PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 12. Di Campakkan


__ADS_3

[Datanglah ke alamat ini, aku merindukanmu]


Sebuah pesan singkat di terima Puspa dari nomer Fadli. Jantungnya seketika berdebar hebat, kenapa Fadli memanggilnya ke sebuah rumah kontrakan? Apa yang dia inginkan?


Puspa segera mandi, walupun sore tadi dia sudah mandi, tapi dia tidak ingin mengecewakan Fadli, akan terlihat lebih segar kalau dia mandi lagi.


"Puspa, kamu kenapa mandi malam? Nanti masuk angin lo," Ningrum bersuara dari balik pintu.


"Panas, Bu. Puspa nggak tahan," sahut Puspa.


Setengah jam kemudian, gadis itu sudah bersiap dengan dandanan super cantik, make up tipis namun terlihat pas. Setelah memilah seluruh isi lemari, pilihan Puspa jatuh pada dress mini berwarna ungu muda dengan belahan dada lumayan terbuka.


"Ibu pasti tidak mengijinkan aku pergi dengan pakaian ini," gumamnya pelan.


Gadis dengan rambut tergerai itu mondar-mandir di dalam kamar, mencari ide untuk bisa keluar rumah tanpa di curigai sang ibu.


"Bu, malam ini ada acara dadakan, Puspa boleh kan pergi?" Puspa terpaksa berbohong.


"Lo kok mendadak sekali, to? ini kan sudah malam Puspa," ibunya Puspa merasa ada yang aneh.


"Aku juga tidak tahu, Bu. Kata Mas agung acaranya cuma sebentar, dekat kok, Bu. di desa sebelah," Puspa harus menutup kebohongan satu dengan kebohongan yang lainnya.


"Kamu, sama siapa perginya?"


"Anita menungguku di ujung jalan, Bu. kelamaan kalau mampir kesini dulu, Puspa pergi yo, Bu," Puspa tidak memberi kesempatan untuk ibunya bertanya lagi. Dia langsung menyalami tangan sang ibu dan pergi.


"Hati-hati, Pus!" teriak Ningrum dari teras rumah.


"Iya, Bu." Puspa menyahut sembari menyalakan motornya kemudian pergi.


Ningrum terdiam sesaat di teras rumah. "Acara opo to? kok mendadak," gumam wanita paruh baya itu. Banyak hal yang membuatnya aneh, acara yang begitu dadakan, dan juga tidak biasanya Puspa berdandan dari rumah.


Puspa mengendari motor menerjang gelapnya malam, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, suasana desa sudah mulai sepi.


"Apa di sini ya rumahnya?" Puspa berhenti di depan sebuah rumah yang nampak tidak berpenghuni. Rumah sederhana yang terletak di ujung perbatasan antara desanya dengan desa tetangga.


Puspa merogoh ponsel dari dalam tas. mencoba menghubungi Fadli. dua panggilan tidak juga mendapat jawaban.


Ting!

__ADS_1


sebuah pesan dari Fadli masuk. [Masuklah, Sayang. Aku sudah menunggumu!]


Tanpa pikir panjang Puspa mengendarai motornya dengan pelan ke ara pekarangan rumah tersebut kemudian memarkirkan motor di teras samping rumah.


Tok!


Tok!


Tidak mendapat jawaban, Puspa mencoba memutar gagang pintu, dan pintu langsung terbuka. Anehnya rumah dalam keadaan gelap, sepertinya lampu sengaja di matikan. 'Apa Fadli tengah menyiapkan kejutan untukku?' gumam Puspa dalam hati. Jantungnya semakin berdebar saat merasakan belaian tangan seseorang di pundaknya yang terbuka, semakin lama tangan itu mulai menyusup ke bagian pinggang rampingnya, Puspa hanya diam merasakan sentuhan tangan seseorang yang dia kira adalah Fadli kekasihnya.


"Hentikan!" Suara Puspa memekik tajam, saat menyadari sesuatu. "Kamu siapa? kamu bukan Fadli!" Puspa menghempas kasar lengan pria yang sudah melingkar di pinggangnya.


Ada aroma rokok yang tercium dari tubuh pria itu, sudah jelas itu bukan Fadli.


ceklek!


Lampu ruangan menyala dengan terang menampakkan sosok seseorang yang tengah berdiri tepat di hadapan Puspa.


"Si*lan, kamu Tejo, berani sekali kamu menyentuhku!" Teriak Puspa setelah melihat Tejo berdiri sembari tersenyum penuh kemenangan.


"Lo kenapa kaget begitu to, Dek?"


"Jangan munafik, kamu suka kan saat aku menyentuhmu?" ucap Tejo dengan percaya diri.


"Cih ... Najis, mana sudi aku kamu sentuh, dasar jailangkung!" Puspa bahkan meludah di hadapan Tejo, dia masih syok dengan apa yang sudah terjadi, bagaimana bisa dia tidak bisa membedakan tangan Tejo dengan Fadli? Apa semua itu karena hasrat memadu kasih dengan Fadli yang begitu tinggi, sehingga otaknya sudah tidak lagi bekerja dengan baik.


