Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 32 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal benar-benar memperketak pengawasannya pada sang istri. Bukan hanya dia. Bahkan ayah dan mertuanya, menyuruhnya.


Caloh ayah itu, menyiapkan karpet tebal di dalam kamar mandi, was-was, takut istrinya kepeleset. Dia tak ingin itu terjadi.


Fisha yang melihat perlakuan semuanya terlalu berlebihan hanya pasrah. Mau gimana lagi.


"Kamu lebay banget. Kenapa di taroh karpet lantai kamar mandinya?" tanya Fisha berkacak pinggang.


"Aku takut aja kamu kepeleset," jawab Kainal mendudukan istrinya di sofa ruang tamu.


"Astaga," gumam Fisha tertekan. "Berlebihan banget."


"Ini kan demi anak dan istriku juga, mana mungkin aku membiarkan sesuatu terjadi kepada kalian?"


Fisha memutar bola matanya lalu manggut-manggut. Dia meminum es jeruk yang di buatin ibu mertuanya. Selama kehamilannya, Fisha sudah jarang memakan-makanan yang dulu jadi favoritnya. Sekarang kalau bukan ngidam yang serius, dia terus akan di beri makanan yang sehat dan bergizi seperti sayuran, susu, buah-buahan. Dan makanan yang lainnya yang kurang berminyak. Hidupnya benar-benar di ketatkan. Dia tau mereka mengakhawatirinya, tapi menurutnya ini benar-benar jauh lampauan untuk orang hamil.


"Asslamualaikum," ucap Kaira yang baru saja pulang sekolah, dia menyium tangan kedua kakaknya.


"Keponakannya gak, aunty?" tanya Fisha. Kaira menepuk jidaknya lalu menyium perut kakak iparnya sekilas sehingga kedua pasangan tersebut terkekeh.


"Aku ganti pakaian dulu," ucap Kaira berlari menuju kamarnya.


"Ai, udah penaikan kelas 12-kan?" tanya Fisha.


Kainal yang sibuk mengusap perut rata istrinya hanya berdehem.


Fisha manggut-manggut mengerti, dia mengsandarkan kepalanya di bahu sang suami yang sedang sibuk bermain game di ponselnya.


"Minggu depan, acara wisuda kita. Akhirnya perjuangan kita akan selesai."


"Kalau udab lulus aku boleh nyari kerja? Aku ingin jadi guru pai di sekolah sd."


"Kalau di saat sekarang jangan dulu sayang, aku melarangmu. Kalau kamu sudah melahirkan, boleh."


"Pleass perut aku belum membesar, aku juga bakal bosan di rumah. Di saat kita udah lulus kamu pasti akan sibuk dengan kantor."


"Jadi guru di ponpes opah aja?"


Fisha mengerut dahinya. "Gak! Aku ingin di sekolah sd, aku ingin mengajari anak-anak kecil."

__ADS_1


"Ok tapi di usia kandunganmu sudah memasuki empat-bulan, kamu berhenti ya?"


Fisha manggut-manggut. "Pekerjaannya gak keras kok."


Kainal berdehem. Dia merentangkan tangannya mengelus bahu istrinya.


"Sayang kayanya besok kita periksa kedokter, deh."


Fisha mendongak dan memicikan matanya. "Kan kemarin udah, dan kata dokter kandunganku baik-baik saja," jawab Fisha.


"Bukan itu," balas Kainal.


"Terus apa?"


"Ini sayang." Kainal melirik kebawah. "Pasti dia akan lama berpuasa, kemarin aku lupa nanya ke dokter. Apa bisa olahraga malam, asalkan gak di keluarin di dalam."


"Ngawur," ketus Fisha beranjak kedapur untuk menyimpan gelas kotor bekas es jeruknya.


"Sabar ya." Dia ikut beranjak ke dapur. Membuka kulkas, dia akan mengupaskan mangga kecut buat istrinya, yang akhir-akhir ini lagi berselera makan kecut. Dia akan merasa mual di pagi hari dan tenggorokannya butuh yang kecut.


"Baik banget sih, suami siapa sih ini?" tanya Fisha memperhatikan suaminya mengupas mangga.


