Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 43 ~Bab kusus Ataar~


__ADS_3

Ataar mencoba berdiri dari lantai, karena sehabis ke ruang kerja papanya. Tubuhnya benar-benar sakit, dia hanya pura-pura kuat di depan uminya tadi.


"Sitt...." Ataar meringis kesakitan memegang belakangnya yang di cambok. Di saat berhasil berdiri, dia melihat pantulan belakangnya di cermin.


"Gue kaya bertato anjir," gumam Ataar memutar badannya yang memerah dan banyak luka. "Besok acara kelulusan gue. Apa besok semua orang akan seperti kemarin di acara kelulusan kakak? Apa papa akan memelukku? Dan mengucapkan selamatnya juga?Tidak mungkin, gue bukan orang spesial. Gue hidup di dunia hanya pembawa sial, kata papa," lanjutnya.


"Kakak kenapa kamu beruntung sekali? Gue juga ingin seberuntung dirimu," ucap Ataar.


Remaja itu menghapus air matanya. Lalu duduk di tepi ranjang. "Gue muak," teriak Ataar. "Tapi demi umi dan kak Fisha gue mencoba kuat. Walaupun kekuatanku gak sebanyak yang Allah pikirkan."


"Sittr, ngapain gue ngeluh? Bukannya ini nasib gue? Mana ada yang mau dengar keluh kesan gue?"


Sekitar beberapa menit mengeluh. Ponselnya berbunyi dia meraihnya dan membuka notif tersebut.



Tanpa di sangka Ataar tersenyum, tapi hanya sebentar dia membuang ponselnya ke arah lain.


Dia membuang badannya ke atas ranjang. Dan mulai menutup matanya perlahan.


Keesokan harinya, dia sudah bersiap dengan pakaian kemeja dan jas. Sehingga ketampanannya bertambah. Bahkan saat ini dia benar-benar copyan Altar.


"Ganteng banget anak umi," ucap umi Aisha yang masuk ke kamar anaknya.


Ataar berbalik dan tersenyum. "Ya dong, anaknya siapa dulu dong anaknya Aisha," seru Ataar tersenyum.


"Kamu tuh ya, cepat bersiap-siapnya lalu turun sarapan. Sini umi pasangkan dasinya."


Ataar mendekati uminya. Aisha pun mulai memperbaiki dasi yang di gunakan Ataar.


"Turunlah cepat," ucap Aisha. Ataar mengangguk, dia menyambar tasnya dan ikut turun ke lantai dasar bersama sang umi.


Di meja makan sudah terlihat Altar. Ataar yang tadinya tersenyum mengembang, kembali memurungkan penampilannya.


Altar menoleh dan tidak berucap. Aisha menyiapkan nasi goreng ke piringnya, pria paruh baya itu pun mulai makan.


Ataar ikut duduk dan mengambil untuknya sendiri. Dia juga mengambilkan untuk Aisha, uminya itu pasti sangat capek.


"Umi duduk, biar Ataar yang siapin," ucao Ataar menyuruh uminya.


Aisha tersenyum dan duduk.

__ADS_1


"Aku akan keluar kota hari ini," sahut Altar sehingga anak dan ibu itu menoleh.


"Hari ini, hari kelulusan Ataar kak. Apa gak bisa di tunda dulu?" tanya Aisha.


"Kemarin udah aku tunda sayang untuk hari wisuda Fisha, kini aku benar-benar harus pergi."


Aisha ingin berucap kembali, tapi Ataar menyela uminya.


"Gak papa umi, kan cuma acara kelulusan," sela Ataar mencoba mengyakinkan uminya. "Kerjaan apah lebih penting, gak papa."


"Ya sudah habiskan makan mu," pinta Aisha. Ataar mengangguk.


Aisha benar-benar kecewa dengan ucapan suaminya barusan.


Usai sarapan dan membantu uminya berberes dia berangkat ke sekolah.


Aisha tidak sama sekali mempedulikan Altar yang masih ada di rumah.


"Sha," panggil Altar. Aisha tidak membalasnya, wanita itu hanya fokus menyusun piring. Usai menyusun dia ke kamar menyiapkan hadiah yang akan dia berikan kepada putranya, hanya dia, Altar tak sama sekali memberinya.


Altar duduk di samping sang istri. "Kerjaan kakak benaran padat sayang," bujuk Altar pada istrinya.