Puspa bergegas melangkah pergi dari sana, tapi tangan Tejo dengan cepat menahan lengannya. "Lepas Tejo! kamu mau m*ti?"


Bukannya melepas cengkeraman tangannya, Tejo malah tertawa. "Sudahlah, Dek. jangan melawan menurut saja padaku, malam ini kamu akan menjadi wanita paling bahagia di dunia," gelak tawa Tejo di selingi dengan ucapan yang terdengar menjijikkan di telinga Puspa.


"Edan kamu, Tejo. Fadli tidak akan melepaskanmu!" Puspa terus berusaha lepas dari cengkeraman tangan pria cungkring itu, bagaimanapun Puspa adalah wanita, tenaganya sudah pasti kalah dari Tejo.


"Asal kamu tahu, Dek. Fadli sudah tahu tentang ilmu perdukunan yang kamu gunakan untuk menjeratnya, jadi dia sudah tidak perduli lagi padamu, hanya Mas Tejo lah yang tulus mencintaimu, Dek Puspa,"


Puspa terdiam seketika mendengar penuturan Tejo. "Apa maksud kamu?"


"Jangan berkilah lagi, aku sudah tahu, kamu menggunakan ajian pelet, to?" ucap Tejo sembari tersenyum sinis.


"Si*lan, lepaskan aku Tejo!"

__ADS_1


dugh!


Dengan keras Puspa menendang sela*kangan pria itu, membuatnya segera melepaskan tanganya dari lengan Puspa.


"Aduh ... Masa depanku ini lo, Dek," Tejo merancuh sembari mengerang kesakitan.


"Sukurin, rasain tu tendangan kaki biduan!"


Puspa tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur dari sana, dengan langkah terburu dia keluar dari rumah itu.


Brugh!


Langkah kaki Puspa terhenti tepat di depan pintu, tubuhnya terjerembab menabrak seseorang. "Fadli ...!" Rona bahagia terlihat jelas di wajah sang biduan. Kekasihnya hadir di saat yang tepat. "Syukurlah, kamu datang. Si Tejo mau kurang ajar padaku, Fad," Puspa mengadu pada sang kekasih, sembari menunjuk ke arah Tejo yang masih terduduk kesakitan.


"Lepaskan aku, Puspa! Sandiwaramu sudah berakhir sekarang!" Fadli melepas pelukan Puspa dari tubuhnya. "A-apa maksudmu, Sayang?" tanya Puspa terbata, dia tidak mengerti dengan perkataan Fadli.


"Jangan berbohong lagi, aku sudah tahu kamu menggunakan ajian dukun untuk menjeratku, Puspa!" Fadli membentak Puspa dengan nada kasar, membuat gadis itu terdiam seribu bahasa.


Fadli yang dia kenal lembut dan penuh cinta kini telihat mengerikan.


"A-apa maksudmu, Fadli? kamu sudah berjanji akan menikahiku kan?" Puspa mulai menangis sembari memohon pada kekasihnya. Namun, amarah sudah menguasai pria itu. Apalagi saat mengetahui Puspa tengah berduaan di dalam rumah kosong bersama Tejo.


"Minggir! mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi!" Fadli mendorong Puspa dari hadapannya, membuat tubuh ramping itu hampir terjerembab.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku, Fadli." Puspa menjatuhkan diri untuk bersimpuh di kaki pria itu sembari menangis pilu. Namun, Fadli sudah tidak menghiraukannya, kenyataan Puspa yang menggunakan guna-guna, sungguh sangat menyakiti hatinya.


Fadli menghempas tangan Puspa dari kakinya dan melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ada segerombolan warga yang berjalan ke arah mereka.


"Itu, Pak. Pasangan mesum itu ada di sana!" Yasmin berada di barisan terdepan sembari menunjuk ke arah Puspa.


"Ada apa ini?" tanya Fadli heran. "Sudah diam, sayang biar warga yang menyelesaikan semuanya!" Yasmin menyeret tangan Fadli untuk menjauh dari sana.


Puspa hanya bisa menangis pilu melihat kepergian Fadli.


"Fadli ... Jangan tinggalkan aku!" Gadis itu terus berteriak, tapi Fadli sudah tidak perduli, pria itu masuk mobil dan melesat pergi.


Dengan tertatih Puspa bangkit untuk mengejar Fadli. Namun, beberapa warga menahan kedua tangganya sehingga dia tidak bisa bergerak. "Ada apa ini, Bu. Kenapa kalian menahanku?" Puspa berusaha melepaskan diri, tapi cengkeraman ibu-ibu itu begitu kuat hingga membuatnya tak berdaya.


"Diam, dasar wanita murahan! pantas saja kamu jadi primadona, ternyata kamu juga menjajakan diri!" Ujar seorang warga dengan nada menghina.

__ADS_1


"Apa maksud, Ibu?" Puspa tidak mengerti dengan yang mereka bicarakan. Mesum apa? justru di sini dialah yang jadi korban, kenapa malah dia yang dapat hujatan?


__ADS_2