" protes Puspa.
"La kamu asik ngedumel, sampai nggak dengar langkah kaki ibu," Marni memeriksa hasil kerja gadis desa itu. Lumayan bagus. lantai yang sudah dia sapi pun terlihat bersih.
"Bu, Pak Satya apa memang seperti itu?" Puspa menaruh gagang sapu dan mendekat ke arah Marni.
"Sombong, dan sedikit bicara. Tadi aku menyapanya, tapi dia tidak menjawab sama sekali. Menoleh saja tidak," ucap Puspa sembari memperagakan mimik wajah Satya.
"Jangan begitu! Nanti kamu suka lagi sama dia," goda Marni.
"Yo ndak mungkin to, Bu. Aku cukup tahu diri kok," Puspa kembali mengambil sapu yang bersandar di sofa.
Ucapan Marni mengingatkannya pada sosok Fadli. Pria sekelas Fadli saja dengan gampang mencampakkan dirinya, apalagi Satya yang lebih tajir dan lebih segala-galanya.
"Jangan pesimis to, Pus. Jodoh orang siapa yang tahu to," Marni memberi semangat, saat melihat ekspresi putus asa di wajah gadis itu.
"Bu, aku pernah melihat alat pembersih debu di TV. Kenapa nggak pakai itu saja?" Puspa melanjutkan menyapu di sisi lain.
"Ada kok. Tu!" balas Marni sembari menunjuk kearah mesin penyedot debu yang bersandar cantik di sudut ruangan.
"Ladalah ... Bu ...! Kok ndak bilang to, tanganku tiwas pegel," keluh Puspa sembari berjongkok di lantai.
__ADS_1
"La kamu nggak nanya," balas marni sambil cekikikan.
***
Raka tengah menerima omelan dan ancaman dari mami. Wanita itu rugi besar karena harus mengganti uang Danu beserta handphone yang di ambil Puspa.
"Kamu mengejar satu gadis kampung saja tidak bisa!" Wanita setengah tua itu berkacak pinggang di hadapan Raka.
"Beri aku waktu, Mi. Aku pasti membawanya kembali," Raka mencoba mengulur waktu. pemuda itu kebingungan, bagaimana cara mengembalikan uang mami yang sudah habis tak tersisa.
Melihat pesona Puspa, membuat mami berani membayar mahal pada Raka. Namun, rencana mereka gagal dalam sekejap . sayangnya Raka sudah menghabiskan uang tersebut untuk membayar hutang dan berfoya-foya. Kini dia harus mengembalikan semua uang itu, hanya dalam waktu dua hari saja.
Tidak ada cara lain, selain membawa Puspa kembali kesana.
Tinggal lama di kota membuat Raka banyak berubah. Entah bagaimana cara dia hidup selama ini.
Satu bulan sekali, pemuda itu mengirimkan uang pada Entin. Wanita itu mengira jika puteranya sudah sukses di kota. Dia bahkan senang membanggakan Raka di depan orang banyak. Andai dia tahu apa yang di kerjakan Raka di kota. wanita itu bisa mati berdiri karena syok.
Apakah kehidupan di kota semengerikan itu? Sehingga bisa merubah pemuda lugu seperti Raka, menjadi pria kejam penjual wanita.
Sementara itu di kediaman ibunya Puspa, wanita itu bersiap menuju warung Entin. bukan untuk membeli kebutuhan dapur atau semacamnya, tapi dia berniat meminta nomer telepon Raka yang baru, agar dia bisa bicara langsung padanya.
"Kamu Gimana to, Entin. Masa nggak tahu tempat tinggal Raka di kota". Ningrum merasa heran pada sahabat baiknya itu.
Sudah bertahun-tahun, Raka tinggal di kota. kenapa dia tidak pernah membawa ibunya ke sana.
Mengingat dari lamanya Raka bekerja, pasti dia sudah sukses sekarang. Namun, Raka tidak berpikir dengan baik. Dia justru menghabiskan uangnya dengan berjudi dan main Perempuan. Entah apa penyebabnya sehingga pria sebaik Raka, berubah menjadi pecandu alkohol dan wanita.
***
"Bu ...! Ini cara mandinya gimana?" Suara lantang Puspa menggelegar mengisi seluruh sudut rumah. Gadis itu memanggil dari ambang pintu kamar.
Baru lima menit yang lalu dia berpamitan mandi pada marni.
wanita itu sudah menunjukkan seluruh isi kamar mandi, dan memberitahu Puspa tentang perlengkapan mandi dan cara memakainya. Namun, Puspa sudah lupa, sehingga dia kembali bertanya.
"Apa lagi to pus? tanya Marni sembari bergegas menghampiri Puspa.
__ADS_1
"Airnya, Bu," jawab Puspa ragu.
"Kenapa dengan airnya, Pus?"