
prok!
prok!
Wanita dengan sebutan mami bertepuk dua kali, dua perempuan masuk ke kamar itu. "Kalian urus wanita ini, jangan sampai ada yang lecet, dia aset berhargaku," titah mami pada dua anak buahnya. "Baik, Mami."
"Lebih baik kamu nurut, jadi aku tidak perlu menggunakan kekerasan padamu," mami berujar sembari mengelus pipi Puspa yang basah oleh air mata.
Setelah wanita berambut cokelat itu keluar, dua wanita suruhannya memaksa Puspa untuk berganti pakaian. " Tunggu! Kalian tidak perlu memaksaku, aku akan melakukannya sendiri," Puspa mencekal tangan kedua wanita yang mulai menyentuh tubuhnya.
"Mana pakaian untukku?" ucap Puspa sembari mengusap sisa air mata di pipi. "Siapa nama kalian?" Puspa bertanya pada dua wanita yang menatap heran ke arah dirinya. " Aku Meli dan dia Siska." Wanita bernama meli memperkenalkan diri. Di lihat dari raut wajah, kedua wanita itu tidak jauh lebih tua dari Puspa.
"Baiklah, Mbak Meli. Aku akan berganti pakaian di kamar mandi, aku tidak seperti kalian yang bisa membuka baju di depan orang lain dengan begitu mudah. Aku masih punya rasa malu," Puspa berujar sembari menyindir kedua wanita di hadapannya.
"Sialan!" Seketika keluar kata umpatan dari mulut Siska.
Di dalam kamar mandi, Puspa tidak langsung mengganti pakaiannya. Dia berdiri di depan kaca sembari memikirkan langkah selanjutnya. 'Aku tidak boleh melawan, karena itu tidak akan berhasil,' gumamnya dalam hati.
Puspa segera keluar setelah membuat rencana untuk bisa kabur dari sana.
Setelah hampir satu jam, Meli dan Siska selesai mendadani Puspa. Mereka segera keluar dari kamar itu. tak berapa lama mami kembali masuk. "Waw ... benar-benar cantik," mami berujar sembari bertepuk tangan.
Kali ini Puspa akan mengikuti permainan mereka. "Aku akan menurut dan duduk manis disini, Mami. Tapi aku mau bertemu Raka ada yang harus aku bicarakan dengannya, ini penting,"
"Baiklah, kebetulan Raka belum pulang. Aku akan mengijinkan kalian bicara, tapi hanya sebentar karena klien yang memesanmu akan segera datang," ucap Mami sembari tersenyum penuh arti.
'Apa dia kira aku barang dagangan, pakai di pesan. Lihat saja nanti akan aku tunjukan dengan siapa mereka berurusan!' Puspa bergumam dalam hati.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, nampak Raka melenggang masuk dengan raut wajah tanpa penyesalan sedikit pun. Puspa geram dalam hati, seandainya dia tidak mengingat hubungan baiknya dengan Ntin, dia pasti sudah menyerangnya.
"Bagaimana penampilanku, apa aku cantik?" Puspa beranjak mendekati pria itu. Melihat sikap Puspa membuat Raka merasa aneh.
"Sepertinya kamu senang dengan pekerjaan ini, memang pas dengan latar belakangmu," Raka berujar sembari tersenyum sinis.
"Tentu saja, calon suamiku yang menjualku di sini, jadi aku harus membuatnya merasa senang," tatapan Puspa mulai berubah.
Plak!
Tanpa aba-aba Puspa menampar wajah Raka dengan sangat keras, meninggalkan bekas di sana. "Kurang aj*r!" Raka geram dan hendak membalas Puspa, tapi dia urungkan karena tidak mau membuat masalah dengan mami, wanita itu sudah membayarnya dengan sangat mahal.
"Aku tidak akan mengampunimu Raka, sekalipun kamu anak dari sahabat Ibu. Ingat lah ada masanya aku akan menginjak dada bidangmu itu dengan kakiku, di saat itu kamu hanya akan bisa mengemis pengampunan dariku,"
"Dasar gadis tidak tahu diri, sudah untung aku menolongmu dari amukan warga, dan ini balasanmu?" ucap Raka kesal sembari mengelus pipi yang terasa panas.
"Cuih ... Kamu tidak menolongku, tapi kamu berusaha memanfaatkan aku."
Disaat mereka tengah bertengkar seorang wanita masuk tanpa ragu dan menggandeng lengan Raka sembari menempel padanya.
