PELET SANG BIDUAN

PELET SANG BIDUAN
Bab 28. Bertemu Fadli


__ADS_3

"Berhenti di situ!" Pria itu kembali memanggil dengan suara penuh penekanan. Dengan terpaksa Puspa menghentikan langkah kakinya.


Apa ini takdir? Atau sebuah kebetulan? Yang pasti Puspa merasa syok. "Jadi kamu benar Puspa?"


Seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat, pria itu memperhatikan Puspa dari ujung kaki hingga kepala. Sementara itu, Puspa hanya diam seribu bahasa.


"Kamu mengikutiku sampai kesini? Sejak kapan?" Pria yang tak lain adalah Fadli itu memandang sinis pada wanita di hadapannya.


"Maaf, aku harus pergi!" Puspa tidak ingin berlama-lama di dekat Fadli. Hatinya begitu sakit mengingat perlakuan pria itu kepadanya. Bahkan setelah mereka kembali bertemu, Fadli tetap melakukan hal yang sama, menambah luka di hati gadis desa yang sudah begitu mencintainya.


Puspa juga menyadari kesalahannya dengan ilmu perdukunan itu. Akan tetapi Fadli juga sudah merenggut kehormatannya. Yang di lakukan Fadli lebih menyakitkan.


"Mau kemana kamu, Pus? Aku belum selesai bicara!" Tidak terima di abaikan, Fadli menarik pergelangan tangan Puspa dengan kasar, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Lepas, Fadli! Kamu menyakitiku," Puspa berucap sembari berusaha melepas tangan Fadli dari pergelangannya.


"Ada apa ini?"


Kesialan apalagi yang harus di hadapi Puspa hari ini? bukan hanya Fadli, tapi Yasmin juga hadir di sana. Fadli segera melepas genggaman tangan Puspa saat Yasmin datang.


"Kamu?" Yasmin terperangah saat mengetahui kalau wanita di hadapannya adalah Puspa. "Sedang apa kamu di sini gadis kampung?" Yasmin berucap sembari menatap nyalang ke arah Puspa. Sementara itu Puspa malah memperlihatkan senyum sinis kepadanya.


"Kenapa kamu tersenyum? Apa ini lucu untukmu?" Yasmin semakin terpancing emosi.


"Aku hanya sedang menertawakan takdirku saja. Bagiamana bisa aku bertemu dengan mantan kekasihku dan selingkuhannya di sini," ucap Puspa.


"Selingkuhan yang mana yang kamu maksud? Kamu lupa, siapa yang merebut siapa?" Yasmin semakin mendekatkan tubuhnya ke arah puspa untuk menantangnya.


Puspa memilih diam untuk meredam emosi. Kalau saja ini di kampung sudah habis Yasmin terkena amukannya.


"Sudah, Sayang. Meeting akan segera di mulai kita harus hadir tepat waktu!" Fadli menarik tangan Yasmin menjauh dari Puspa.


Sepasang kekasih itu pun melenggang dengan bergandengan tangan di hadapan Puspa. Sepertinya, baik Fadli maupun Yasmin sengaja melakukan semua itu untuk menyakiti hati Puspa.


"Sayang? Cih ... saat itu kamu juga bilang sayang padaku, setelah itu kamu meninggalkan aku begitu saja" Puspa bergumam diantara senyum getirnya.


Gadis dengan rambut terkuncir itu terduduk di kursi tunggu lobi dengan map di pangkuan. Kehadiran Fadli yang secara tiba-tiba membuatnya merasa tak nyaman. Apalagi setelah mendapat perlakuan kasar darinya semakin membuat Puspa terluka. Tanpa terasa air matanya luruh membasahi pipi.


"Maaf, Mbak. Apa mbak yang mengantar berkas untuk Pak Satya?" Seorang wanita cantik berbadan tinggi menghampiri Puspa.


Puspa segera bangkit dan menghapus air mata di wajahnya. " Iya, benar," jawab Puspa sembari memasang senyum yang di paksakan. "Saya Mira, Sekretarisnya Pak Satya. Jadi Mbak bisa menyerahkan berkas itu pada saya," ucap wanita itu dengan ramah.


"Ini, Mbak." balas Puspa sembari menyerahkan berkas pada Mira. "Nama mbak siapa kalau boleh tahu?" tanya Mira. "Saya, Puspa. Baiklah saya permisi," ucap Puspa kemudian berjalan menuju pintu keluar hotel.


Mira menatap kepergian Puspa dengan tatapan penuh tanya.


