Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
20 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal ambruk di badan Fisha. Napas mereka Sama-sama memburu, Kainal mencium kening Fisha agak lama.


"Makasih," ucap lelaki itu lalu turun dari badan istrinya, tidur di samping.


Fisha menoleh ke samping lalu mengangguk. Dia menghembuskan napas lalu sedikit menutup mata, merasa sangat capek setelah melakukan percinta dengan suaminya.


Kainal beranjak bangun, dia melepaskan pengamannya. Mengambil tisu dan membersihkan bagian paha Fisha.


"Jangan tidur dulu Fisha, kamu belum makan," imbuh Kainal. "Aku sudah pesan makan, kita tunggu dulu."


Fisha berdehem. "Aku gak tidur, aku cuma memejamkan mata." Wanita itu membuka matanya melihat Kainal sudah berada di dalam kamar mandi.


Wanita itu menutup wajahnya menggunakan selimut, benar-benar memerah karena perbuatan Kainal.


Pintu kamar mandi terbuka bersamaan dengan suara bunyi bel.


"Biar aku yang buka," ucap Kainal, lelaki itu cuma memakai handuk sebatas lututnya.


Kainal membukakan pintu kamar. "Apa?" tanya Kainal membuat Fisha penasaran.


"Dih udah keramas aja," sindir Devon memberikan pesanan Kainal.


"Kenapa lo yang ngantar?"


"Kurirnya gak berani datang ke kamar ini, takut mendengar suara-suara lucnuk. Jadi sebagai anak baik budi, aku yang ngantar," ucap Devon. "Gak bercanda, kebetulan gue yang nerima pesanan lo."


"Ok Makasih." Kainal menutup pintu kamar membuat Devon yang berada di luar berucap istgpar.


"Bayarannya woi," teriak Devon mengetuk pintu.


"Lo kan anak baik budi," teriak Kainal balik. Dia menyimpan makanan itu di meja sofa.


Kainal mendekati istrinya dan membalutkan selimut di tubuhnya dan menggendongnya ke sofa. Fisha hanya diam memandang wajah Kainal, rambut yang masih basah sehingga ketampanannya menambah dratis.


"Gak usah di tatap gitu, aku tau suamimu ini tampan," bisik Kainal mendudukan Fisha di sofa.


"Kainal kamu mending pake celana deh, takut banget handuknya melorot," sungut Fisha meraih kantong plastik di atas meja.


"Emang kenapa kalau melorot? Lagian kamu udah lihat, bahkan sudah mencobanya," ucap Kainal duduk di samping Fisha. "Sini aku yang buka," pinta Kainal mengambil seporsi makanan di tangan Fisha.


Fisha hanya menatap Kainal yang fokus membuka'kan seporsi makanan untuknya.


"Ayo buka mulut!" perintah Kainal. Fisha membuka mulutnya.

__ADS_1


Empat suapan Fisha sudah kenyang membuat Kainal yang menghabiskan sisa makanan istrinya.


"Kan ada yang lain, kenapa harus sisaku?" tanya Fisha.


"Ini punya mu masih banyak. mubazir kalau di buang," jawab Kainal.


Usai mengisi perut. Kainal kembali menggendong istrinya ke ranjang. Dia pun ikut menaikinya, dan memeluk Fisha. Fisha yang di peluk hanya diam, tangannya membelai rambut suaminya.


Fisha melihat bekas cakaran di punggung sang suami. "Ini sakit? Maaf ya," ucap Fisha.


Kainal mengangguk. "Gak papa, kamu yang lebih sakit."


Fisha menaikan tangan Kainal yang mencari kesempatan. "Kainal!"


Lelaki itu tertawa kecil dan menutup matanya sambil memeluk istrinya dengan erat. Fisha pun ikut menutup matanya.


Keesokan paginya. Fisha lebih dulu bangun. Dia lebih dulu mandi wajib, membersihkan kamarnya yang berantakan karena perbuatan mereka.


Kainal merasa terusik karena wajahnya terkena sinar matahari. Dia membuka matanya lalu melihat istrinya duduk di meja rias sambil mengiringkan rambutnya.


"Cantik," puji Kainal yang masih berada di atas ranjang. Dia kembali menutup matanya, karena memang masih sangat melelahkan dan mengantuk.


Fisha mengikat rambutnya, memakai kerudung dan cadarnya.


