Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 46 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Aisha menceritakan semuanya kepada sang kakak. Awalnya Rigel terbawa emosi, tapi dia mencoba menahannya di depan sang adik.


"Kita harus membawa Ataar ke rumah sakit," sahut Rigel. Tubuh keponakannya semakin panas.


Aisha mengangguk. Mereka pun segera membawa Ataar ke rumah sakit untuk di tangani dokter.


Sesampainya di rumah sakit besar di Australia, Ataar cepat-cepat ditangani dokter.


"Bang." Aisha memegang tangan abangnya. Rigel pun mencoba menenangkan adiknya.


"Kita berdoa ya, Ataar baik-baik aja," ucap Rigel. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Aisha saat ini.


Ataar dari semalam tubuhnya sakit. Wajah yang pucat, bahkan sering kejang seiring waktu. Merasa pusing di bagian kepalanya.


Talita mengambil ahli tubuh adik iparnya.


"Sabar ya." Talita menghapus air mata yang terus mengalir di mata Aisha.


💚💚💚💚💚💚


"Keberadaannya gak bisa di lacak," ucap Cakra.


"Cari yang benar-benar!" celetuk Altar mengacak rambutnya furstasi.


"Woi." Evan menahan tangan Altar yang ingin kembali menghamburkan sesuatu di dekatnya.


"Jangan bikin kerebutan, Tar, Fisha di atas ketakutan," peringat sang besan.


Altar menenghela napas kasar, berulang kali.


"Lo yang sabar, ini semua juga salah lo. Andai lo gak perbuat seperti ini, mungkin Aisha tak pergi membawa Ataar jauh darimu."


"Telfon bang Rigel, siapa tau mereka ada di sana," sahut Kendra tepat.


Altar menggeleng. "Kalau mereka tak ada di sana dan bang Rigel tahu tentang masalah ini? Aku akan berusaha mencarinya sebelum memberi tahunya."


Mereka berempat mengangguk saja. Ini kehidupan keluarga Altar, dia yang akan memutuskan.


"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Kainal memeluk istrinya.


"Gak!" jawab Fisha ketus.


"Yaudah coba lihat ponselnya, lagi apasih? Sampai aku gak bisa lihat?"


"Mau cari suami," jawab Fisha menjauhkan badan Kainal.

__ADS_1


Kainal melepaskan pelukannya, dan cemberut.


"Bercanda sayang, ini lagi chatan bareng Genta," ucap Fisha menarik tangan suaminya dan memeluknya, tapi tatapan masih berada di ponselnya.


"Genta memberitahuku kalau umi dan Ataar berada di sana. Kamu mau kesana gak?"


Kainal mengejapkan matanya. "Tapi sayang-"


"Please, kita gak akan memberi tahu yang lain. Ini hanya rahasia kita," jawab Fisha.


"Yaudah kasih jatah?"


Fisha terdiam sesaat lalu menggeleng. "Kan kemarin udah, masa mau lagi? Kasian dedeknya."


"Bercanda sayang, hari minggu kita akan ke Australia," ucap Kainal.


"Janji?" tanya Fisha. Kainal mengangguk. "Ataar di rumah sakit, kita yakin tak memberitahu yang lain?"


"Apa kata Genta?" tanya Kainal.


"Jangan beritahu siapa-siapa," jawab Fisha.


Kainal menyubit pelan hidung istrinya. Sangat gemasss di matanya.


"Makanya kita jangan beritahu siapa-siapa pun. Kalau umi yang bilang kita udah bisa memberi tahu papa dan lain. Baru deh kita kasih tahu, kita ikutan aja ya?"


"Nanti hari minggu aku akan membawamu ke sana, gantian yang ke tunda jalan keperdesaan."


Fisha kembali mengangguk. "Iya sayang," jawab Fisha.


Kainal sedikit berbisik di telinga Fisha. Hanya Fisha yang tahu apa yang di katakan Kainal.


"Jangan digigi tapi ya?" tanya Fisha. Kainal mengangguk.


Fisha tidur di ranjang lalu menangkap tubuh suaminya yang memeluknya seperti bayi yang takut mamanya pergi di saat dia tidur.


"Pelan-pelan!"


Kainal mendongak. "Pelan-pelan ini!" tegas Kainal.


Fisha membelai rambut suaminya. "Bayi besar aku," imbuh Fisha.


Beberapa menit kemudian. Kainal melepaskannya dan sudah tertidur. Fisha pun memperbaiki tidur suaminya yang seperti bocil.


