
Emak-emak yang anteng melihat para suaminya yang ribut tanpa henti, hanya tespack.
"Udah kok pada ribut sih? Ini kan anaknya Kainal, bukan anak kalian," ucap Kainal menyuruh istrinya duduk di kursi, dia menyimpan tespack ke dalam saku celananya.
Mereka semua memalas dan duduk kursi dekat istri masing-masing.
"Dari tadi," ketus Celi. Sama ikutan pusing melihat mereka.
"baberquen yok," ajak mami Kiara.
"Boleh," jawab yang lain secara bersamaan.
"Ok para laki-laki potong daging dan siapkan alat bakarnya. Wanita akan menyiapkan rempah dan bahan lainnya."
Mereka semua mengangguk.
"Udah lama ya, gak ngumpul kaya gini," ucap Aisha.
"Benar, jadi kangen." Kiara manggut-manggut. Keenam wanita berada di dapur, tapi Fisha di suruh duduk aja.
"Tapi Fisha mau bantu-bantu dikit aja," sahut Fisha.
"Gak! Dengerin bunda. Jangan mending kamu kehalaman belakang bareng adik-adikmu," ucap bunda harumi
Fisha mengerucut bibirnya, dia kembali kehalaman belakang rumah duduk dengan anak remaja.
Bumil itu jadi bosan, karena keenam remaja tersebut hanya sibuk dengan ponselnya. Suaminya juga menyiapkan tempat bakar baberquen.
"Kenapa diam-diam?" tanya Kainal membuat istrinya itu mendongak ke atas dan tersenyum.
Fisha menggeleng. Kainal duduk di sampingnya.
"Mau apa?" tanya Kainal. Fisha kembali menggeleng dan mengsandarkan kepalanya di dada sang suami.
Kainal pun mencium pucuk kepala istrinya dengan lembut. Keenam remaja yang ada di sana berdehem keras. Namun, Kainal tidak peduli dengan mereka. Seakan dunia milik berdua yang lain cuma ngontrak.
"Sayang, nanti kalau anak kita lahir. Kamu mau anak apa?" tanya Kainal.
"Anak yang berbentuk manusia seperti aku dan kamu," jawab Fisha.
Keenam di antara mereka tertawa kencang mendengar ucapan Fisha. Benar tapi salah, salah tapi benar juga. Kainal aja yang bertanyanya kurang masuk kendali.
"Astaga, maksudnya jenis kelamin apa?"
"Apapun yang penting manusia, bukan manusia jadi-jadian," sela Ufik.
Kainal menatap Ufik dan mencibikan bibirnya.
"Benar kata Ufik kok," jawab Fisha manggut-manggut.
Kainal pun tak bertanya lagi. Dia megajak ketiga cowok itu untuk bermain game sambil nunggu para orang tua menyelesaikan baberquennya.
Sekali-kali Kainal menyium kening istrinya. Tangannya biasa juga mengelus perut Fisha yang masih rata.
"Kainal curang njir," timpal Tofik tak terima kalau dia kalah.
"Dih mana ada," balas Kainal tak terima juga dikatakan curang.
__ADS_1
"Udah, ini hanya game," sela Fisha membuyarkan pertekaian yang terjadi.
Kainal dan Tofik saling mandang sekilas lalu membuang muka.
"Sayang kita balik ke kamar yok," ajak Kainal. Fisha menggeleng.
"Kan baberquennya belum jadi. Lagian mau ngapain di kamar?"
"Mau hug," bisik Kainal.
Fisha merentangkan tangannya. Kainal pun memeluk istrinya tanpa mempedulikan yang lain.
"Ngontrak-Ngontrak. Ada lowangan ngontrak nih," sindir mereka berenam bersama.
"Sirik, nikah dong," cibir Kainal masih dalam pelukan istrinya.
Para bapak-bapak kece datang membawa baskon isi daging.
Fisha ingin melepaskan pelukannya. Namun, Kainal malah memper-eratkannya.
"Lo masih ingat gak sih, pas hamil pertama Aisha?" tanya Evan
"Apanya?"
"Waktu Aisha ngidam sate cumi-cumi, Vier peleset hampir patah tulang," jawab Evan. Mereka berempat pun mencoba mengingatnya. "Ingatkan lo pada?"
Ada yang di antara mereka yang sudah melupakannya. Tapi tetap saja manggut-manggut.