Dia membuka pintu kamar karena ada yang mengetuk. Fisha tersenyum melihat adik iparnya membawa nampan berisi sarapan.


"Kak Kai belum bangun?" tanya Kaira. Fisha mengangguk.


"Di bangunin kak Fisha, dia memang kaya gitu sulit di bangunkan. Kalau gak di suruh bangun dia akan tidur sampai sore hari," jelas Kaira yang memang sering di susahkan oleh kakaknya Itu.


Fisha mengangguk kembali. "Nanti kakak bangunin," jawan Fisha. Kaira pun pergi dari sana kembali ke arah kamarnya, dia membantu bundanya membereskan untuk kembali kerumah, sedangkan kedua pasangan akan langsung melakukan penerbangan ke bali untuk bulan madu.


Wanita itu menyimpan nampan berisi sarapan di meja dan mendekati suaminya yang masih tidur.


"Kainal ayo bangun," pinta Kainal.


Kainal membalikan badannya, memegang tangan Fisha. "Empat menit lagi."


"Aku gak suka ya, kalau ada orang yang kebo dan bermalas-malasan," tegas Fisha. Memang adanya, adiknya aja dia marahi kalau malas-malasan.


"Aku ngantuk," keluh Kainal.


"Di basuh pake air, nanti gak ngantuk lagi ok?"

__ADS_1


Kainal mengucel matanya. Fisha menariknya bangun dari ranjang.


Fisha terkekeh. Kainal begitu lucu dengan wajah bantalnya. Lelaki itu mengerutuk dan malah memeluk Fisha dan kembali memejamkan matanya.


"Kebo banget," ketus Fisha membelai rambut suaminya. Memberinya kesempatan untuk tidur sebentar.


💗💗💗💗💗💗


Mereka berdua telah siap untuk penerbangan ke bali. Kainal medorong koper mereka berdua keluar dari hotel.


"Kainal jaga anak papah, ya," ucap Altar pada menantunya itu.


Kainal mengangguk. "Insya-Allah, pah," jawab Kainal tersenyum.


"Hati-hati ya kalian, kalau ada masalah di sana. Telfon ayah segera," peringat Vier.


Mereka berdua mengangguk. Saat mobil telah datang Kainal membuka'kan pintu untuk istrinya lalu melambaikan tangannya.


"Udah jadi besan kita," seru Vier memeluk sahabatnya. "Kan gue udah bilang dulu, hubungan tak memandang umur. Anak gue udah dewasa, udah bisa buat cucu untuk kita."


"Dih lo pikir cucu kita bakal jadi kalau gak ada anak gue? Yang pasti cucu bakal jadi kalau ada anak gue!" tegas Altar.


"Udah-udah ribut mulu," tegur Aisha pada mereka berdua. Dari semalam ributin masalah perjadian cucu.


Kainal melanjutkan tidurnya di atas mobil, dia menidurkan kepalanya di paha sang istri. Dia memang sedang di landa kantuk.


"Biasa gini iya?" tanya Fisha. Namun, dapat gelengan dari Kainal.


"Baru ini, aku ngantuk banget," jawab Kainal berusaha membuka matanya. "Mungkin efek semalam kita mainnya terlalu kemalaman," bisik Kainal agar tak di dengar oleh supir.


Fisha memukul lengan suaminya, sehingga lelaki itu terkekeh. Dia atas pesawat aja suaminya itu masih tidur.


"Kainal aku lapar," rengek Fisha. Kainal yang ngantuknya mulai hilang, beranjak bangun.


Kainal membuka tas istrinya lalu mengeluarkan roti dan air mineral. "Makan ini dulu," ucap Kainal.


Fisha mengambil roti tersebut lalu melahapnya. Kainal yang melihat istrinya makan dengan lahap, langsung tersenyum.


"Jangan buru-buru," peringat Kainal membuka tutup botol dan memberikan air tersebut pada istrinya.


"Udah gak ngantuk?" tanya Fisha membuat Kainal mengangguk. Fisha menaroh kepalanya di bahu Kainal, Kainal pun fokus membaca Al-Quran.


Sekali-sekali Fisha menegur cara baca Kainal, karena ucapannya salah.

__ADS_1


"Fish, coba baca ini aku kurang mengerti," pinta Kainal. Fisha pun membacanya, setelah membacanya dia baru baru sadar apa yang dia baca tadi.


Kainal tersenyum. " أحبك أيضًا (Aku pun mencintaimu)," bisik Kainal.


__ADS_2