
Fisha menyalami suaminya yang akan berangkat ke kantor.
"Pulangnya jangan malam-malam," peringat Fisha.
Kainal membungkuk sedikit menatap wajah istrinya yang cemberut. "Gak kok sayang, sebentar antarkan sarapan buat aku, ya?"
Fisha mengangguk. "Iya, hati-hati."
Kainal mencium pucuk kepala Fisha sekilas lalu melambaikan tangannya memasuki mobil.
"Dada abi." Fisha ikut melambaikan tangannya menatap kepergian suaminya.
"Kak Fisha," teriak Kaira membuat Fisha menoleh.
"Kakak harus yang pertama mencoba masakan aku!"
Fisha tersenyum dan duduk di sofa, menerima piring yang di berikan Kaira.
"Aku di suruh buat kue, praktek dari sekolah,"
Fisha terdiam sesaat lalu mengangguk. "Enak kok dek," jawab Fisha.
"Benaran kak?" tanya Kaira.
Fisha mengangguk. "Kurang keju aja, coba ambil keju."
Kaira berlari ke dapur untuk mencari keju. Tugas praktikumnya harus sempurna.
Kaira berjongkok lalu menaburkan keju ke kue yang dia buat.
Fisha pun kembali menyobanya. "Nah sempurna, coba kamu ikut makan kalau gak percaya."
Kaira menggeleng. "Aku alergi keju, kak," jawan Kaira membuat Fisha membulat.
"Kok kamu gak bilang? Kalau bisa kamu kasih oreo aja," ucap Fisha.
"Gak papa, kak, lagian ini nanti teman aku dan guru aku yang makan."
"Nanti bilang ke kakak ya, kalau ada yang gak kamu suka. Biar kakak tahu," peringat Fisha. Kaira hanya mengangguk.
Kaira memasukan kue yang sudah dia buat ke dalam tas. Sebelum pergi dia mencium pipi kakak iparnya, tak lupa di perutnya.
"Aunty pergi dulu," ucap Kaira. "Aku pergi, kak. Asslamualaikum."
"Walaikumssalam," balas Fisha tersenyum melihat adiknya berlarian keluar rumah di saat Celi sudah datang menjemputnya menggunakan motor meatingnya.
__ADS_1
Fisha keluar dari rumah untuk jalan-jalan pagi bersama dengan sang anak yang masih berada di perutnya.
"Segarnya pagi hari," ucap Fisha mengambil selang air untuk menyiram tanaman.
Usai menyiram tanaman dia cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Perasaannya sedang ada yang memperhatikannya.
Dia akan menelfon Genta, menanyakan kondisi adiknya. Genta adalah anak Rigel.
📱"Kakak seharusnya cepat-cepat ke sini. Dia terus saja menyebut nama kakak," ucap Genta.
📱"Besok kakak akan ke sana," balas Fisha.
Setelah lama berbincang, mereka memutuskan panggilan.
"Anak umi lapar gak?" tanya Fisha mengusap perutnya. "Kita mau makan apa ya? Makan seblak sekali aja boleh? Dedek kita makan seblak, tapi kamu jangan kasih tau abimu, ya? Supaya kita gak di omelin panjang kali lebar," gumam Fisha. Dia memesan seblak di ponselnya.
Ting tong! Suara bel berbunyi membuat Fisha menuringi anak tangga.
"Masa pesanan aku cepat banget sampainya?"
Fisha membuka pintu rumah, dia terkejut melihat seseorang yang tak lain adalah Xaviel.
Bumil itu ingin menutup pintu, tapi Xaviel menahannya.
"Aku ingin bertemu kamu, Fisha," ucap Xaviel memperhatikan ke dalam rumah, dan beralih menatap badan Fisha atas sampai bawah. Dia bernapas lega.
"Gak bisa, aku gak mau ada yang salah paham. Kalau mau bicara, nanti pas Kainal pulang saja," tolak Fisha menggeleng. Dia menutup pintu cepat, dia berlari menaiki kamar mengunci kamar itu.
Dia ngos-ngosan, mencoba mengatur napasnya. Dia sangat takut kalau Xaviel ingin berbuat sesuatu. Bukan apa-apa, tatapan Xaviel sangat aneh. Di rumah tak ada siapa-siapa, dia takut menjadi salah paham di antara mereka berdua. Fisha ingin mengindari Xaviel, takut kejadian kemarin terulang, sangat takut di saat Kainal marah kepadanya.