Dari suaranya Puspa bisa menebak jika dialah wanita yang tengah bersama Raka saat itu. 'Jadi saat itu bukan suara televisi Melainkan suara perempuan g**el ini,' Puspa membatin.
"Kasihan sekali Bulek Ntin. Dia makan dari uang haram," Puspa berujar sembari menyilangkan tangan di dada. "Terserah! Kamu juga akan melakukan hal yang sama sekarang, selamat bersenang-senang Puspa, kamu pasti sudah tidak sabar kan?" Raka dengan tidak tahu malu melangkah keluar dengan wanita yang terus bergelendot di bahunya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Setelah bertemu Raka Puspa kembali gusar. Niat awal ingin merayunya agar bisa terbebas dari sana justru berakhir dengan pertengkaran. Bagaimana tidak, melihat wajahnya saja membuat amarah Puspa memuncak sampai ke ubun-ubun.
"Handphone," Puspa baru teringat benda pipih itu. dia bergegas mencarinya di dalam tas selempang yang tergeletak di atas tempat tidur. Gadis dengan rambut tergerai itu mengeluarkan seluruh isi tas, tapi benda itu tidak ada di dalam sana.
Akkhhhh!
Puspa melampiaskan kekesalan dengan memukul bantal di sampingnya. " Tenang Puspa, kamu tidak boleh panik dalam keadaan seperti ini," gadis bergaun Hitam itu berusaha menangkan diri.
__ADS_1
Kreekk!
Pintu kembali terbuka, mami datang bersama seorang pria. "Baiklah, Om. selamat bersenang-senang," goda mami dengan genitnya.
Puspa menatap nanar pada pria tua yang baru saja masuk ke dalam kamar. Ada gelitik heran dalam hati. "Sudah bau tanah masih bertingkah," gumam Puspa pelan.
"Hai ... Om. kenalkan aku Puspa." Gadis itu tengah berusaha memainkan perannya. terlintas sebuah ide dalam otaknya saat melihat pria di hadapannya.
Pria pertengahan 60 tahun itu segera mendekat pada Puspa yang bergeming di atas tempat tidur. "Kamu cantik sekali, Sayang," ucapnya.
Dari penampilan bisa di pastikan dia adalah pria kaya raya yang kesepian, atau dia seorang duda, atau bisa juga memang dasarnya dia tipe pria ber-otak mesum yang suka membeli wanita dengan uangnya.
'Menjijikkan,' batin Puspa.
Puspa terus menghindari sentuhan tangan pria berumur itu. tentu saja dia tidak rela membiarkan kulit tubuhnya terjamah tangan kotor pria itu.
"Aku punya kejutan untukmu, Om," bisik Puspa di telinga pria itu membuatnya semakin terbakar api ga*rah. "Apa itu?" tanyanya tidak sabar. "Sabar dong, Om." Dengan pelan Puspa melepas ikatan dasi dari leher pria tua bangka itu.
"Apa ini? kenapa di tutup?" Pria itu gelagapan saat Puspa menutup matanya dengan dasi.
"Tenanglah, Om! Aku akan memberikan pelayanan yang terbaik padamu malam ini, hingga Om tidak akan melupakannya seumur hidup," bisik Puspa.
Tangan gadis itu kembali bekerja, membuka ikat pinggang sang pria dan menariknya dengan pelan. si om tua sudah mulai kepanasan karena ulah Puspa.
Set!
Satu ikatan kuat di simpulkan Puspa di kedua tangan pria itu, tepatnya Puspa mengikat kedua tanganya di belakang.
"Tangannya kok di ikat sih, Sayang. Bagaimana aku bisa menyentuhmu?"
"Tenanglah Om. Menurutlah padaku!" Puspa kembali berbisik di telinga pria itu. Di saat pria tua itu sudah dalam keadaan terikat, Puspa mulai mencari cara, dia melangkah ke arah jendela untuk melihat situasi di luar sana. Nasib baik masih berpihak padanya. kamar yang mereka tempati ada di lantai bawah.
__ADS_1
Puspa merogoh saku pria tersebut membuat pemiliknya merasa geli. "Kamu ngapain sih, Sayang?" si om berujar sembari cekikikan menahan geli. Puspa menatapnya sebentar 'Dasar! heuh!' Hampir saja Puspa menggetok kepala pria itu tapi segera dia urungkan. Jangan sampai rencananya berantakan karena emosi.
Sejurus kemudian, Puspa tersenyum bahagia saat menemukan sesuatu di dalam saku itu.