
Kainal dan Vier menerobos masuk ke dalam kamar. Mereka melihat Fisha dan Mommy Gracel berada di atas ranjang dan saling berpelukan.
"Hati-hati, Nal," peringat sang ayah. Ada pecah beling di bawah ranjang, serta bercak darah.
Dengan hati-hati Kainal menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dia mengambil selimut dan menutupi badan istrinya, karena Revandra dan juga Xaviel ikut masuk.
Vier meraih kertas yang berlemuran darah tersebut.
"Bersenang-senanglah hari ini dan esok, karena maka esok lusa, kalian akan hancur, kalian tak akan pernah bisa mengetahui siapa sebenarnya orang meneror wanita cantik yang sedang mengandung itu. Sepertinya dia cantik dan menggoda, apa untung untuk di lac*r secara bergilir? Pasti sih, lagian dia sedang hamil. "
Vier melampar kertas itu menjauh. Dia mengusap wajahnya kasar, semoga ini hanya ancaman semata. Seseorang itu hanya ingin menakuti mereka.
"Itu semua tak akan pernah terjadi, selama Fisha di jaga ketat. Kita tidak akan ada yang bisa mencelaki menantuku," ucap Vier.
"Kainal, aku takut," ucap Fisha mendongak ke atas. "Gimana kalau itu benaran terjadi?" tanya Fisha.
"Gak akan terjadi, selama kamu tetap ada sisiku kamu akan baik-baik aja," cusp Kainal.
"Jangan pergi," pinta Fisha memeluk suaminya dengan sangat erat.
Xaviel berlari ke arah balkon. Menelusuri bangunan tinggi. Dari mana orang itu melempar botol kaca? Terlihat jelas, bangunan apartemen itu sangat rata dan begitu berjarak. Sulit bagi orang untuk memanjat, dan kenapa juga seseorang itu cepat sekali menghilang.
Dia menatap balkon apartemen sebelah. Lampu balkonnya, tidak mati. Xaviel mengeluarkan sedikit tubuhnya, berharap orang melempar botol ada di sana. Namun, bayangan pun tak ada dia dapatkan.
Xaviel kembali masuk ke dalam kamar.
"Jejaknya hilang," ucapnya di saat daddynya menatapnya butuh penjelasan.
Kainal mencium kening istrinya. "Tenang ya, aku di sini," ucap Kainal.
Fisha mengangguk, dia mencoba mengatur napasnya. Dia sangat panik.
"Kainal ayo ke rumah Ayah, aku takut di sini," pinta Kainal.
Mereka semua yang mengerti keluar dari kamar, membiarkan Fisha berganti pakainnya.
"Bersiaplah, ayah tunggu di depan."
kainal mengangguk. Dia menuntut istrinya duduk, dan membuka lemari mengambil pakaian untuk istrinya.
"Kamu ganti pakaian dulu, ya? Terus kita pulang ke rumah Ayah."
Fisha mengangguk. Dia hanya diam, di saat suaminya itu mengganti pakainnya.
Usai mengganti pakainya, Kainal menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.
Mereka semua menoleh, akhirnya mereka pergi dari apartemen.
Kainal satu mobil dengan Xaviel, karena yang lain sudah penuh.
__ADS_1
Fisha hanya bermanja di dada Kainal, tanpa sadar bahwa sahabatnya ada di sana.
"Perutnya udah gak sakit?" tanya Kainal, sambil mengusap punggung istrinya.
"Dikit," jawab Fisha mendongak ke atas. Dari matanya, Kainal tahu kalau istrinya mencoba tersenyum.
Xaviel yang melihat di pantulan kaca, hanya tersenyum tipis. Sakit sih sakit, melihat orang yang kita cinta bermesraan di depan kita, tapi dulu juga dia memperlakukan seperti kepada Fisha.
Sesampainya di halaman rumah Vier, Kainal menuntut istrinya ke dalam rumah.
"Gak masuk dulu?" tanya Vier.
Mereka menggeleng.
"Ini masih malam, mau lanjutin buat adek untuk Celi," teriak Evan, bercanda.
"Terima kasih buat kalian," ucap Kainal. Mereka mengangguk.
"Kami pulang dulu," ucap mereka.
Setelah kepergian semuanya, Kainal, Vier serta Fisha masuk ke dalam rumah.