Fisha mengintip di jendela kamar. Mobil Xaviel masih ada di sana. Bumil itu meraih ponselnya, dan segera menelfon suaminya.
📱"Ka-inal," ucap Fisha dengan suara ketakutan.
📱"Kenapa sayang, kamu kenapa?" tanya Kainal yang tadinya sedang meeting, meminta izin untuk keluar dari ruangan.
📱"Aku takut, kamu cepat pulang. Di depan rumah ada Xaviel, aku takut. Dia sudah lama di sana," ucap Fisha.
📱"Yaudah kamu tenang ya? Aku segara pulang," balas Kainal mematikan telfon.
Dia masuk ke dalam ruangan untuk mengambil jasnya.
"Kamu mau kemana?" tanya ayahnya.
"Aku izin pulang," jawan Kainal berlari keluar ruangan. Buru-buru melajukan mobilnya agar segera sampai di ruangan.
__ADS_1
Xaviel belum saja pergi dari sana membuat Fisha semakin ketakutan.
"Kainal aku takut," lirih Fisha.
Sekitar 20 menit. Mobil memasuki perkiraan rumah sehingga Fisha bernapas lega melihat suaminya.
Dia buru-buru turun dari kamar dan menghampirinya di luar rumah.
Bruk!
Kainal melayangkan pukulan ke arah Xaviel. "Apa yang lo lakukan?" tanya Kainal. Fisha bersembunyi di belakang Kainal.
"Kainal udah." Fisha memeluk suaminya, Kainal pun berhenti.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Kainal.
Xaviel berdiri lalu menatap Kainal. "Ikut gue," ucap Xaviel. "Kainal doang, kamu gak," lanjutnya menatap Fisha.
Fisha menatap suaminya. Kainal mengangguk.
"Jangan berkelahi," peringat Fisha. Kainal kembali mengangguk, Fisha pun melepaskan tangannya di lengan Kainal.
"Masuklah," bisik Kainal.
Fisha pun berlari masuk ke dalam rumah, tak lupa untuk menutupnya.
"Apa?" tanya Kainal.
"Nyawa Fisha dalam bahagia, gue berharap lo tetap ada di sisinya. Gue ke sini untuk mengawasi Fisha, gue tahu saat ini cuma dia yang ada di rumah. Makanya gue datang, gue gak bisa menelfon lo, karena lo dan gue gak punya nomor," jelas Xaviel, dia menepuk pundak Kainal. "Kalau lo gak suka gue gak papa, tapi kali ini mari bekerja sama untuk melindungi Fisha, lo sebagai suaminya gue sebagai sahabatnya."
"Maksud lo, istri gue dalam bahaya? Emang kenapa?" tanya Kainal bingung, istrinya itu tidak terlalu banyak bergaul. Yakali ada musuh.
"Akhir-akhir ini ada yang terus menoror gue. Tadi gue dapat lagi, dia tahu Fisha hanya sendiri di rumah. Gue mau mastiin dan datang ke sini, dan ternyata benar dia hanya sendiri."
"Berarti orang yang neror lo, berada di dekat kita?" tanya Kainal.
"Mungkin saja," jawab Xaviel. "Gue ke sini bukan maksud apa-apa, Nal, tapi gue khawatir dengan Fisha. Apalagi saat ini dia sering sendiri. Sering kali orang itu menoror gue, dia memotret keberadaan Fisha di manapun." Xaviel menyodorkan ponselnya ke arah Kainal, di layar ponsel iti terpasang jelas riwayat chat peneror tersebut.
"Kita harus buat apa?" tanya Kainal.
"Gue akan menyuruh anak bawahan daddy gue untuk mengawasi Fisha dari jauh, dan juga mencari tahu siapa dalang peneroran ini. Ini baru di teroran, gimana nanti di saat orang itu bertindak?"
"Terima kasih, gue minta maaf telah memukul lo seperti ini. Fisha menelfon dan menangis. Sehingga membuat gue khawatir."
Xaviel mengangguk. "Gue akan mengabari lo lagi, tapi gue peringati lo tetap berada di sisi Fisha, jangan biarkan dia sendiri," peringat Xaviel pada suami sahabatnya itu.
__ADS_1