PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Di lecehkan


__ADS_3

Setelah meeting selesai, Satya bergegas menuju hotel yang di sebutkan Joko. Pikiran pria itu kalut. Apa yang di lakukan Puspa dengan pria di hotel? Siapa pria yang di maksud oleh Joko?


Satya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Amarah dan rasa khawatir bercampur menjadi satu.


Sementara itu, Puspa kini tengah duduk di restoran dalam hotel bersama Fadli. Wanita itu sudah di butakan dengan cinta dan perhatian dari pria di hadapannya. Tidak mudah melupakan pesona anak pak lurah yang sangat tampan itu. Apalagi Fadli berada di saat yang tepat dalam hidup Puspa.


"Apa kamu mau tetap bekerja di rumah itu?" Fadli menatap Puspa penuh dengan cinta. Tidak mudah membujuk gadis itu hingga akhirnya dia mau kembali padanya.


"Aku tidak tahu, Fad."


"Aku akan mengantarmu pulang kampung, soal perjanjian itu aku yang kan mengurusnya."


Puspa tidak tahu bagaimana caranya lepas dari ancaman Satya. Dia pun menceritakan semuanya pada Fadli, berharap pria itu akan membantunya.


"Apa bisa?" tanya Puspa masih meragukan kemampuan Fadli.


"Bisa, aku akan menyewa pengacara handal untuk menangani kasus ini."


Puspa hanya bisa pasrah, dirinya bahkan tidak paham hukum sama sekali. Mendengar ucapan Fadli membuatnya merasa lega.


"Besok pagi aku akan mengantarmu,"


Setelah Puspa kabur dari rumah itu tidak mungkin baginya untuk kembali kesana. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana amarah Satya apalagi jika pria itu tahu dia pergi dengan Fadli. Bisa saja Satya akan melukai Fadli. Begitulah yang ada dalam benak Puspa.


"Kenapa tidak sekarang?" pinta Puspa.


"Ini sudah larut, Pus. Aku tidak bisa fokus mengemudi saat malam hari," Fadli beralasan.


Fadli menyewa dua kamar hotel sesuai dengan permintaan Puspa. Dia sengaja tidak membawa Puspa ke apartemen miliknya. Karena Yasmin bisa saja datang sewaktu-waktu seperti yang biasa wanita itu lakukan.


"Baiklah, pergilah, Fad. Kamu juga harus istirahat," ucap Puspa pada Fadli yang masih berdiri di pintu kamar yang akan dia tempati.


"Baiklah,"


Fadli menatap lekat pada gadis di hadapannya. Berada dekat dengannya membuat pria itu tidak bisa mengendalikan diri. Pintu yang akan tertutup tiba-tiba tertahan oleh lengan kekarnya. Bukannya keluar, Fadli malah masuk kamar dan menutup pintu dari dalam.


Nafas Puspa seketika tertahan, apa yang di lakukan oleh Fadli mampu membuatnya merasa takut.


"Kamu mau apa, Fad?" Bibir Puspa bergetar menahan gugup.


Tanpa menjawab pertanyaan Puspa, Fadli terus melangkahkan kaki mendekat, hingga gadis itu terpojok di dinding kamar.


"Puspa, aku sangat mencintaimu," bisik Fadli tepat di telinga Puspa membuat bulu kuduk gadis itu merinding.


"Aku tahu, tapi pergilah Fad. Kamu membuatku takut," ucap Puspa dengan nada memohon.


Pria yang tengah di kuasai oleh nafsu itu menolak untuk mendengarkan ucapan gadis di hadapannya dan mulai menyentuh wajah Puspa dengan lembut.


"Apa yang kamu takutkan? Kita sudah pernah melakukannya," Bisik Fadli lagi. Nafasnya mulai memburu Hembusannya bahkan terasa hangat di kulit leher Puspa.


Menyadari apa yang di maksud oleh pria itu, Puspa pun mendorong tubuh Fadli dengan keras dan berhasil membuat pria itu sedikit memundurkan langkah kakinya.

__ADS_1


"Kamu sudah tidak waras, Fad!"


Mungkin gadis itu masih mencintainya, tapi dia tidak mau mengulang lagi kesalahan yang selama ini begitu dia sesali, dengan pria yang sama.


"Aku menjadi tidak waras karena kamu, Puspa!"


"Menjauh dariku! Atau aku akan teriak!"


Fadli semakin beringas karena penolakan Puspa, dia bahkan menarik pakaian Puspa sehingga kaos pendek berwarna kuning itu robek tepat dia bagian bahu.


"Fadli! Ternyata Benar kata Pak Satya, kamu bukan pria baik. Seharusnya aku tidak percaya padamu!" Puspa berbicara dengan suara lantang sembari menutup bagian bajunya yang terkoyak.


"Kenapa kamu menyebut nama pria itu saat bersamaku, Sayang?" Fadli mulai emosi dan cemburu membuatnya semakin ingin memiliki Puspa malam itu. Pria itu mulai berlaku kasar dengan menarik tangan gadis yang katanya dia cintai dengan paksa.


"Lepas Fadli!" gadis itu meronta namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan pria di hadapannya.


Plakk!


