
Alya menutup pintu rumahnya dengan sangar keras, saat tahu siapa yang datang.
"Alya buka, nak," teriak pria paruh baya dari luar rumah. Alya tidak mendengar perkataan ayahnya, dia menjatuhkan badannya di balik pintu dengan air mata terus mengalir.
"Kenapa dia harus datang? Bukannya dia sudah pergi? Kenapa dia kembali? Bukannya kata bunda, dia mempunyai keluarga yang utuh?"
Alya membuka pintu, karena pria itu belum saja pergi dari sana.
"Nak."
"Gue bukan anak lo sialan, gue gak pernah mempunyai ayah, yang adalah ibu! Hanya bunda Ilona yang bisa memanggilku dengan sebutan anak, bukan pria pecundang seperti lo. Lo di mana di waktu bunda gue terpuruk? Lo di mana di saat gue masih kecil? Lo gak tau bagaimana tersiksanya hidup bunda gue!" teriak Alya.
Pria itu menundukan kepalanya. "Maaf, tapi ayah bukannya tak ingin mengakuimu. Bundamu yang menjebak ayah, saat hari itu. Ayah datang untuk menjemputmu pulang, ayo pulang sama ayah. Pulang ke rumah, ada adikmu dan mama di sana sayang," bujuk pria itu.
Alya tertawa kencang mendengar suara lembut yang keluar dari mulut pria tersebut. "Lo bukan siapa-siapa gue sialan, gue gak butuh di akui anak lo. Lo pecundang."
"Kamu gak bakal tau kebusukan bundamu dulu, ayah berharap kamu tidak mengikuti sikap bundamu. Kamu lahir di dunia, atas kesalahannya, dia menjebak ayah, tapi ayah tidak menyalahkan mu atas kesalahan bundamu. Ayo tinggallah bersama ayah, kamu hanya tinggal sendiri. Bundamu sudah tiada, siapa yang mengurusmu sekarang?"
"Gue gak butuh suara sok lembut lo itu, kalau memang lo sayang sama gue. Seharusnya lo datang dan mengurus gue dari dulu."
"Ayah lebih memilih mempertahankan pernikahan ayah. Lagian bundamu yang membawanu pergi jauh bukan ayah," jelas pria tersebut kepada anaknya.
"Pembohong, bunda tidak berkata begitu. Bunda mengatakan lo pria yang sering menyiksanya sehingga dia memilih untuk pergi, lo lebih memilih keluarga lo."
"Dia yang bohong, dia bohong Alya. Kenyataannya bukan seperti itu, kalau bisa ayah buktikan kepadamu. Bahwa apapun yang di katakan bundamu, hanya rancun yang akan menyebar isi pikiranmu."
"Owh ya? Gak papa kalau bunda gue berbohong, gue gak tetap mempercayai lo, dia orang satu-satunya yang sayang sama gue, lo? Gak. Pergi lo sana, bahagiakan keluarga lo itu."
Alya ingin menutup pintu rumahnya, tapi tangannya di pegang.
"Ok, ayah minta kamu jangan pernah menganggu keluarga Fisha."
Alya berbalik. "Dendam tetap dendam, keluarganya yang membuat nasib bunda gue seperti ini. Hidupnya akan hancur," jelas gadis itu menatap dengan tatapan yang berbeda dengan pria itu.
"Cukup Alya, mereka tidak bersalah sedikit pun. Nasib yang di dapat bundamu, dari dia sendiri bukan dari siapapun. Apalagi dari keluarga Fisha, ayah mohon hentikan niat busukmu."
"Tidak!" teriak Alya. "Orang yang membuat bundaku tersiksa bertahun-tahun, orang yang mengambil hak yang seharusnya punya bunda. Hak yang mengambil kebahagiaanku dan bunda. Tdak bisa bahagia di atas penderitaanku," lanjut Alya.
Gadis itu menepis kasar tangan ayahnya. Dia menutup pintu kamar dengan sangat keras sehingga pria paruh baya yang berada luar tersentak kaget.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1
Kainal menatap istrinya yang masih terlelap di bawa selimut tebal.
"Cantik banget sih," gumam Kainal menyepitkan rambut Fisha ke belakang. "Sayang ayo bangun, sholat subuh dulu yok, setelah itu kita mandi untuk siap ke acara wisuda," bisik Kainal.