"Ih kok kaya bayi sih? Ini yang mau punya bayi? Nanti aku mengurus dua bayi dong?" tanya Fisha dalam hatinya.

__ADS_1


Fisha turun dari ranjang. Dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi, untuk buang air kecil.


Usai buang air kecil. Dia memperhatikan badannya di cermin perutnya sudah sedikit menonjol, usia kandungannya sudah setengah bulan.


"Sehat-sehat ya di perut umi?" tanya Fisha mengusap perutnya. "Yang kuat ya di perut umi? Bertahan sampai umi lahirin kamu, kamu tau gak? Umi sam abi nunggu kehadiranmu. Bukan hanya umi, kakek dan nenek kamu juga," gumam Fisha. Dia berjalan keluar kamar mandi, dan duduk di tepi ranjang.


"Aku berharap, nasibmu tak seperti nasib ommu sayang, tapi umi yakin abi kamu juga gak akan sama seperti kakek kamu," ucap Fisha.


"Kakau kamu udah lahir, umi janji. Kamu tidak akan merasakan pedihnya dunia, cukup umi dan om kamu aja yang merasakan."


Dia menoleh ke ranjang, suaminya tidur begitu nyenyak, karena bosan di kamar terus menerus. Akhirnya Fisha turun ke ruang tamu.


Suasana sudah sepi, mungkin mertua dan papanya serta yang lain sudah pergi.


Bumil itu menyalahkan televisi. Sangat membosankan. Pikirannya masih berada di umi dan adiknya, dia masih khawatir dengan Ataar.


Dia sedikit merasa bersalah. Untungnya sang adik tak menaroh dendam terhadapnya, kalau orang yang berada di posisi Ataar yang di bandingkan, tak di beri keadilan. Mungkin udah membenci saudranya sendiri, tapi Ataar beda. Bahkan lelaki itu ingin melihat kakaknya bahagia. Fisha sangat salut mempunyai adik seperti Ataar, berhati malaikat. Walaupun hati serta mental, fisiknya telah di uji coba.


Dia merasa kangen dengan diri papanya yang dulu, yang lembut, pengertian.


"Kenapa harus Ataar?" tanya Fisha menatap langit-langit atap. "Kamu orang kuat, hanya orang kuat yang di berikan ujian kepada Allah. Kamu kuat Taar, makanya Allah juga memberimu ujian yang sangat kuat. Kalau kamu lemah mana mungkin Allah memberatkan pundakmu."


Kainal terbangun dari tidurnya, dan menghampiri Fisha di ruang tamu.


Dia menatap istrinya yang menangis di sofa. Kainal sangat tahu gimana di posisi Fisha saat ini.


Kainal ikut duduk di sofa membuat Fisha menoleh ke arahnya.


"Kok bangun?" tanya Fisha buru-buru menghapus air matanya.


"Gak papa, kamu berhak menangis, menangislah sebisa kamu. Kalau kamu udah capek nangis, peluk aku. Aku akan selalu di sisi istriku, aku jadi pelindungnya, tapi kalau dia ingin menangis. Aku biarkannya, menangislah sepuasmu. Aku tahu gimana rasanya," jelas Kainal membawa istrinya ke dalam pelukannya.


"Kainal, gimana Ataar? Aku gak mau kehilangan dia," imbuh Fisha.


"Jangan berpikir yang enggak-enggak. Yakin ya? Ataar itu sangat kuat, seperti kakaknya." Kainal menghapus air mata Fisha.


Kainal mencium bibir istrinya agak lama. Agar bumil itu tenang. Kainal memagut bibir itu, Fisha mengalungkan tangannya di leher Kainal.


Mereka tidak sadar bahwa mereka saat ini sedang berada di ruang tamu bukan di kamar.


Kainal memegang tengkuk leher istrinya, agar semakin memperdalam ciuman yang mereka lakukan.


Dehem keras terdengar sehingga di antara mereka tersadar. Fisha buru-buru ingin melepaskan ciumannya, tapi Kainal menariknya kembali.


Evan memukul meja sehingga mereka pun sama-sama tersadar, dan buru-buru melepaskan ciuman masing-masing.

__ADS_1


"Tahu tempat dong," celetuk pria paruh itu.


Fisha dan Kainal hanya menggaruk belakang kepalanya. Kainal yang baru sadar bahwa istrinya tidak memakai cadar langsung menyembunyikan Fisha di keteaknya.


__ADS_2