Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 47 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Kainal menyuruh pria itu berbalik badan dulu. Evan pun hanya menurut kepada anak sahabatnya.


"Lagian sih kalian ngapain main gitu-gituan di sini?" tanya Evan.


"Om sih, kenapa juga tiba-tiba datang?" tanya Kainal. Fisha yang sudah malu hanya menyembunyikan wajahnya di balik lengan Kainal.


"Ke sini cuma mau ngambil dompet om yang ketinggalan."


Usai mengambil dompetnya, Evan pun pergi dari kediaman sahabatnya, Vier.


"Uhh...."


"Nah makanya aku mau cepat-cepat pindah apartemen," sahut Fisha merasakan tak bebas melakukan apapun bersama suaminya. Bagus jika mereka hanya tinggal berdua, mau ngapain di ruang tamu pun tak apa.


"Sabar ya sayang, kamu kan tahu. Kita lagi ada masalah."


Fisha cemberut, apa yang di katakan Kainal ada benarnya. Saat ini keluarga mereka mempunyai masalah, Ataar sakit. Sehingga mereka berdua belum sempat berpindah ke apartemen. Apalagi hari minggu mereka akan terbang ke australia. Pastilah berpindah sangat padat.


"Emang mau di lanjut yang tadi? Mau di lanjut di kamar?" tanya Kainal.


Fisha mengangguk. Kainak sempat terganggak, tumben istrinya itu menerima candaannya. Apa mungkin efek kehamilan? Yang menambah hasrat bumil itu bertambah.


"Aku bercanda," ucap Kainal membuat bumil itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa sayang?"


"Kamu udah gak cinta sama aku?" tanya Fisha.


"Eh? Kata siapa?"


"Udah terbukti kamu cuma jadiin aku bahan candaan," ucap bumil itu menangis. Sehingga Kainal kebingungan.


"Gak gitu konsepnya," gumam Kainal menggaruk belakang kepalanya.


"Emang benar! Kamu udah gak sayang sama aku," ketus Fisha.


"Aku sayang, aku cinta banget," bujuk Kainal seperti orang lebay.


Fisha memukul dada Kainal, sehingga calon abi itu meringis kesakitan.


"Kok di pukul?"


"Kamu terlalu lebay," jawab Fisha.


Kainal beranjak dari tempatnya, dan menarik tangan istrinya ikut berdiri.


"Mau jalan-jalan?" tanya Kainal, Fisha mengangguk. Di sore-sore gini vibesnya romantis.


"Ini mah bukan jalan-jalan!" celetuk Fisha di saat suaminya mengeluarkan sepeda listrik milik Kaira.


"Udahlah sayang sama aja, sini naik. Kita bakal keliling kompleks, di depan perapatan. Ada penjual jajanan gerobang kaki lima."

__ADS_1


Mendengar tentang jajan, Fisha langsung naik ke atas sepeda listrik.


Kainal menarik tangan istrinya untuk memeluknya dengan erat, agar tak jatuh.


Angin sejuk menerpa cadar yang di gunakan Fisha. Bahkan rambut Kainal berantakan karena angin.


Fisha pun mendongak sedikit lalu merapikannya. Kainal hanya tersenyum melihat tingkah istrinya.


Ibuk-ibuk kompleks mulai berbisik, memperhatikan mereka. Bahkan membalas senyuman mereka berdua.


"Mereka romantis banget ya," ucap si ibuk.


"Anak muda kaya gitu palingan hanya tahan sebentar," ucap ibuk lainnya.


"Eh jangan zuudzon ya, dia anaknya mbak Harumi dan pak Vier."


"Mereka di jodohkan?" tanya sang ibuk-ibuk.


"Di jodohkan, tapi mereka sudah sangan akrab. Bahkan dengar-dengar menantunya sudah hamil."


"Alhamdulillah, keluarga mereka memang beruntung semua. Semoga mereka berdua langgeng, aku jadi ingat dulu. Pak Vier juga sama bucinnya ke mbak Harumi. Memang ya, buah tidak terjatuh jauh dari pohonnya."


"Sayang kita beli minum dulu. Kamu hauskan?" tanya Fisha.


Kainal menepihkan sepeda listriknya.


Dia menggandeng tangan Fisha menuju warung. Di perjalanan masuk Kainal bertabrakan dengan seseorang sehingga kantong berisi sup panas itu mengenai tangan mereka berdua.


Kainal meringis memegang tangannya yang ikut di tumpahi sup panas. Namun, di saat dia menoleh ke atas, dia melihat Fisha begitu panik melihat Xaviel terluka.


