Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 76 ~Fallbck 2~


__ADS_3

Sepeninggalan Evan di club itu, dia masih terdiam. Bahkan keempat sahabatnya jadi bingung dengan sikap Evan yang biasanya cerewet kini hanya diam.


Evan terus kepikiran hal tadi. Dia benar-benar tak percaya kalau dia menyentuh seseorang bukan muhrimnya apalagi itu adalah Ilona. Namun, bercikan darah, tak bisa mengelak semuanya kalau benar dia yang mengambil keperawanan Ilona.


"Evan, lo kenapa njir?" tanya Vier menggoyangkan lengan Evan, sehingga Evan tersadar dari lamunannya dan mengusap wajahnya kasar.


Evan menatap ke arah sahabatnya dengan tatapan pucat. "Gue gak papa," ucap Evan. Pesan masuk dari ponselnya membuat Evan langsung melihatnya, ternyata pesan dari sang kekasih.


Akankan, Evan jujur kepada Kiara dan keempat sahabatnya? Tapi dia takut, di saat dia jujur pernikahana yang dia akan laksanakan dengan Kiara berjalan tak sesuai.


🗯"Evan, tumben gak ke rumah? Apa kamu sibuk kuliah?" tanya Kiara di pesan itu.


🗯"Maaf sayang, aku lagi ngumpul dengan yang lain. Maaf tak memberi tahumu terlebih dahulu."


🗯"Iya gak papa, aku hanya ingin tahu kamu di mana. Btw kata bunda, kita berdua gak bisa bertemu sampai hari pernikahan."


🗯"Kok gitu sih, emang ada peraturan gitu? Gimana kalau aku kangen?" tanya Evan.


🗯"Gak tau Evan, sabar aja ya. Mungkin ini jalan yang terbaik. Lagian sebentar lagi ok."


🗯"Yaudah."


Evan langsung tersenyum, Kiara memang bisa membuat pikirannya rileks


"Van, lo gak ada masalahkan?" tanya Cakra. Evan menoleh lalu terdiam sesaat lalu menggeleng.


"Gue cuma deg-degan minggu depan guekan dah nikah."


"Bikin rileks aja," ucap Altar.


Di antara mereka, baru Altar dan Vier yang baru menikah usia muda. Dan sama-sama atas perjodohan bukan cinta, tapi buktinya sekarang, mereka sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Aisha sudah hamil di usia enam bulan, sedangkan istri Vier sudah sebulan.


Evan menghela napas kasar lalu mengangguk.


Hari terus berlaru, kini tepat hari pernikahan Evan Kiara. Evan sudah tak memikirkan hal seminggu yang lalu. Dia menganggapnya sebagai angin.

__ADS_1


Namun, ada sedikit di hati kecilnya khawatir, dia takut Ilona datang dan menggagalkan pernikahannya.


Evan berkeringat dingin di saat menjabat tangan dengan penghulu.


Semua bernapas lega, begitupun dengan Evan yang mengucapkan ijab qabul ketiga kalinya salah dan keempatnya di nyatakan sah secara agama dan hukum.


Evan mencium kening istrinya, dengan lembut. Evan dan Kiara tersipu di saat semua orang, terutama keempat sahabatnya berteriak untuk berciuman bibir.


"Ayo-ayo," teriak mereka bersama.


Evan dengan ragu mendekatkan bibirnya dengan bibir Kiara. Evan hanya memangutnya sebentar.


"Hore, Evan jomblo karetan akhirnya. sudah log out."


"Lo kira, akun log out."


Mereka tertawa melihat Vier yang sangat hebo, walaupun sudah hampir jadi orang tua bobroknya tak hilang.


saat asik berbincang, tiba-tiba Evan melihat objek yang buat dia was-was selama ini.


"Ilona," gumam Evan, dia izin Kiara untuk pergi ke toilet, tanpa banyak tanya Kiara mengiyakan.


"Please jangan buat kekecawaan," ucap Evan memohon.


"Lo baca aja dulu surat itu."


Evan membuka surat itu lalu mulai membacanya, tangannya bergetar membuang kertas itu.


"Gak mungkin anjir, itu bukan anak gue. Gue tak sama sekali menyentuh lo!" tegas Evan. "Jangan mengada-ngada, lo licik bisa aja lo nipu gue!"


"Eh, lo brengsek anjir! Kalau lo gak mau tanggung jawab, gue bakal minta pertanggung jawabanan Kiara, biar tahu suaminya itu cowok brengsek."


"Sialan." Evan menarik dengan kasar tangan Ilona yang ingin pergi.


"Gimana, gue bakal gugurin anak ini kalau lo gak mau tanggung jawab, dan gue bakal memberi tahu Kiara!"

__ADS_1


"Jangan coba-coba, Ilona!" bentak Evan. Lelaki mengusap wajahnya kasar. "Baiklah, gue bakal tanggung jawab. Walaupun gue gak yakin anak yang ada di kandungan lo itu anak gue."


"Nikahin gue," ucap Ilona.


"Gilak lo?"


"Ya gue gilak, karena lo anjing," teriak Ilona.


"Please Ilona, gue bakal tanggung jawab tapi tidak dengan menikahi lo. Gue bakal membiayi hiduplo dengan bayi itu. Gue bakal nurutin permintaan lo, selain menikah."


"Buat gue dan anak ini, hidup bahagia! Buat dia merasakan seperti anak lo nanti dengan Kiara."


Evan yang awalnya diam, langsung mengangguk. "Tapi tolong, jangan ganggu keluarga gue!" Evan memberikan beberapa kartu hitam ke Ilona.


"Lo bisa mengambil kartu ini, tapi jangam muncul di hadapan gue. Lo bisa menghubungi kalau uang yang ada di salam sana habis."


"Lo pikir dengan cara ini cukup?"


"Terus apa lagi?" tanya Evan.


"Lo mau anak ini tinggal di rumah kecil, sedangkan nanti anak lo dan Kiara bakal hidup di rumah mewah."


"Sialan, ini pasti akal-akalan lo doang. Gue bakal beliin lo rumah. Sekarang lo pergi dari sana, jangan ganggu hidup gue please."


"Gue pegang janji lo, jangan sampai kabur."


Evan berdehem keras. Kepergian Ilona, Evan menghela napas kasar lalu kembali kepesta.


"Kenapa wajah kamu?" tanya Kiara.


Evan menggeleng. Dia menarik pinggang Kiara. Dan tersenyum ke arah tamu.


Kedua sahabat Kiara datang dan langsung memeluknya.


"Awas, Aisha," peringat Altar.

__ADS_1


"Selamat ya, sekarang tinggal gue yang gak dapat jodoh," lirih Alma.


Aisha dan Kiara saling melirik ke arah Cakra sehingga Alma tersipu.


__ADS_2