
Kainal menidurkan Fisha di ranjang.
"Kamu mau ngapain?" tanya Fisha.
"Minta jatah."
"Udah pagi ini, malam aja," ucap Fisha. Kainal menggeleng.
"Mau sekarang!" tegas Kainal.
"Yaudah, tapi bentar aja, ya?"
Kainal manggut-manggut. Dia mulai melakukan aksi percintaan dengan sang istri sepagi ini.
Usai percintaan Kainal mencubit gemass istrinya yang sedang ngos-ngosan di bawahnya. Kainal tidur di samping sang istri, merapikan rambut Fisha yang berantakan.
"Sayang seharusnya kamu udah latihan puasa gak sih?" tanya Fisha melirik sekilas ke samping.
"Kenapa?"
"Soalnya kalau aku udah lahiran, kamu akan puasa 40 hari 40 malam," jawab Fisha.
"Kan masih jauh," ucap Kainal menyembunyikan wajahnya di tengkuk leher Fisha.
"Kenapa minum-minum semalam?" tanya Fisha. Kainal yang sedang menikmati dalam aroma khas badan istrinya mendongak.
"Minum-minum? Minum apa?"
"Minum alkohol," jawab Fisha sehingga Kainal menggeleng keras.
"Aku gak minum gituan, semalam aku ke apotek terus ke supermarket dan terakhir ke... Cafe!"
Kainal sedikit mengingat apa yang terjadi semalam.
"Di cafe ngapain?" tanya Fisha.
"Pesan makan, aku niat pesan makan buat kita, tapi saat aku minum jus. Kepalaku tiba-tiba sakit. Di situlah aku gak ingat lagi."
"Kamu salah minum?"
Kainal menggeleng keras. "Gak!"
Fisha terdiam. Apa ada orang yang niat menjebak suaminya semalam?
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Kainal. Fisha menggeleng, dia beranjak bangun.
"Mau mandi," ucap Fisha di saat Kainal memegang pergelangan tangannya.
Fisha meraih handuk di pinggir ranjang. Dia membalutkan di badannya dan berlalu ke dalam kamar mandi.
Tok tok!
Pintu di ketok membuat Kainal yang sedang membersihkan diri, menoleh. Dia buru-buru memakai Jubah mandinya dan berjalan membuka pintu.
Ceklek!
"Kenapa Ayah?" tanya Kainal.
"Besok kalian harus ke australia," jawab Vier pada intinya.
Kainal keluar dari kamar. Untuk meminta penjelasan ayahnya barusan.
"Mau ngapain, yah?"
"Ataar gawat," jawab Vier lagi. "Ayah dan yang lain sudah mengatahui bahwa mertua dan adik iparmu berada di Australia, tapi kami belum memberitahu Altar. Kami ingin dia menyesali perbuatannya dulu," jelas Vier menghela napas. Kalau di pikir-pikir dia miris sekali perbuatan sahabatnya.
Kainal manggut-manggut. "Jadi keadaan Ataar saat ini gimana?"
"Hemm... Dia kritis," jawab Vier. "Dia terus menyebut nama Fisha, mungkin dia membutuhkan istrimu."
"Pergilah besok, nak."
"Aku jadi kasihan, yah. Di umur masih muda anak itu udah mendapatkan beban yang amat berat. Penyiksaan. Kainal tak habis pikir dengan jalan pikiran papa Altar, dia sangat baik, penyayang. Namun, kenapa dia harus memperlakukan Ataar bagaikan hewan? Hewan aja tak bisa di perlakukan seperti ini."
"Kamu gak tahu, Nal. Dulu anak balita itu tak di beri susu selama berjam-jam, waktu itu ayah ingin sekali mengambil ahli Ataar, membawanya pergi dari papa mertuamu, tapi aku teringat Fisha, dia sangat menyayangi adiknya. Di saat adiknya tak di beri makan, dia juga memilih untuk tak makan agar Altar terpaksa memberi anak itu makanan. Entah seberapa kuat anak itu sehingga Allah memberinya ujian yang begitu berat."
Tanpa sadar, mata Kainal memerah. Dia tak pernah merasakan berada di posisi Ataar, tapi dia pastikan siapapun tak akan mampu bertahan.