"Bukan begitu Aisha, kakak mau datang, tapi pekerjaan kakak padat."


"Kan aku udah bilang gak papa, kakak pergi aja. Gimana sih?" tanya Aisha. "Pergi kalau itu memang penting," lanjut Aisha memasuki kamar mandi, untuk mandi bukan buat makan.


Altar menghela napas. Gara-gara anak itu lagi, dia kembali bertengkar dengan sang istri.


Beberapa menit, Aisha kembali keluar dari kamar mandi. Altar belum berangkat kerja.


"Kenapa belum berangkat? Katanya pekerjaan penting," ucap Aisha. "Pergilah cepat, nanti terlambat," lanjutnya.


Altar berdiri dan mencium pucuk kepala istrinya lalu berangkat ke kantor.


Aisha hanya menghela napas.


💗💗💗💗💗💗💗


Ataar di kejutkan oleh ketiga temannya.


"Ganteng banget brother," puji sang teman.

__ADS_1


Ataar tidak mempedulikan ucapan temannya. Dia menunggu seorang gadis, yang selalu membawanya bekal ke sekolah.


Beberapa hari ini gadis itu tidak menemuinya selama di sekolah. Padahal dia masuk, tapi tidak menghampirinya. Semalam gadis itu mengatakan akan membawakannya bekal.


"Kak Ataar," ucap seorang murid sehingga Ataar dan teman-temannya menoleh.


"Ini." Murid itu memberikan Ataar paperbang. Usai memberinya murid itu pergi dari sana.


"Dari Ara?" tanya temannya. Ataar menaikkan bahunya, temannya ingin mengambilnya tapi Ataar menepis tangan lelaki itu.


"Lah? Biasanya lo akan memberikan ke kita," ucap Gibran.


"Gak sekarang, gue lapar. Belum makan, jadi gue mau makan bekal ini," ucap Ataar dengan suara dinginnya.


Ketiga temannya memalas mendengar tuturan Ataar.


"Kalian pergi beli ke kantin aja." Ataar berikan mereka duit sehingga mereka berseru dan berlari ke arah kantin. Mumpung acaran wisuda belum di mulai.


"Kok bukan dia yang ngantar?" tanya Ataar heran. Dia kira bakal Vieara yang akan mengantar bekal tersebut kepadanya. Tanpa berpikir panjang, Ataar menyimpan bekal itu ke dalam tasnya.


Vieara yang melihatnya dari kejauhan hanya menghela napas. Dia berpikir Ataar akan membuang bekalnya nanti, tapi setidaknya. Vieara tidak akan melihatnya.


Gadis itu berbalik badan dan memasuki kelasnya kembali di saat Ataar tak sengaja menjatuhkan pandangannya ke arahnya.


Acara kelulusan pun di mulai. Ataar mendapatkan nilai tertinggi di urutan ketiga. Mendapatkan nilai tertinggi di sekolah itu sangatlah susah, untunglah Ataar memasuki salah satu nilai tertingginya.


Umi, kakak dan kakak iparnya datang memberinya selamat. Bahkan sahabat papanya datang ikut merayakan, tapi Ataar merasa itu tak lengkap di saat papanya tak datang, dia hanya ingin papanya. Dia ingin di beri selamat dari mulut papanya.


"Selamat." Vier memeluk remaja itu, Ataar pun membalas pelukan Vier.


Mereka berempat sangat tahu gimana kesedihan Ataar saat ini. Entah apa isi kepala sahabat mereka sehingga masih saja memperlakukan Ataar seperti ini.


Ataar mendapatkan hadiah banyak dari mereka. Sama seperti hadiah kakaknya kemarin, tapi hadiah untuk kakaknya benar-benar lengkap karena mendapatkan pelukan, selamat dan hadiah dari sang papa.


Fisha memeluk adiknya. "Gak papa," bisik Fisha. Ataar mengangguk. "Selamat sayang." Fisha mengunyel pipi adiknya sehingga lelaki itu cemberut. Mereka pun berfoto bersama.


Ataar melihat Viera, sepertinya memperhatikannya. Gadis itu memberikan buket bunga ke arah murid untuk di bawakan kepada Ataar.


Murid itu memberikan bunga tersebut ke Ataar. Ataar pun mengambilnya.


Lelaki menyium bunga itu dan kembali ke arah umi dan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2