Sebuah tamparan keras Fadli layangkan ke arah pipi Puspa hingga gadis desa itu tersungkur ke lantai kamar hotel yang dingin. Bahkan sudut bibirnya sampai terluka karena Fadli tidak bisa mengendalikan tenaganya.


Puspa menyeka sudut bibir yang mengeluarkan darah dan terasa perih. "Kamu memukulku?" Lirihnya.


"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja," amarah sudah menguasai diri Fadli membuatnya tidak sadar telah sangat dalam menyakiti gadis di hadapannya.


Pria itu pun mengulurkan tangan berniat membantu Puspa berdiri. Namun, sekali lagi gadis itu menolaknya.


"Jangan sentuh aku!"


Fadli bangkit dan melayangkan tinju pada tembok kamar untuk melampiaskan rasa kecewanya.


Bak singa lapar pria berkemeja putih itu menarik lengan Puspa hingga gadis itu bangkit dari duduknya.


Brugh!


Tubuh Puspa terbanting ke atas tempat tidur. dan Fadli segera mengukungnya. Air mata Puspa tak bisa terbendung lagi, walupun dia tidak ingin menangis di hadapan Fadli, tapi hatinya begitu hancur mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari pria yang sudah dia cintai sejak remaja itu.


Di saat seperti itu Puspa teringat akan Satya. Seharusnya dia mendengarkan perkataan pria itu walaupun Pemaksa, Satya tidak pernah berlaku kasar padanya.


Dengan tatapan nanar fadli mendekatkan wajahnya. Entah apa yang sudah merasuki pria itu sehingga dia tidak bisa mengendalikan diri meskipun melihat wajah Puspa yang sudah basah dengan air mata dia sama sekali tidak perduli.


"Lepaskan aku Fadli," Puspa kembali memohon sembari memalingkan wajah saat pria itu akan menc*umnya.


"Kamu hanya milikku, Puspa!"


Bruakk!


Pintu kamar hotel terbuka lebar, dengan langkah besar Satya menghampiri Fadli dan Puspa. Tubuh Fadli seketika terjatuh ke lantai, setelah dengan keras Satya mencengkeram dan melemparkannya.


"Berani sekali kau menyentuhnya!"


Tak selesai di situ, Satya kembali melayangkan pukulan tepat di wajah pria yang mulai merangkak untuk berdiri.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkanmu, kan!"


Tubuh Fadli terhuyung dan kembali jatuh ke lantai.


"Sudah, Tuan. Biarkan polisi yang mengurus semua ini!" Joko menarik lengan tuannya yang tengah terbakar emosi untuk menjauh dri Fadli, kalau tidak pria itu bisa melakukan tindakan yang lebih brutal lagi.


Fadli pun langsung di tangani oleh beberapa petugas hotel. "Lepas!" ucapnya tak terima di perlakukan tidak terhormat.


"Buat laporan ke kantor polisi, Jok! Nanti aku akan selesaikan sisanya!" titah Satya pada sopir pribadinya. Joko pun langsung menjalankan perintah dari sang majikan.


Pandangan Satya kini tertuju pada gadis yang duduk berjongkok di bawah tempat tidur dengan tubuh bergetar.


"Apa Bapak butuh bantuan?" tanya pegawai hotel yang masih standby di pintu kamar.


"Tidak, pergilah!" petugas yang terdiri dari dua perempuan itu pun langsung meninggalkan kamar.


Satya ingin memarahi Puspa karena kecerobohannya, tapi amarah itu hilang saat melihat kondisi gadis desa itu. Beruntunglah petugas hotel mau bekerjasama dengannya sehingga memberinya kunci cadangan. Kalau tidak, entah apa yang terjadi dengan gadis itu.


"Bangunlah!"


Satya membantu Puspa berdiri dan memakaikan jas miliknya untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka karena ulah Fadli. Dengan pelan Satya membawanya keluar hotel. Dia bahkan bisa merasakan getaran dari tubuh gadis itu karena trauma dan takut.


Sampai di dalam mobil, Puspa hanya diam dan terus menangis tanpa suara.


'Sialan! Aku akan menghancurkanmu, Fadli!' geram Satya dalam hati.


Sesampainya di rumah, Puspa masih tetap diam membuat Satya kebingungan.


Tin!


Tin!


Dua kali klakson berbunyi sebagai tanda untuk Marni dan benar saja wanita itu pun langsung keluar rumah dan menghampiri.


"Bantu, Puspa, Bu." titah Satya.


"Ya Allah, Puspa. Kamu kenapa?" Marni tak kuasa menahan tangis melihat kondisi Puspa yang memprihatinkan. Wanita itu pun memapah Puspa berjalan masuk rumah.


Karena sudah ada Marni, Satya melangkah lebih dulu meninggalkan dua wanita itu. Namun, langkah pria itu terhenti saat Puspa tiba-tiba meraih lengannya.


"Terimakasih," lirih gadis itu dengan pandangan tertunduk.


"Cepat masuk, Bu. Lukanya harus segera di obati!" titah Satya tanpa menjawab ucapan Puspa.


"Baik, Tuan," Marni membawa Puspa masuk rumah dan meninggalkan Satya yang masih berdiri di teras.


Satya mengurungkan niat untuk masuk ke rumah, pria itu dengan tergesa kembali masuk mobil dan menyalakan mesin.


Brum!


Mobil pun melesat pergi dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2