
Altar sempat kaget di saat mengetahui tentang peneroran yang terjadi kepada anak dan menantunya.
"Gue habisin tuh si berengsek. Bukan menggunakan polisi lagi, tapi gue benar-benar gue habisin menggunakan tangan gue sendiri," ucap Altar.
"Tapi, ini benaran dia yang rencanain?" tanya Kendra.
"Siapa lagi? Bukannya hidup kita damai di saat dia masih dalam penjara?"
"Iya juga sih."
"Yang terpenting kali ini kita harus waspada," jelas Vier.
Mereka semua mengangguk. Mereka berbincang terlalu lama. Ponsel Vier berbunyi membuatnya langsung mengangkatnya.
📱"APA? KENAPA KAMU CEROBOH SEKALI?" tanya Vier membentak.
📱"Maaf ayah, tapi Fisha tadi ada di dalam kamar. Aku izin mandi sebentar, di saat aku keluar dia tak ada."
📱"Di ruang tamu? Apa dia tidak bersama adik atau bundamu?"
Dia suara bergetar, Kainal berusaha berucap. 📱 "Gak ada ayah, aku sudah mencarinya di mana-mana."
Vier mematikan ponselnya. "Fisha tak ada di rumah," ucapnya membuat keempat sahabatnya berdiri.
"Sialan," pekik Altar pergi dari sana. Mereka berempat pun ikut.
Kini mereka munuju rumah Vier dulu, untuk memastikan apakah benar Fisha tak ada.
Kainal mencoba menghubungi ponsel istrinya, tahunya ponsel itu ada di kamar. Dia meraih kunci motornya dan berlari menurungi anak tangga.
"Sayang jangan buat aku khawatir please, kamu di mana."
Baru saja membuka pintu rumah. Ayahnya datang.
"Gimana?"
Kainal menggeleng. "Gak tahu, yah. Kainal tak tahu dia di mana."
"Mana bisa, dia berada dalam kamar dan tiba-tiba tak ada? Kamu tak mendengar suara?"
Kainal menggeleng keras. Benar dia tidak mendengar suara apa-apa dari dalam kamar mandi. Di saat dia keluar, istrinya sudah tak ada di sana.
"Kita harus telfon polisi."
"Kita nelfon polisi pun, mereka tak akan membantu. Fisha hilang belum 24 jam."
__ADS_1
"Terus gimana, kalian tak bisa bergerak segera mencari istri Kainal?" tanya Kainal berlari ke garasi mengeluarkan motor sportnya, melajukannya pergi dari sana.
Kainal memberi istrinya sebuah cincin. Saat ini Fisha memakainya. Kainal menaroh pelacak di cincin tersebut. Dia memberikannya, di saat awal ancaman ini. Dia harus was-was. Dan bisa-bisanya sekarang dia seceroboh ini.
Air mata berlinang di pipi lelaki itu. Untungnya saat ini dia sedang memakai helm. Entah di mana dia harus mencari istrinya. Pelacaknya putus sambung, putus sambung membuatnya susah untuk tahu di mana sekarang istrinya.
"Sayang, kamu di mana? Aku berdo'a kamu baik-baik saja bersama baby kita."
"Tolong beri pertanda untukku sayang, ya Allah."
Dia turun dari motornya, dia mencarinya di sebuah gudang tua, karena letak pelacak itu berada di sana.
"Ya Allah, lindungi istri dan anak hamba. Jauhkan mereka dari hal yang membuat mereka celaka. Allah bisa menghukumku, tapi jangan seperti ini. Mereka dunia hamba."
Kainal mengobrak-ngabrik gedung itu. Titik pelacaknya sudah berada di sana, tapi dia belum juga mendapatkan istrinya.
Apa orang itu mengatahui pelacak yang di taroh Kainal? Apa saat ini dia sedang di jebak?
Mata Kainal jatuh ke sebuah benda kecil yang beradai di lantai.
"Ini punya Fisha," gumam Kainal mengambil cincin itu. Bukan hanya cincin yang dia dapatkan, tapi juga dia mendapatkan sebuah kertas.
