
Sebulan pernikahan Fisha dan Kainal telah berlalu. Semuanya berjalan dengan sesuai impian. Kehidupan Fish juga sudah lebih baik dari sebelumnya, dia begitu di ratukan oleh suami dan keluarnga suaminya, tapi akhir-akhir ini Kainal sangat sibuk. Menyelesaikan urusan kuliah dan kantor secara bersamaan sehingga tidak mempunyai banyak waktu bersama istrinya.
Fisha tidak mempermasalahkan itu, dia juga tau Kainal juga pasti tak ingin seperti ini. Fisha tak ingin egois, meminta waktu suaminya terlalu banyak. Jangan sampai dia terus merengek membuat Kainal meledak, itu yang di takutkan wanita itu. Walaupun suaminya mempunyai kesabaran seluas laut, tapi kesabarannya pasti akan penuh. Dia takut di saat dia ingin bermanja-manja di saat Kainal sibuk, dia malah membuat suaminya marah sampai membentaknya. Dia takut itu. Padahal saat ini dia ingin sekali di manja-manja dengan Kainal, ingin terus di peluk.
"Ayah udah pulang, kok dia belum?" tanyanya sendiri menatap keluar jendela kamar. Wanita itu mengerucut bibirnya. Mobil suaminya belum memasuki gerbang. Padahal mertuanya sudah pulang dari tadi.
Wanita itu sudah menangis menunggu suaminya yang tak kunjung datang. Chat spamnya belum di balas, telfonnya gak di angkat padahal sedang aktif. Pikirannnya mulai kemana-mana.
"Mana kaka ipar mu, Ai?" tanya Vier duduk di dekat anak bungsunya.
"Di kamar, yah."
"Apa dia sudah makan?" tanya bunda Harumi yang ikut duduk di samping suaminya.
Kaira mengangguk. "Dia kayanya lagi nunggu kakak, ayah emang pekerjaan kakak gak bisa di kurangin? Kasihan kak Fisha. Dia selalu tak melihat suaminya kalau malam. Paginya dia buru-buru kekantor, pulangnya langsung ke kampus. Begitu terus berputar-putar."
Bunda Harumi mengangguk. "Lagian Kainal masih kuliah, mas, kamu tega? Aku lebih gak tega dengan menantu kita."
"Bukan gimana, dia harus di latih. Dia akan menggantikan ku jadi Ceo. Dia harus lebih giat lagi, ayah tak ingin dia bermalas-malasan."
"Setidaknya jangan tiap hari, kasihan menantumu."
Jam sudah menunjukan 12.34. WIB. Tengah malam. Fisha masih senantiasa menunggu suaminya di balkon.
"Kamu di mana?" tanya Fisha. Wajahnya di terpa angin malam.
__ADS_1
Di jam 02.03. WIB. Akhirnya Fisha melihat mobil memasuki perkiraan rumah. Dia pun berlari menurungi anak tangga. Membuka'kan pintu untuk suaminya.
Fisha tersenyum. Kainal menoleh dan tidak senyum sama sekali. Fisha mengambil tas suaminya dan mengandengnya masuk.
"Kenapa belum tidur?" tanya Kainal.
"Aku gak bisa tidur, kalau kamu gak pulang. Ini udah larut malam, gimana aku bisa tidur? Sedangkan kamu belum pulang. Sekedar memberi kabar aja gak ada?" tanya Fisha. "Bisa gak sih, sesibuk-sibuknya kamu, kamu bisa ngasih kabar sekedar menerima telfon atau membalas pesanku? Katakan 'Aku baik-baik aja, kamu tidurlah'," jelas Fisha membentak.
"Kok kamu gini sih? Aku capek Fisha, aku gak sempat membuka ponsel. Aku benar-benar sibuk," balas Kainal merasa kesal. Datang-datang mendapatkan omelan sang istri.
"Aku cuma khawaitr," lirih Fisha. "Kamu boleh sibuk, tapi apa gak bisa balas pesan aku saja? Beri jawaban, jangan kaya gini. Aku tahu kamu sibuk."
Kainal hanya diam. Dia mengganti pakaiannya dan menaiki ranjang, dia terlalu lelah, jadi tak ingin memperpanjang masalah.
