Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 48 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal memperhatikan lukanya yang semakin pedih. Dia menatap ke dalam kamar mandi, istrinya itu masih mandi.


Dia pun mengambil jaket miliknya dan pergi untuk membeli obat di apotek. Sekalian beli susu kehamilan yang sudah hampir habis.


Sampainya di apotek dia segera membeli obat yang di inginkan. Di samping apotek ada supermarket sehingga tidak membuatnya susah. Dia pun ke supermarket tersebut.


Usai dapat susu, dia juga berniat ke cafe untuk memasan makanan. Istrinya pasti gak sempat masak di rumah. Jadi dia berpikir akan membeli makanan di luar.


Kainal baru saja ingin memberitahu Fisha bahwa dia di luar jangan menyiapkan makan, atau mencarinya. Tiba-tiba ponselnya mati.


"Dia pasti akan menungguku," ucap Kainal menuju cafe terdekat.


Di cafe pasti kita ngantri dan menunggu pesanan datang. Itu yang membuat Kainal lama di cafe tersebut.


Tanpa di sangka, Alya kerja di cafe tersebut. Gadis itu melihat Kainal.


Kainal juga sempat memesan jus jeruk, agar menghilangkan rasa bosannya menunggu. Alya pun dengan niat busuknya mencampur obat mabuk ke jus Kainal, dan menyuruh pelayaan yang lain untuk mengantarnya.


Sampai di sana. Kainal tanpa tak tahu campuran jus itu pun meminumnya.


Tiga menit setelah meminum jus tersebut, perasaan Kainal merasa aneh.


"Kok kepalaku pusing?" tanya Kainal mengejap-mengejapkan matanya. Pesanannya datang membuatnya mengambil pesanan tersebut dan pergi dari cafe.


"Kainal," panggil seseorang membuat lelaki itu menoleh dengan badan yang mulai teler.


"Lo Al-ya?" tanya Kainal menunjuk Alya.


"Kainal gue cuma ngasih tahu ke lo, Xaviel dan Fisha tuh menghiaknati lo," ucap Alya berusaha meracuni pikiran Kainal. "Lo tau? Fisha masih cinta dengan Xaviel, begitupun dengan Xaviel. Lo yakin mereka tak mempunyai hubungan?" tanya Alya.


Kainal terdiam sesaat lalu berkata. "Fisha gak kaya begitu," ucap Kainal.


"Yaudah kalau gak mau percaya, yang jelas lo hati-hati ya. Biasanya tuh, sahabat adalah cinta pertama dan seterusnya."


Usai mengatakan itu Alya kembali masuk ke dalam cafe untuk bekerja.


Kainal terdiam sesaat mencerna semua ucapan Alya barusan. Pikarannya sudah di penuhi dengan masalah yang tadi.


"Fisha gak cinta sama aku?" tanyanya bergumam. Dia menuju parkiran.


Walaupun teler, sepertinya dia masih bisa mengendarai motor dengan benar.


Sesampainya di rumah. Dia membunyiikan bell dengan berulang kali.

__ADS_1


"Halo sayang, ehmmmm.... Bukan, sayangnya Xaviel." Kainal tertawa dan menepis bahu Fisha yang mengalangi jalannya.


Dengan linglung dia menuju kamar. Dia langsung meremahkan badannya di kasur.


Dia berbalik di saat istrinya datang.


"Halo istriku." Kainal berdiri dan mendekati Fisha. "Kamu cinta aku atau Xaviel?" tanya Kainal menunjuk dirinya sendiri.


"Aku suamimu aku juga ikutan terluka di saat bersamaan dengannya, tapi bukannya nolong suami dulu..." Kainal terjatuh ke pundak Fisha. "Hati aku sakit, kamu tahu?"


"Kainal kamu apa-apasih? Pulang-pulang kaya gini."


"Cuma jawab, kamu cinta aku atau Xaviel?" tanya Kainal dengan nada agak meninggi.


"Ya jelas aku mencintamu, kamu suamiku."


"Bohong! Kamu bohong," timpal Kainal. "Kamu masih mencintai Xaviel dia cinta pertamamu dan terusnya seperti itu."


Kainal berlutut di bawah Fisha. "Fisha aku kurang apalagi? Apa aku kurang perhatiaan? Aku kurang baik darinya? Kurang tampan? Harus bagaimana lagi aku membuktikannya?" tanya Kainal mendongak ke atas dengan air mata terus mengalir.