"Jangan takut, jangan cemas. Istrimu akan baik-baik saja. Dia akan kembali kepadamu, tapi... Setelah aku... Taukan pasti? Setelah aku sudah bersenang-senang bersamannya bukan hanya aku, mungkin temannku juga?"
📱"Kamu di mana saat ini?" tanya Vier pada intinya.
📱"Gedung tua jalan xxx, aku mendapatkan cincin Fisha di sini."
📱"Tunggu di sana, tempat itu dekat dengan lokosi yang kami dapat."
Sambil menunggu Ayah dan juga mertuanya. Kainal berusaha mencari istrinya di sekitar.
Kini sudah memasuki waktu magrib. Kainal serta yang lain mulai mencari keberadaan Fisha.
"Pah," panggil Kainal.
Altar menoleh ke arah menantunya. Kainal menunjuk sebuah goa yang di tutupi rumput.
Seakan pikiran mereka sama. Mereka berdua berlari ke arah goa tersebut.
"Sial, ini bukan goa melainkan sebuah markas," seru Altar.
Kainal menelan salvinnya, baru kali ini dia memegang pistol di tangannya.
"Apa kita harus masuk, pah?" tanya Kainal.
__ADS_1
Altar mengangguk. Dengan mengenap-nap, mereka berjalan memasuki markas yang tersembunyi di balik peremputan.
Baru perjalanan masuk, mereka sudah mendengar suara.
"Benar dugaan gue, ini semua rencana Aksa biadab." Altar ingin mendekat. Namun, Kainal mencegahnya.
"Kita cuma berdua, mereka terlalu banyak. Apa sebaiknya kita telfon yang lain dulu?"
Bukan Altar namanya kalau tak keras kepala. Dia malah mendekat dan melepaskan peluru di tangannya.
Kainal menghela napas, lalu buru mengirimkan pesan pada ayahnya, dan ikut muncul mengikuti mertuanya.
Orang yang bernama Aksa dan anak buahnya menoleh di saat mendengar suara nyaring.
"Wah, pak Altar. Apa kabar?" tanya Aksa tanpa tak terkejut dengan kedatangan musuh bubuyutannya dulu hingga sekarang.
"Gak usah banyak basa-basi. Di mana anak gue?" tanya Altar.
Aksa mengode ke anak buahnya, anak buahnya pun memberinya ponsel.
Deg!
Jantung Altar maupun Kainal berdetak kencang. Di saat melihat video Fisha yang berteriak dari dalam kamera. Aksa dan kedua anak buahnya sudah berhasil melecehkan Fisha. Wanita itu tak henti-hentinya meminta ampun tapi bukannya berhenti mereka semakin menjadi-jadi.
Dorr!
Entah kekuatan dari mana. Kainal melepaskan peluru dari dalam pistol, dan berhasil mengenai kaki Aksa. Aksa yang belum siap pun terjatuh.
"Bajingan." Kainal maju, dan mendekat ke arah Aksa. Menarik keras kerah baju pria tua itu.
Buk!
Kainal membunturkan kepala Aksa dengan kepalanya. "Istri gue mana sialan?" teriak Kainal.
Aksa tersenyum. "Mana gue tahu, setelah dilac*r secara bergilir. Wanita itu dengan kaki pincang-pincang, darah yang turun dari balik pahanya. Pergi meninggalkan markas ini sejam yang lalu, entahlah. Mungkin dia juga sudah di gilir di depan sana. Wajarlah di depan sana banyak preman. Apalagi wanita itu pakaianya sudah sobek-sobek," jawab Aksa. "Please dia sangat menggoda. Bahkan ingin gue coba sekali lagi, tapi tak apalah. Gue sudah mendapatkan video yang bisa gue tonton setiap mala-"
"Arkkk." Aksa berteriak di saat Kainal menancapkan pisau di rahang pria tua itu.
Anak buah Aksa yang ingin menolong bosnya seketika nyalinya menciut di saat melihat Kainal menarik pisau itu dari rahang sang bos.
Sret!
Kini Kainal menusuk perut Aksa dengan pisau. Kali bukan Kainal yang berada dalam tubuhnya, melainkan seorang psikopat.
Kainal berusaha berdiri, dengan kaki yang kaku dia berlari keluar dari markas itu untuk mencari keberadaan istrinya.
__ADS_1