Penantian Seorang Gadis

Penantian Seorang Gadis
Part 45 ~Penantian Seorang Gadis~


__ADS_3

Aisha sedang di bandara menunggu abangnya yang akan menjemputnya.


Ataar terus memeluk uminya karena kedinginan. Mereka pergi begitu dadakan, sehingga tak menyiapkan diri. Mereka pergi dengan keadaan seadanya.


Seketiar dua puluh menit, akhirnya yang di tunggu datang. Rigel berlari ke arah adik dan keponakannya.


"Astaghfirullah, Ataar." Rigel langsung memampah tubuh keponakannya.


Dengan di bantu kakak iparnya, Aisha mendorong koper ke mobil.


"Ini ada apa, Ais?" tanya Rigel pada adiknya.


Aisha hanya diam, menatap keluar jendela. Istrinya mengode jangan bertanya dulu, Rigel pun mengangguk.


Rigel memang menetap di Australia, karena perusahaan mendiang mertuanya ada di sana. Rigel harus menggantikannya menderikan.


Sesampainya di rumah. Rigel langsung mengantar mereka berdua ke kamar.


Sudah larut malam. Mungkin besok saja dia bertanya kenapa adiknya itu ke Australia.


"Kakak dan abang tidurlah," ucap Aisha pada kedua pasangan itu, karena masih ada di kamar.


Rigel menatap istrinya lalu mengangguk. Mereka pun pergi dari sana, meninggal ibu dan anak.


Aisha membelai rambut anaknya yang tertidur di atas ranjang, tidurnya tidak begitu nyenyak. Mungkin masih merasakan rasa sakit di bagian tubuhnya.


"Umi terlambat ya sayang? Ternyata seperti ini kau rasakan. Umi merasa gagal menjadi ibu yang baik untukmu nak, maafim umi."


Di sisi lain ada Fisha dan suaminya yang sedang tidur sambil berpelukan. Namun, mereka mendapatkan telfon sepagi ini dari sang papa.


"Angkat coba sayang, siapa tahu penting," ucap Kainal. Fisha mengangguk.


📱: Asslamualaikum," ucap Fisha di saat sambungan tersambung.


📱: Walaikumssalam, nak," balas Altar.


📱" Kenapa pah nelfon pagi-pagi begini?" tanya Fisha pada sang apah.


📱"Apa umi dan adikmu membertahumu di mana mereka?" tanya Altar dengan gugup.


📱"Tidak pah, kenapa? Apa ada yang terjadi sesuatu?" tanya Fisha mengenggam tangan suaminya. Perasaan mulai cemas.


📱"Mereka pergi dari semalam," jawab Altar. "Papa gak tahu kemana mereka berada saat ini, telfonnya tak di angkat. Nomor apah di blok oleh umimu."

__ADS_1


Fisha tidak menjawab ucapan papanya, dia justru mematikan telfon dan mencoba menghubungi Ataar. Namun, ponsel adiknya tidak aktif begitupun dengan uminya.


Fisha menatap suaminya. Kainal pun merentangkan tangannya untuk memeluk Fisha, mencoba menenangkannya.


"Apa umi udah tahu?" tanya Fisha.


"Mungkin aja sayang, dia membawa Ataar pergi. Alasannya tak jauh dari kata itu."


Fisha menghela napas. "Aku bernapas lega kalau umi sudah mengatahuinya, tapi aku tidak menyangka umi membawanya pergi."


"Gak papa, kita harus yakin umi dan Altar baik-baik saja," ucap Kainal.


"Tapi kenapa ponselnya tak bisa di hubungi? Aku takut Kainal. "


"Kita coba lagi nantu, kamu tenangain dirimu. Papa akan menyari tahu keberadaan mereka."


Fisha mengangguk. Dia memeluk tubuh suaminya mencari ketenangan di sana.


"Kamu udah gak mual?" tanya Fisha mendongak, tadi suaminya itu kembali mual.


Kainal menggeleng. "Udah gak sayang."


"Ayo mandi," ucap Kainal mengangkat tubuh Fisha ke dalam kamar mandi.


Kainal mengenggam tangan istrinya ke dapur, para orang tua ingin berbicara tentang Aisha dan Ataar.


"Udah ya, biar mereka yang menyelesaikan. Kita cukup berdo'a, semoga mereka baik-baik saja," ucap Kainal mendudukan istrinya di kursi, lalu dia beralih membuatkannya susu.