"Apa Joko langsung pulang, Mir? tanya Satya sembari membuka berkas yang di berikan oleh Mira. "Yang mengantar berkas bukan pak Joko, tapi Mbak Puspa, Pak." Mira sedikit berbisik pada Satya karena saat itu klien mereka sudah berada di sana.

__ADS_1


"Apa?" Satya terkejut mendengar penuturan Mira. 'Kenapa Puspa yang mengantarkannya? Kemana Joko?' batin Satya.


"Tapi ada yang aneh Pak. Tadi Mbak Puspa menangis setelah cekcok dengan Pak Fadli dan Bu Yasmin." Mira menceritakan apa yang sudah di lihatnya di lobi hotel.


Beberapa menit yang lalu, Mira menghampiri resepsionis untuk menanyakan kehadiran orang yang mengantar berkas untuk atasannya. Petugas resepsionis memberitahu tentang Puspa.


Saat melihat gadis itu tengah berada di lobi, Mira langsung ingin menghampiri, tapi langkahnya terhenti saat melihat Fadli lebih dulu menghampiri gadis bercelana jeans tersebut.


Mereka terlihat adu mulut di tambah lagi dengan kehadiran Yasmin. Mira sudah mengenal Fadli dan Yasmin karena perusahaan mereka sedang mengadakan kerja sama dengan perusahaan milik Satya.


Ada tanda tanya besar di hati Mira tentang hubungan ketiga orang itu. sebab itu lah dia mengatakan semuanya pada Satya.


Mendengar penuturan dari Mira Satya segera beranjak dari duduknya. Pria itu berlari menuju lobi untuk mencari keberadaan Puspa. Namun, gadis itu sudah tidak terlihat lagi di sana. Dari balik kaca Satya melihat Puspa berdiri di tepi jalan, tak berapa lama gadis itu pun masuk taksi kemudian pergi.


"Siapa Puspa sebenarnya? bagaimana dia bisa mengenal Fadli?" Satya bergumam sendiri.


Selama rapat berlangsung pandangan Satya tidak lepas dari dua manusia di hadapannya. Pertanyaan tentang hubungan mereka dengan Puspa sudah berhasil mengganggu pikiran pria 27 tahun itu.


'Apa mungkin Puspa bekerja untuk mereka sebagai mata-mata di rumahku?' Pikiran buruk lebih mendominasi isi kepala Satya, karena dia belum begitu mengenal Puspa.


"Terimakasih atas kerja samanya, Pak Satya," Fadli lebih dulu berdiri di susul Yasmin dan Satya. "Sama-sama," jawab Satya sembari menyambut uluran tangan Fadli.


Kerja sama mereka baru berjalan selama satu bulan terakhir. Satya menjadi investor di perusahaan milik orang tua Yasmin.


Sampai sekarang yasmin lah yang masih memegang kendali penuh atas perusahaan itu, karena orang tuanya belum bisa sepenuhnya percaya pada kinerja Fadli.


"Bapak tidak makan dulu?" Mira yang melihat Satya bersiap untuk pulang berusaha untuk menahannya. Sedari tadi wanita itu memperhatikan sang atasan tidak menyentuh makannya sama sekali.


"Aku tidak lapar." Satya pun beranjak dari duduk dan berjalan menuju lobi hotel.


Sampainya di luar, Satya celingukan mencari keberadaan Joko, tapi pria itu tidak tampak batang hidungnya. "Kemana si Joko? Apa dia tidak menjemputku?"


Satu panggilan ke nomor Joko dan langsung tersambung.


"Kamu tidak menjemputku Joko?" tanya Satya tanpa berbasa-basi. "Maaf, Pak. Saya sedang sakit jadi tidak bisa menjemput Bapak." ucap Joko dalam sambungan telpon.


"Kenapa, tidak bilang?" Satya terdengar tidak senang dengan jawaban dari sopir pribadinya itu.


"Apa Puspa tidak memberi tahu, Bapak?" sahut Joko lagi.


Joko sudah mengirim pesan chat pada Puspa untuk memberitahu majikannya tentang kesehatannya. Sepertinya gadis itu tidak membuka ponselnya.


"Dimana gadis itu sekarang? Apa dia sudah pulang?" tanpa sadar Satya menghawatirkan keadaan Puspa saat ini.


"Puspa? Dia ada di kamarnya, Pak. Apa terjadi sesuatu?" Joko balik bertanya.


"Pak!" Joko memeriksa layar ponselnya dan ternyata sang majikan sudah memutus panggilan itu.

