Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 39 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Ataar langsung menggeleng keras. "Bodoh ah, ngapain juga mengurus cinta-cintaan," jawab Ataar.


Fisha hanya beroh aja, tapi tampaknya dia mengoda adiknya itu.


"Kak apasih? Benaran," ketus Ataar pada kakaknya.


"Iya kakak percaya." Ataar langsung berdehem.


"Taar," panggil Fisha sehingga Ataar menoleh ke arahnya.


"Besok bantu kakak pindah ya."


"Kakak mau pindah kemana?" tanya Ataar. "Kakak sama kak Kainal bertengkar?" tanya Ataar lagi.


Fisha memukul lengan adiknya. Pertanyaan terakhirnya sangat di luar dugaan.


"Kakak mau pindah ke apartemen."


Ataar manggut-manggut mengerti. "Aku kira kalian bertengkar."


"Ayo kita masuk makan dulu," ajak Fisha menarik tangan lelaki itu masuk ke dalam rumah.


Fisha menyiapkan sarapan dulu buat adiknya, tadi dia sudah makan bersama sang suami. Dan masih ada sisa nasi goreng di wajan. Dari pada terbuang-buang sia-sia, mending dia suruh habisin Ataar. Lagian makanan itu belum di sentuh.


"Kak Kainal dan adiknya?" tanya Ataar. Fisha menggeleng.


"Mereka sudah makan, makan lah," jawab Fisha. Ataar pun memakan nasi goreng tersebut dengan lahap, dia memang benar-benar lapar. Baru pagi-pagi banget dia menuju markasnya dan siangnya ke rumah kakaknya, karena tak ingin bertemu dengan sang papa, lagian Altar juga yang menyuruhnya cepat-cepat pergi dari rumah.


"Kenapa gak sekolah hari ini? Kamu bolos?" tanya Fisha. Ataar menaikan pandangannya dan nyengir sambil manggut-manggut.


"Katanya ketua osis, kok bolos?"


"Udah di ganti kok osisnya, bukan gue lagi. Kan udah mau lulus."


"Udah mau lulus tuh, seharusnya makin rajin ke sekolah, tambah-tambah nilai," balas Fisha.


"Kakak juga udah mau lulus, tapi gak kuliah kan?"


Fisha mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kaira sakit makanya kakak gak kuliah."


"Terserah," jawab Ataar meminum air putih.


Kainal turun dari tangga menuju mereka berdua. Fisha menoleh dan tersenyum ke arah sang suami.


Ataar berdehem keras di saat Kainal memeluk Fisha dari belakang.


Fisha pun langsung mencubit perut Kainal agar menjauh darinya.


"Gak papakan, Taar?" tanya Kainal kepada adik iparnya.


Ataar mengangguk patah-patah.


"Tukan, kata Ataar gak papa," bisik Kainal menggigit telinga istrinya lalu melepaskannya dan ikut duduk di dekat Ataar.


"Lanjut kuliah di mana, Taar?" tanya Kainal, agar suasana di antara mereka tak canggung.


"Rencananya mau LN," jawab Ataar.


"Udah minta izin?" tanya Kainal lagi, memegang tangan istrinya dari bawa meja.


Ataar menggeleng, ia menatap Fisha. Fisha yang tau tatapan adiknya pun mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Aku yang akan memintakannya izin kepada papa," jawab Fisha.


Kainal mengangguk. "Semoga berhasil," ucap Kainal pada Ataar.


Ataar mengangguk.


"Asslamualaikum," seru seseorang membuat mereka bertiga menoleh.


Saifara menyenggol lengan Celi dengan sangat keras sehingga cewek itu berdecak sebal.


"Kami ke kamar Kaira dulu," pamit mereka. Setelah pamit mereka berlari menaiki tangga.


Ataar berdehem dan berdiri. "Kalau begitu, gue mau pergi," ucap Ataar.


"Cepat banget," ucap Fisha ikut berdiri.


"Lain kali akan ke sini lagi," jawab Ataar.


Fisha memegang kepala adiknya. "Jangan balapan," peringat Fisha.


"Gak janji," jawab Ataar mencium tangan kakaknya tak lupa di pipi.


Anak itu menyengir di saat mendapatkan tatapan tajam dari kakak iparnya.


"Kak gue pulang," pamit Ataar pada Kainal. Usai pamit dia berlari keluar rumah.


