
Mobil Satya berhenti tepat di depan penginapan. Puspa teringat peristiwa saat dirinya menginap dengan Fadli malam itu, seketika tangannya berkeringat karena gugup. Apa Satya tipe pria seperti itu?
'Kenapa Pak Satya membawaku kesini?'
"Kamu tunggu di sini jangan turun!" titah pria itu kemudian keluar dari mobil dan menuju penginapan, membaut Puspa merasa lega, setidaknya yang dia khawatirkan tidak benar.
"Maunya apa to? Bikin orang jantungan saja," Puspa bergumam pelan.
Puspa kembali teringat pekerjaan yang sudah dia tinggalkan. Bagiamana kalau Agung marah dan tidak mau mengajaknya lagi.
Puspa menepuk dahinya kencang saat mengingat tas yang tertinggal.
"Puspa! Kok ceroboh temen to!"
Tak berapa lama Satya kembali dengan sebuah map di tangan.
"Ini! Baca itu baik-baik!" ucap pria itu seraya menyerahkan map itu ke tangan Puspa.
Puspa membuka pelan dan mengeluarkan isi map tersebut. Di sana tertulis sebuah perjanjian kerja yang pernah dia tandatangani.
"Baca poin tiga!" titah Satya.
Puspa mulai membaca sesuai arahan Satya. Di sana tertulis jelas, akan ada denda bahkan pidana jika Puspa memutuskan berhenti bekerja secara sepihak.
"Apa ini? Perasaan dulu tidak ada yang seperti ini, Pak?" Seingat Puspa surat yang dia tandatangani dulu hanya berisikan pengakuan bahwa dirinya bukan orang jahat dan akan bertanggung jawab jika pernyataannya tidak benar.
"Kamu saja yang tidak membacanya dengan teliti," Satya berkilah.
"Apa iya?" gumam Puspa. "Trus Bapak maunya gimana?"
"Gimana lagi, kamu harus kembali bekerja atau ..." pria itu mengancam dengan tatapan tajamnya, membuat Puspa tidak bisa berkutik.
"Baiklah, saya akan kembali ke rumah Bapak, tapi, pinjami saya handphone," pinta Puspa sambil menadahkan tangan.
"Untuk apa?"
"Ponselku tertinggal di panggung pak, kecuali Bapak mau mengantar kesana."
Dengan cepat Satya mengeluarkan ponsel dari saku dan menyerahkannya pada Puspa.
Puspa membuka layar ponsel yang tidak terkunci, matanya melebar sempurna saat melihat foto Pamela dalam layar. 'Ternyata dia belum bisa melupakan Mbak Pamela. Sudah jelas dia kemari karena butuh tenagaku untuk bekerja di rumahnya. Apa jangan-jangan dia sengaja membawaku kembali agar Mbak Pamela mau datang kembali kerumahnya?'
Bermacam kemungkinan terlintas di benak Puspa, tanpa dia sadari dia tengah menatap pria di sebelahnya tanpa berkedip.
Puspa meringis kesakitan saat dahinya terasa panas karena Satya menyentilnya.
"Apa aku begitu tampan sampai kamu tidak berkedip," Satya tersenyum jahil di akhir ucapannya.
"A-apa? Bukan begitu, saya hanya sedang mengingat nomer Anita. Percaya diri bapak ketinggian,"
Puspa pun beringsut membenahi duduknya dan segera menekan nomor Anita.
"Halo siapa ini?" tanya Anita dari ujung sana.
"Puspa, Nit. Tas ku tertinggal tolong bawakan ya!"
"Kamu nggak balik lagi, pus?" tanya Anita lagi.
__ADS_1
"A-aku ...," Puspa ragu akan menjawab apa dan menatap penuh tanya pada Satya. Namun, Pria itu justru mengambil ponsel dalam genggaman Puspa dan mematikan sambungan telepon.
"Loh, kok di matiin to, Pak? Kan belum selesai ngomongnya," Puspa kesal. Ternyata pria itu tidak berubah sama sekali, tetap semena-mena padanya.
***
Ningrum tak melepas pandangan pada pria yang kini duduk di hadapannya. Beruntung sekali anak gadisnya bertemu pria tampan dan kaya raya sepertinya, walupun statusnya hanya sebagai pembantu.
"Apa anak saya menyusahkan, Bapak?" Setelah memberi tatapan yang membuat Satya tidak leluasa untuk bergerak, akhirnya Ningrum mulai bicara.
"Tidak, Bu." jawab Satya singkat.
"Lalu kenapa Bapak sampai jauh-jauh datang kemari?"
Satya seolah tengah berada di kursi persidangan, dirinya bahkan tidak punya jawaban untuk pertanyaan ibunya Puspa.
"Ibu, mau aku antar masuk kamar? Kaki ibu kan belum benar-benar sembuh jadi tidak baik kalau duduk terlalu lama," Puspa memotong pembicaraan ibunya dan langsung membantu wanita itu untuk berdiri.
"Ibu, nggak papa, Pus," Ningrum berusaha mengelak ajakan anaknya tapi dia tidak bisa melawan saat Puspa memapahnya menuju kamar.
"Kamu itu kenapa to, Pus? Ibu kan mau bicara sama majikanmu," protes Ningrum.
"Ini kan sudah malam, jadi Pak Satya harus segera pergi dari sini, ibu mau di grebek warga?" Puspa beralasan.
Ningrum akhirnya menyerah, tidak akan menang kalau berdebat dengan anak perempuannya itu.