"Ajak istrimu ke kamar, dia masih butuh istirahat," pinta Vier.
Kainal pun membawa istrinya ke kamarnya. Sampainya di kamar, Fisha kembali merebahkan badannya sambil memeluk sang suami.
Pikiran calon abi itu melayang kemana-mana, entah apa jadinya nanti kalau istrinya sedang dalam bahaya. Bukan hanya istrinya. Bahkan, anaknya juga.
Keesokan paginya, bunda Harumi dan Kaira sempat terkejut kedatangan mereka berdua, tapi setelah di jelaskan mereka mengerti.
"Untunglah, kakak baik-baik aja," ucap Kaira memeluk kakak iparnya.
Fisha hanya tersenyum tanpa berhenti membuka mulut di saat suaminya menyuapinya makan.
"Bunda tidak akan ke ponpes, bunda mau nemanin menantu dan cucu bunda," sahut bunda Harumi menyium pipi menantunya.
"Makan yang banyak," ucap Harumi. Fisha hanya mengangguk.
"Jangan di lihatin bunda," ucap Kainal, tahu saat ini Fisha merasa tak enak di lihatin makan.
"Yaudah, bunda mau ke kamar dulu."
"Ai, tolong temanin kakakmu dulu," pinta Kainal menuju dapur untuk mengambil minum untuk istrinya.
"Kak Fisha, udah berapa bulan?" tanya Kaira membelai perut kakak iparnya.
"Lima bulan."
"Gak UGS?"
__ADS_1
Fisha menggeleng. "Udah USG, tapi kakak mau rahasiain jenis kelaminnya, lagian perempuan dan laki-laki tak masalah."
"Emang kamu mau keponakan perempuan atau laki-laki?"
"Kalau boleh dua kenapa harus satu?"
"Tapi anak kakak cuma satu."
"Yaudah sudah lahir itu, buat lagi dong," seru Kaira.
"Betul, pintar banget adik gue." Kainal yang baru saja datang memberi jempol ke arah adiknya.
Fisha hanya putar bola matanya malas. Buatnya sih enak, tapi kalau udah ngandung dan lahirinnya gak enak.
"Enak aja ngomongnya, mentang-mentang situ gak lahirin."
Kainal hanya nyengir dan memberi istrinya minum. Fisha pun meminum air tersebut.
💚💚💚💚💚💚💚
Altar, Aisha serta Ataar sudah sampai di bandara seokarno-Hatta.
Tak butuh waktu lama taksi datang, mereka pun menaiki taksi itu dan secepatnya pulang.
Kini keadaan sudah membaik, Aisha bernapas lega, tapi dia juga masih akan memantau suaminya. Dia takut, kalau Altar hanyalah berpura-pura menyayangi Ataar hanya untuk mendapatkan kesempatan.
Sesampainya mereka di rumah, Altar mendapatkan telfon dari adik sepupunya.
Ataar membantu uminya memangkat barang ke dalam rumah, padahal Aisha melarang lelaki itu mengangkat barang berat-berat. Namun, namanya juga Ataar keras kepala dan suka ngeyel.
"Duduklah, nanti Papa yang akan mengangkat lebihnya. Kamu baru sembuh jangan terlalu capek!" perintah sang umi.
"Iya umi," sahut Ataar.
📱"Apa? Aksa udah keluar dari penjara?" tanya Altar.
📱"Iya, pihak polisi baru ngabarin gue tentang bebasnya Aksa," jawab adik sepupu Altar yang tak lain adalah Atlanta.
📱"Sialan."
📱"Lo harus waspada sih, senin depan gue kembali ke Indonesia."
📱"Tapi belum mereaksi?" tanya Altar.
📱"Entahlah, kan lo yang ada di sana. Gue takutnya, dia menyalakai Aisha kembali ataupun keponakan gue. Lo tahukan, gimana liciknya pria hidung belang itu? Udah keluar masuk penjara, tapi belum ada tobat-tobat, gue gak yakin dia gak berubah. Dia melakukan hal sesuatu untuk kita."
Altar mengusap wajarnya datar.
📱"Tapi di sana kalian baik-baik saja?" tanya Atlanta.
__ADS_1
📱"Gue belum tahu, gue baru balik Australia. Gue bakal bicara dengan Vier."
.