Fisha ikut berjongkok. Dia membangunkan suaminya dari sana. "Udah kamu udah sempurna di mataku, aku mencintaimu berulang kali aku katakan aku mencintaimu. Bukan dia lagi," ucap Fisha mendudukan suaminya di ranjang.


"Aku mencintamu," gumam Kainal memeluk Fisha dengan menangis. "Jangan buat aku cemberu," ucap Kainal.


Namun karena suaminya itu rewel. Dia membuang rasa mualnya dan mencium bibir suaminya.


"Jangan nangis lagi," ucap Fisha. Kainal ambruk ke kasur.


Fisha menghela napas. Dia melepas sepatu suaminya serta pakaiannya yang baunya innalilahi.


Kainal memeluk Fisha. "Sayang aku?" tanya Kainal. Fisha mengangguk. "Cinta aku?"


Fisha kembali mengangguk. Fisha berusaha melepaskan pelukan Kainal yangl terlalu erat.


"Aku cinta kamu," gumam Kainal mulai menutup matanya.


Fisha memperbaiki posisi tidur Kainal di ranjang. Menyelimutinya, lalu dia beralih masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu melaksanakan sholat isya.


Usai sholat dia turun ke lantai bawah untuk mematikan lampu. Mungkin kalau menunggu mertuanya pulang akan lama, jadi Fisha memilih tidur.


Dia kembali ke kamar. Memandang lekat wajah suaminya yang tidur dengan pulas.


Fisha ikut menaiki ranjang, ikut memasuki selimut tebal yang menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


"Maafin aku," ucap Fisha membelai rambut Kainal. "Tadi benar-besar refleks, dia berada di depan aku dan tangannya terluka," lanjutnya.


"Cemburu? Gak papa kamu berhak cemburu." Fisha memeluk badan suaminya, tapi dia teringat bahwa tangan lelaki itu luka.


Dia beranjak bangun dan meraih tangan kiri sang suami. Lukanya sangat parah, apalagi luka kupasan.


Fisha meringis. Beranjak mengambil kotak p3k, mulai mengobati suaminya.


Desisan terdengar dari mulut Kainal. Di saat lukanya di bersihkan.


"Aku yang salah di sini. Sudah pasti kamu akan cemburu melihat aku khawatir terhadap Xaviel, tapi percayalah itu hanya rasa simpati. Aku udah gak punya rasa lagi terhadapnya. Sekarang aku hanya mencintaimu," gumam Fisha. "Maaf aku tak melihat kamu juga terluka, kalau tahu. Aku akan lebih dulu mengkhawatirkanmu, besok-besok jangan kaya gini lagi. Jangan minum-minum lagi, kamu sangat anti alkohol, besok kamu akan muntah."


Usai mengobati luka Kainal. Fisha menyimpan di atas nakas lalu tidur sambil memeluk suaminya.


Keesokan paginya, benar apa yang di katakan Fisha. Kainal muntah di pagi hari bukan hanya sickness, tapi karena minum alkohol.


"Kamu gak papa?" tanya Fisha memberi minum suaminya.


Kainal menggeleng. "Gak papa," ucap Kainal.


Fisha membersihkan bibir suaminya. "Tenggorakanya gak enak? Mau aku buatiin minuman madu?"


"Gak usah," jawab Kainal duduk di tepi ranjang.


"Mau makan apa hari ini?" tanya Fisha.


"Terserah kamu," jawab Kainal.


Fisha menghela napas. Dia beralih memegang tangan suaminya. Namun, Kainal menepisnya.


"Biar aku lihat," ucap Fisha. Kainal menggeleng.


"Gak usah. Udah baik-baik aja."


Fisha menunduk. "Kamu masih marah?" tanya Fisha. "Aku minta maaf."


"Jangan minta maaf, aku gak suka wanita minta maaf," ucap Kainal.


"Tapi aku salah Kainal, ak-u ga-k tau kalau kamu juga terluka. Aku terkejut dan langsung menangkap tangannya, karena dia ada di depanku. Itu hanya rasa kasihan bukan yang lain." Fisha mencoba menjeleskan pada suaminya.


Fisha menangis membuat Kainal menarik tangannya dan memeluknya.


"Aku tahu, jangan menangis," bisik Kainal mencium pipi istrinya.

__ADS_1


__ADS_2