Rasa sakit yang di rasakan di tangannya hilang, berpindah ke hatinya. Kainal mengambil ahli tangan Xaviel, menariknya dekat warung untuk mengobati luka lelaki itu.


"Gue minta maaf," ucap Kainal singkat di saat luka memar di tangan Xaviel sudah di obati.


Fisha yang baru sadar bahwa tangan suaminya terluka. Dia ingin meraih tangan Kainal. Namun, di tepis.


"Tangan aku gak papa," ucap Kainal. "Mbak tolong air mineralnya satu. Terus sup yang tadinya aku tumpah, tolong di bungkusin ulang buat dia."


"Gak usah," cegah Xaviel buka suara.


"Gak papa ini salahku."


Usai mendapatkan air mineral, Kainal memberikan air botol itu pada Fisha.


Fisha mengambil air itu, dia jadi merasa bersalah pada Kainal.


"Mau pulang atau mau di sini dulu?" tanya Kainal di saat Fisha menatap Xaviel. Begitupun dengan Xaviel.


Fisha buru-buru menurunkan pandangannya. "Kita pulang."


Kainal berjalan dulu di ikuti di belakang oleh Fisha. Bumil itu memperharikan telapak tangan suaminya yang memer bahkan ada yang terkupas.

__ADS_1


"Kain-"


"Ayo naik, kita pulang aja ya?"


"Tapi aku masih mau jalan-jalan..."


"Udah mau magrib."


Fisha menghela napas lalu mengangguk. Dia naik boncengan Kainal.


Yang tadinya romantis kini berubah menjadi hening merenung.


Sesampainya di rumah. Kainal mencoba mengobati lukanya sendiri.


"Maaf," ucap Fisha tiba-tiba mengambil ahli tangan Kainal.


Kainal mendongak. "Gak papa," balas Kainal tersenyum di buat-buat.


Fisha benar-benar merasa bersalah. Entah, tadi dia sangat refleks dan seketika panik.


"Udah biar aku aja," ucap Kainal tersenyum duduk di sofa. "Kamu kalau mau mandi duluan, mandi aja. Setelah kamu aku."


"Gak mandi bareng?" tanya Fisha.


"Mandilah dulu, kamu selama ini pasti risih. Tidur, berhubungan dengan lelaki yang tak kau cintai. Jijikan?" tanya Kainal pelan agar Fisha tak mendengarnnya. "Pergilah dulu."


Fisha hanya menurut, dia mandi duluan sebelum Kainal.


Keluarnya di kamar mandi, Kainal tak ada. Fisha mencarinya di mana-mana tak ada.


Dia turun ke lantai dasar, dia juga tak menemukan suaminya. Di rumah hanya dia sendirian, bunda dan Kaira bermalam hari ini di ponpes. Sedangkan ayah mertuanya sedang bersama dengan papanya, yang di pastikan akan pulang kemalaman.


"Kainal kamu di mana?" tanya Fisha. "Kamu marah sama aku?"


Bodoh pikiran Fisha saat ini. Lantaslah dia marah, tanya orang yang sedikit gangguan jiwa pun tahu kalau saat Kainal sedang marah.


Udah dua jam Kainal tak pulang-pulang, ponselnya tak aktif. Namun, lamunan Fisha buyar di saat mendengar bel berbunyi.


Di saat dia membuka pintu, dia terkejut melihat suaminya sudah teler.


"Halo sayang, ehmmm.... Bukan, maksudku sayangnya Xaviel." Kainal tertawa menepis sedikit bahu Fisha dan berjalan linglung ke kamar.


Fisha menjatuhkan air matanya. Apa semarah itukah Kainal saat ini kepadanya? Dia bahkan tak menyangka Kainal bakal-bakal minum-minum seperti ini. Dia sangat tahu Kainal anti dengan minuman beralkhol.


Dia ikut menuju kamar. Di dalam kamar, Kainal sudah ambruk di atas tempat tidur.


Lelaki itu menoleh dan tersenyum. "Halo istriku," sapa Kainal lagi, berdiri dari sana dan mendekati Fisha.


"Kamu cinta aku atau Xaviel?" tanya Kainal menunjuk dirinya sendiri.


"Aku suamimu aku juga ikutan terluka di saat bersamaan dengannya, tapi bukannya nolong suami dulu..." Kainal terjatuh ke pundak Fisha. "Hati aku sakit, kamu tahu?"

__ADS_1


__ADS_2