"Maaf, Pak. Ini sudah sangat larut, jadi Bapak sebaiknya kembali ke penginapan,"
"Aku tidak bisa terlalu lama di sini, jadi kita akan kembali besok," Satya beranjak dari duduk berjalan menuju pintu keluar.
"Tunggu!" Refleks Puspa menahan tangan pria itu.
Puspa tidak bisa pergi dengan tiba-tiba seperti itu. Gadis itu belum merasa yakin untuk kembali ke rumah Satya. Apalagi Ningrum belum benar-benar sembuh, wanita itu masih butuh dirinya.
Satya terdiam dan berpikir. "Baiklah, tapi aku tidak bisa menunggu terlalu lama, hanya sampai ibumu sembuh, setelah itu kamu harus segera kembali!"
Puspa tersenyum kecut, ada apa dengan pria di hadapannya? Seolah di rumahnya tida ada orang lain yang membantunya selain dirinya.
***
"Puspa!"
Pagi-pagi sekali Fadli menggedor pintu rumah Puspa membuat dua wanita di dalam sana kebingungan.
"Sopo, Pus?" tanya Ningrum sembari mengikat rambutnya.
"Sebentar, Bu. Tak lihat dulu,"
Puspa tidak heran saat melihat Fadli sudah berdiri di depan pintu.
"Mau apa lagi to, Fad?" tanya Puspa malas.
"Kita harus bicara, Puspa!"
Puspa berjalan melewati Fadli dan duduk di bangku teras rumahnya. " Duduk dan bicaralah!"
Puspa tidak bisa terus menghindar, urusannya dengan Fadli harus selesai sekarang juga.
__ADS_1
"Apa hubunganmu dengan Satya?" tanya Fadli tanpa berbasa-basi.
"Aku bekerja sebagai pembantu di rumahnya,"
Bukan jawaban seperti itu yang ingin di dengar oleh Fadli, dia pun tahu kalau Puspa bekerja di rumah Satya, tapi Fadli merasa ada sesuatu yang lain di antara kedua manusia itu.
"Selain itu?"
"Maksud kamu opo to, Fad?" Puspa beranjak dari duduk karena bicara dengan pria itu tidak ada gunanya.
"Baiklah, aku tidak akan membahas itu duduklah!" pinta Fadli.
Puspa pun menuruti permintaan Fadli dan kembali duduk.
"Aku mau kita seperti dulu lagi, Pus. Aku tahu kamu masih cinta kan sama aku?"
Sudah Puspa duga, Fadli akan mengatakan hal seperti itu.
"Maaf, Fadli. Kamu harus sadar, semua ini tidak benar. Apa kamu mau ikut denganku ke rumah Mbah Slamet?" Puspa menatap pria di hadapannya dengan rasa bersalah. Sampai saat itu dia masih mengira kalau Fadli masih dalam pengaruh pelet dukun itu.
"Maksud kamu apa, Pus?" tanya Fadli heran.
"Maaf, yang di bicarakan orang-orang tentang pelet, itu Memeng benar," Puspa berucap sambil menatap ke kanan dan ke kiri berharap tidak ada orang lain yang mendengar pengakuannya.
"Kamu sepertinya masih dalam pengaruh ajian itu, Fad. Ayo kita ke rumah Mbah Slamet dan menghilangkan pengaruh mantra itu!" ajak Puspa.
Fadli menggelengkan kepala mendengar penuturan gadis di hadapannya. Jadi selama ini Puspa berpikir seperti itu. Dasar gadis lugu yang tidak tahu apa-apa.
Fadli beranjak dari duduk dan mendekati Puspa, membuat Puspa merasa gugup.
"Apa kamu pikir aku tidak tulus?" Fadli menyentuh kedua pundak Puspa dan menghadapkan pandangan gadis itu kepadanya.
"M-maksud kamu apa?" Tidak bisa di pungkiri gadis itu masih merasakan gugup saat berada dekat dengan pria yang sudah lama dia cinta.
"Puspa, aku tulis mencintaimu. Apa kamu tahu sejak kapan perasaan itu tumbuh?" lirih Fadli.
Puspa tidak tahu harus bagaimana sekarang, ingin sekali melepas tangan Fadli dari pundaknya dan pergi, tapi hatinya berkata lain dia merasa senang berada dalam posisi seperti itu.
Puspa menggelengkan kepalanya pelan tanda dia tidak tahu jawaban dari pertanyaan Fadli.
"Aku sudah menyukaimu sejak lama, sejak kita masih duduk di bangku SMP," jawab Fadli.
Puspa menatap lekat pria di hadapannya. Apa dia berkata jujur, atau hanya ingin merayunya saja?
"Hei! Lepaskan tanganmu darinya!"
Brughh!
Tubuh Fadli tersungkur ke tanah setelah Satya memukulnya dengan keras.
"Pak Satya!" Puspa memekik saat melihat adegan yang tidak terduga itu. Karena terlalu fokus dengan Fadli dia tidak mendengar kedatangan mobil Satya.
Puspa segera membantu Fadli berdiri, ujung bibir pria itu pun terluka bahkan sampai mengeluarkan darah.
"Bapak apa-apaan to, main pukul seperti itu?" Puspa menatap Satya dengan tajam.
"Oh, jadi ini alasanmu menunda kembali ke kota. Karena pria ini?" Satya gusar tangannya mengepal karena menahan amarah, niat ingin berpamitan pada gadis itu malah harus menyaksikan adegan romantisnya dengan Fadli.
__ADS_1
"Maksud Bapak apa? Saya kan sudah bilang Ibu masih sakit jadi saya tidak bisa meninggalkannya!" Puspa ikut terpancing emosi.
"Ada apa ini?" Ningrum yang mendengar keributan segera keluar.