"Arrkk," pekik Fisha menghentakkan kakinya ke lantai dan berlari menutup pintu balkon dan kamar.
"Fisha jangan gini dong. Kamu ngerti dikit di posisi aku. Aku lakuin ini demi masa depan kita," sahut Kainal.
"Ngerti apa Kainal? Ngerti apa? Bisa gak sih jangan terlalu banyak bekerja. Kita bisa hidup sederhana saja, aku gak mempedulikan kerjamu. Aku pengen banyak wakut bersamamu!"
"Bisa gak kamu protes dikit dengan ayahmu? Kamu memang sanggup, tapi aku gak, Kainal," tegas Fisha. "Aku gak suka, aku kesepian Kainal," lanjut Fisha.
"Udah kamu tidur, kamu tial hari kaya gini. Mungkin efek ngantuk sehingga ngaur gini perkataanya," ucap Kainal.
"Terserah." Fisha mendorong tubuh Kainal turun dari ranjang. "Kamu tidur di sofa, kalau gak mau biar aku aja." Fisha mengambil bantal dan ingin beranjak ke sofa.
__ADS_1
"Fisha!" kelit Kainal menarik tangan Fisha. "Jangan kaya gini, kamu jangan kekanakan gini dong," ucap Kainal. Mendudukan Fisha di ranjang.
"Aku gak mau!" bentak Fisha. Kainal memeluk istrinya membawanya tidur.
Fisha sesenggukan di dalam pelukan suaminya. "Kamu tau gimana rasanya, pengen di giniin oleh suami?"
"Yaudah aku minta maaf." Kainal mencium kening istrinya agak lama. "Maaf ya, buat istri aku nunggu lama."
Fisha menghirum dalam-dalam maskulin suaminya. "Besok kamu boleh libur sekali aja buat aku?"
"Nanti aku tanya ayah, ya?"
Fisha mengangguk. Memeluk suaminya erat, Kainal mengusap rambut istrinya.
"Maaf ya, sayang," gumam Kainal. "Gak tau kenapa, aku sering membalas ucapanmu. Padahal aku tau kamu bedmood"
Kainal mencium dengan lama mata istrinya yang memerah karena menangis.
"Mood kamu sering berubah-ubah, kaya gini. Aku merasa heran, padahal tadi kamu sedang tersenyum menyambutku. Eh... Tiba-tiba malah ngomel," batin Kainal memperbaiki posisi istrinya. "Tidurlah, besok aku usahain akan meluangkan waktu bersamamu," bisik Kainal. Dia menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Kaira yang berada di samping kamar kakaknya, mendengar mereka bertengkar. Gadis-berusia 17- Tahun itu menghela napas. Udah tiga hari kakak dan kakak iparnya itu sering bertengkar. Dia juga sering mendengar kakak iparnya menangis di dalam kamar sendirian. Sangat sensitif sekali, pikirnya.
💗💗💗💗💗
Seorang Gadis duduk di meja belajar. "Maafin gue Fisha," ucap Alya dengan menghela napas.
__ADS_1
Dia mengambil ponselnya di nakas. Sekarang gadis itu sedang menghindari Xaviel. Dia perlu waktu sendirian untuk memahami dunia. Dia ingin menenangkan diri, mungkin jalan ini bisa membuat hidupnya lebih baik lagi. Setiap hari dia akan kepsikolog. Selama kepergian bundanya, dunia akan berhenti berputar. Ingin rasanya dia menyusul bundanya pergi.
"Dunia jahat bagi Fisha? Bukannya dunia lebih jahat bagiku? Kamu beruntung Fisha, aku ingin seberuntung dirimu. Kenapa aku tidak di takdirkan sepertimu? Benar aku sangat haus kasih sayang. Ndak ada satupun yang menyayangiku selain bunda, tapi dia juga udah meninggalkanku. Aku bisa egois sedikit? Bahkan Xaviel yang kupikir orang kedua yang akan mencintaku dan menyayangiku malah membohongiku, dia hanya kasihan. Kamu pasti beruntung Fisha banyak yang sayang ke kepadamu. Aku iri, kapan aku mendapatkannya? Orang berpikir kamu terbanding jauh di belakangku. Padahal buktinya kita kebalik." Air mata membasahi boneka yang di genggamnya.