"Payah," cibir Evan. Dia memanggil Devon dan Tofik untuk membakar daging yang sudah di beri rempah-rempah.
Kainal melepaksan pelukannya di saat mereka duduk di dekat mereka.
"Gak papa lanjut aja, orang tua kalian juga dulu kaya gitu," sindir Kendra.
"Sirik lo? Jodoh lu kelamaan datang," cibir Vier.
"Dih, si paling cepat, padahal dulu tuh ya masih mengejar janda pirang."
Vier menutup mulut Evan. "Mulut lo di jaga, itu masalalu."
"Lo belum nyuci tangan ya?" tanya Evan menepis kasar tangan Vier.
"Ini Kiara gak salah milih suami?" tanya Cakra.
"Gak salah sih, sifat mereka gak jauh beda. Evan cinta pada Kiara, pas di Sma yang waktu itu Kiara nendang bokong Evan ke pot bunga. Kiara, awalnya cuma gabut nerima Evan. Eh... Keturusan sampai ada Celi," jelas Vier.
"Jangan bilang, Kiara selama ini masih gabut sama Evan," sahut Altar.
"Sotoy lo kakek tua."
"Dih kakek muda," protes Vier dan Altar.
"Sepaling kakek."
💚💚💚💚💚💚
Mereka semua makan bersama baberquen tersebut.
__ADS_1
"Enak," ucap mereka menaikan jempol. Para emak-emak pun tersenyum.
"Dih, kan kita yang bakar. Kok mereka yang di puji," timpal Tofik dan Devon.
"Uang jajan di-"
"Ngak kok, kita cuma ngebakar. Kan mama aku yang cantik dan gemoy ini yang buat." Potong Tofik.
Mereka kembali fokus menghabiskan makanan. Di saat selesai, mereka bersantai sesaat lalu pada pamit pulang.
"Gak bermalam dulu?" tanya Bunda Harumi.
"Gak, besok akan terbang ke singapura," jawab Cakra.
"Ngapain?" tanya Evan.
"Ada urusan sedikit."
"Semoga lancar."
Usai mereka semua berpamitan. Fisha dan Kainal kembali ke kamar.
"Capek ya?" tanya Kainal memijat kaki istrinya yang sedang mengsandarkan kepalanya di sandaran ranjang. Fisha mengangguk.
Kainal ikut menaiki ranjang. Dan tidur di paha istrinya. Mencium perut rata Fisha.
"Sebentar lagi aku akan jadi ayah, gak kerasa ya, secepat ini," lirih Kainal. Fisha mengusap rambut suaminya merasa geli karena Kainal mengesekan rambutnya di perutnya.
"Kainal," pekik Fisha.
Kainal tertawa kecil dan hanya memeluk pinggang Fisha.
"Kainal," panggil Fisha membuat suaminya itu berdehem.
"Tes hafalan aku dong," pinta Fisha.
"Ok coba dibaca."
Fisha pun membaca hafalan Al-Qurannya. Kainal biasa memperbaiki ucapan istrinya yang salah.
"Lidahnya di gigit sedikit, sayang," ucap Kainal. Fisha pun mengikut perintah sang suami.
"Pintar istri aku," puji Kainal mencium kening istrinya dengan lembut. Kainal baru saja ingin mencium bibir Fisha, tapi istrinya itu malah menahan wajahnya.
"Jangan dulu, aku mau chat Ataar," ucap Fisha. Kainal pun memayunkan bibirnya. "Dia gak ikut ke sini, padahal aku tunggu dia."
Kainal mengelus rambut istrinya. "Mungkin dia lagi bareng temannya, dia dan anak yang lainkan kurang kenal. Pasti dia bosan kalau ikut," jelas Kainal.
Fisha mengangguk. "Setidaknya datang untuk aku," lirih Fisha menangis.
"Kok nangis?" tanya Kainal memeluk istrinya.
"Aku kangen sama dia," jawab Fisha sesengukan dalam pelukan suaminya.
"Ok, udah di chat?" tanya Kainal lagi.
Fisha manggut-manggut. Kainal mengambil ahli ponsel sang istri.
__ADS_1
"Besok dia akan datang," ucap Kainal membaca pesan adik iparnya. Dia menghapus air mata istrinya. "Udah iya jangan nangis, kamu tidur," lanjut Kainal. Mereka merebahkan diri, Kainal masih senantiasa memeluk istrinya. Memakaikan selimut di tubuh mereka.