"Minum dulu susunya," pinta Kainal. Belum sempat mengambil gelas susu, terdengar suara ribut dari ruang tamu.


Mereka berdua gegas keruang tamu. Fisha membulatkan matanya di saat papanya di pukul oleh mertuanya.


Fisha mengenggam tangan suaminya dengan kuat. Bahkan dia meremasnya.


Kainal menyembunyikan wajah istrinya itu di dadanya.


"Gimana apa lo udah menang?" tanya Vier. "Gimana?" tanya Vier, pria itu memegang kerah kemeja sahabatnya.


"Istri lo pergi kan? Apa ini yang lo mau?" tanya Vier murka. "Dia seorang ibu, dia akan pergi membawa putranya. Di saat dia tahu kalau nyawa anaknya di pertaruhkan. Dia rela mati demi membahagiakan Ataar. Altar lo yang membuat anak itu lahir di dunia, lo yang ingin dia lahir. Coba lo berpikir dengan dewasa, jauhkan emosi lo itu sialan! Lo pikir anak itu yang bersalah? Bukan, lo yang salah," teriak Vier kembali melayangkan pukulan.


"Udah terbuktikan? Apa Aisha bakal memaafkan perbuatan lo ini? Lo Altar tapi dalam diri lo ada iblis. Lo bukan Altar yang gue kenal dulu, di mana Altar yang dulu yang kami kenal? Bahkan iblis aja tak ingin di samakan dengan dirimu. Sikapmu melebihi kejahatan iblis," jelas Vier mengabrak meja di depannya dengan sangat keras sehingga Fisha tersentak dan menangis histeris.


Mereka hanya melihat tanpa ada yang mencegah Vier. Sudah sepantasnya pria tua itu mendapatkan pukulan.

__ADS_1


"Kainal bawa istrimu ke kamar," ucap Evan.


Kainal mengangguk. Dia menggendong istrinya yang sedang menangis menuju kamar.


"Udah ya nangisnya," bujuk Kainal mencoba menenangkan istrinya.


Fisha mendongak, menatap sayuh Kainal. Bukan nasib papanya yang di pikirkan sekarang, tapi nasib umi dan adiknya.


"Aku khawatir dengan mereka. Mereka di mana? Aku ingin tahu keberadaannya," ucap Fisha sesengukan menatap suaminya.


Kainal menghapus air mata Fisha. "Kita tunggu bentar lagi ya, mereka sedang mencari keberadaan mereka."


"Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka. Kenapa umi tidak memberitahuku?"


"Umi tidak ingin anaknya kenapa-napa dan cemas. Atau mungkin umi buru-buru, dan yang ada di dalam pikirannya hanya membawa Ataar pergi jauh dari papa."


"Peluk." Fisha merentangkan tangannya, Kainal pun memeluk istrinya.


Kainal memperhatikan istrinya, wajahnya seperti menahan rasa sakit.


"Eh kenapa sayang?" tanya Kainal.


Fisha menggigit bibirnya. "Aku lapar," jawab Fisha menatap dengan wajah gemas pada Kainal.


Kainal langsung terkekeh dan gemass. Ternyata Fisha juga merasakan lapar di saat setuasi seperti ini.


"Kamu tunggi sini ya? Aku ambilin."


"Jangan lama-lama."


Kainal mengangguk. "Ya habibati," bisik Kainal sehingga wajah Fisha memerah.


Di ruang tamu, para orang tua sudah saling berbicara dengan kepala dingin, tanpa emosi.


Walaupun sudah tak mudah lagi, Cakra masih ahli melacak keberadaann orang.


Altar hanya meringis, memegang pipinya yang habis di tinju para sahabatnya.


Evan dan Kendra menatap Altar, walaupun sahabatnya itu mempunyai kesalahaan, tapi mana mungkin mereka tega membiarkanya terluka seperti itu.


Evan mengambil kotak p3k dan mendekati Altar. Altar hanya diam, tidak protes sedikit pun. Dia mengaku bersalah untuk yang terjadi ini.


"Gimana respon om Kana, kiay Nando. Serta bang Rigel mendengar kejadian ini Tar?" tanya Evan. "Lo hanya bisa menyiapkan diri untuk kembali babak belur di tangan om Kana dan bang Rigel," lanjut Evan menepuk pundak sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2