Setelah kepergian Ataar, Kainal buru-buru melap pipi istrinya, bekas ciuman Ataar.


"lebay banget," imbuh Fisha.


"Inikan punya aku! Bukan punya dia," ketus Kainal menggendong istrinya ke sofa.


"Iya sayang punya kamu semuanya," bisik Fisha mengpuk-puk kepala suaminya alah bocah.


"Besok-besok gak boleh ada yang nyium kamu selain aku, mau itu Kaira, Ataar dan yang lainnya. Aku larang soalnya milik aku, milik aku cuma milik aku gak boleh di sentuh orang!" tegas Kainal.


"Iya suami bocil aku," seruh Fisha mengunyel pipi Kainal seperti bakpau.


"Bocil-bocil gini udah bisa nyetak bocil di perut kamu," balas Kainal.


"Omes ah."


"Kan emang benar? Aku udah berhasil buat bocil di sini..." Kainal menunjuk perut rata istrinya.


Fisha hanya berdehem dan mengusap punggung suaminya yang berada di pelukannya.


Di sisi lain di kamar Kaira, kedua sahabatnya itu bukannya membuatnya nyaman. Malah membuatnya semakin pusing.


"Kalian berdua mending pulang deh," ketus Kaira di saat kedua temannya sibuk mengomel sedari tadi.


"Ngapain cowok itu datang?" tanya Celi pada Kaira.


"Iyakan dia adiknya kak Fisha, yang jelas dia datanglah," jawab Kaira. "Lo suka ya sama Ataar? Jujur lo."


"Lo kalau nebak selalu benar," sela Saifara.


Celi memutar bola matanya malas. "Sorry gue bukan perusak hubungan orang," ucap Celi. "Dia kan cowoknya sih mak lampir itu?"


"Vieara bukan mak lampir," timpal Kaira. "Dia adiknya kak Xaviel, sahabatnya kak Fisha."


"Xaviel?"

__ADS_1


Kaira mengangguk.


"Yang di waktu pernikahan itu?"


Kaira kembali mengangguk. Dia mengambil kantong plastik yang di bawakan sahabatnya.


"Lo berdua mau gue sembuh apa gimana sih?" tanya Kaira melihat di dalam kantong tersebut banyak banget basreng yang pedasnya innalilahi.


"Udah deh kalau lo gak mau, kita aja."


"Enak aja." Kaira menyembuhkan kantong itu kebelakang tubuhnya.


"Ayo main T or D."


Mereka bertiga pun bermain game yang di sebutkan tadi.


"Jujur lo, lo suka kan sama Ataar?" tanya Saifara pada Celi.


Celi menggeleng. "Gak, najis banget, ogah gue suka sama cowok jutek kaya dia," ketus Celi.


"Awas lo benci jadi cinta," ledek Kaira. "Ayolah lanjut lagi!"


"Najis-najis jambang bayi, selera gue bukan dia," balas Celi.


"Udahlah, Ai, seleranya cowok freandly," jawab Saifara.


"Yaudah bareng Devon noh."


"Lebih parah, gue mau yang cowok spek korea," jawab Celi.


"Korea mulu lo, halu," ucap Kaira dan Saifara bersamaan sehingga Celi cemberut.


"Jahat banget lo berdua. Gak papa halu yang penting mereka gak nyakitin, gak seperti cowok yang mirip opet."


"Aelah, si noh Devon mirip si taehyung," ucap Kaira.


"Kata siapa anjir?" tanya mereka berdua shock.


"Kata maknya," jawan Kaira.


"Aelah, maknya palingan bohong. Mak gue aja bohong, masa dia bilang gue mirip icha antv."


"Tante Kiara benar gak sih, Sai?"


Saifara mengangguk. "Lo memang mirip Icha, apalagi neneknya tapasya." Mereka berdua tertawa. Celi hanya menekuk wajahnya.


"Ucucucu sayangku." Kedua gadis itu memeluk Celi dengan manja.


"Gue nangis nih, gue aduin ya lo sama om Altar. Biar kalian di tampar pake uang segepong," ucap Celi memeluk kedua temannya.


"Besok kak Fisha bakal pindah," keluh Kaira pada kedua sahabatnya.


"Pindah?"


Kaira mengangguk. "Dia pindah ke apartemen. Alasannya, takut gue keganggu."


"Keganggu apa?"


"Suara-suara lucnuk mereka kalau tengah malam," ketus Kaira.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2