Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 60 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Harumi menggoyangkan badan sang suami, yang mengigau.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Harumi.


Vier membuka matanya dan langsung beranjak bangun. Harumi pun memberikan suaminya minum.


"Kenapa, mas?" tanya Harumi melihat kecemasan sang suami.


"Aku mimpi buruk," jawab Vier memberikan air minum itu ke istrinya kembali.


"Makanya tuh, udah mau siang masih aja tidur. Ginikan jadinya."


Vier melap keringatnya, kenapa mimpinya begitu nyata?


"Sayang, Fisha di mana?" tanya Vier.


Harumi yang sedang membereskan rambut Vier mendongak ke bawah.


"Lagi di bawah, bersama Kainal dan Kaira, kenapa?" tanya Harumi.


Vier menggeleng. Dia memeluk pinggang istrinya. "Aku mimpi buruk, Aksa kembali dan mencoba mencelakai menantu kita, bund."


"Semoga itu tak akan pernah terjadi. Mungkin juga, kamu masih kepikiran tentang semalam makanya mimpi buruk kaya gini."


Vier mengangguk. "Mungkin aja. Semoga mimpi ini tidak akan menjadi nyata."


"Yaudah, mas mandi terus turun buat makan sarapan yang kubuat."


Vier melepaskan pelukan istrinya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Harumi duduk di tepi ranjang. Dia sangat tahu siapa Aksa, Aksa adalah sepupunya. Sudah tiga kali pria itu berulah sehingga tiga kali juga pria itu di penjara.


"Ya Allah, semoga keluargaku tetap di lindungi jauhkan keluargaku dari mara bahaya. Terutama menantuku," ucap Harumi.


Kainal sedang menemani istrinya berjalan-jalan pagi di depan rumah.


"Belum capek?" tanya Kainal memasukan tangannya di balik cadar sang istri, melap keringat yang bercucuran.


"Aku mau minum."


Kainal pun memberikan sebotol air yang dia bawa. Fisha meneguk air minum itu, lalu kembali memberikannya pada sang suami.


"Sayang, sini duduk dulu!" perintah Kainal duduk di sebuah kursi.


Fisha duduk di pangkuan Kainal, seraya membelai rambut lelakinya.


"Halo, sayang," sapa Kainal mencium perut istrinya.


"Aw," ringis Fisha di saat merasa perutnya di tendang kuat.


"Kenapa?" tanya Kainal mengusap lembut perut bulat itu.


"Nendang, Nal."


"Nendang?" tanya Kainal. Fisha mengangguk.

__ADS_1


"Mana aku gak merasakan," ucap Kainal menaroh telinganya di perut istrinya. "Tuhkan."


"Mungkin dia gak suka abinya, sukanya sama umi," ledek Fisha sehingga suaminya cemberut.


Namun, Fisha kembali merasakan tendangan. Kainal tersenyum, akhirnya dia ikut merasakan anaknya menendang.


"Gemass banget sih anak abi? Abi gak sabar deh ketemu anak abi ini." Kainal mencium dengan gemass perut istrinya.


Fisha terkekeh. Dan mengusap rambut Kainal. "Udah dong, geli."


"Much." Kainal mencium pipi istrinya yang ketutup cadar. "Makasih sayang, makasih banget, karena kamu siap mengandung anak aku."


Fisha mengangguk. "Makasih juga, udah sabar jadi suami yang menuruti semua ngidam aku, sabar di saat aku gak bisa tidur di tengah malam. Makasih telah menjagaku. Kamu pria yang aku cinta sesudah papa."


Kainal tersenyum memandang lekat manik mata istrinya. Mereka berdua saling pandang.


"Aku cinta kamu," ucap mereka bersamaan.


Mereka kembali bersama senyum-senyum. Teriakan Kaira yang membuat mereka menoleh.


"Kakak masuk, udah mau siang. Panas ini, kasihan keponakan unty." Heboh Kaira berlari ke arah mereka.


Fisha beranjak berdifi dari paha sang suami.


"Kak, ayo masuk."


Fisha hanya menurut di saat adik iparnya menariknya dengan pelan kembali ke dalam rumah.


Kainal pun hanya mengikuti mereka dari belakang.


Sesampainya di dalam rumah, Fisha duduk di sofa. Kakinya menjadi pegal.


"Kalian dari mana?" tanya bunda Harumi.