"Suami Fisha Alsha," jawab Kainal tersenyum. Fisha pun membalas senyumannya. Saat ini dia tidak memakai cadar ataupun kerudung. Siapa yang akan melihatnya, di sana mereka tak menyewa mas tukang kebun, atau pembantu. Sopir, satpam? Mereka tidak selancang itu masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu atau permisi dulu. Ayah Vier? Dia sudah menjadi mertua Fisha, sudah wajib dia melihat wajah dan aurat luar menantunya.


"Sebentar," teriak Kaira. Sedikit berlari dan membuka'kan pintu rumah.


Seorang lelaki tinggi membawa beberapa benda di tangannya. Itu yang di lihat Kaira, gadis itu memperhatikan lelaki itu dengan seksama, dia merasa tak asing.


Ataar melambaikan tangannya membuat Kaira menundukan pandangannya.


"Saya adiknya kak Fisha, bukan kurir," sahut Ataar. Kaira pun tersenyum tipis di balik cadarnya dan menyuruh lelaki itu masuk.


"Kak Fisha, adik kakak datang," teriak Kaira.


Fisha yang sedang di dapur langsung berlari ke ruang tamu mendengar teriakan adik iparnya.


Ataar menoleh dan berdiri melihat kakaknya. Fisha buru-buru memeluk adiknya.


"Kak, gue kecekek," timpal Ataar. Fisha mengerucut bibirnya dan menyuruh adiknya duduk.

__ADS_1


"Pulang sekolah langsung kesini?" tanya Fisha. Ataar mengangguk.


"Nah buat calon keponakan gue, bukan kakak. Kata bunda kakak sedang hamil. Orang hamilkan biasa ngidam tuh? Nah Ataar bawa buah."


Fisha mengambil buket buah itu di tangan adiknya. Dia menaikan lengan hoodie adiknya.


"Papah memukulmu lagi?" tanya Fisha. Ataar mengangguk.


"Gak papa kak," jawab Ataar.


Kainal yang ingin menghampiri adik kakak itu megurungkan niatnya, memilih untuk tidak menemuinya. Dia menyuruh adiknya untuk menyiapkan cemilan dan jus buat Ataar.


"Obatin lukamu sendiri, jangan manja. Kakak sudah tak bersamamu yang setiap malam akan mengobatimu."


Ataar mengangguk. Mata Fisha berkaca-kaca memandang adiknya, setetes air matanya lolos jatuh membasahi pipi chubby itu.


Ataar pun buru-buru menghapus air mata kakaknya. "Jangan kasihani gue kak, gue baik-baik aja." Lelaki itu mengyakini kakaknya.


"Jujur sama umi, setelah kamu jujur. Kamu pergilah dari rumah, tinggal di apartemen Kainal. Kakak iparmu tidak akan keberatan. Setiap bulan kakak akan ngirimkanmu uang jajan."


Ataar terdiam. Dia meremas kunci motornya. Dia menggeleng. "Alasan Ataar masih sanggup tinggal di rumah itu untuk umi. Lagian Ataar tak ingin umi dan apah bertengkar."


Fisha memeluk adiknya. "Walaupun kali ini kamu dan kakak sudah berjauhan, kamu jangan nekat kaya dulu lagi ya? Walaupun kita jauh, kamu harus kuat. Setidaknya buat aku, umi dan keponakanmu nanti," jelas Fisha.


Ataar mengangguk.


Merasa suasana mereka sudah membaik. Kainal pun menghampiri mereka. Menaroh sepiring mangga yang sudah di potong-potong. Tak lama kemudian Kaira datang membawa nampan berisi cemilan dan jus.


"Kak, aku izin ke rumah Saifara ya. Mau mengerjakan tugas kelompok."


"Hati-hati," peringat Kainal mengulurkan tangannya untuk adiknya salimi.


"Jangan pulang malam," sahut Fisha. Kaira mengangguk. Anak itu pun berlari keluar rumah dan menyuruh sopir mengantarnya ke rumah Saifara.


"Gimana kabarnya baik?" tanya Kainal basa-basi sambil memberi adik iparnya jus.


Ataar mengangguk. "Baik, kak," jawab Ataar. Dia melihat ponselnya lalu menatap mereka pergantian.


"Kak kayanya gue harus pamit sekarang," ucap Ataar berdiri. "Ataar lupa ada janj sama teman."

__ADS_1


Kainal dan Fisha pun berdiri. Di saat Ataar pamit pulang.


Fisha menatap Kainal dengan mata berkaca-kaca. Kainal pun langsung memeluk istrinya. Fisha menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami.


__ADS_2