"Kainal, badan aku sakit semua," keluh Fisha membuka matanya pelan.
Kainal mencium bibir Fisha sekilas lalu bangun.
"Sini sayang aku gendong," ucap Kainal. Fisha bangun dan naik ke gendongan Kainal.
"Dingin airnya Kainal," keluh Fisha di saat Kainal membawanya ke dalam kamar mandi.
"Udah aku panasin airnya, masa aku ngasih istri kesayangan aku ini pake air dingin?"
"Uuuh, sayangku." Fisha mencium pipi Kainal dan turun di bathub. "Kamu mau kemana?" tanya Fisha.
"Buka baju sayang," jawan Kainal. Fisha mengangguk.
Mereka pun mandi bersama. Dan segera melakukan aktivitas sholat.
Usai sholat, Fisha menyentirka kemeja yang akan di pakai suaminya untuk wisuda.
Sedangkan Kainal berada di dalam kamar mandi sedang BAB.
"Gini kalau ada istri," ucap Kainal memperhatikan Fisha menyisir rambutnya.
"Udah," ucap Fisha tersenyum memutar-mutar badan suaminya dan tersenyum.
"Kita lessgo?" tanya Kainal, Fisha mengangguk.
Mereka pun ke kampus untuk segera menghadiri acara wisuda. Akhirnya yang di tunggu-tunggu oleh Fisha telah datang.
Nilai yang di dapatkan cukup tinggi di jurusannya. Di kampus, mereka berfoto bersama dulu untuk saling melepaskan.
Fisha terus menempel di dekat Kainal, walaupun mereka beda jurusan.
"Eh tolong fotoin aku dan istriku," pinta Kainal pada temannya. Temannya itu pun mengambil ponsel Kainal dan memulai memotret mereka.
Wanita itu mendongak ke atas menatap Kainal, sedangkan Kainal menatap ke arah kamera dan berpose.
Gaya kedua, kini Kainal yang menatap dalam ke arah Fisha.
__ADS_1
Usai berfoto, Fisha di kejutkan seseorang dari belakang.
"Selamat kak," seru Ataar memberi bunga mawar ke arah Fisha.
"Lucu." Fisha hendak memeluk adiknya, tapi keburu di tarik oleh Kainal.
"Mau apa?" tanya Kainal dengan horor sehingga Fisha menyengir dan menggoyangkan tangannya.
Ataar tersenyum melihat kakak iparnya menyembunyikan sesuatu di belakang badannya.
Fisha yang melihat adiknya aneh, dia pun ikut menoleh ke arah Kainal.
"Apa?" tanya Fisha. Kainal menggeleng membuat adik iparnya menatapnya malas.
Beberapa saat. Fisha kembali di terkejutkan segerombolan orang berdatangan ke arah mereka.
Ternyata bapak-bapak kece beserta istri-istrinya dan anaknya.
Umi Aisha merentangkan tangannya. Fisha pun berlari memeluk kedua orang tuanya.
"Selamat ya sayang," ucap Altar pada anaknya. Fisha mengangguk.
"Makasih."
Ataar tersenyum tipis melihat itu. Dia memundur dari kerumunan dan pergi dari sana. Kainal menatap kepergian adik iparnya.
"Ini buat tuan putri papa." Altar mengeluarkan sebuah kado besar yang dia bawa untuk anaknya.
Fisha mengambil kado itu lalu memberikan ke pada Kainal, untuk di pegang.
Semuanya yang datang memberikan Fisha hadiah. Keberadaan Kainal seperti tak ada, padahal hari ini dia juga wisuda, tapi dia tak sama sekali di beri hadiah.
"Hadiah untukku?" tanya Kainal menenteng semua kado istrinya.
Mereka semua menoleh ke arah Kainal.
"Buat kamu? Bukannya udah di beri Fisha ya?"
Kainal menatap istrinya, tapi Fisha menggeleng. Dia tidak di beri apapun.
"Apanya?" tanya mereka berdua.
__ADS_1
"Ini semua hadiah untuk Fisha, kado buat kamu udah Fisha beri kalau malam," ucap Evan membuat kedua pasangan tersebut salah tingkah.
"Om Evan," pekik Fisha dengan cemberut. Sehingga mengundang gelak tawa.