__ADS_1


"Apa kata Tuan Satya?" Marni yang sedari tadi duduk di samping Joko pun penasaran. "Dia menanyakan Puspa. Apa dia sudah pulang atau belum?" Joko seolah ragu mengatakan hal itu, tapi memang itu lah kebenaranya.


"Puspa? Tumben sekali. Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Apa Puspa membuat kesalahan saat mengantar berkas itu?" Marni bergumam sendiri.


"Puspa gimana to? Kok nggak ngasih tahu Tuan kalau aku nggak bisa jemput. Dia pasti marah Bu." Joko terlihat khawatir.


"Wes nggak popo, Nanti aku yang belain kamu kalau Tuan marah," Marni menepuk punggung Joko pelan. " Tenan Lo, Bu,"


"Iyo, sekarang kamu pulang saja biar nanti di pijiti Sundari."


Sundari adalah istrinya Joko. Entah suatu kebetulan atau memang takdir para pekerja di rumah Satya semuanya berasal dari suku Jawa. jadilah mereka se-frekuensi.


"Sek tak nunggu jemputan, Bu," balas Joko sembari menatap ke arah pintu menunggu kedatangan anak laki-lakinya.


"Coba periksa Puspa, Bu! Dari tadi kok nggak keluar kamar. Nggak seperti biasanya," Joko jadi kepikiran keadaan gadis itu setelah Satya menanyakan kondisinya.


"Iyo, kamu benar, Jok. Tak tinggal sek Yo," Marni bergegas menuju kamar pembantu yang terletak tidak jauh dari dapur.


Di dalam kamar, Puspa meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah tertutup bantal.


Marni yang melihatnya merasa khawatir. Tidak biasanya gadis periang itu melakukan hal seperti ini.


"Kamu nggak papa, Pus?" Marni mengelus pelan lengan Puspa. Namun, gadis itu sama sekali tidak merespon. "Kamu nangis?" Marni kembali bertanya saat mendengar suara isakkan dari balik bantal.


Wanita paruh baya itu pun memaksa untuk membuka bantal yang menutupi wajah Puspa. "Lo kamu kenapa to? Kok nangis?" Marni semakin khawatir saat melihat wajah Puspa yang sembab dan basah oleh air mata.


"Ibu!" Puspa bangkit dan memeluk Marni dengan erat untuk menumpahkan segala unek-unek dalam jiwa.


"Ngomong sama ibu! Siapa yang sudah bikin kamu nangis begini? Apa, Pak Satya?" Marni menduga telah terjadi sesuatu antara Puspa dengan sang majikan sampai Puspa menjadi seperti itu. Kalau bukan dia siapa lagi? setahu Marni, Puspa tidak mengenal orang lain di kota itu selain dia, Joko dan sang majikan.


"Kok Pak Satya to, Bu?" Puspa melepas pelukannya kemudian menatap lekat wajah Marni. "La terus sopo? Kan kamu dari tempat kerjanya Tuan, to?"


Selama ini Puspa belum sekalipun menceritakan kisah hidupnya kepada Marni. Gadis itu tengah berusaha melupakan masa lalu yang kelam bersama Fadli, Yasmin maupun Raka. Namun, orang-orang dari masa lalunya itu justru kembali.


"Nggak Popo, Bu. Aku hanya kangen ibuku di kampung," Puspa belum bisa bercerita pada Marni. Biarlah dia menanggung beban itu seorang diri. Semoga saja setelah ini dia tidak akan bertemu Fadli dan Yasmin lagi.


"Yo wes kalau gitu, Ibu pikir kamu bertengkar dengan Tuan tadi,"


"Yo nggak berani to, Bu. Mosok majikan di ajak gelud?" Puspa mengulum senyum di bibirnya. Mau bertengkar bagaimana, dia saja tidak sempat bertemu dengan majikannya saat di hotel.


"Puspa!" Satya masuk rumah dalam keadaan tergesa. Joko yang masih duduk di kursi dapur langsung beranjak menghampiri sang majikan. "Maaf, Tuan. Jangan salahkan Puspa. Semua ini salah saya," Joko memohon sembari menundukkan kepala di hadapan Satya.


"Dimana, Puspa?" Tanpa menghiraukan ucapan Joko Satya terus mencari asisten barunya itu. "Dia di dalam, Tuan," jawab Joko.


Puspa beranjak dari tempat tidur saat


mendengar panggilan Satya, kedua wanita itu pun bergegas keluar kamar.

__ADS_1


"Bapak nyari saya?" tanya Puspa memberanikan diri.


__ADS_2