
Pengalaman adalah guru paling berharga jika saja seseorang mau memahaminya. Menjadi lebih baik atau buruk, bahkan stuck di tempat adalah sebuah pilihan.
***
"Siapa yang sudah melakukan ini padamu, Puspa?"
Hati Marni merasa pilu melihat gadis yang dia kenal pemberani hanya terdiam dengan wajah sembab dan lebam.
"Kenapa kamu bandel to, Puspa? Sudah di larang keluar malah ngeyel!"
Seperti kebanyakan orang tua pada umumnya, saat anak-anak mereka terluka maka akan keluar kata-kata amarah hanya sebagai pelampiasan rasa khawatir mereka. Marni pun melakukan hal yang sama karena Puspa sudah seperti anak baginya.
Kejadian yang tidak pernah Puspa duga sebelumnya sanggup membuat gadis itu terguncang. Begitu sulitnya mencari seseorang yang benar-benar tulus di dunia ini. Berulang kali Puspa merasakan sebuah penghianatan, membuatnya sulit untuk percaya lagi pada orang lain.
"Aku mau tidur, Bu. Capek," lirih gadis itu.
Marni pun membiarkannya beristirahat tanpa bertanya apapun lagi kepadanya.
"Tuan pergi kemana?" gumam Marni saat tidak mendapati pria itu masuk rumah.
Di tempat lain, Satya tengah berusaha menenangkan diri. Ada kegundahan dalam hati, kenapa dia begitu tidak terima saat mengetahui kebenaran jika Puspa lebih percaya Fadli dari pada dirinya?
"Aku tidak mungkin menyukai kucing kampung itu kan?" gumam Satya.
Mobil Satya sampai di depan sebuah klup malam. Selama ini dia tidak punya teman. Setelah kepergian kedua orang tuanya, Satya menjadi penyendiri. Hanya Pamela yang bisa mendekati pria itu. Namun, wanita itu kini juga meninggalkannya.
Sejurus kemudian mobil Satya kembali melaju. pria itu mengurungkan niat untuk mencari ketenangan di dalam sana. Percuma saja karena yang membuat hatinya gelisah sedang ada di rumah. Bukankah seharusnya dia berada di sisi Puspa jika dia begitu mengkhawatirkannya?
"Apa Puspa sudah tidur, Bu?"
Satya Kembali ke rumah dan segera menanyakan keadaan Puspa pada Marni.
"Sudah, Tuan. Sebenarnya siapa yang sudah membuatnya seperti ini?" tanya Marni.
"Fadli, Bu. Aku akan menghancurkan pria brengsek itu!" ucap Satya sembari mengeratkan genggamannya pada gelas berisi air putih di tangan.
"Ya Allah Puspa, kenapa dia masih menemui pria itu?" Marni ikut menyesali tindakan bodoh Puspa.
***
Keesokan harinya, apartemen Fadli di datangi oleh dua petugas dari kepolisian. Dengan laporan dan bukti berupa rekaman CCTV Fadli akhirnya harus meringkuk dalam bui untuk sementara waktu sambil menunggu kasus itu di selidiki.
Yasmin histeris di kantor polisi. Wanita itu dengan tidak sopan memaki petugas. Menurutnya, Fadli tidak bersalah dan sedang di jebak oleh Puspa.
"Saya akan menuntut kalian karena sudah menangkap orang yang salah!" Dengan percaya diri Yasmin Bahkan sampai menggebrak meja.
"Maaf, Bu. Silahkan keluar dari sini Ibu bisa menghubungi pengacara. Selama dalam penyelidikan, saudara Fadli harus kami amankan di sini,"
__ADS_1
"Sialan kamu Puspa!" wanita itu pun menyerah untuk sementara waktu dan kembali tanpa bertemu dengan calon suaminya tersebut.
"Bu, mau masak apa hari ini?"
Marni merasa lega melihat Puspa yang terlihat jauh lebih baik hari ini.
"Kamu, istirahat saja. Biar ibu yang mengerjakan semuanya,"
"Ibu ini kenapa to? Aku nggak papa, Bu,"
"Kamu yakin, Pus?"
"Yakin seratus persen,"
Dengan senyum lebar, Puspa berusaha meyakinkan wanita di hadapannya.
"Tinggalkan itu, dan istirahatlah!" Satya datang dengan nada bicara tegas dan tak ingin di bantah. Namun, bukan Puspa namanya jika langsung menurut.
"Ini sudah tugas saya, Pak." ucap Puspa sembari melanjutkan pekerjaan dapur.
Satya memilih duduk dan memperhatikan gadis itu dengan seksama. Apa benar dia sudah baik-baik saja?
"Apa bapak melaporkan Fadli pada polisi?" Puspa memberanikan diri mengakan hak itu pada Satya.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau jika kekasihmu itu masuk penjara?" Satya menatap penuh selidik pada wanita yang kini berdiri di hadapannya.
