Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 29 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Xaviel menatap langit malam. Dia menghela napas, pakai cara apalagi bisa membuat Alya memaafkannya.


"Nak, kok belum tidur?" tanya daddynya.


Xaviel menoleh kebelakang lalu nyengir. "Gak papa," jawab Xaviel.


"Ok, liburlah besok," ucap daddy Revandra.


"Kenapa daddy?"


"Daddy mau liburan dulu sama mommymu. Kalau kau ingin libur juga pergilah, tapi gak sama kami."


Xaviel berdecak kesal mendengar ucapan daddynya. "El gak mau ya sampai daddy kebobolan, aku gak mau punya adik lagi," sahut Xaviel. Sehingga Revandra terdiam mendengar ucapan anaknya.


"Kok gitu sih?" tanya Revandra.


"Terserahlah, pokoknya gak mau. Daddy keluarlah, aku mau tidur," usir Xaviel.


Revandra memutar bola matanya dan beranjak keluar kamar anaknya.


Lelaki itu membuka ponselnya. Hidupnya kali ini benar-benar sepi. Dia mencoba kembali menghubungi Alya. Memberinya spam, ataupun kejutan-kejutan lainnya yang membuat gadis itu tenang setelah melihat dan mendengar apa yang dia kirim. Dia juga sering mengirimkan paket kerumah gadis itu, Xaviel tidak ingin membuat Alya stress dan mengambil jalan yang salah, apalagi mendengar ucapannya satu bulan lalu membuatnya waspada. Takut gadis itu berbuat nekat melukai Fisha kapan pun dia mau.


"Abang," teriak Vieara berlari menaiki ranjang abangnya. Memeluknya dengan erat.


"Kenapa?" tanya Xaviel melihat adiknya berkeringat. Gadis itu menangis di pelukan abangnya.


"Ara mimpi buruk," jawabnya dengan sesengukan. Xaviel pun memeluk adiknya, berusaha menenangkan.


"Udah ya, itu hanya mimpi," bujuk Xaviel.


Vieara menggeleng. "Itu kelihatan nyata abang, Ara takut," aduh Ara.


Xaviel menidurkan adiknya. Berusaha menenangkannya dan menyuruhnya tidur. Tidak butuh waktu lama, gadis itu sudah terlelap. Lelaki itu mencium pipi adiknya, menggendongnya ke kamarnya kembali.


Lelaki itu menyelimuti adiknya. Tangannya masing di genggam erat oleh Vieara.


"Ataar," gumam Vieara. Gadis itu mengeluh lagi, dengan air mata masih mengalir.


Xaviel menenangkan adiknya, karena sudah tenang. Xaviel mematikan lampu kamar, dan keluar dari sana menuju kamarnya sendiri.


Keesokan paginya. Daddy dan mommynya akan berangkat ke LN untuk berlibur tanpa membawa mereka berdua pergi. Xaviel dan Vieara sudah berpesan kalau mereka tak ingin mempunyai adik, karena mereka berdua sudah sangat dewasa.


Xaviel dan Vieara memutar bola mata malas melihat perlakuan kedua orang tua mereka.


"Arkk. Pergi sana cepat-cepat," usir Vieara sudah muak melihat daddy dan mommynya bucin tak tau tempat.

__ADS_1


"Jaga adikmu Xaviel," perinta mommy Gracel dan memasuki mobil di ikut oleh Revandra.


Mereka berdua melambaikan tangannya. Xaviel mengantar adiknya ke cafe, katanya akan mengerjakan tugas sekolah bareng teman.


"Tas kamu kok berat, isinya apa?" tanya Xaviel ingin membuka tas ransel adiknya. Namun, cepat-cepat Vieara mengambil tasnya dan berlari masuk ke dalam cafe.


"Telfon aku kalau kamu sudah ingin pulang," teriak Xaviel. Vieara mengangguk dan menaikan jempolnya.


Xaviel geleng-geleng dan kembali memasuki mobilnya. Hari ini dia akan membeli bunga dan coklat untuk Alya, dia akan datang ketempat di mana Alya bekerja. Gadis itu bekerja paruh waktu.


Alya yang sedang menyusun paket untuk di bawa kurir. Dia membalikan badannya dan langsung memegang dadanya karena terkejutkan oleh Xaviel. Alya berjalan tanpa mempedulikan adanya Xaviel. Baginya lelaki itu hanyalah angin.


"Lo udah makan belum? Gue ada dua porsi makanan. Kita makan bersama yuk," ajak Xaviel tersenyum.


