Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 75 ~Fallback~


__ADS_3

"Kau ingin anak itu mempunyai ayah Narapidana?" tanya seorang pria.


"Terus mau gimana lagi? Ayahnya memang lo brengsek," teriak seorang wanita.


Pria itu mengacak rambutnya frustasi. "Argggg."


"Lo mau anak itu malu? Gugurin aja!"


"Lo gila? Gue gak bakal gugurin anak ini. Ingat ini juga perbuatan lo!"


"Iya gue tau, tapi gue gak mau anak itu. Lagian itu anak haram!"


"Jaga mulut lo ya sialan, dia anak gue. Kalau bukan karena perbuatan lo, gak gini jadinya!" teriak Ilona.


Aksa terdiam, apa yang di katakan Ilona ada benarnya, karena perbuatan mereka berdua Ilona menanam benihnya.


"Gimana ini? Yakali gue hidup susah dan lo di penjara gini!" tegas Ilona. "Lagian, lo gak ada kapok-kapoknya balas dendam ke mereka."


"Diam lo, gue lagi mikirin cara agar anak gue yang ada di dalam perut lo hidup bahagia," celetuk Aksa.


Beberapa saat kemudian, Aksa menyuruh Ilona mendekat, Ilona pun mendekatkan dirinya ke arah Aksa.


Aksa membisikan sesuatu ke telinga wanita itu, sehingga Ilona tersenyum miring. Namun, tampak ragu.


"Lo benaran ini bakal berhasil?" tanya Ilona.


"Lo ikutin aja apa yang gue bilang," ucap Aksa.


"Gue gak mau ya, gue masuk penjara yang kedua kalinya!" tegas Ilona.


"Lo tenang aja, lo bukan hanya mendapatkan kebahagiaan buat anak gue, tapi lo juga bakal bahagia dengan hidup uang salah satu di antara mereka. Kalau bisa lo embat Altar, lagian lo masih naroh hatikan ke bajingan itu?"

__ADS_1


Ilona mengangguk.


Setelah mendiskusikan rencana yang akan mereka buat, Ilona izin pamit untuk pulang. Waktu untuk berbincang dengan tahanan pun telah habis.


Saat ini Ilona tengah menjalankan rencananya. Dia menelfon Altar dengan identitas yang berbeda.


Ilona berpura-pura menjadi klen Altar, supaya Altar percaya, dan datang ke tempat yang dia siapkan untuk menjalankan misi kembali.


Altar sedikit tak percaya, bukannya dia tak ada janji untuk bertemu dengam klen. Namun, dia juga tak berpikir jauh.


Setelah menyetujui akan bertemu, Ilona tersenyum devil. Menurutnya Altar muda sekali di tipu.


Di sisi lain, tepatnya di posisi Altar saat ini. Dia yang sudah bersiap untuk bertemu klen. Tiba-tiba saja, istrinya yang sedang hamil muda itu menelfon. Aisha ngidam, dia menyuruh Altar membeli sesuatu di luar, dan dia ingin Altar yang membelikannya bukan orang lain.


Demi sang istri, Altar memberikan meetingnya kepada Evan. Sebenarnya Altar tak ingin merepotkan sahabatnya yang sedang menyiapkan pernikahannya dengan Kiara, tetapi Altar butuh sekali bantuannya. Evan pun bisa mengerti begitu dengan Kiara.


Singkat cerita, Evan yang menggantikan Altar untuk bertemu klen.


Sesampainya Evan di sebuah club. Dia meneliti baik-baik alamat yang di kirimkan Altar, tetapi alamat itu emang benar di sana.


Dia duduk di kursi yang sudah di sediakan, atau memang di pesan secara kusus untuknya alias untuk Altar.


Evan menurunkan pandangannya ke bawah. Dia kali ini jaga pandangan, dia tak ingin melihat para kaum hawa yang berjongget-jongget di depannya. Ingin rasanya Evan pergi dari sana. Namun, dia tak mungkin pergi dari sana, ini demi pekerjaan.


"Permisi," sapa seseorang membuat Evan menaikan pandangannya.


Evan menggeleng di saat seorang pelayan menawarkannya bir.


"Saya cuma minta air putih." Evan mempergerakan caranya meminta, karena terlalu ribuk sehingga pelayan itu tak mendengarnya.


Pelayan itu mengangguk, dan pergi untuk mengambil air putih.

__ADS_1


"Katanya, dia cuma ingin air putih nyonya," ucap pelayan itu kepada seseorang.


"Iyaudah ambilkan dia air putih dan jangan lupa turunkan obat yang ku suruhkan. Jangan beri tau siapa-siapa, ini untuk penutup mulut." Ilona memberikan beberapa lembar duit ke pelayan itu. Pelayan itu pun hanya menurut.


"Walaupun bukan Altar, lo juga bisa Evan," gumam Ilona. "Hitung-hitung ngacurin hubungan lo sama si Kiara."


Pelayan itu kembali membawakan sebotol air putih ke Evan.


Awalnya Evan ragu untuk meminumnya. Namun, terlihat botol itu tersegel membuatnya membukanya dan meneguknya.


Pelayan itu tersenyum lalu pergi dari sana. Ilona ikut tersenyum.


Evan merasakan kepalanya pusing, dan sakit. Dia mengejapkan matanya.


"Sial," pekiknya memukul kepalanya. Ilona pun mendekati Evan dan membawanya pergi dari sana menuju ke kamar di club itu. Evan sudah tak sadarkan diri sehingga Ilona leluasa untuk melakukan apapun pada lelaki itu.


Ilona mengambil cairan merah segar lalu menaburkannya di kasur. Dengan begitu, Evan akan berpikir bahwa dia yang membuka segel Ilona.


Ilona pun membuka pakaian Evan dan menidurkannya di ranjang. Ini kesempatan untuk bermain dengan Evan.


Keesokan paginya, lelaki itu membuka mata. Merasa pusing di aera kepala.


Dia menoleh ke samping lalu langsung beranjak bangun di saat melihat seorang wanita dan terlebih lagi itu adalah Ilona.


Ilona ikut membuka matanya, lalu berpura-pura menangis.


"Sialan, cowok bajingan!" Ilona mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Apa yang gue lakuin? Gue gak buat apa-apa. Gak mungkin gue nyentuh, lo!" tegas Evan.


"Cowok brengsek, jelas-jelas lo mengambil keperawanan gue! Lo maksa gue semalam untuk berbuat hal yang tak senonoh!"

__ADS_1


Evan memandang ke arah spreai, dia menelan ludahnya melihat bercikan darah.


"Gue gak ngelakuin itu sialan," teriak Evan furstasi, dia mengacak rambutnya.


__ADS_2