Mereka bertiga menoleh bersama. "Habis temanin bumil jalan-jalan di depan, bunda," jawab Kainal membantu uminya membawa sayur-sayuran yang telah dibeli.


"Bunda, Fisha bantu, ya?" tanya Fisha berdiri dari sana, tapi suaminya menyuruhnya kembali duduk.


"Biar aku aja." Kiara jalan ke arah dapur.


Fisha cemberut sambil menatap ke arah suaminya. "Sekali aja, bosan sayang."


"Gak boleh!"


Fisha menunduk membuat Kainal tak tega.


"Yaudah, sana."


Fisha menaikan pandangannya dan tersenyum. Dia pun berjalan ke arah dapur dengan memegang pinggangnya, badannya begitu berat.


"Ngapain ke sini?"tanya Harumi.


"Bunda, Fisha mau bantu. Lagian Fisha gak ngapa-ngapain."


"Kamu kupas terong ini aja," pinta sang mertua. Fisha mengangguk. Dia mengambil terong itu dan duduk di kursi.

__ADS_1


"Sayang, kita bantu grandma dan unty masak dulu, ya!" Fisha mengusap perutnya dan mengupas kulit terong itu lalu memotongnya kecil-kecil.


"Kaira, kamu gak sekolah hari ini?" tanya Fisha.


Kaira menoleh lalu menggeleng. "Kaira sengaja libur hari ini, karena kangen banget sama kakak."


Fisha hanya geleng-geleng. Dia melanjutkan pekerjaannya.


"Sayang, ada umi, Papa dan Ataar," teriak Kainal. Sehingga Fisha menyimpan pisau yang di pegang dan sedikt berlari ke ruang tamu.


"Hati-hati, kak."


Bunda Harumi mencuci tangannya dan menyuruh anak bungsunya menyiapkan cemilan dan jus buat tamu. Dia akan memanggilkan suaminya yang berada di kamar, sedan mengerjakan sesuatu.


Fisha langsung memeluk adiknya. "Kakak kangen, kangen banget sama adik kakak yang dingin ini."


"Kak, gue kecek," ucap Ataar.


Fisha menghapus air matanya Dan memukul lengan adiknya sedikit keras sehingga Ataar meringis kesakitan.


"Ayahmu mana?" tanya Altar pada Kainal.


"Bentar lagi turun, pah."


"Aku kira kalian udah pindah ke apartemen? Pas kami ke apartemen kalian. Gak ada seseorang."


"Kami memang ke sini dari semalam, pah. Ada masalah yang membuat aku dan Fisha harus kembali ke sini dulu sementara waktu."


Altar memperbaiki duduknya. "Maksudnya? Ada apa ini?"


Belum sempat Kainal menjawab pertanyaan mertuanya, Ayahnya datang dan ikut duduk.


"Ada yang meneror mereka, akhir-akhir ini."


"Meneror mereka?"


Vier mengangguk. Dia mengajak sahabatnya pergi dari sana, dia ingin berbicara hanya berdua saja.


"Teroran apa, Nal?" tanya umi Aisha pada menantunya.


"Akhir-akhir ini ada yang neror kami, dan semalam parah banget, karena membunyikan bel terus-menerus. Kalau ayah serta om Cakra, om Kendra om Evan, Xaviel dan daddynya tak datang. Mungkin kami udah dalam bahaya."


Aisha menutup mulutnya, apa mungkin ini semua ulah Aksa? Dia mendengar kalau pria itu sudah keluar dari penjara. Kalau benar ya, pria itu tak ada kapoknya balas dendam kepada Altar. Entah kenapa, Aksa di butakan benci dan dendam yang dia buat sendiri.


Fisha duduk di samping uminya.


"Untung kamu baik-baik aja," ucap Aisha memeluk putrinya.


"Banyak yang sayang Fisha, banyak yang lindungi Fisha. Fisha akan baik-baik saja umi."


"Kamu benar, umi sangat takut. Apa yang umi rasakan menjadi boomerang untukmu."


"Emang umi pernah kenapa dulu?"


"Umi dulu, hampir di lecehkan oleh musuh geng motor papamu. Untung aja papamu dengan tepat waktu datang menolong umi."

__ADS_1


"Astaghfirullah, semoga Fisha tidak akan mengalaminya," ucap Fisha.


__ADS_2