Alya seakan tak mendengar ucapan Xaviel. Dia kembali mengambil paket dan melamparnya ke kurir.


Alya tersenyun dan menaikan jampolnya di saat kurir itu menangkapnya dengan tepat.


"Kalian istirahatlah dulu, waktunya makan siang," teriak atasan.


Alya dan yang lain mengangguk. Xaviel masih senantiasa mengikut Alya.


"Gue bawa buket bunga dan coklat loh," seru Xaviel.


"Gak suka," jawab Alya berjalan cepat mencari warung untuk membeli roti dan air mineral.


"Gak usah mbak, ambil ini aja. Yang dia kasih tadi kembaliin atau buat mbak aja," seru Alya pergi dari sana.


Xaviel tersenyum ke penjual warung dan berlari mendekati Alya.


"Besok ngampusnya masuk siang? Nanti gue antar ya, nanti siap sedia aja di rumah," imbuh Xaviel.


Alya berhenti membuat Xaviel juga berhenti. "Gak usah urusin kehidupan orang. Emang anda gak punya kerjaan?"


"Hari ini hari libur, jadi bisa dong kita jalan-jalan?"


"Sorry gak bisa, anda pulanglah," jawab Alya.


Xaviel menghela napas. Alya kembali ketempat kerjanya. Xaviel menitipkan buket bunga dan coklat itu pada teman kerja Alya, di simpankan untuk gadis tersebut.


Alya menoleh kebelakang dan menatap kepergian Xaviel. Dia meremas roti yang dia pegang. Air matanya jatuh ke pipi putihnya.


"Alya, tolong di bungkus yang ini, bisa?" tanya teman kerjanya.


Alya mengangguk. Dia mengerjakan apa yang di suruh.

__ADS_1


💚💚💚💚💚


Kainal mengangkat tubuh istrinya naik ke atas ranjang. ia memeluk pinggang Fisha. Sedangkan Fisha mengiringkan rambut suaminya.


"Sekarang hari libur kita jalan-jalan?" tanya Kainal.


Fisha mengangguk. "Sebenarnya, aku cuma butuh waktu kamu. Bukan, ingin jalan-jalan kemana-mana, tapi aku ingin jajan kaki lima. Boleh?"


Kainal mengangguk. "Kita akan ketaman yang banyak jajanan kaki lima.


"Huek...." Fisha berlari memasuki kamar mandi. Dan memuntahkan cairan mening.


Kainal memijat tengkuk leher istrinya dan memberinya minum. Dia menggendong istrinya ke sofa.


"Gak papa gak usah khawatir, mungkin ini hanya masuk angin. Semalamkan, aku nunggu kamu di balkon."


"Lain kali gak usah nunggu ya. Kalau ingin nunggu, nunggungnya di dalam aja," cecar Kainal.


Fisha mengangguk. "Aku mau pangsit, tapi jangan kamu yang beli."


"Kita pesan goofod aja?" tanya Kainal, Fisha kembali mengangguk. "Jalan-jalannya di tunda?" tanya Kainal.


"Iya, aku malas keluar," jawab Fisha mengeluh. Menaroh kepalanya di dada bidak sang suami yang saat ini sedang memangkunya.


"Manja banget," ledek Kainal. Fisha tidak mempedulikan ledekan Kainal. Dia fokus menujuk-nunjuk perut kotak suaminya.


"Sebelum menikah kamu sering gym ya?" tanya Fisha.


"Ya, tapi setelah menikah kamu sering membantuku olahragakan? Bukannya kamu yang jadi alatnya buat aku olahraga malam?"


Fisha mendengus kesal. Dan kembali memeluk Kainal dengan erat.


Pintu di ketok. Kainal pun menurunkan istrinya dari pangkuan dan beranjak membuka pintu.


"Nah, katanya punya kakak," sahut Kaira. Kainal mengangguk.


"Kak Fisha, baik-baik aja?" tanya Kaira.


"Habis muntah, terus dia minta dibeliin pangsit. Makanya kakak pesan, makasih ya," jawab Kainal menutup pintu kembali. Sesudah di berikan pangsit dan mangkok oleh adiknya.


Fisha tersenyum dan duduk di karpet. Kainal pun menyiapkan pangsit itu ke mangkok.


"Baca do'a dulu sayang," pinta Kainal.


"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar." Kainal tersenyum dan mengacak rambut istrinya dan segera menyuruhnya makan.

__ADS_1


^^^Artinya: ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.^^^


__ADS_2