"Apa? Jadi kamu masih mengharapkan pria yang sudah menyakitimu itu?" nada bicara Satya mulai berubah.
"Bukan begitu, Pak. Jika saja di perbolehkan maka saya akan membunuhnya sekarang juga,"
Uhuk!
Satya sampai tersedak saat mendengar jawaban mengejutkan dari Puspa.
"Saya hanya tidak mau ibu yang kena Maslah karena perkara ini, Pak. Orang tuanya Fadli pasti tidak terima kalau anaknya masuk penjara dan ibuku pasti terkena imbasnya."
Satya memikirkan ucapan gadis di hadapannya, yang di katakannya memaglngah benar.
"Saya, tidak mau kalau ibu samoai tahu, pasti dia khawatir," sambung Puspa lagi.
"Ini semua karena kebodohanmu!"
"Bapak benar, saya memang bodoh seperti kerbau. Jatuh dalam kubangan untuk yang kedua kalinya," Puspa tersenyum getir.
"Baiklah, tapi kamu harus ikuti aturanku setelah ini! Kalau tidak aku akan mengikat rantai di kakimu,"
"Rantai? Bapak kira saya anjing?"
__ADS_1
"Siapa yang bilang begitu? Kamu itu kucing bukan anjing," Satya beranjak dari duduknya menuju kamar. Dia harus bersiap ke kantor juga pergi ke kantor polisi. Pembantunya itu benar-benar sudah menyusahkan hidupnya.
Jauh dalam lubuk hati Satya merasa lega karena Puspa dengan mudah melupakan peristiwa itu.
***
Dengan terpaksa, Satya mencabut laporan di kantor polisi. Beruntung proses penyelidikan belum berlanjut jadi lebih mudah untuk pencabutan laporan.
"Aku mengampunimu kali ini, tapi tidak di masa depan!" Satya menatap tajam pria yang berada di balik jeruji.
bukannya meminta maaf, Fadli malah menyunggingkan senyum seolah meremehkan pria di hadapannya.
"Jangan harap kamu bisa memiliki Puspa! Dia hanya mencintaiku. Puspa kan yang menyuruhmu membebaskan aku," ucapan Fadli sanggup mengganggu pikiran Satya. Kenapa Fadli bisa mengetahui apa yang akan di lakukan Puspa? Apa benar Puspa melakukan itu karena masih mencintai Fadli?
***
Sebulan berlalu, pernikahan Yasmin dan Fadli di gelar hari ini. Yasmin adalah putri tunggal dan kedua orang tuanya menginginkan yang terbaik untuk putri mereka.
Acara di gelar dengan megah. Seluruh kolega bisnis pun di undang termasuk Satya. Walaupun pria itu sudah memutus kontrak kerja dengan perusahaan milik Yasmin, tapi mereka tetap mengundangnya. Yasmin hanya ingin membuktikan pada Puspa jika dialah yang menjadi pemenang dalam perang cinta antara dirinya dengan Puspa.
Tepat seperti yang Yasmin duga, Satya membawa Puspa bersamanya. Sama dengan Yasmin, Satya pun datang ke sana dengan niat tersembunyi.
Puspa harus melihat kenyataan Fadli yang sudah menikah dengan wanita lain. sementara itu, Fadli pun harus tahu jika Puspa sudah baik-baik saja tanpa dirinya.
"Selamat, semoga pernikahan kalian langgeng," ucap Puspa singkat sembari menyalami kedua mempelai dengan cepat.
Rasanya enggan jika kulit tangannya menyentuh pergelangan ke dua manusia di hadapannya.
"Kamu baik-baik saja, Puspa?' Yasmin mengajak Puspa dengan pertanyaannya.
"Sangat baik, akhirnya ancaman dalam hidupku sirna sudah," Puspa tersenyum lebar membuat Fadli merasa tidak nyaman. seharusnya bukan Yasmin yang berdiri di sampingnya melainkan Puspa.
"Puspa?" Niken terkejut melihat Puspa dengan dandanan cantik nan anggun.
"Selamat, Bu Lurah," ucap Puspa pada wanita yang dulu pernah dia idamkan untuk menjadi ibu mertuanya.
"Kamu sama siapa?" tanya Niken heran.
"Dia sama majikannya, Bu." Yasmin menyela omongan mertuanya. Sungguh tidak sopan.
"Majikan?"
"Iya ... jangan bilang ibu belum tahu kalau Puspa ini pembantu," Yasmin berusaha menghina Puspa di tengah umum.
"Hentikan Yasmin!" lirih Fadli.
"Jadi kamu jadi pembantu, Puspa?" tanya Niken memastikan ucapan menantunya.
__ADS_1
"Siapa yang kalian sebut pembantu?"