"Dia anak yang kuat, ayah salut dengan anak itu. Dia pandai memendam lukanya sendiri, berpura baik-baik saja agar tak membuat orang tersayangnya khawatir. Aku berharap sesuatu saat nanti dia bisa mendapatkan kebahagiaannya walaupun hatinya udah hancur berlebur. Ayah terus berdo'a, dia segera membaik. Ayah bukannya ingin Ataar membenci atau menaroh dendam kepada papanya, tapi ayah sangat berharap Altar mendapatkan penyesalan apa yang di perbuat. Ayah juga ingin sahabat ayah itu mendapatkan penyesalan sebesar luka yang sudah di dapatkan Ataar. Bukan dari fisik, tapi dari mental dan juga hati."
Fisha berteriak memanggil nama Kainal dari dalam kamar, sehingga anak dan bapak yang sibuk berbincang menoleh.
"Kainal masuk dulu ya, yah," pamit Kainal. "Bunda belum pulang?" tanya Kainal.
"Udah pulang, dia lagi menyiapkan sarapan, kalau sudah bersiap kalian turun untuk makan. Kamu juga harus ke kantor hari ini," ucap sang ayah.
Kainal mengangguk. Calon abi itu kembali memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" tanya Kainal mendekati Fisha yang sedang duduk di tepi ranjang, bumil hanya memakai handuk.
"Kamu dari mana?" tanya Fisha.
"Lagi di luar," jawab Kainal ikut duduk. Ia mengambil pengiring rambut, dia beralih mengiringkan rambut istrinya. "Ayah menyuruh kita besok ke australia, keadaan Ataar kritis. Dia terus menyebut namamu."
"Kritis?" tanya Fisha. Kainal mengangguk.
Kainal memperhatikan wajah istrinya, Kainal pun merentangkan tangannya.
"Kenapa masalah datang secara bersamaan?" tanya Kainal dalam hatinya. Saat ini juga, dia sedang mencari tahu siapa dalang yang mencampur obat ke dalam jusnya sehingga membuatnya mabuk di cafe. Kainal tak bodoh sehingga membiarkan itu semuanya terjadi. Dia taku masalah ini akan berusak hubungannya dengan Fisha, atau bisa saja ingin menjebaknya, dia bersyukur. Dia maish bisa pulang kemarin dengan selamat sampai di rumah.
"Yaudah kamu mandi, aku akan turun membantu bunda menyiapkan sarapan." Fisha tersenyum melepaskan pelukan suaminya.
Kainal mencium lama bibir tersebut. "Jangan sedih lagi ya."
Fisha mengangguk. Kainal pun beranjak memasuki kamar mandi, sedangkan Fisha memilih untuk segera bersiap dan segera membantu mertuanya.
Bunda Harumi menoleh di saat mendengar langkah kaki.
"Eh, menantu bunda."
"Pagi bunda," ucap Fisha.
"Pagi sayang, pagi juga cucunya nenek." Harumi mengusap perut menantunya yang sudah mulai menonjol.
"Gak usah nak, kamu duduk aja. Makan buah dan susu yang sudah bunda buat," cegah sang mertua saat Fisha hendak memegang alat masak.
"Gak papa bunda, ini gak terlalu berat kok," ucap Fisha.
"Gak! Dengarin aja deh apa yang bunda bilang!" tegas bunda Harumi mendudukan menantunya di kursi.
"Yaudah, biar Fisha olesin roti dengan slay," pinta Fisha. Harumi tersenyum dan memberikan Fisha roti tawar dan slay berbagai macam rasa.
"Bunda, makan nanas dikit aja gak papa? Fisha pengen banget makan nanas," sahut Fisha meminta izin untuk mengambil potongan nanas di piring kecil di depannya.
Harumi menoleh. Dia mengambil potongan nanas itu. "Nah makan dikit aja, bumil gak boleh terlalu banyak makan nanas."
Fisha berbinar mengambil nanas yang di berikan mertuanya.
Kainal yang baru saja datang dan melihat istrinya ingin melahap nanas, dengan refleks ia mengambil nanas tersebut saat hendak Fisha memasukannya ke dalam mulut.
Fisha cemberut menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kainal biarin dia makan, itu cuma sedikit gak papa. Ngiler nanti anakmu," ucap bunda Harumi.
Kainal memberikan kembali sepotong nanas itu ke arah Fisha. Fisha pun kembali berbinar.